Amnesia

Mario F Lawi
http://kupang.tribunnews.com/

MATAHARI menjelma dua. Semua orang panik dan berteriak. Karena tiba-tiba saja sebuah bola api raksasa berputar di angkasa. Meninggalkan gelegar dan kilau di langit. Meninggalkan bias-bias cahaya setiap kali menjengkal angkasa. Sebagian orang berpikir bahwa bintang lain akan mengancam keberadaan bumi.
Sebagian lagi berpendapat bahwa inilah kutukan Tuhan bagi dunia yang semakin terpuruk.

Tapi para ilmuwan memastikan bahwa bola raksasa itu bukanlah matahari ataupun benda-benda angkasa yang sudah terdeteksi sebelumnya. Benda itu merupakan benda asing yang belum pernah diketahui sebelumnya. Tak ada satelit ataupun teropong yang mampu memastikan benda apakah itu. Temperatur bumi bahkan tidak meningkat. Hanya frekuensi cahaya yang semakin bertambah. Malam tak akan pernah lagi menudungi bumi dengan kelam.

Segenap penduduk bumi serentak panik. Bola itu meluncur ke bumi, semakin lama semakin deras, seperti bongkahan kesedihan yang jatuh dari hati yang terluka. Kadang terlihat seperti serpihan mimpi buruk yang meluncur ke lubuk tidur. Menimbulkan percik-percik kemerahan di sisinya yang mulai menyentuh atmosfer bumi seperti percikan-percikan api dari dua sisi besi yang bergesekan.

Orang-orang mulai mencari cara meninggalkan bumi. Orang-orang kaya dan para pemimpin negara mulai menciptakan roket-roket mahahebat untuk meninggalkan bumi yang akan ditimpa bola raksasa asing dari luar angkasa. Sebagian kepala negara bahkan menggunakan uang rakyat untuk mendanai pekerjaan tersebut. Lebih baik sebagian orang terbaik selamat daripada keselamatan seluruh rakyat, pikir mereka.

Mereka bahkan mengajak serta keluarga mereka untuk pergi ke Mars yang secara ajaib sudah mulai menumbuhkan tetumbuhan dari antara pori-porinya yang gersang.
Sedangkan bagi mereka yang tak mampu berbuat lebih, hanya doa dan tobat yang keluar dalam setiap hela napas.

Orang-orang miskin mulai menangis dan meratap, melipatgandakan kesedihan yang tersisa di wajah mereka. Tangisan mereka mulai menggema di seluruh bumi. Televisi dan radio semakin mendramatisir tangisan-tangisan mereka dengan menyiarkannya secara berulang-ulang diselingi acara mimbar-mimbar agama yang semakin sering diputar. Para tokoh agama berdiri paling depan, mengajak semua orang bertobat seakan merekalah yang paling bersih.

Di langit, gemuruh guntur dan kilat sambar-menyambar, seolah ingin melengkapi segala ketakutan. Orang-orang mulai berteriak-berteriak sembarangan, setiap kali ada dentum guntur dan guratan kilat di langit. Namun, semakin mendekati bumi, kecepatan bola itu semakin lambat.

Bola itu menghujam bersama gemuruh di langit yang tampak cerah. Tak banyak orang yang mampu menerjemahkan suara gemuruh itu selain mereka yang diberi karunia untuk membaca tanda-tanda alam.

Dan orang-orang itu sepakat bahwa gemuruh itu adalah serangkaian suara yang mengatakan bahwa dari negara tempat bola itu jatuh akan lahir orang-orang hebat yang tak tertandingi oleh negara mana pun dan negara itu akan menjadi negara nomor satu di dunia dan tak tertandingi oleh bangsa dari negara mana pun juga. Presiden negara Amnesia yang sudah berada di Mars mendapatkan kabar gembira dari para pejabatnya yang ada di bumi bahwa bola itu jatuh di negara Amnesia, tepat di kota Metrianit, ibukota negara Amnesia.

Bola itu melingkupi setengah kota Metrianit. Lalu mata sang Presiden berkaca-kaca menahan tangisan kegembiraan yang mulai menggantung di kedua kelopakmata tuanya yang mulai menggelambir. Ia mengembuskan napas dan meniupkan doa ke hadirat Tuhan.

“Terima kasih, Tuhan, sebentar lagi akan kaubebaskan negara kami dari derita berkepanjangan.”

Dengan penuh haru, sang Presiden berkata kepada isterinya, “Bu, negara kita akan menjadi negara adidaya. Rakyat kita tentu tak perlu lagi sengsara.”

Setelah berunding dengan isterinya, presiden Amnesia berpendapat bahwa kabar gembira ini harus diberitahukan pada kepala negara-kepala negara bumi yang ada di Mars.

“Teman-teman, dunia tak jadi kiamat.”

“Hmm… Syukurlah!”

“Ada satu lagi berita menggembirakan.”

“Apa?”

“Negara tempat bola api itu jatuh akan menjadi negara adidaya yang baru.”

“Benarkah? Lalu, apa berita menggembirakannya?”

“Bola api itu jatuh di negaraku,” katanya sambil berlinangan airmata haru.
Semua pemimpin bangsa di Mars seketika diam.

* * *
Sementara di bumi, bola itu retak seperti sebutir telur yang menetas. Dari dalamnya tumbuh berbagai macam tumbuhan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Sebuah sumber mata air mengalir dari tengah bola itu. Kemudian cahaya menyilaukan menghampar dari retak-retak bola itu.

Lalu dari balik cahaya, segala binatang yang pernah dan yang akan ada di bumi, baik yang telah punah maupun yang akan mengalami evolusi, muncul berpasang-pasangan dan berjalan beriringan seperti ketika dulu Nuh menuntun nenek moyang mereka masuk ke dalam bahtera. Mereka kemudian menyebar ke seluruh penjuru kota.

Sebagian penduduk memandang dengan kagum. Sebagian lain, terutama para birokrat kota, mulai membuat kesepakatan untuk memonumenkan tempat jatuhnya bola itu. Tak tanggung-tanggung, dana yang dipersiapkan untuk rencana tersebut konon mampu menghidupi seluruh penduduk kota bersama keturunan mereka selama 100 tahun.

Menurut mereka, tak ada ruginya mengucurkan dana sedemikian besar demi memperingati peristiwa monumental tersebut. Sementara itu, dari tempat bola itu jatuh, terhamparlah padang rumput yang kemudian tumbuh menyebar ke sekeliling kota.

Dari padang rumput itu kemudian bertunaslah bunga-bunga, perdu dan pepohonan serta segala tanaman yang melata. Cahaya bola itu perlahan meredup. Lalu, dari antara retakan bola, orang-orang Metrianit melihat sepasang manusia yang telanjang berkejaran di dekat sumber mataair. Laki-laki dan perempuan.*

Naimata, 2011