Dibutuhkan Ruang-ruang Pengucapan “Kredo”

Mudji Sutrisno SJ
Kompas, 28 April 2007

Untunglah masih muncul tokoh Thukul dalam “kembali ke laptop” dengan ruang canda diri, olok-olok lucu dan ungkapan-ungkapan spontan yang meluncur berfungsi katarsis dalam kepenatan dan kepengapan situasi sosial dan budaya kita yang diretak-retak gempa bencana dan gempa acuan nilai.

Untung pula masih ada mimpi dalam republik ini meski dalam wujud parodi satir “Republik Mimpi” yang membenturkan wajah-wajah kita di cerminan parodi untuk saling ditertawai dan menertawakan diri.

Minimal mimpi itu masih bernyawa untuk tetap memberi denyut bagi sebuah bangsa berpadat penduduk besar yang pasang surut dalam perjalanan menjadi beradab dalam peradabannya.

Masih beruntung, kita memilih visi kepenyairan dalam kredo puisi semisal 1973 Sutardji Calzoum Bachri yang mau mengembalikan kata pada daya sihir mantra kehidupan kembali. Kata yang mau dibebaskan dan beban-beban pengertian yang tidak menafasi hidup lagi tetapi sudah disempitkan dan direduksi oleh pengetahuan-pengetahuan rasionalisasi dan bukan daya magis mantra kehidupan.

Justru di tengah keriuhan dan hiruk-pikuk verbalisme tong kosong berbunyi nyaring kosong makna itulah sebuah keyakinan perjuangan memberi makna lagi pada kata dan daya hidupnya menjadi tetes air hujan di tengah kekeringan kemarau perpuisian kita.

Bila kredo dibaca dalam mata budaya sebagai keyakinan individu seniman untuk memperjuangkan visi berkeseniannya, sesungguhnya, ia menjadi sumbu sebuah nyala yang tidak komunal gerombolan dari makna awal credere: Mengimani keyakinan tertentu dalam hidup sehingga saya percaya (credo) merupakan posisi yang dengan sadar dan teguh dipegang untuk jadi obor perjuangan kebudayaan.

Akan tetapi, kredo para kritikus sastra atau seni yang mengulas perkembangan seni dari titik pandang tergantung pada kata, atau pada warna (untuk lukisan); pada ikon, simbol, semiotika dan bahkan nada dan abstraksi-abstraksinya mengalami bingung arah manakala pemahaman sejarah tahap-tahap peradaban dari “mitos” di mana alam sakral dan suci menyatu dengan alam nyata serta dihormati bertuah dan bermantra menuju tahap muncul berkembangnya ilmu karena rasionalitas budi dan akal penalaran logika dalam “logos”; telah membuka keterbatasan kata sendiri sebagai aksara yang hanya mengungkapkan potongan-potongan kehidupan yang bisa dihurufkan lewat simbol aksara dan yang hanya logis rasional melulu.

Dengan kata lain, hanya eksploisitasi ungkapan pengalaman logis tertulis dan teraksarakan sajalah yang dibahasakan dalam kata. Sementara peristiwa-peristiwa yang dialami dan kehidupan yang dihayati dengan rasa tetaplah berada dalam ketersiratan diam tidak terbaca, tidak tertulis apalagi bila bernaung dalam luas hening ketidaksadaran bahkan kebisuan yang istilah bahasa lain mengungkap lebih tepat dan pas yaitu silence.

Sejak bahasa tulis logis aksara dipersepsi sebagai ungkapan kesadarannya oleh psike dalam analisa Freud, terbukalah rentang ranah tak terbahasakan dari misteri ketidaksadaran yang penuh pendaman-pendaman tak berduga yang kerap muncul dalam surealisme lukisan-lukisan bahkan histeria yang tidak terungkapkan dalam bahasa tulisan sesungguhnya paling bisa dikenal dalam wacana-wacana mulai wacana sok pejabat yang menjadi wujud otoriter mau mendominasi pembicaraan sehingga orang lain dibikin diam, patuh, dan terpaksa tutup mulut. Atau wacana kampus para intelektual yang mendominasi percaturan akademik sehingga yang merasa tidak mengenyam sekolah lalu bungkam tahu diri diam terpaksa. Sementara wacana histerislah yang berada di ambang antara sadar protes unjuk rasa meledakkan emosi bersama dengan impulsi-impulsi bawah sadar yang kerap berakhir dalam anarki. Inilah penemuan murid Freud yaitu Jacques Lacan dalam bahasan tuntas mengenai “tulisan” (L’ecrits 1970, edisi baru).

Pada hal pertanyaan pokok mengenai mengapa ketertindasan dalam berbahasa tulisan dan lisan tetap berlangsung padahal subyek-subyek pembicara adalah orang-orang berkesadaran? Penyebabnya adalah jenis kalimat tidak membuka dialog dalam “genre” menjajah sebenarnya langsung menyebabkan pihak lain diam seribu basa karena tidak diberi ruang untuk “genre” kalimat dominan si pemula pembicara atau penulis. Akibatnya lagi, oleh Jacques Derrida, terjadilah pecah kalimat dan retak dialog dan lebih parah lagi, memasukkan sesama dalam kebisuan silence karena beda genre dalam diffĂ©rence.

Kebudayaan yang salah satu juru bicaranya atau media temu-temunya adalah bahasa maka kredo berbahasa dengan lantang diucapkan dalam traktat logika (berbahasa) atau baca tractatus logicus Wittgenstein, yaitu jangan baca dan cari makna kalimat itu dari kamusnya atau makna katanya tetapi ambil makna kalimat itu dalam konteks kepentingan apa ia diucapkan!

Jadi kepentingan berparodi untuk kritik diri dan mawas sehat menertawakan diri sendiri untuk kesehatan wacanalah yang harus diambil dalam memahami parodi apa pun.

Namun keseringan terus-menerus memperolok-olok diri akhirnya juga akan menempatkan pemaksaan diam panas telinga dan tipis telinga lantaran tidak dalam “genre” jenis diskusi terbuka saling menyumbang untuk peradaban sejahteranya bangsa bersama telah membuat anomi pemaksaan pihak lain jadi diam karena diposisikan sebagai penonton.

Di sisi lain, ketika tiba saatnya di parodikan berkesempatan membalas di sana “genre” pihak lain berada di posisi sebaliknya. Karena saling berparodi tidak dalam ruang dialog bersama maka jalan pintas tercepat dalam kondisi sosial yang distrust itu adalah somasi atau kelarang dengan bahasa hukum UU. Pada hal indikasi paling tulus bila selalu solusinya larangan dan jalan keluar dengan pembuatan undang-undang mengungkap jelas-jelas krisis distrust di antara kita.

Apa jadinya dalam keluarga berbasis saling percaya, dalam sekolahan atau pendidikan berlandaskan saling percaya dan tanggung jawab bila tiap ada krisis selalu dipecahkan dengan ribuan aturan? Hasilnya? Aturan ada, formalisme terjadi tetapi tidak pernah ditaati. Atau lagi ada aturan tetapi kompromi dan toleransi uang mengganti aturan itu.

Dari wacana histeria di atas, dan fenomena-fenomena bunuh diri stres ibu dengan anak-anak, istri atau suami pegawai kecil atau TKW yang terjerat beban-beban ekonomis, kemelaratan dan beban psikologis yang sedang terjadi saat ini sesungguhnya merupakan petunjuk hilangnya ruang-ruang katarsis tradisional atau pun lenyapnya rasa humor di antara kita.

Ke mana ruang pelepasan dunia ketidaksadaran beban psikis dalam mainan anak-anak ketika rembulan purnama? Ke mana waktu senggang di kampung-kampung dahulu ibu-ibu di pinggir sungai sambil mencuci pakaian saling tertawa ria dan bercanda pelepas dan jadi ruang katarsis-katarsis mereka?

Ruang-ruang main, bercanda, mencari kutu dan ngerumpi hati ke hati di kota-kota dengan beban berat sudah diformalkan satu-satunya dalam kotak ajaib televisi dan tayangan-tayangan yang sepihak paling luas sepentas Thukul.

Bila dunia virtual lawak, canda Srimulat, monolog antara pemirsa dan gambar ditayangkan yang minus dialog pun kalau ada lewat SMS dan telepon berhadiah lalu bisa amat dipahami, kita sedang kehilangan ruang katarsis humoris, canda dan main-main yang benar-benar real dalam menghayati hidup nyata dalam suka-dukanya.

Bukan hidup virtual sebagaimana dicitakan dikotak-kotak televisi kita. Herankah kita bila “ciri humor-less” masyarakat ini lalu menemukan jalan keluarnya dalam ruang-ruang gaib dengan dunia hantu mati lalu hidup lagi dan mati lalu memberi nasihat sebagai hantu?

Hantu-hantu yang memberi nasihat hidup baik itulah yang mengalami pecah katarsis karena di dunia nyata para guru, pejabat, dan agamawan juga penuh petuah dan nasihat hingga verbalisme mencapai puncaknya.

Dibutuhkan keheningankah? Dibutuhkan ruang-ruang bermain, “dedolanan bersenandung”, menari dan menyanyi; berketoprak, berkesenian termasuk bermusik-ria dalam dangdut, dalam pop rock, jazz, keroncong, atau yang para ABG menggandrunginya!

Kita yang peduli sesungguhnya mempunyai pekerjaan rumah untuk menyediakan seluas mungkin saluran energi psikis, kreatif, sadar dan tak sadar sama seperti Bang Ali dahulu lebih menyiapkan gelanggang-gelanggang remaja untuk seni, budaya, olahraga daripada strategi pasar kapital perluasan mal dan mal! Sebab, bangsa ini membutuhkan orang-orang kreatif yang mampu bermimpi untuk terus merdeka!

* Mudji Sutrisno SJ, Budayawan
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/04/esai-dibutuhkan-ruang-ruang-pengucapan.html