Burhanuddin Bella
Republika, 13 Mei 2007

PANTE Lakban, Minahasa Selatan, 25-26 Juni 2006. Sebanyak 68 kepala keluarga memilih eksodus, meninggalkan desa mereka. Dibalut duka, mereka menempuh perjalanan kurang lebih 130 km menuju Desa Duminanga, Bolaang Mongondow. Hari berganti, tapi roda kehidupan tak mesti berhenti di sana.

Denny SE Taroreh — penggemar fotografi lulusan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi — bersama Jamal Rahman (wartawan Harian Suara Kita Manado), hadir di sana. Denny membidikkan kameranya, Jamal mengamati.

Dua buku foto-puisi pun terbit dalam episode yang berbeda itu, Sepenggal Kisah Anak Buyat: Eksodus ke Tanah Harapan, dan Buyat: Hari Terus Berdenyut.

Di sana, kala itu, sangat mungkin ada masalah. Tapi di sini, di buku ini, tidak membahas masalah yang ada. Denny menyajikan rekaman peristiwa dua hari itu dengan kamera dan memilahnya dalam dua bagian: Pante Lakban (desa asal) dan Duminanga (tanah harapan). Ia menangkap dua hal dari situ: anak-anak dan kepedihan.

Lihatlah sampul buku setebal 88 halaman yang diterbitkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) ini. Seorang anak berbaju kembang lengan panjang duduk termenung. Tangan kanannya dilipat menyilang hingga memegang lutut kirinya. Tangan yang lain diangkat ke muka, nyaris menyentuh bibirnya yang mungil.

Di depannya tampak bangunan rumah yang tak beraturan — nyaris rubuh — tapi bola matanya tidak sedang mengarah ke sana. Denny seakan membiarkan gambar itu ‘liar’, melepaskan orang yang memperhatikan berdiri dalam tafsir masing-masing.

Pada gambar yang sama di dalam buku itu, Jamal Rahman menorehkan puisinya:

bahwa kemarin aku
senang ikut ayah melaut
karena yakin
kami bisa selalu kembali

bahwa kini aku meratapi puing-puing ini
bukan sedih, namun sepi membayangi
bahwa besok, aku mungkin memilih di sini
hanya ingin mengulang kembali
walau tahu itu tak pasti (hal. 17)

Duminanga, tanah harapan. Sebuah perahu tertambat di pantai, tanpa awak. Langit biru, sebiru air laut membujur nun jauh di sana. Di situ Jamal juga menuliskan puisinya:

kami telah tiba
dengan memendam luka itu
di sini, keringat
segera menetesi tanah
yang sejak kemarin
telah membasahi air muka
wajah pribumi
Selamat datang
di dunia beban! (hal.63)

Denny mengakui, apa yang disajikan dalam buku ini, bukanlah cerita keseluruhan dari tragedi di Buyat. Ini hanyalah sepenggal kisah tentang eksodus sebagian besar warga Buyat yang bermukim di Desa Pante Lakban menuju Desa Duminanga. Dalam pengantar bukunya, Denny menulis, ”Walau kontraversi tentang Teluk Buyat sudah berlangsung lama, namun perjalanan ini merupakan kali pertama saya menyapa tempat yang ternyata tidak lebih bagus dari Pante Tasikoki — tempat saya keseharian. Anehnya, kedatangan saya ke Buyat justru saat orang-orang di sana memutuskan untuk pergi.”

Masa eksodus usai, beberapa hari berselang. Denny — juga Jamal — datang lagi ke Buyat Pante. Lagi-lagi Denny memotret, Jamal mengamati. Mereka menemukan tidak semua warga ramai-ramai menuju tanah harapan. Sebagian yang eksodus kembali lagi ke tanah semula. Mereka menemukan denyut nadi warga masih berdetak, roda kehidupan masih berputar.

Denny merekam aktivitas nelayan yang melaut, warga yang ramai-ramai menggotong ikan hasil tangkapan, anak-anak bermain lepas, alas kaki bertumpuk dekat pintu musalah. Seperti perjalanan sebelumnya, Denny kembali membingkai rekaman gambar-gambar itu dihiasi goresan puisi Jamal. Sebuah buku foto-puisi kembali lahir dari tangan keduanya, Buyat: Hari Terus Berdenyut, diterbitkan oleh Banana.

Ada anak yang membantu orangnya tuanya mendorong perahu ke tepi pantai, ada bocah kecil memperbaiki ban mobil-mobilan yang terbuat dari karet, ada wajah-wajah tersenyum di balik jendela bersama seorang anak di sebelahnya yang tampak malu-malu, seakan mengisap jempol tangannya.

Lohat pula sebuah perahu yang tertambat di pantai. Bocah-bocah kecil bermain riang di sisi sebelah angkutan laut itu. Sang kakak memeluk adik sembari mengangangkat telunjuk dan jari tengah, seorang bocah lainnya memegang dagu dengan sebelah tangan menunjuk.

Di situ Jamal menggoreskan puisinya:

sekelompok burung camar
membuat aku belajar
seolah semua datang
pula pergi begitu saja
tapi di pelataran bumu mana pun
tak ada yang benar-benar sendiri
setidaknya hamparan pasir
masih setia dipijaki
juga ombak tak jemu
mencandai jemari.

Sebuah gambar berbicara seribu kata, kata orang. AS Laksana — yang memberi pengantar buku ini — pun menyadari, buku ini tak diniatkan berurusan dengan proses hukum yang terjadi di sana. Bagi AS Laksana, ia hanyalah secuil upaya untuk mewakili ketidakhadiran kita, sebuah ikhtiar untuk meringkas jarak dan mendekatkan kita pada apa yang saat ini berlangsung di sana.

Tentu, dia melanjutkan, ada pesan di dalamnya, ada upaya menyampaikan sesuatu melalui gambar-gambar yang disajikan. ”Dan dalam banyak kesempatan, Anda tahu, foto adalah alat yang efektif untuk menyampaikan pesan.”

Sebagai penulis, AS Laksana mengaku cemburu pada fotografer. Dia bilang, ”Seorang fotografer yang cermat saya kira adalah orang yang memiliki kesabaran, ketajaman intuisi, dan nasib baik untuk mengabadikan momen-momen langka.”

Dengan kameranya, menurut dia, seorang fotografer mewakili orang lain yang mungkin sibuk dengan urusan sehari-hari sehingga abai pada persoalan-persoalan kemanusiaan yang jaraknya ribuan kilometer. ”Ia mengajak kita merasakan denyut kehidupan yang terjadi di tempat-tempat jauh,” tulisnya.

Denny SE Taroreh, pria kelahiran Manado, 10 September 1973 ini, mengambil peran itu. Denny memperpendek jarak, mendekatkan kita dengan Buyat. Ia datang saat warga memilih eksodus, ia ke sana setelah itu. Buku Eksodus ke Tanah Harpan dan Buyat: Hari Terus Berdenyut menjadi indah dengan bait-bait puisi Jamal Rahman.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/05/horison-tragedi-buyat-dalam-foto-dan.html

Categories: Esai