Sajak-Sajak Syaifuddin Gani

http://www.lampungpost.com/
POHON AIR MATA

sebuah pohon menggugurkan bunga-bunganya
buah berpamitan kepada tangkai
daun lerai ke sungai
masih sempat seekor burung menangkap sebutir buah merah
sebelum tersungkur ke batu
ditanggalkannya kulit ari hitam
lalu pakaian dalam putih
diserahkan pada siang
sampai kersang sampai legam
ketika taufan datang ia menghilang ke selatan.
masa depan musim panen, dienyahkan ke jantung diam
tak hanya itu.
akar-akarnya mulai bertangisan
merangkak ke atas bumi
rasanya getir seumpama disabit petir
pergi sebelum saatnya tiba
ketika akar tercerabut terenggut
pohon telanjang itu melenggang
akar-akarnya mencengkeram bumi
seperti ingin menulis puisi
di belakang suara gelegar sang jagal
gerigi baja mengerkah memenggal
pohon-pohon air mata, satu-satu.

Kendari, Agustus 2008

PERJAMUAN MAGRIB

istriku. azan magrib mengulum matamu
alismu rebah terbangun
rambutmu yang magrib lelap di leherku
ku nikmati ranumnya seperti menyuntuki batu-batu tasbih
merah di luar kamar bercengkerama di keningmu
matamu terbuka seumpama fajar terluka
bilal mengundang ke perjamuan magrib
menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman

suamiku. bangunlah dari bebatan istirah
syair bilal mengelana di dadamu
penyetia yang tak lekang mengirim hubbu
matamu berkabut surau menyambut
temaram isya segera datang, satu-satu bintang bertandang
di luar, jemaah melenggang ke taman sembahyang
sebelum iqamah datang sebelum kiamat jelang

sepasang suami istri
membuka kamar membuka pagar
kaki-kakinya larik-larik puisi
hikmat dan nikmat ke terowongan magrib
jemaah bersorban berkerudung langit
mengerubung kiblat, lalu imam berkidung
oi, alangkah mawar allahu akbar
penawar jiwa-jiwa memar
rubuh dan rukuk dalam geluruh sembahyang

Kendari, 12 Agustus 2008

SURAT DARI MATAHARI

pagi gugur
matahari tampak kabur
disongsong keranda laut
anak-anak berdatangan menuju kubur.
tak sempat kuantarkan doa-doa
sebelum engkau
melesak ke terminal tuhan.

air mata langit
dan gerimis yang jatuh bersuara parau
mengguyur serambi ini
yang tinggal batu-batu
dan sebiji peluru.

pabila malam pulang
hanya udara yang datang sempoyongan
bercerita tentang sepucuk surat dari matahari
yang berlabuh di meulaboh.

Bekasi, 13 Juni 2005

WONDULAKO, LAMEKONGGA

deretan kelapa deretan cokelat
mendekap rumah-rumah sederhana
dari ujung ke ujung pagar bambu satu warna
sebuah papan bertuliskan
sejuk sentausa sederhana

wondulako si tanah merah
rakyatnya petani ramah
kulitnya cokelat lamekongga
rambutnya rerimbun daun kelapa
bahasanya selatan tenggara
saat matahari menggelantung di pepohonan
dedaunan hijau menjelma keemasan

para ayah membawa kelapa angkutan
para ibu menjunjung keranjang buah-buahan
para lekaki memikul cokelat petikan
para nona menggendong semangka kehijauan

wondulako, lamekongga
si tanah merah kolaka daratan
deretan kelapa deretan cokelat
rakyatnya petani ramah
kulitnya cokelat lamekongga
matanya teduh pantai kolaka
tatapnya gerhana bulan
bahasanya selatan tenggara
pabila aku berlabuh di dermaga kolaka.

Kolaka, Agustus 2004