Suamiku dan Layang-layangnya

Kadek Sonia Piscayanti
http://www.balipost.co.id/

Musim layang-layang tiba lagi. Langit berwarna-warni oleh layang-layang yang berserakan di langit. Ratusan jumlahnya. Bagi suamiku, mungkin saja musim ini adalah musim terindah yang selalu dinanti-nanti kedatangannya. Namun bagiku, musim ini adalah sebuah kutukan. Aku selalu membencinya, dan selalu berharap agar musim ini cepat pergi, kalau bisa tak akan pernah datang-datang lagi, karena ia telah merebut suamiku. Aku selalu merasa cemas, tepatnya, selalu merasa dinomorduakan oleh suamiku pada musim layang-layang seperti saat ini.

DI musim yang bagiku terasa panjang dan menyebalkan ini, ia tak pernah memiliki kesempatan berbincang-bincang denganku. Seharian ia akan menaikkan layang-layang, mengadunya di langit sana, dan menguber-uber layangan putus. Persis seperti bocah-bocah SD itu. Ia tidak pernah malu berebut tiang bambu dengan bocah-bocah yang menyongsong layang-layang putus di pelosok-pelosok rumah penduduk. Ia pun tak pernah kapok walau tangannya pernah kena sogok ujung bambu runcing sampai robek dan memerlukan lima jahitan untuk merapatkan kulitnya. Ia tak mau tahu bahwa saat ini aku butuh perhatian, kasih sayang dan pelukan hangat seorang suami karena aku sedang mengandung enam bulan.

Sesungguhnya aku menyadari betul layang-layang itu bukanlah sesuatu yang patut kucemburui. Malahan aku sepatutnya bersyukur punya suami yang suka bermain layang-layang, bukan main perempuan. Seperti kata tetanggaku, Sumi, ketika aku menceritakan kekesalanku. “Oh itu masih bagus Sri, dibanding suamiku yang main perempuan sana-sini. Meski aku kesal padanya, aku kasihan pada anak-anak kalau kami harus berpisah.” Sumi yang tadinya ingin menghiburku malah berbalik sedih dan membuatku menghiburnya, “Sudahlah, kita ini sama saja, disia-siakan. Dasar lelaki, maunya menang sendiri.” Dengan kata-kataku begitu, Sumi tampak terhibur sedikit. Aku lega. Tapi bukan berarti aku melupakan kekesalanku pada suamiku yang makin hari makin lupa diri itu.

Bayangkan saja, siapa yang tahan kalau setiap hari dicuekin suami, yang sesiang-siang dan sesorean menghabiskan waktu menarik mengulur benang, atau berlari-lari memburu layang-layang putus. Kalau langit tak benar-benar gelap, kalau ia tak benar-benar yakin tak ada lagi layang-layang musuh yang berseliweran di langit, kalau ia tak betul-betul merasa sendirian berdiri di sana, ia tak akan pulang. Aku menjamin ia tak akan berpindah, tidak sejengkal pun! Suatu kali, aku benar-benar meniatkan diri untuk menatapnya langsung bermain layang-layang. Aku ingin membuktikan ucapannya secara sungguh-sungguh, apa benar katanya, main layang-layang itu luar biasa mengasyikkan. Untuk membuktikannya, aku tak perlu berjalan jauh-jauh. Tinggal duduk saja di kursi di depan rumah, beres. Suamiku tak pernah bermain layang-layang jauh dari rumah, sehingga aku bisa memantaunya sewaktu-waktu. Justru di situlah keherananku, karena layang-layang itu, ia seolah tak peduli pada lingkungan. Ia selalu bermain di depan rumah yang merupakan jalan raya besar. Seharusnya, ia tidak boleh bermain-main di tepi jalan, alasannya jelas, melanggar kenyamanan orang berkendara dan juga dirinya. Namun, aturan baginya adalah nomor dua. Nomor satunya bermain layang-layang.

Di tepi jalan besar itu, ada trotoar yang di bawahnya merupakan tanah beraspal selebar setengah meter. Di sanalah suamiku berdiri dan menghabiskan sesiang-siang dan sesorean waktunya bermain layang-layang. Ia memakai kacamata hitam, dan pandangannya mengarah ke atas, tentu saja ia sedang berkonsentrasi pada layang-layangnya. Tangannya tak henti-henti menarik dan mengulur benang yang bergulung-gulung itu. Sementara, angin dari utara bertiup tak terlalu kencang. Konon, jenis angin seperti inilah yang paling disukai oleh para penggemar layang-layang, sebab dengan angin ini layang-layang tidak akan goyah, liukannya mantap. Kulihat reaksi suamiku. Tangannya makin lincah dan cekatan menarik-narik benang, lalu sedetik kemudian mengulurnya lagi. Itukah yang mengasyikkan dari permainan ini? Apapun itu, yang jelas suamiku tak pernah menoleh sedikitpun atau merunduk sejenak untuk mengistirahatkan lehernya yang terus-terusan mendongak itu. Ia tak tahu aku memperhatikan dari seberang jalan, tepat dari tempatnya berdiri. Beberapa kali aku harus menahan jerit ketika sepeda motor dan mobil nyaris menyerempetnya, karena ia menghabiskan tepi jalan itu.

Keras kepala! Harus kunasihati berapa kali lagi agar dia memperhatikan keselamatan dirinya kalau bermain layang-layang di tepi jalan raya macam itu? Ah. Percuma saja. Ia seolah-olah tak terbantahkan oleh siapapun. Capek menasihatinya, aku memilih diam. Bukan karena aku tak berani berdebat, tetapi karena aku memang berlatih menjauhi segala kemungkinan yang bisa memancing emosiku. Menurut buku yang kubaca, pantang bagi orang hamil untuk marah-marah. Kelak itu akan berpengaruh buruk terhadap jabang bayinya. Aku takut jikalau terjadi apa-apa pada bayiku sehingga akupun harus rela menahan-nahan amarahku. Padahal, kalau saja aku dalam kondisi normal, takkan kubiarkan diriku tersia-sia seperti ini.

Lihatlah! Layang-layangnya menemukan lawan! Ia mulai menarik benang sekuat-kuatnya, mengulur lagi, dan menarik lagi. Terlihat dua layang-layang di langit yang benangnya saling menyilang dan bergesekan. Benang yang ada di genggaman suamiku mengencang. Ia nyaris kalah rupanya. Tetapi ia tidak patah semangat. Diulur dan ditariknya lagi benang layang-layang itu. Sial! Layang-layangnya benar-benar putus. Kulihat seraut kekecewaan melintas di wajahnya. Ia menggulung benangnya, sementara bocah-bocah menyongsong arah di mana layang-layang suamiku yang putus itu jatuh. Batang-batang bambu yang tinggi beradu memperebutkan layang-layang suamiku yang jatuh di ujung gang tiga, beberapa meter saja dari tempatnya berdiri. Anak yang berhasil mendapatkan layang-layang itu bersorak riang seperti pejuang yang menang perang. Setelah menghela layang-layangnya di ujung bambu, ia berlari dikejar teman-temannya menuju selatan. Diacung-acungkannya bambunya yang tinggi seolah menunjukkan pada dunia bahwa ia baru saja melakukan hal besar. Anak itu menghilang di belokan jalan, tawa riangnya masih terdengar.

Kulihat lagi suamiku. Ia menaikkan layang-layangnya yang baru dengan cepat. Tampaknya ia ingin balas dendam atas kekalahannya tadi. Di bawah tempatnya berdiri, masih bertumpuk sekitar lima buah layang-layang yang seolah menanti untuk dinaikkan ke langit sana. Pastilah sudah diperkirakannya waktu untuk menaikkan laynag-layang itu seluruhnya. Paling tidak, cukuplah untuk menghabiskan sore itu. Aku makin kesal. Angin sore bertiup agak kencang. Aku masuk ke dalam rumah. Dan kulirik layang-layang suamiku sudah menemukan lawan barunya.

Akhirnya, pukul setengah tujuh malam ia pulang. Aku sedang membaca majalah sambil tidur-tiduran. Bau keringatnya tercium dari tempatku berbaring. Kuintip tingkahnya dari balik majalah yang menutup wajahku. Ia masuk kamar, memilih baju di lemari, menyambar handuk yang tergantung di tembok, dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia tidak menyapaku. Menoleh pun tidak. Ia tidak rindu padaku. Mana boleh begitu? Seharusnya ia menghambur memelukku, mengusap-usap perutku, dan mengecup keningku seraya berkata lembut penuh kasih, “Aku cinta kau dan juga anak kita.”

Tapi itu tidak dilakukannya! Padahal aku ini sedang hamil anak pertama. Tidakkah dia mengerti sama sekali tentang psikologis ibu hamil? Aku berusaha tidak mengumpat. Kureda-redakan gemuruh dadaku dengan jalan mengurut-urutnya. Kubiarkan ia berlalu ke kamar mandi.

Kudengar suara air bergemuruh karena kran dibuka penuh. Ia bernyanyi-nyanyi riang sambil menghantamkan gayung ke bak mandi dengan semangat. Lama sekali ia di dalam. Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Ia selalu membawa telepon genggamnya ke manapun pergi termasuk ke kamar mandi. Ia mengecilkan volume air sehingga aku bisa mendengar percakapannya dengan seseorang lewat pesawat itu.

“Hoi, hahhahaa! Ya, ya, besok. Tentu saja. Apa? Merah biru kuning? Baiklah, aku biru putih bergaris-garis. Lihat saja besok. Ah, sial kau! Tadi itu cuma keberuntunganmu saja bisa menang. Pokoknya besok, jagoku takkan tertandingi di udara. Ya, ya, yooo!”

Rupanya mereka bicara tentang layang-layang. Kekesalanku yang sempat mengendap beberapa detik, meluap-luap lagi. Kenapa cuma ada layang-layang saja yang memenuhi seluruh ruang di kepalanya? Aku benar-benar dianggapnya tak ada. Lihatlah polahnya. Sehabis mandi, ia tidak menghampiriku, malahan langsung ngeloyor nonton teve di ruang tengah. Apakah dia takut mengangguku yang kelihatan serius membaca, atau memang benar-benar tak peduli padaku? Dari ruang tengah, kudengar ia mencari sinetron komedi dan tertawa terpingkal-pingkal seorang diri. Keterlaluan! Tak tahan lagi, keesokan paginya aku kabur dari rumah. Ia sedang tertidur pulas ketika aku tinggalkan. Dengan menyewa ojek aku tiba di depan rumah orangtuaku. Tanpa permisi aku langsung masuk ke dalam. Kulihat ibu duduk di depan dapur sambil memetiki bayam yang sepertinya baru saja dibelinya dari pasar. Beliau terkejut melihat kemunculanku yang tiba-tiba, tanpa permisi pula.

“Hei, kau sendiri? Mana suamimu?”
“Di rumah. Eh, aku kangen pada ibu.”
Ibu memelukku. Aku mencoba bersikap sewajar mungkin, tapi aku yakin ibu tahu bahwa aku menyembunyikan sesuatu. Nalurinya sangat tajam dan jarang meleset.
“Kamu harus makan siang di sini. Kebetulan ibu membeli jagung banyak sekali. Perkedel jagung kesukaanmu! Tentu kusisihkan nanti juga buat suamimu, dia juga suka perkedel jagung kan?”
Ah. Ibu memang selalu memperhatikan hal-hal kecil dari suamiku. Kadang ia bahkan lebih tahu dari aku. “Sudahlah Bu, aku tak ingin pulang malam ini. Aku nginap di sini.”
Akhirnya, aku bercerita tentang suamiku dan layang-layangnya. Bapak tersenyum melihatku mengadu pada Ibu, sementara Ibu mencoba menenangkan hatiku.
“Sudah biarkan dulu begitu. Kadang, lelaki memang perlu waktu untuk dirinya sendiri. Dia menyayangimu, sebentar lagi dia pasti menjemputmu.”
Tapi, ternyata ia tak kunjung datang menjemput. Tentulah ia sibuk dengan layang-layangnya. Tentulah ia sedang mengadu layang-layangnya dengan seseorang yang menantangnya di telepon kemarin. Tentulah ia bahagia tidak ada yang mengganggunya.
Hampir jam tujuh malam, telepon di ruang tamu berdering. Ibu mengangkatnya.
“O, kamu. Ya, ada. Tadi pagi. Mungkin besok. Kamu ndak ke sini? Oh ya, ya, nanti Ibu beritahu. Malam.”
Suamiku. Itu pasti. Mana mau ia menjemputku? Laki-laki egois! Perutku tiba-tiba bergerak. Anakku menendang-nendang. Aku mengelusnya seraya berkata, “Kelak kau tak boleh nakal seperti Bapakmu.” Airmataku jatuh.

Esoknya, agak siang, suamiku menjemputku. Tetapi nampak dari raut wajahnya, ia sangat terpaksa melakukan semua itu. Pastilah hal itu disebabkan waktunya untuk bermain layang-layang terpotong olehku. Belum lagi basa-basi dengan keluargaku yang dari dulu dicapnya sebagai basa-basi yang paling bertele-tele sedunia, dan makan siang bersama yang menghabiskan waktu sekitar dua jam. Ia tentu tak bisa meninggalkan Bapak begitu saja yang selalu bersemangat bicara padanya tentang apa saja. Kulihat ia tertekan. Oleh karena itu aku buru-buru pamit. Kasihan juga menyiksanya lebih lama. Di mobil, aku menumpahkan unek-unekku.

“Kau menyesal menjemputku? Kau menyesal karena waktumu untuk main layang-layang terpotong olehku?”
“Ah. Kau terlalu pencuriga akhir-akhir ini.”
“Lantas kenapa kau terlihat tertekan?”
“Repot juga kalau kujelaskan padamu. Begini ya, jujur saja, aku kesal padamu. Kau tak bisa menyimpan persoalan rumah tangga kita. Sedikit-sedikit melapor. Masa kau mengadu pada Ibu soal aku dan layang-layangku?”
“Bukankah kau yang lucu dan aneh? Sudah tua masih saja seperti anak SD, bermain layang-layang. Tidak peduli padaku. Kau ini tidak tahu sungguhan atau pura-pura tidak tahu, kalau aku butuh perhatian. Masa aku harus memohon agar kau mau memelukku, mengelus-elus perutku, mengecup keningku sambil berkata ‘aku cinta kau dan anak kita’. Kau menyebalkan!”

“Hahaha! Sifat kekanak-kanakanmu muncul lagi. Sayangku, itu cuma ada dalam dunia telenovela. Sudahlah, kau terlalu banyak nonton sinetron yang cengeng-cengeng itu. Pikiranmu sudah teracuni oleh hal remeh-temeh.”

“Tidak seremeh pikiranmu. Kau tak membaca majalah wanita, maka kau tak tahu apa yang dibutuhkan oleh seorang wanita hamil. Kau selalu sibuk dengan layang-layang itu. Kau tak pernah memikirkanku, atau calon anak pertama kita. Kau sungguh-sungguh egois. Kau…”

Ucapanku terhenti. Suamiku mengerem mendadak karena lampu lalu-lintas menyala merah. Ia menoleh padaku. Aku mendengus kesal. Tangannya terulur mengelus-elus rambutku.

“Sudah, sudah. Ya, baiklah, aku mengaku salah. Aku minta maaf. Mana perutmu, sini! Mmuah! Aduh sayang, maafkan Papa ya.”

Hening.
“Aku mencintaimu, dan juga anak kita.”
Ia mengecup bibirku sekilas. Hatiku menolak. Ia pasti tidak serius! Ia pasti main-main!

Singaraja, Juli 2004