Wajah Kita Dalam “Negeri Daging”

Ken Sawitri
http://gusmus.net/

Negeri Daging (2002) adalah salah satu (dari delapan) antologi puisi Gus Mus (Ahmad Mustofa Bisri). Dikenal tidak hanya sebagai penyair, Gus Mus dikenal juga sebagai seorang ulama, cendekiawan, dan tokoh yang dihormati tidak hanya bagi umat tertentu.

Teguh mengemban amanah bahwa Islam adalah ‘rahmat bagi sekalian alam’ (rahmatan lil ‘alamin), Gus Mus mengedepankan pendekatan kasih sayang dalam setiap persoalan yang dihadapinya, dan mengkritik keras arogansi umat maupun ulama atas nama agama.

Indonesia air mata kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu dihina-hina bangsa
Disana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung berebut kuasa
Sampai entah kapan akhirnya.

(dinyanyikan dengan melodi lagu ‘Indonesia Pusaka’ ciptaan Ismail Marzuki, bait ke-5 ‘Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu’:31).

Di bawah gegap gempita dan gemerlapnya isu-isu tentang kemajuan teknologi informasi, usia kemerdekaan bangsa dan negara yang terus melaju sering membuat kita merasa makin terpuruk mendapati keadaan kita sebagai bangsa yang agaknya masih ‘terbelakang’ juga, bahkan dalam memaknai informasi tentang ‘kemerdekaan’:

Bangunlah, ini era reformasi!

Ohoi,
Katakanlah reformasi
Kau ‘kan rasakan nikmatnya kebebasan sejati

Ohoi,

Mereka yang tak pernah kenal rakyat
kini boleh mengaku mewakilinya
Mereka yang tak pernah tahu politik
kini boleh asyik mempermainkannya

Ohoi,

Mereka yang dulu tak pernah ngerti kekuasaan
kini boleh sibuk memperebutkannya
Mereka yang dulu tak pernah paham demokrasi
kini boleh giat belajar menekuninya

Ohoi,

Katakanlah demokrasi
Kau ‘kan tahu rasanya caci-maki
Katakanlah reformasi
Kau ‘kan rasakan nikmatnya anarki

Ohoi, reformasi
Ohoi!

(‘Reformasi (d/h Merdeka) atawa Boleh Apa Saja’:35-36).

Tanpa pemahaman substansi kemerdekaan, maka akan tidak ada batas antara merdeka dan anarki. Fungsi-fungsi yang ada dalam masyarakat pun rancu dan kacau:

Apalagi
yang bisa kita lakukan
bila kepentingan lepas dari kendali
hak lepas dari tanggungjawab
perilaku lepas dari rasa malu
pergaulan lepas dari persaudaraan
akal lepas dari budi
?

(‘Jadi Apa Lagi’:15).

Kita pun kini patut bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi? Bagaimana mungkin negara yang demikian kaya, bangsa yang dikenal dengan peri yang demikian luhur mengalami kekacaubalauan sedemikian dahsyat? Bagaimana pertanggung-jawaban kita sebagai khalifah Allah di muka bumi-Nya ini?

MANUSIA SEBAGAI SUBYEK YANG MENANGGAPI REALITAS

Manusia bukanlah obyek yang dibentuk secara pasif oleh pengalamannya (seperti teori ‘tabula rasa’ John Locke). Manusia adalah subyek yang senantiasa melakukan dialog dengan ‘realitas’: dunia sekeliling yang menjadi persepsinya. Hanya dengan dialogi itulah terjadi aktualisasi dirinya. Atau dengan kata lain, manusia sebagai pribadi berkembang atas asas ‘respondeo, ergo sum’.

Dialogi antara manusia dengan dunianya (human responses) tidaklah mekanistik seperti pada binatang (animal responses). Manusia terlibat dengan realitas secara trans-subyektif di mana realitas akan kembali kepada manusia sambil menyempit sebagai kemungkinan.

Realitas yang semula terbentang ibarat tanpa batas, oleh manusia dalam tanggapannya, dipergaulinya sebagai kemungkinan yang memberi peluang untuk melakukan pilihan demi membatasi respons-respons yang ditampilkannya.

Jadi menurut rumus ‘respondeo, ergo sum’, manusia adalah penanggungjawab atas setiap ‘jawaban’ yang dipilihnya dalam menanggapi lingkungannya sebagai aktualisasi dirinya sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah, seberapa jauh -sebagai warga negara- kita telah memberi andil dalam terjadinya ironi yang banyak terjadi di tanah air kita ini?

KEGILAAN KEPADA ‘DAGING’

Selama ini kita mengaku ber-Tuhan dan merasa sudah ‘membawa Tuhan ke mana-mana’. Kita rajin membangun rumah ibadah, bersedekah, selalu melibatkan para ulama dalam menyelenggarakan urusan sehari-hari –setidaknya dalam upacara-upacara. Kita sendiri sudah sangat akrab dengan berbagai doa sehari-hari (anak-anak TK zaman sekarang pun boleh diperiksa jumlah hafalan doa mereka!).

Seolah juga tidak ingin sekejap pun lupa kemauan Tuhan, informasi tentang Tuhan dan praktek berketuhanan – dalam berbagai kemasannya – pun demikian mudah kita dapatkan, apakah di radio, televisi, media cetak, ponsel, internet. Mau yang ‘kuno’ seperti buku dan kaset? Atau yang lebih modern seperti CD, VCD, DVD, website? Atau yang praktis seperti paket panduan agama melalui SMS? Semua ada. Tinggal tentukan pilihan sesuai selera.

Akan tetapi anehnya, ketika informasi tentang spiritualitas begitu marak dan aksesnya demikian mudahnya, mengapa kita justru mengalami kekacaubalauan ini? Mengapa praktek korupsi semakin menggila misalnya-seolah Tuhan pernah tidur atau lupa mengawasi? Juga mengapa hari-hari ini kita semakin terkepung dengan paparan cara-cara kekerasan (yang makin beringas dan tidak masuk akal) dalam menyampaikan pikiran dan dalam berbeda pendapat, seolah lupa bahwa kita adalah mahluk Tuhan dengan seperangkat kemuliaan sebagai manusia?

Sinyalemen Gus Mus agaknya menjawab ‘keanehan’ keadaan kita. Selama ini kita agaknya hanya sibuk dengan ‘penampilan’ ber-Tuhan tapi terlalu sedikit mempertanyakan bagaimana peribadatan berdaya dalam mencerahkan kehidupan:

Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
Mereka terus membuatkanMu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga di tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah
dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan namaMu
menambah segan dan keder hamba-hamba kecilMu
yang ingin sowan kepadaMu.
NamaMu mereka nyanyikan dalam acara hiburan
hingga pesta agung kenegaraan.

Mereka merasa begitu dekat denganMu
hingga masing-masing merasa berhak mewakiliMu

Mereka yang Engkau anugerahi kekuatan
Seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
Mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
Tapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka
Mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka yang kosong
bagai perut bedug.

(‘Kaum Beragama Negeri Ini’:13-14).

HILANGNYA KEPEKAAN TERHADAP KEBERSAMAAN

Karena sibuk dengan ‘daging’ spiritualitas, kadang mengerikan menyadari bahwa kita sudah sedemikian jauh kehilangan rasa kebersamaan, ruh spiritualitas:

Apakah kau terlalu bebal atau aku yang terlalu peka?

Di depan layar datar televisi produk mutakhir
di ruang keluarga
yang lapang dan terang benderang
kau dan keluargamu menyaksikan gelombang gelap melanda
beberapa kawasan di dunia bahkan di negerimu sendiri
sambil melahap pizza dan ayam goreng Amerika.

Asap hitam mengepul di Ambon
Asap hitam mengepul di Aceh
Asap mengepul di Sampit
Asap hitam mengepul dimana-mana. Berlapis-lapis
gelap melanda negerimu sendiri
memedihkan mata dan hati.

Pemandangan memilukan pun tak mampu
mengusik seleramu. Apalagi tak lama kemudian
sinetron yang seronok dengan cepat membawamu
kembali ke duniamu.

Pemandangan yang mengerikan pun tak mampu
mengganggu nafsumu. Apalagi segera datang tayangan
gossip selebriti yang penuh gelak tawa
mengasyikkan dan menghiburmu.

Bila kau dan kawan-kawanmu sesekali
membicarakan bencana kemanusiaan ini
di kafe-kafe sambil mendengarkan para artis bernyanyi
atau di hotel-hotel berbintang sambil mendengarkan
para pakar berteori
kau pun telah merasa ikut berjasa
dalam upaya mencari solusi.

(‘Apakah kau Terlalu Bebal’:18-21).

KESALAHKAPRAHAN DALAM MENYIKAPI RIZKI

Kegilaan kita kepada ‘daging’ berawal dari ketidaktepatan sikap kita terhadap apa yang kita sebut rizki. Rizki adalah nilai yang ditimbulkan oleh hasil kerja. Rizki merupakan sebuah konsep yang mengandung etika kerja. Manusia bekerja dalam perannya sebagai khalifah Allah di bumi, sebagai pengelola sumber daya. Manusia diperintahkan Allah untuk berpikir dan mengusahakan rizki yang halal dan thayyib (baik). Dengan halal dan thayyib secara implisit terkandung konsep pengendalian diri, bahwa keleluasaan manusia sebagai khalifah (penguasa) di bumi dibatasi oleh ketakwaan sebagai ‘abduLlah (hamba Allah). Dalam kerangka inilah kerja disebut sebagai ibadah.

Karena seseorang tidak bisa mendapatkan penghasilan atau keuntungan tanpa bekerja sama dengan orang lain (al-Zukhruf:32), maka Allah mengatakan bahwa dalam setiap rizki terdapat hak bagi golongan yang miskin dan yang lemah, tertinggal, atau mengalami kesulitan hidup (al-Dzariyat:19). Jadi rizki bersifat sosial baik dalam proses produksi maupun konsumsinya.
Namun di Negeri Daging:

untuk mendapatkan daging
orang-orang tidak berjalan
tapi berlarian
tidak berdekatan
tapi berdesakan
tidak bersaing
tapi saling menjatuhkan

di negeri daging
untuk mendapatkan daging
orang-orang tidak menghimbau
tapi membentak
tidak bicara
tapi berteriak
tidak saling sentuh
tapi saling tabrak

(‘Negeri Daging’:37-42).

Jika kita menderita kegilaan kepada ‘daging’, dapatkah kita membayangkan kita dapat melaksanakan amanah ke-khalifah-an dan menunaikan tanggung jawab sebagai ‘abduLLah?

Inilah kesaksianku
Inilah pernyataanku
Inilah ikrarku:

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh memperhambaku kecuali
Allah
Tapi nafsu terus memperhambaku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh menguasaiku kecuali
Allah
Tapi kekuasaaan terus menguasaiku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh menjajahku kecuali
Allah
Tapi materi terus menjajahku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh mengaturku kecuali
Allah
Tapi benda mati terus mengaturku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh memaksaku kecuali
Allah
Tapi syahwat terus memaksaku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh mengancamku kecuali
Allah
Tapi rasa takut terus mengancamku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh merekayasaku kecuali
Allah
Tapi kepentingan terus merekayasaku

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah
aku mengharap

Tapi kepada siapa pun
Masyaa Allah!
aku mengharap

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah
aku memohon

Tapi kepada siapa pun
Masyaa Allah!
aku memohon

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah
aku bersimpuh

Tapi kepada apa pun
Masyaa Allah!
aku bersimpuh

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah
aku bersujud

Tapi kepada apa pun
Masyaa Allah!
aku bersujud.

Laa ilaaha illa Llah
Masyaa Allah!

(‘Syahadat’:5-7).

Ken Sawitri, Setitik Air

DAFTAR PUSTAKA
Anshari, Abu Asma, Abdullah Zaim, Naibul Umam ES, 2005, cet.1, Ngetan Ngulon Ketemu Gus Mus, Refleksi 61 Tahun KHA Mustofa Bisri, Semarang, HMT Foundation
Bisri, A.Mustofa, 1991, cet.ke-3, Ohoi, Kumpulan Puisi-Puisi Balsem, Jakarta, Pustaka Firdaus
Bisri, A.Mustofa, 1993, Tadarus, Yogyakarta, Prima Pustaka
Bisri, A.Mustofa,1995?, Rubaiyat Angin dan Rumput, Jakarta, Majalah Humor dan PT Matra Multi Media
Bisri, A.Mustofa,1995, Pahlawan dan Tikus, Jakarta, Pustaka Firdaus
Bisri, A.Mustofa, 1996, Wekwekwek, Sajak-Sajak Bumilangit, Surabaya, Risalah Gusti
Bisri, A.Mustofa, 1998, Gelap Berlapis-lapis, cetakan pertama, Rembang dan Jakarta, Yayasan Al-Ibriz dan Fatma Press
Bisri, A.Mustofa,2000, Gandrung, Sajak-Sajak Cinta, Rembang, Yayasan Al-Ibriz
Bisri, A.Mustofa, 2002, Negeri Daging, Yogyakarta, Bentang
Hassan, Fuad, Kesusastraan sebagai Layar Proyeksi, Kompas 22 November 1985
Hassan, Fuad, Respondeo, Ergo Sum, makalah untuk ‘Seminar on Man’, diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro, Semarang 20-21 Oktober 1982
Rahardjo, M. Dawam, Rizq, Ensiklopedi al-Qur’an, Ulumul Qur’an No.6/Vo.II/1990/1411H :46-55

25 Mei 2006
Sumber: http://gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=4&id=381&bulanku=1&tahunku=2008&bulanku=2&tahunku=2008