Tag Archives: Burhanuddin Bella

Tragedi Buyat dalam Foto dan Puisi

Burhanuddin Bella
Republika, 13 Mei 2007

PANTE Lakban, Minahasa Selatan, 25-26 Juni 2006. Sebanyak 68 kepala keluarga memilih eksodus, meninggalkan desa mereka. Dibalut duka, mereka menempuh perjalanan kurang lebih 130 km menuju Desa Duminanga, Bolaang Mongondow. Hari berganti, tapi roda kehidupan tak mesti berhenti di sana.

Menulis untuk Eksplorasi Isu

Burhanuddin Bella
Republika, 24 Feb 2008

QAISRA Shahraz melakukan tur ke Indonesia untuk novel Perempuan Terluka dan riset tentang Muslimah.

Qaisra Shahraz mempunyai pengandaian. Novelis Inggris kelahiran Pakistan ini menggambarkan proses menulis sama halnya dengan proses melahirkan. ”I much liken the creative writing process to the cycle of motherhood,” tutur perempuan yang beremigrasi bersama keluarga ke Inggris sejak usia 9 tahun itu.

Geliat Baru Balai Pustaka

Burhanuddin Bella
http://www.infoanda.com/Republika23 Sep2007

Balai Pustaka yang selama ini dikesankan hanya menerbitkan buku-buku tua, khususnya sastra, kini mulai berbenah diri. Maklum, selama ini buku-buku yang diterbitkan perusahaan milik pemerintah ini seakan tidak bisa bersaing di pasar. Kemampuannya tak bisa mengimbangi inovasi dan kreativitas perusahaan sejenis milik swasta. Tengoklah di gerai toko-toko buku, amat sulit menemukan buku terbitan Balai Pustaka.

FORUM LINGKAR PENA 10 Tahun 500 Buku

Wadah penulis muda jini dijuluki sebagai pabrik buku cerita
Burhanuddin Bella
http://www.infoanda.com/Republika

Sepuluh buku baru karya 10 penulis Forum Lingkar Pena (FLP), 24 Maret 2007 lalu, diluncurkan dan didiskusikan secara sekaligus di Library @ Senayan, Komplek Depdiknas, Jakarta.

Keberadaan FLP memang tidak terpisah dari buku, terutama buku-buku fiksi Islami, yang jumlahnya kini mencapai ratusan. Jumlah 10 buku itu ‘menandai’ usia FLP, yang pada 22 Februari 2007, genap 10 tahun, dan pada hari itu diperingati secara besar-besaran.

Mengemas Cerita Rakyat Jadi Buku

Burhanuddin Bella
http://www.infoanda.com/Republika

Seorang menteri bersama kelompok kecil menghadap raja. `’Ampun beribu ampun, Baginda. Kami datang tanpa diundang,” sang menteri bersimpuh.
`’Katakan, apa maksud kedatangan kalian,” tanya raja.
`’Kedatangan kami kemari memohon Baginda untuk memilih satu di antara dua pilihan.”
`’Pilihan apa?” raja makin tak sabar.