Sastra Biner

Beni Setia
http://www.lampungpost.com/

Dua tahunan yang lalu, seorang teman dari temannya temanku meneruskan SMS dari seorang kawan dari kawannya temanku itu, bunyinya sederhana sekali: “Akhirnya saya memutuskan menolak tawaran ikut UK Intl. Literary Biennale 2009″.

TIDAK ada yang istimewa dari SMS yang diterima pertengahan Maret ini, selain seseorang tak nyaman atau tak bisa hadir pada satu acara, dan karenanya ia menolak undangan buat berpartisipasi dalam acara itu.

Wajar—setidaknya dari sistem nilai Barat yang mengutamakan kebebasan dalam payung laissez faire. Secara proporsi: Bukankah si undangan itu hanya harapan untuk ikut dan berpartisipasi, karena si pihak pengundang menempatkan sang terundang di posisi yang lebih tinggi—sesuai dengan kerja kurasi pemilihan—, dan karenanya ia siap kalau ditolak karena pihak sang terundang tidak sempat atau punya keberatan. Selesai. Dan jaring relasi antara mereka seharusnya tetap aman. Komunikasi seharusnya tetap OK—tak perlu dibebani oleh sikap ewuh-pakewuh yang sangat Timur.

Celakanya, sesuatu yang seharusnya eksklusif hanya ada di antara pihak terkait itu mendadak menjadi rahasia umum, memasuki wilayah publik karena si teman dari kanca kawannya temanku itu mengirimkan SMS antara “sahabat” itu pada sembarang orang. Ini mungkin bersikaitan dengan eksistensi pola berkubu dan perkubuan yang saat itu sedang mengutub, terbentuk dan menguat dalam khazanah sastra—lebih tepatnya: elite sastrawan—Indonesia. Oleh sebab itu, hal yang wajar dan personal itu mendadak mendapat penguatan—politisasi—, demi mengekalkan adanya gejala peretakan, penentangan, dan peperangan demi hegemoni.

Sekaligus muncul fenomena mengerikan ketika satu persaingan berubah menjadi pertentangan dan peperangan semi-terbuka, yakni terjadinya pengerasan sikap fanatik, yang memanjakan instink fundamentalistik dengan selalu memisahkan segala hal ke dua kutub yang bersihadapan—aku dan kau, kami dan mereka. Semua dipersihadapkan agar sesegera mungkin saling meniadakan—seperti asumsi emansipatorik pertentangan kelas ciptaan Karl Mark—, dan karenanya semunya hidup dalam logika biner—ya atau tidak, kau atau aku, serta kami dan mereka. Logika primordial, yang primitif tapi tetap asyik kala ada dipakai buat mengertak dalam rangka memilih teman dan mengisolasi musuh—yang dilakukan George W. Bush sebelum menyerbu Afghanistan dan Irak.

***

KETIKA logika biner diadaptasi dan dioperasionalkan di dalam khazanah sastra (Indonesia), yang terjadi adalah pemilahan kawan dan lawan, lantas bergerak ke konteks si kreator apa dan bersimain di tataran konsep kreasi serta trend karya macam apa—seperti ide sastra wangi yang diperhadapkan dengan kesalehan dan motalitas itu. Opini dilancarkan agar di satu saat semua orang (seperti) melakukan kesepakatan buat menolak dan menghujat, tapi tidak beranjak buat lebih cerdas dengan suntuk menguji konsep kreatif, ide estetik, model ekspresi, dan landasan filosofi yang ditolaknya. Dan karenanya tak beranjak untuk menajamkan penetangan dengan karya alternatif dengan menghadirkan tema dan cara ungkap yang orsinil, yang kemudian terjadi malah hanya pelabelan dan penggadangan pada individu kreator tertentu dengan tidak terlalu peduli pada pencapaian kualitas karya.

Tidak lagi penting aspek kenapa A ditulis dari sudut ini sehingga efek XXX itu muncul, dan masyarakat tersesat dalam aroma XXX tanpa bisa sampai pada substansi aspek engagement penghadiran A secara khas sehingga ada efek XXX. Tidak peduli kalau XXX itu sampiran untuk manifesto individual atau semikomunitas dari diskusi dan bacaan yang pro-E yang sengaja dijadikan isi. Dan kritik sastra menjadi sangat tak sehat. Bahkan ayat UU Anti-Pornografi pun diakomodasi dengan penerapan yang amat bertendens, atas dasar instink agresif biner—tidak berlandaskan (janji) potensi liberal: harus dan wajib diberikan kesempatan buat memperdebatkan apa yang dikandungnya. Adaptasi UU Anti-Pornografi menjadi tak bersifat hukum tapi teramat agamawi, bersifat imanah tanpa ada toleransi dan kemungkinan untuk dialog.

Mutlak biner dengan menarik garis tegas: Kalau tak sepaham, tidak seiman, kalau tak tunduk, termasuk ingkar, dan kalau masih terus milih ingkar, bisa diperangi atas nama jihad fi sabilillah—kami memerangi bukan karena kebencian tapi karena sayang ingin menyelamatkan, sekaligus kami berani memberikan hidup, darah, dan nyawa kami karena peperangan ini membuka gerbang kesahidan yang dijanjikan.

Pendekatan agamawi yang tegas menempatkan: kalian bersama Dajjal, kami bersama Allah swt.—sebagai kafilah yang dipimpin (nabi). Bahkan bila di dunia ini tetap tidak patuh dan tidak sempat terhukum, di akhirat kalian akan kekal menderita—demi menghindari itu kami sekuat tenaga menyadarkan kalian dengan pedang.

***

PADAHAL logika dan praktek apresiasi—sebagai kemungkinan yang diabaikan logika sastra biner—selalu menghadirkan ruang di antara dinding benar menurut tafsir apresiasi dan dinding salah secara tafsir apresiasi. Sesuatu yang tidak dipertentangkan tapi didiskusikan. Sebuah wilayah kelabu di mana setiap orang bebas berpendapat dan menyatakan tindakan penafsiran lanjutan dengan menjauhi dinding mutlak tidak benar dan absolut benar. Karenanya apresiasi melegalkan keberadaan ruang arbitrasi, sebuah diskursus pengadilan, di mana pihak yang mencoba menarik setiap teks ke dinding tak benar mau ikut saat diajak pihak yang menariknya ke dinding benar. Adaptatif.

Pengayoman objektivitas membuat tafsir biner agamawi terurai, ruang arbitrasi terbentuk, dan dialog membuat energi ngotot penghukuman mereka di tegal diskursus. Celakanya logika polemik (sastra) biner yang menjerat dalam fanatisme agamawi itu, telah dianggap wajar dan bahkan seharusnya—agar energi peretakan, penentangan, dan peperangan di antara kelompok sastrawan menguat. Tapi apakah di dunia susastra ada pujangga nomor satu mengikuti fakta ilmu silat yang memang cuma ada memiliki satu pendekar dan seribu korban? Tidak peduli sejak tiga puluh tahunan lebih Emha Ainun Najib nyaris sepakat dengan bilang, “Cuma diperlukan satu Chairil Anwar untuk nisan sekian penyair gagal.”

Tak salah bila tiba-tiba saya merasa ada yang tak proporsional dari hiruk pikuk sastra Indonesia terkini—kegaduhan tanpa diskursus yang tidak memperkaya konsep sastra dan munculnya kreasi alternatif. Hiruk pikuk di tataran personal—bukan ide. n

Beni Setia, pengarang
Lampost 24 September 2011