Sajak-Sajak Indrian Koto

http://www.lampungpost.com/
Kemerdekaan

di atas ranjang,
kami proklamirkan kemerdekaan
dengan upacara secukupnya.

tak ada yang menangis di antara kami
tak ada panji dan bendera.
kami mungkin akan mengenang hari ini sedikit saja
dan berupaya mengabaikannya.

sudah lama kami saling menjajah
mengangkat senjata, melewati perang-perang kecil
perang-perang besar, merawat dendam,
mengingat keburukan dan kelemahan masing-masing.

kami terbiasa dengan letusan senapan. kata-kata
adalah peluru yang paling liar, menusuk jantung kami
menciptakan kubur dan kekosongan.

ini malam kami tuntaskan perang itu.
tubuh kami, wilayah perbatasan yang riuh.
kami sama-sama menyerah,
kami sama-sama orang jajahan. sama-sama ditaklukan
oleh perang yang melenyapkan kami seluruhnya.

di tubuh baru ini, di atas tanah perbatasan
tak kami sisakan apa pun.
biarlah masa lalu mengering, atau hidup
selamanya. tak kami hitung barang yang hilang,
apa yang terampas, berapa kerugian, utang piutang
hal hal-hal lain yang bakal menambah subur dendam.

tanpa rencana dan perhitungan besar
kami putuskan malam itu, di atas ranjang;
udara begitu dingin, tanpa kecupan dan pelukan.

kami yang saling membebani, pulang ke sarang masing-masing
dengan beban yang jauh lebih berat
untuk dipikul sendiri-sendiri.

30 Juli 2009

Di Makam Pahlawan

tak dikenal
p.u.
10-12-1948

di musim yang biasa ini
orang-orang mulai melupakan dan mengabaikan.
hidup seperti sungai, mengikuti arus
di belakang rumah. sampai ditemukan pemandian baru.
lalu jatuh di laut jua.

siapa yang mengenangmu
wahai kubur tanpa nama?
maut seperti apa yang menderamu.
menghabisi hidupmu dalam bayang perang.
maut yang datang dalam satu waktu

di luar sana orang-orang merayakan kemerdekaan
dengan memasang bendera, dan pidato-pidato yang membosankan.
di sini kalian terbaring
sebagai ingatan dan prasasti
dengan tubuh mati.

Subuh

sudah lama subuhmu tak tersentuh wudhu
waktu pekat untuk berbaring berlepas penat sekejab
masih jua kau dengar suara adzan dan pura-pura mendiamkan
kau ingin mendekap sajadah, memeluk tuhan di pagi buta.

Ada yang menyerumu;
ke mana kau habiskan waktu subuhmu
di mana kau
habiskan?

2009

__________________
Indrian Koto, lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di pesisir selatan Sumatera Barat. Mahasiswa Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Aktif di Rumah Lebah, Yogyakarta, dan Rumah Poetika.