Gagasan Besar yang Remuk Redam

Judul : Taman Api
Pengarang : Yonathan Rahardjo
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : 216 hlm
Peresensi : Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

GAGASAN besar acap lebih menggoda pengarang untuk diketengahkan ketimbang peristiwa-peristiwa kecil. Padahal gagasan besar mempunyai banyak risiko kegagalan jika tidak didukung perangkat yang cukup untuk mewujudkannya. Inilah yang terjadi dengan novel Taman Api garapan Yonathan Rahardjo.

Novel ini mengangkat kisah kaum minoritas seksual, khususnya banci. Novel yang mengusung tema tentang kaum minoritas seksual (LGBT: lesbian, gay, biseksual, dan transgender) memang sudah banyak ditulis. Terutama tentang percintaan sesama jenis, seperti Lelaki Terindah (lelaki dengan lelaki) karya Andrei Aksana dan Garis Tepi Seorang Lesbian besutan Herlinatiens (perempuan dengan perempuan)—untuk menyebut dua judul yang paling populer.

Namun, tentang banci, waria, dan kompleksitas persoalan yang menelikung kaum tersebut, rasanya masih langka. Banci, dalam novel Taman Api merupakan sumbu yang meletupkan kisah yang lebih luas, menyeret wilayah agama, bisnis busuk sekelompok dokter bedah kelamin, kebengisan Polisi Pamong Praja terhadap komunitas banci, sampai penjaja obat kecantikan.

Diceritakan, di sebuah negeri bernama Tanah Air, sindikat kelompok dokter pimpinan Dokter Shahrul, seorang dokter ahli bedah kelamin, dengan memanfaatkan kesatuan Polisi Pamong Praja dan kelompok agama garis keras, melakukan pemberantasan waria yang mangkal di taman-taman kota.

Mereka menangkapi waria, menginterogasi, dan mengedukasi mereka tentang virus HIV—penyebab penyakit AIDS, dan penyebarannya. Tidak hanya itu, sindikasi dokter ini kemudian membius mereka dan mengoperasi secara massal kelamin para waria tersebut menjadi wanita sempurna. Untuk mencapai tujuannya mereka menciptakan chip multifungsi yang dieksperimentasikan di dalam tubuh para banci melalui operasi kelamin. Chip ini mampu mempercepat pengubahan sifat maskulinitas ke femininitas, memonitor pergerakan tubuh, dan merekam pembicaraan. Seluruh data kirim melalui satelit dengan sistem komputerisasi. Melalui chip itu pula mereka akan mendapatkan data perkembangan penyebaran virus HIV. Berdasar data ini, mereka punya alasan kuat memberantas banci layaknya penyakit.

Di sisi lain, ada Dokter Ranto, seorang ahli bedah kelamin juga. Ia menjalankan bisnis penjualan banci elite ke luar negeri. Untuk menjalankan bisnisnya ia memperalat Tari, dengan menjadikan waria kelas menengah itu istrinya. Dibantu Tari, Dokter Ranto mencari banci tercantik yang belum melakukan operasi kelamin. Tari yang tanpa sadar diperalat Ranto berjuang membela hak-hak kaum waria yang sering diperlakukan tidak adil melalui pembentukan asosiasi banci. Ada pula tokoh Reta, seorang pengusaha salon yang melakukan praktek penyuntikan silikon cair ilegal yang merupakan kekasih Dokter Ranto.

Namun, dalam sebuah kejadian tidak disengaja, Priyatna, penjaja obat (medical representatif) yang diam-diam juga seorang tranvestite membongkar semua persekongkolan tersebut. Operasi kelamin massal terhadap waria jalanan dilaporkan ke polisi oleh asosiasi para banci yang didampingi Dokter Ranto. Reta kemudian kabur lantaran praktek suntik silikon cair yang dilakukannya menewaskan seorang banci. Kasus ini tak ayal menyeret Dokter Sahrul, karena dialah pemasok silikon cair ilegal.

Begitulah ringkasan novel Taman Api. Begitu kompleks dan penuh gagasan besar. Namun, sayangnya novel kedua Yonathan Rahardjo, novelis yang juga dokter hewan yang pernah memenangi sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta lewat novel Lanang (2006) ini, kurang berhasil—untuk tidak mengatakan gagal—mengeksekusi gagasan besar tersebut menjadi novel yang padu dan enak dinikmati.

Penyajian secara filmis yang digunakan sebagai strategi bertutur, alih-alih mengantarkan pembaca mendapatkan visualisasi rentetan adegan dramatis serta gambaran karakter tokoh-tokohnya secara detail dan bernyawa, yang terjadi justru mengganggu kenikmatan pembaca mengikuti kisah. Penuturan terasa tersendat dan terjadi pengulangan saat menjelaskan identitas tokoh-tokohnya. Pengulangan yang sangat mengganggu juga terjadi dalam adegan saat kelompok dokter mengedukasi para waria perihal penyebaran virus HIV dan gejala-gejalanya, (hal 81-83).

Atmosfer dunia kaum banci yang antara lain ditandai melalui cara mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang sangat khas milik mereka, nyaris tidak berbekas. Dialog yang terjadi antarmereka terdengar kaku dengan menggunakan kata-kata bahasa Indonesia yang sempurna. Sehingga gagasan besar akhirnya berhenti menjadi sekadar gagasan. Bahkan kemudian menelan kepedihan nasib kaum waria yang semula hendak diusungnya. Pengarang gagal menarik khalayak pembaca berempati pada nasib kaum waria yang terdiskriminasi. Di titik ini terlihat minimnya bekal pengetahuan yang dimiliki pengarang tentang dunia waria.

Akan lebih menarik kiranya jika Yonathan lebih fokus mengeksplorasi pergulatan kejiwaan kaum waria melalui peristiwa-peristiwa sederhana keseharian mereka. Ketimbang mengusung gagasan besar, tapi berakhir remuk redam.

Aris Kurniawan, pengarang
Lampost: 24 September 2011