Buku sebagai Istri Pertama?

Ahmad Fatoni

ALKISAH, ibunda Hatta pernah dibuat jengkel oleh putranya. Kejengkelan itu justru terjadi di hari perkawinan sang proklamator. Pasalnya, hadiah pengantin Hatta kepada Rahmi ternyata sebuah buku. Pada hari bersejarah tersebut, Hatta menghadiahkan kepada calon istrinya sebuah buku yang baru ia tulis berjudul Alam Pikiran Yunani. Tentu saja ibunda Hatta tak setuju. Umumnya hadiah perkawinan berupa uang, emas, atau minimal seperangkat alat shalat. Tapi bagi Hatta, buku adalah harta yang paling berharga.

Begitu erat hubungan emosional antara Hatta dan buku. Lalu ada anekdot yang mengatakan istri pertama Hatta adalah Buku. Barangkali bantal dan gulingnya adalah buku. Ke mana pun ia pergi, buku selalu menyertainya, termasuk ke pembuangan sekalipun. Pada waktu ia hendak dibuang ke Boven Digul, ia meminta izin selama tiga hari kepada petugas untuk mengepak dulu buku-bukunya yang akan dibawa serta. Buku yang dibawa ke pembuangan masa itu sebanyak 4 m3 yang dibagi ke dalam 16 peti dengan ukuran masing-masing seperempat meter kubik.

Di mata para pecandu pengetahuan, buku merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Mereka memiliki hubungan yang amat lekat dengan buku. Makanan sehari-hari mereka adalah buku. Mereka senang sekali melahapnya karena menganggap buku sebagai nutrisi ilmu pengetahuan.

Konon, dalam sejarah Mesir Kuno, Fir’aun saat berkuasa, memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi sejumlah 20.000 buku. Ini suatu bukti bahwa pengetahuan adalah sumber kekuatan sebagaimana dilontarkan ilmuwan-filusuf Inggris, Francis Bacon. Jauh sebelum Bacon mengucap kata-kata tersebut, Islam pun telah mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu dengan menggalakkan tradisi membaca. Bahkan, perintah membaca dalam Islam merupakan perintah pertama dan utama sebelum diperintahkan yang lain sebagaimana disimbolkan dengan perintah iqra (bacalah!).

Membaca adalah jihad dengan aksara dan buku merupakan bahan pokok yang lebih utama dari sembako. Kita simak heroisme para ulama dahulu dalam mencari ilmu yang mungkin tidak akan dijumpai lagi pada masa kini dan juga masa yang akan datang. Hanya dengan bantuan 26 huruf atau abjad, seluruh pengalaman bahkan angan-angan masa depan manusia dapat dituangkan ke dalam lembaran-lembaran kertas atau teks yang kemudian dijilid. Benda inilah yang kita sebut buku.

Berdasarkan kegunaannya, sesuatu dikatakan buku apabila terdiri atas rangkaian informasi atau data yang bermakna yang saling berkaitan secara sistematis dan bernalar. Buku merupakan teks tertulis yang disusun tuntuk tujuan presentasi dan pemeliharaan sumber-sumber informasi berharga. Itu sebabnya buku memiliki nilai pemeliharaan, menyimpan pengalaman, pengamatan, serta pemikiran kritis yang berguna untuk jangka panjang.

Tak heran pula, bila para pendahulu yang juga disebut sebagai penyangga peradaban, rela mendedikasikan diri sepenuhnya untuk mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya melalui buku yang mereka tulis dan koleksi. Ada dari mereka yang menolak menjabat sebagai menteri karena harus memindahkan buku-buku karya dan koleksinya ke rumah dinas. Ada pula yang akhirnya kehilangan penglihatan karena ketekunannya menelaah buku dalam penerangan yang sangat terbatas.

Pertanyaannya, apakah wajah para ulama dan pemimpin masa kini masih tampak seperti para pendahulu mereka yang sangat menggilai buku? Atau, jangan-jangan hanya sibuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan selama memegang jabatan tertentu? Buku senyatanya dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan atau kemunduran peradaban sebuah bangsa.

Hanya, saya agak kurang setuju jika ada yang mengibaratkan, apalagi menyamakan buku sebagai “istri kedua” apalagi “istri pertama.” Mengutip Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Jakarta, cinta kepada istri berbeda level dengan cinta kepada buku. Cinta kepada sang istri tidak bisa diganti dengan cinta kepada buku; dan sebaliknya cinta kepada buku tidak bisa tergantikan oleh cinta kepada istri. Akan tetapi, yang pasti, sebuah musibah besar andai kita kehilangan salah satunya, apalagi kehilangan dua-duanya.

*) Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang