Inilah 5 Penyair Terbaik Jawa Timur

Ribut Wijoto *
Radar Surabaya, 23 Okt 2011.

Dalam beberapa tahun terakhir, kepenyairan di Jawa Timur mengalami guncangan cukup kuat. Banyak peristiwa terjadi. Dan seperti dalam berbagai peristiwa lain, tokoh-tokoh baru muncul. Kondisi ini tentu cukup menggembirakan. Kondisivitas kepenyairan meningkat. Persoalannya, peristiwa sastra tidak boleh melupakan faktor fundamen dalam kepenyairan, yakni puisi.

Berpijak dari teori apapun, ketokohan penyair diukur dari karya puisi. Penyair besar yang lahir dari peristiwa, bila tidak ditunjang dengan puisi yang kokoh, dia mirip patung keramik. Mengkilap tetapi begitu jatuh, dia akan pecah. Itu terjadi karena dalamnya kosong. Lain halnya dengan patung logam. Meski jatuh masih tetap bisa bertahan.

Merujuk pada pada karya puisinya, setidaknya ada 5 penyair terbaik di Jawa Timur. Pertama adalah Mardi Luhung. Selanjutnya Indra Tjahyadi, Muttaqien, F Aziz Manna, dan terakhir M Fauzi. Kelima penyair ini, walau tidak terlibat pusaran peristiwa sastra di Jawa Timur, mereka tetap penyair besar. Karena ketokohannya ditopang oleh ketangguhan puisi.

Di awal kemunculannya, yakni tahun 1990-an, Mardi Luhung mengagetkan kepenyairan di Indonesia. Mardi Luhung menciptakan pola estetik yang enak dibaca tetapi liar dalam tafsir. Membaca puisi Mardi akan seenak membaca puisi D Zawawi Imron. Tetapi perbedaannya sangat kentara. Puisi Mardi mengusung banyak sekali benda, citraan, maupun sugesti. Sebuah puisi yang mudah dibaca tetapi susah ditafsirkan. Sebaliknya, puisi Zawawi mudah dibaca dan mudah ditafsirkan. Pada wilayah ini, puisi Mardi sebenarnya berwatak gelap.

Indra Tjahyadi, inilah penyair di Indonesia yang paling gemar berfantasi. Permainan fantasi puisi Indra Tjahyadi tidak bisa dicari padanannya pada penyair-penyair era 1970-an atau 1980-an. Puisi Indra hanya bisa ditandingi oleh puisi Acep Zamzam Noor.

Berpijak pada realitas dalam pikiran, puisi Indra Tjahyadi mengembara menuju realitas-realitas lain yang hanya bisa dibayangkan tetapi susah ditemui dalam realitas konkret. Hasilnya adalah realitas fantasi. Beruntung Indra memiliki kepekaan universalis sehingga keliarannya masih tetap bisa dibayangkan pembaca. Terlebih, Indra kerap kali memainkan ritme pikiran sehingga tercipta dinamisasi alur. Kelebihan Indra yang lain, dia gemar bermain teknik puisi. Dalam sebuah antologi, Indra memamerkan teknik kreol Surabaya. Dia mencampurkan aspek lisan masyarakat kelas bawah di Surabaya dengan dicampur aspek lisan Pecinan.

A Muttaqien datang tiba-tiba dengan tanpa banyak cakap. Puisinya biasa menyerobot satu halaman penuh salah satu media massa nasional. Tidak seperti Indra yang sangat produktif, Muttaqien tergolong penyair yang rendah produksi. Walau begitu, karyanya jarang ditolak media.

Kelebihan puisi Muttaqien terletak pada ketekunannya dalam menjaga metafor. Dia meletakkan metafor secara dingin. Tidak ada ledakan pada puisinya. Justru sebaliknya, puisi terlihat rapi dan beku. Dia bisa telaten memasangkan bunyi-bunyian di akhir baris. Namun ketika rangkaian kata yang liris itu dimasuki, pembaca justru tidak menemukan makna tersurat. Pembaca hanya akan mendapatkan asosiasi, kesadaran metaforis, dan selebihnya kegelapan.

Puisi F Aziz Manna lain lagi. Ketika penyair-penyair Indonesia sedang mabuk liris, Aziz memilih jalur yang lain. Ialah jalur beringas. Bila pada puisi liris, kata-kata sangat terkesan dikontrol ketat, pada puisi Aziz, kata-kata dibiarkan berlarian. Kadang berlompatan, kadang bertubrukan, kadang saling melemahkan. Kata-kata menyembur membentuk medan puitik yang kompleks.

Pilihan puitik Aziz memang terdukung oleh tema yang diusung, yaitu kota, lebih spesifik Kota Surabaya. Penulis membayangkan puisi Aziz seramai pasar Minggu pagi di sepanjang jalan Pahlawan Surabaya. Orang berteriak-teriak berusaha membetot perhatian pembeli, orang lalu lalang berdesakan, kemacetan jalan raya, dan selebihnya transaksi cepat khas perkotaan. Seperti itulah, puisi Aziz memang tampak mengadopsi gaya hidup kota Surabaya yang pengap dan sesak. Sebuah pola estetik transparan seperti orang Surabaya yang berwatak terbuka, kadang murah pisuhan.

Adapun M Fauzi, inilah penyair terkini dari tradisi Madura yang telah melahirkan puluhan penyair berkualitas. Istimewanya, Fauzi secara santai mewarisi tradisi penulisan para pendahulunya sekaligus membaurkan dengan pola estetik lain yang jarang masih jarang tersentuh. Semisal, puisi Fauzi secara tanpa beban memasukkan pemikiran tokoh filsafat semacam Derrida. Tidak hanya pemikiran, istilah-istilah filsafat pun bersliweran pada puisi Fauzi. Meski begitu, Fauzi tetap berpegang pada nilai-nilai agama. Maka, istilah-istilah Arab yang mungkin berasal dari Al Quran turut menggerakkan teks puisi Fauzi.

Hasilnya sangat mendebarkan. Puisi Fauzi seperti mengajak pembacanya mengarungi luas pengetahuan. Pembaca tertantang untuk mencari rujukan dari metafor. Kadang mengarah pada pemikiran filsafat, kada ng agama, kadang benda-benda yang biasa berada di supermarket. Piihan teknik ini mendekatkan puisi Fauzi kepada puisi Afrizal. Namun, Fauzi memiliki kerterbedaan yang tidak pernah digarap Afrizal, yakni dunia pesantren yang akrab dengan kitab kuning. Terlebih, transendensi masih merupakan motor utama penggerak teks puisi Fauzi. Sedangkan pada puisi Afrizal, motor penggerak teksnya sering berasal dari masalah sosial dan filsafat antroposentrisme berbelah.

Di luar kelima penyair, tentu ada penyair-penyair lain yang potensial. Tengsoe Tjahjono misalnya. Dosen Unesa ini meski tidak sangat produktif tetapi memiliki intensitas penciptaan yang terjaga. Sebagai seorang dosen, dia juga memahami sekaligus menyadari proses kreatif. Sayangnya, Tengsoe tidak pernah menciptakan karya yang sangat mengagumkan. Landai-landai saja. Tengsoe hanya bisa menciptakan puisi yang baik namun belum sampai pada tahap istimewa.

Kasus yang sama terjadi pada Mashuri, Tjahjono Widarmanto, dan Tjahjono Widijanto. Para penyair ini, secara kualitas, sudah disamai oleh anak-anak muda di Teater Gapus dan Komunitas Rabo Sore. Keempatnya hanya diselamatkan oleh tempaan waktu dan kesadaran estetik. Dalam jangka sepuluh bahkan dua puluh tahun, keempatnya secara konsisten terus menulis. Standar estetikanya juga terjaga. Sayangnya, mereka belum mampu menciptakan semburan estetik yang sangat mengagumkan. Kalaulah ada satu atau dua puisi yang eksploratif, jumlah itu tertelan oleh mainstream yang jumlahnya berjubelan.

Ada tiga penyair yang perlu mendapat catatan pula. Masing-masing W Haryanto, S Yoga, dan Denny Tri Aryanti. Ketiga penyair ini pernah berada pada momen estetik yang tepat. Karya puisinya sensasional. Menciptakan metafor-metafor yang banal, angkuh, namun mendalam. Rangkaian diksinya sangat menggugah tafsir alias hermeneutik.

Sayangnya, dalam lima tahun terakhir, karya puisi tiga penyair ini seakan timbul tenggelam. Kadang terjatuh dalam kubangan khalayak. Tidak menunjukkan gairah permainan kata yang menggetarkan dan penuh pertaruhan. Ada dua pilihan yang bisa ditempuh ketiganya, lari dari masa lalu ataukah kembali ke masa silam. Lari dari masa lalu berarti membangun momen estetik baru untuk pijakan proses kreatif. Pilihan kedua, kembali pada jejak-jejak proses kreatif lama yang mampu membawa mereka pada standar eksotika penciptaan. Melihat pada perkembangan terkini, ketiga penyair tampaknya memilih jalan pertama. Mereka berusaha jujur dengan kondisi terkini dan membangun momen estetik dari pijakan kejujuran tersebut. Atas pilihan itu, penulis berharap mereka segera berhasil.

Ada lagi yang tidak boleh dilewatkan. Mereka adalah barisan penyair gaek. Semisal Akhudiat dan D Zawawi Imron. Seharusnya, masa edar keduanya telah lewat. Keduanya juga tidak tampak menawarkan eksplorasi anyar. Namun, keduanya kadang masih mencipta dan kualitasnya tidak boleh dianggap sepele. Keduanya adalah penyair yang telah memiliki kelas eksklusif. Apapun dan bentuk apapun puisi yang ditulis, publik sastra bakal mempercayainya.

Bersandar pada pemetaan sekilas ini, kepenyairan di Jawa Timur terlihat tidak bergantung pada kegaduhan peristiwa sastra (baca: konteks). Kepenyairan tetaplah kepenyairan. Dia berpijak pada karya puisi (baca: teks). Tokoh sastra yang lahir berkat momen namun tidak ditunjang dengan karya berkualitas akan bernasib sama seperti patung keramik. Tampak kokoh dan mengkilap tetapi bila diketuk bakal terdengar kalau isinya kosong melompong. Bila sedikit saja terjatuh, penyair ini bakal pecah. Sekali lagi, kepenyairan berada inheren dalam teks.
­­­­­­­­­­­­­­
_____________ Studio Teater Gapus, 2011.
*) Ribut Wijoto, lahir di Tulungagung, 23 Maret 1974. Ketua divisi SDM di Forum Studi Sastra & Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya. Koordinator program Halte Sastra di Dewan Kesenian Surabaya. Penulis buku Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia (2009).