Utuy dan Sang Kuriang

Jejen Jaelani
Pikiran Rakyat, 26 Sep 2008

DALAM esainya “Kakayaan Batin Ki Sunda, di Sagigireun Si Kabayan Aya Sang Kuriang”, Utuy Tatang Sontani menyatakan bahwa salah satu pedoman hidup manusia Sunda yang selalu dinasihatkan orang tua kepada anak-anaknya adalah sing cageur jeung bageur atau kurang lebih saya terjemahkan “semoga sehat lahir batin dan berbudi baik”.

Pedoman hidup ini dapat diartikan bahwa manusia Sunda harus ramah dan sopan, tidak jahat kepada orang lain, dan di dalam keadaan terdesak dapat mengkritik dan menertawakan diri sendiri. Di samping pedoman hidup untuk hidup sehat lahir batin dan berbudi baik, Utuy Tatang Sontani menyatakan bahwa harus ada sikap lain yang dimiliki manusia Sunda. Jika pedoman untuk hidup sehat lahir batin dan berbudi baik menggambarkan hidup yang tetap, hidup yang tidak lagi mengalami perubahan, harus ada sikap lain yang dimiliki manusia Sunda. Sikap ini diperlukan karena dalam hidup ada dunia yang tidak tetap. Dalam umur yang panjang ada zaman, ada tahun, ada bulan, ada hari, dan ada menit yang mendatangkan apa-apa dan minta dihadapi oleh sikap yang harus apa-apa oleh apa-apa. Manusia Sunda harus gesit, tegas, dan di dalam keadaan tertentu kadang dibutuhkan sikap berani memberontak atau melakukan sesuatu untuk perubahan.

Pandangan Utuy Tatang Sontani terhadap manusia Sunda yang gesit, tegas, dan di dalam keadaan tertentu berani memberontak atau melakukan sesuatu untuk perubahan tertuang dalam karya dramanya, “Sang Kuriang”. Pada pandangan umum, Sang Kuriang sering dianggap sebagai manusia yang bejat akhlak. Tokoh ini ada kalanya dianggap sebagai pengejawantahan sifat buruk dan jahat. Utuy mengatakan bahwa mengukur tokoh ini harus dengan ukurannya sendiri seperti malam yang harus diukur dengan ukuran malam bukan dengan ukuran siang. Kebenaran yang ada di dalam diri Sang Kuriang harus diukur dengan ukurannya sendiri.

Sang Kuriang dalam drama Sang Kuriang ditampilkan sebagai seorang manusia yang selalu gelisah. Dalam drama ini, Sang Kuriang selalu mempertanyakan siapa ayahnya, mempertanyakan apakah benar Dayang Sumbi yang muda belia adalah ibunya, mempertanyakan apakah adil Si Tumang yang cacat, bisu, dan buruk rupa adalah ayahnya, mempertanyakan apakah adil Dayang Sumbi yang cantik dipetik oleh Si Tumang yang cacat, bisu, dan buruk rupa, serta mempertanyakan kebenaran dan kekuasaan itu milik siapa.

Sang Kuriang dalam drama ini adalah representasi pandangan Sontani terhadap manusia yang harus tidak sehat dan tidak baik, manusia yang harus apa-apa oleh apa-apa, dan manusia yang harus tidak pernah merasa puas terhadap segala yang dilihat dan dialaminya. Tokoh ini adalah tipe manusia yang siap menghadapi zaman, menghadapi tahun, bulan, hari, dan menit. Sang Kuriang adalah representasi manusia yang apa-apa oleh apa-apa, manusia yang tidak akan puas hanya dengan mendengar apa yang diucapkan orang lain, bertanya karena ada hal-hal yang harus dipertanyakan, berpikir karena ada yang harus dipikirkan, membunuh karena ada yang harus dibunuh (Utuy Tatang Sontani, 1957).

**

UTUY melihat Sang Kuriang sebagai manusia yang memegang kebenaran sesuai dengan ukurannya sendiri. Sang Kuriang adalah tipe manusia yang tidak tunduk pada konvensi umum. Ia adalah manusia yang akan selalu mempertanyakan kebenaran. Walaupun kebenaran yang ia pegang bertolak belakang dengan konvensi umum, ia akan tetap menjunjung kebenaran tersebut.

Sebelum membunuh Si Tumang dan meminang Dayang Sumbi, Sang Kuriang diceritakan sebagai orang yang lahir dari ibu yang tidak memiliki daya dan upaya. Hal ini kemudian dalam konvensi umum disebut sebagai takdir yang Mahakuasa. Namun, Sang Kuriang tidak demikian. Sang Kuriang mencari kebenaran yang sebenar-benarnya. Setelah bertanya kepada semua yang ada di luar dirinya mengenai siapa yang kuasa, ia tidak mendapatkan jawaban. Kemudian Sang Kuriang menemukan jawaban bahwa kekuasaan hanya ada dalam dirinya. Ia menemukan bahwa dirinyalah yang berkuasa.

Sang Kuriang adalah representasi manusia yang tidak pernah puas dengan segala yang ia alami. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya haruslah dapat dipertanggungjawabkan. Ia tidak akan menerima apa pun sesuai dengan konvensi umum; sesuatu yang menurut pandangan umum benar. Hal itu tentu belum tentu benar baginya.

Sang Kuriang menggugat sikap hidup Dayang Sumbi yang menganggap bahwa segala yang terjadi adalah kehendak Dewata Raya. Ia juga tidak menerima bahwa Dayang Sumbi yang cantik dan membuatnya jatuh cinta pernah dipetik Si Tumang, makhluk jelek tanpa daksa. Ia mempertanyakan apakah adil Dayang Sumbi yang cantik dipetik Si Tumang yang tanpa daksa. Apakah yang dialami Dayang Sumbi harus dianggap sebagai keajaiban atau kebohongan? Ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.

Ia tidak yakin bahwa Si Tumang adalah ayahnya. Jika benar Si Tumang adalah ayahnya, ia akan merasa malu. Sang Kuriang terus mempertanyakan apakah benar Si Tumang adalah ayahnya. Ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Setelah tidak mendapatkan kebenaran dari orang lain karena semua orang membisu dan tidak tahu, Sang Kuriang bertanya kepada dirinya sendiri. Ia meyakini bahwa jawaban dari dirinya sendiri adalah jawaban satu-satunya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri dan ia tidak tahu jawabannya. Kemudian Sang Kuriang menganggap bahwa ketidaktahuan adalah kebenaran satu-satunya.

Sang Kuriang membunuh Si Tumang dan meminang Dayang Sumbi karena ia menganggap wujud ayah dan ibu yang tidak menggambarkan keadilan. Apakah adil Dayang Sumbi yang cantik hamil oleh Si Tumang yang cacat dan buruk rupa? Apakah enak menerima takdir menjadi anak dari peristiwa yang tidak adil? Jika Sang Kuriang mengakui Dayang Sumbi sebagai ibu dan Si Tumang sebagai ayah, Sang Kuriang akan merasa disiksa oleh ketidakadilan.

Utuy menyatakan bahwa jika Sang Kuriang menerima Si Tumang sebagai ayah dan Dayang Sumbi sebagai ibu, Sang Kuriang akan merasa disiksa oleh ketidakadilan. Jalan satu-satunya untuk lepas dari siksaan tersebut adalah mengakui adanya kebenaran tentang adanya wujud ayah dan ibu. Wujud tersebut adanya di dalam diri Si Tumang dan Dayang Sumbi. Akan tetapi, Sang Kuriang bukanlah orang yang dapat menerima apa pun begitu saja. Ia adalah manusia yang memiliki nilai lain dan mempunyai pandangan lain sebagai gantinya. Ia memiliki “aku” yang berontak terhadap segala ketidakadilan. Dibunuhnya Si Tumang dapat dianggap sebagai dihilangkannya kenyataan yang menyiksa atau dihilangkannya ketidakadilan. Selain itu, dipinangnya Dayang Sumbi dapat dilihat sebagai niat akan dibangunnya hidup yang baru; hidup baru yang di dalamnya terdapat “aku” yang tenteram karena tidak akan mengalami penyiksaan lagi.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa Utuy Tatang Sontani melihat Sang Kuriang sebagai manusia yang menghancurkan untuk membangun. Sang Kuriang memiliki pandangan hidup menghancurkan ketidakadilan untuk membangun hidup yang lebih baik dan adil. Semua ini dilakukan dengan persiapan bekal nilai lain untuk membangun kehidupan yang baru.

Adapun kegagalan Sang Kuriang dalam membangun hidup yang baru, yaitu menikahi Dayang Sumbi, berada di luar kekuasaan manusia. Jika diukur dengan ukuran manusia, Sang Kuriang adalah seorang revolusioner. Jalan pikirannya dapat dianggap sebagai jalan pikiran manusia merdeka — seorang manusia berjiwa besar; manusia yang telah menyediakan nilai lain sebagai modal untuk mencapai cita-cita dan membangun hidup yang baru.

* Jejen Jaelani, pemerhati sastra.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/utuy-dan-sang-kuriang.html