Syair Sang Pejabat

Retno Sulistyowati
http://www.tempointeraktif.com/

Gerrr! Kesunyian robek di gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu malam lalu. Bukan dagelan ketoprak atau banyolan pelawak yang menjadi penyebab, melainkan pembacaan sajak. Bait-bait puisi yang dilafalkan Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail mengocok perut penonton.

Puisi Nurmahmudi sederhana sebenarnya. Bahkan puisi itu mirip laporan pertanggungjawaban kepada dewan perwakilan rakyat daerah. Teknik membacanya pun sangat biasa, tidak ekspresif, malah cenderung monoton. Toh, isinya mengundang tawa.

Simak saja sajak berjudul “Membangun Negeri Depok”. …Aku sedih melihat kotaku kotor/Sampah menggunung di pinggir Sungai Ciliwung dan Pesanggrahan/Menumpuk di trotoar jalan, berserakan di sekitar perumahan/Teronggok di pasar dan pertokoan/Bahkan lahan hijau pun berubah menjadi lahan perdagangan. Awal Mei 2006 Depokku jadi kota metropolitan terkotor di Indonesia.

“Gerrr,” tiba-tiba tawa menggema.

Begitu pula ketika Nurmahmudi mengeluhkan kondisi pendidikan di kotanya. Dalam ujian nasional 2006, SMP dan madrasah tsanawiyahku nomor bontot di seluruh Jawa Barat/SMA, SMK, dan madrasah aliyahku nomor 24 dari 25 kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Kembali penonton terbahak. Tak jelas apakah itu tawa prihatin atau meledek. Tapi sang wali kota tidak hanya mengeluh. Ia juga membanggakan perolehan tiga medali emas, tiga perak, dan dua perunggu dalam Olimpiade Sains Nasional.

Nurmahmudi bukanlah penyair. Karena itu, setengah mati ia menyusun bait demi bait, semalam sebelum pementasan. Ia menyebut puisi itu hasil renungannya sejak mengikuti pemilihan kepala daerah Depok sampai pemerintahan sudah berjalan sekitar 9 bulan. “Maaf, kalau pakem membacanya adalah pakem puisi abad kebebasan, abad ke-21,” ucapnya blakblakan.

Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera itu didapuk membaca syair bersama beberapa pejabat lain dari sejumlah daerah dalam gelar sajak serumpun bertajuk “Jalan Bersama”. Ini pesta budaya masyarakat Melayu Tanah Air.

Pemilik gawe adalah Yayasan Panggung Melayu, bekerja sama dengan Masyarakat Melayu Baru Indonesia, Persatuan Masyarakat Riau Jakarta, Kerabat Provinsi Kepulauan Riau Jakarta, dan Serumpun Mahasiswa Riau Jakarta.

Para pejabat bersajak malam itu antara lain Bupati Bengkalis Syamsurizal; Bupati Indragiri Hulu Raja Thamsir Rahman; Bupati Bireuen, Aceh, Mustafa A. Glanggang; Bupati Palalawan Riau T. Azmun Jaafar; Wali Kota Tanjung Pinang Suryatati A. Manan; dan Bupati Tebo, Jambi, Madjid Muaz.

Ada pula istri Gubernur Kepulauan Riau, Aida Ismeth Abdullah. Ia memang dikenal gemar menulis sekaligus membaca sajak. September lalu, ia membacakan karyanya di Festival Melayu Internasional. Malam itu ia membaca karya berserinya: Indonesia Menangis 1, Indonesia Menangis 2, dan Indonesia Menangis 3.

Ketiga puisi itu ungkapan keresahan terhadap kondisi Tanah Air. Indonesia Menangis 1 bercerita tentang nasib anak jalanan, Indonesia Menangis 2 mengenai bencana alam yang belakangan banyak terjadi, dan Indonesia Menangis 3 berisi tentang ajakan untuk menata kembali negeri yang telah porak poranda.

Di luar itu, ada pula penyair Taufiq Ismail yang memberi pengantar sastra pada acara tersebut. Ditampilkan pula gong sibolong, kesenian tua yang ditemukan pada abad ke-17 di Depok, oleh grup pimpinan Kamsa S. Atmadja. Kesenian ini menjadi ikon kota itu hingga diabadikan dalam bentuk monumen di Tanah Baru, Depok.

09 November 2006