Heru Susanto

”Percayalah padaku: rahasia untuk memetik buah paling besar dan kenikmatan tertinggi dari manusia adalah hidup yang berbahaya (gefahrlichleben)”
~Nietzsche~

Realita Budaya

Segala kebutuhan manusia seakan-akan sudah terpenuhi dalam kehidupan ini. Hasrat untuk memiliki berbagai kebutuhan yang sering menjadikan manusia larut dalam kenikmatan-kenikmatan dunia dapat diakses secara cepat tanpa membuang waktu dan gerak. Semua serba instan. Manusia tidak harus mengeluarkan keringat untuk membeli ini dan itu. Seakan-akan kebutuhan manusia sudah dikemas dalam beberapa tombol. Untuk memenuhi kebutuhan biologis, seperti makan, manusia tidak harus pergi ke dapur menyalakan kompor. Aktivitas tersebut sudah dijauhi dalam budaya yang sekarang mulai berkembang. Manusia tinggal menekan beberapa tombol untuk menghubungi beberapa rumah makan atau telah membeli masakan siap saji dari mall. Yang dibutuhkan manusia adalah meminimalisasi berbagai kegiatan, waktu, dan untuk menempuh itu semua yang diperlukan adalah kecepatan.

Penampilan manusia juga dapat diakses secara cepat. Beberapa jenis model pakaian terkini, aksesoris tubuh, produk kecantikan, jenis pembalut yang berkualitas, model ponsel, mobil terkini dapat ditemukan dalam layar televisi. Semua produk diiklankan setiap hari yang hampir memenuhi setiap acara yang ditayangkan di televisi. Arus periklanan yang sangat deras memosisikan manusia pada penjara produk-produk yang seakan-akan manusia harus mengonsumsinya dan itu merupakan pilihan yang harus dipilihnya.

Gelombang produk yang ditawarkan dalam layar telivisi tampaknya memiliki nuansa untuk meleburkan kebutuhan oposisi biner antara perempuan dan laki-laki. Salah satu usaha tersebut dapat diidentifikasi dengan adanya iklan-iklan yang membahas penampilan laki-laki yang tidak hanya diperentukkan pada perempuan. Laki-laki juga harus mementingkan kecantikan tubuh, seperti yang diiklankan beberapa parfum laki-laki dan perawatan kulit laki-laki. Hal itu secara tidak langsung menekankan pandangan tidak hanya perempuan yang harus memperhatikan kecantikan tubuhnya, laki-laki pun harus berpenampilan seseksi mungkin. Konsekuensi pergeseran pandangan ini memunculkan makhluk yang disebut metroseksual.

Untuk berhubungan dengan manusia lain, pertemuan secara langsung, seperti halnya menghadiri pertemuan, silaturohmi, dan bahkan janjian kencan dengan kekasih, tidak harus manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Manusia tinggal duduk dalam ruang dan menghadap layar komputer untuk melakukan hubungan dengan manusia lain. Semua sudah terpenuhi dalam ruang yang tidak memakan banyak waktu, tempat, dan memiliki kecepatan yang seakan-akan menjanjikan.

Hasrat seks dalam budaya semacam ini juga dapat dipenuhi secepat mungkin. Penyaluran seks dapat pula dipenuhi dengan melakukan hubungan intim dalam dunia maya. Layanan internet telah memfasilitasi berbagai situs porno yang dapat diakses secepat mungkin oleh konsumen. Manusia juga dapat pula aktif memenuhi hasrat seks mereka dengan berkencan dengan manusia lain melalui internet, sms, dan komunikasi melalui telepon. Model-model baru untuk memenuhi kebutuhan seks jarak jauh ini disebut sebagai teledildonik, yakni kegiatan seksual lewat jaringan komputer (Piliang, 2006:157). Aktivitas seks seperti ini merupakan aktivitas yang dilakukan dengan bantuan bahasa-bahasa porno. Hasrat seks manusia dalam hal ini dituangkan dalam bahasa-bahasa yang dapat membangkitkan libido. Bahasa dieksploitasi secara ekstrim untuk memunculkan nuansa gairah libido. Kondisi seperti itu menstimulus adanya dorongan nafsu seks mereka.

Kebudayaan seperti ini sangat didukung dengan seperangkat teknologi yang semakin berkembang. Beberapa produk digital sekarang sudah difasilitasi dengan kamera yang mampu merekam segala aktivitas manusia dan mampu memperpendek jarak yang dibutuhkan manusia untuk bertatap muka. Produk digital tersebut mendapat respon yang sangat kuat dari masyarakat. Semuanya memiliki hasrat untuk memiliki. Dalam hal ini, manusia larut pada objek. Oleh sebab itu, tidak dapat dipungkiri, banyak video porno yang bermunculan dari versi profesional sampai versi amatir. Yang paling disayangkan ialah virus video porno menyerang dunia pelajar.

Dalam wilayah lokal, pengaruh produk digital, khususnya ponsel yang semakin canggih, merupakan alat untuk menyalurkan hasrat seksual manusia. Kasus video porno amatir yang dibintangi beberapa pelajar dan berdurasi singkat merupakan salah satu produk dari teknologi yang berorientasi pada kecepatan dan peleburan batas ruang dan waktu.

Budaya-budaya yang berkembang saat ini merupakan pengaruh dari budaya kapitalis. Seperti yang dikatakan Piliang (2006:141), dunia yang dilingkupi oleh energi libido, yang lalu-lintasnya adalah lalu-lintas kesenangan, yang pertukaran ekonomi dan sosialnya adalah pertukaran hawa nafsu, dan paradigma perkembangannya adalah paradigma kecepatan, merupakan dunia ekonomi dan budaya global. Budaya kapitalis inilah yang menyebabkan segala aspek ruang dan waktu dalam dunia yang dihuni manusia seakan-akan diperkecil, namun memiliki hasrat mengonsumsi yang cukup tinggi.

Banyak manusia yang larut dalam perputaran barang yang diproduksi budaya tersebut. Ketika manusia larut dalam objek-objek hasil produksi, manusia telah kehilangan kesadaran atas dirinya. Semuanya dikendalikan oleh objek, bukan objek yang dikendalikan oleh manusia. Kondisi seperti inilah yang menjadikan tipis jarak antara subjek dan objek. Subjek tidak lagi menjadi pusat yang menggerakkan, namun justru subjek digerakkan oleh objek untuk melakukan setiap kegiatan.

Munculnya figur Tukul Arwana dalam acara hiburan di stasiun televisi swasta merupakan salah satu bentuk produk kapitalis yang meraih keuntungan besar berdasarkan jumlah pengonsumsi tertinggi. Dengan adanya acara tersebut, manusia dijadwal oleh sosok Tukul yang muncul di layar televisi. Setiap hari manusia akan meluangkan waktunya untuk menonton acara tersebut sampai malam hari. Bila acara itu terlewatkan, seakan-akan mereka kehilangan aktivitas keseharian yang berharga. Kondisi seperti ini oleh Piliang (2006:207) disebut sebagai menjelmanya media menjadi pusat gravitasi. Setiap manusia yang menempatkan pandangannya pada titik gravitasi tersebut, mereka akan tersedot oleh kekuatan gravitasi. Dalam kondisi seperti itu, manusia akan larut dalam kenikmatan yang ditimbulkan oleh salah satu produk kapitalis. Saat itu pula, manusia telah melayang dalam dunia kenikmatan-kenikmatan yang seakan-akan tanpa batas.

Kebutuhan penampilan, seks, hiburan, gaya hidup merupakan kebutuhan yang seakan-akan harus dipuaskan dalam waktu secepat mungkin. Oleh sebab itu, manusia akan mengejar berbagai informasi yang mereka anggap layak untuk dikonsumsi tanpa ada pertimbangan dari berbagai sisi mengenai manfaat yang akan dimiliki. Terperosoknya manusia pada paradigma dan gaya hidup seperti itu akan menggeser kebutuhan spiritual yang merupakan aspek kehidupan yang justru harus dipenuhi.

Nuansa perfilman Indonesia yang sering ditayangkan di televisi saat ini justru merupakan legitimasi dari bentuk ekonomi dan budaya kapitalis yang menggeser spiritualitas budaya manusia terhadap agamanya. Film-film remaja yang sering mengambil latar di lingkungan pendidikan justru menjauhkan aspek pendidikan. Beberapa bintang film yang masih remaja merupakan aktor yang paling dibutuhkan dalam produksi film untuk memerankan sebagai pelajar. Aktor remaja tersebut sering memerankan pelajar dengan gaya gaul yang penuh aksesoris tubuh. Dengan ditampilkannya peran tersebut, secara halus film tersebut menyebarkan gaya terkini yang harus diikuti oleh para remaja. Tayangan seperti itu sebenarnya justru menjauhkan manusia dari realita. Pelajar berpenampilan seksi (rok mini dan baju mini), memegang ponsel terkini, dan tidak jarang, pelajar bersekolah dengan mobil mewah merupakan gambaran yang sering ditayangkan dalam perfilman remaja Indonesia.

Ekstasi-Ekstasi dan Tipisnya Batasan Maskulin-Feminin

Dalam pertempuran untuk mengatasi dirinya, sering manusia larut dalam ekstasi-ekstasi yang menyebabkan dirinya tak terkendali. Piliang (2006:106) menegaskan ekstasi merupakan suatu keadaan mental dan spiritual yang mencapai titik puncaknya, ketika jiwa secara tiba-tiba naik ke tingkat pengalaman yang jauh lebih dalam dibandingkan kesadaran sehari-hari. Ketika itu, muncul semacam puncak kemampuan diri dan kebahagiaan yang luar biasa serta trance yang kemudian diiringi oleh pencerahan. Ekstasi yang disebutkan di atas merupakan ekstasi yang mengarah pada dunia mistis ketuhanan. Hal itu disebabkan dalam kondisi yang melampaui kesadaran ada suatu titik pencerahan. Kondisi seperti ini dapat dicapai untuk mendekatkan diri dengan tuhan, seperti yang dilakukan oleh meditasi Bodhidharma, pengikut tasawuf, aliran kejawen, dan meditasi lainnya yang berusaha mendekatkan diri pada sang pencipta.

Akan tetapi, ekstasi yang sekarang dialami manusia justru sebaliknya. Manusia telah lepas kesadarannya dan larut dalam ekstasi-ekstasi yang dibentuk dari luar dirinya. Manusia justru semakin jauh dari sang pencipta. Larutnya manusia dalam ekstasi-ekstasi ini merupakan konsekuensi logis dari adanya budaya kapitalis yang berusaha membentuk manusia menjadi manusia konsumen. Keadaan seperti ini dapat dilihat dari meningkatnya manusia yang lebih mementingkan kecantikan daripada pemikiran. Manusia yang larut dalam dunia kecantikan akan selalu mengejar informasi dunia perawatan tubuh dan rela menghabiskan uang demi keanggunan, keindahan, dan keseksian tubuh.

Kecantikan kini merupakan bisnis berprofit tinggi bagi industri kecantikan dan tubuh dijadikan sebagai lahan komoditi yang bernilai jual tinggi (Adlin dan Kurniasih, 2006:234). Dalam hal ini, lahan yang paling berharga bagi kapitalis adalah tubuh. Tubuh digunakan untuk menjadikan lahan sebagai pemerkaya keuntungan. Segala perawatan tubuh diciptakan demi memperbanyak konsumen yang terjerat oleh slogan-slogan perawatan tubuh. Akibat dari kondisi seperti ini ialah banyak manusia-manusia yang berlomba-lomba ingin mempercantik tubuhnya dengan berbondong-bondong ke salon, ke mall-mall belanja pakaian, pijat kecantikan, dan perawatan tubuh lainnya.

Standar kecantikan yang dikejar-kejar manusia pada dasarnya tidak menentu. Orang mengejar-ngejar berbagai produk kecantikan untuk menjadikan dia cantik dalam standar yang justru bukan orang tersebut yang menentukannya. Semua dikendalikan oleh media massa yang telah dijadikan media kampanye oleh kapitalis. Standar kecantikan yang dikejar-kejar manusia tidak lain adalah strategi pemasaran untuk menciptakan manusia-manusia konsumen. Kulit putih, rambut hitam dan lurus, aroma tubuh wangi, tubuh seksi yang dimodelkan di iklan-iklan media massa dijadikan standar manusia untuk keidealan tubuh.

Budaya saat ini tampaknya tidak hanya membidik dunia perempuan untuk masalah kecantikan dan tidak hanya menjadikan perempuan sebagai konsumen. Dunia laki-laki saat ini juga dijadikan lahan untuk membentuk hasrat mengenai tubuh. Banyak beberapa pemikir ketika membahas mengenai politik tubuh sering merujuk pada tubuh perempuan. Pada hal, budaya sekarang secara tidak langsung mulai mengikis oposisi biner antara laki-laki dan perempuan. Tidak hanya perempuan yang harus cantik, laki-laki pun harus tampil secantik mungkin. Inilah yang sering dilewatkan oleh para pengkaji budaya maupun filsafat yang membahas mengenai hasrat untuk saat ini.

Budaya telah bergeser. Kapitalis telah melebarkan sayapnya untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, hingga kepentingan perawatan tubuh menjadi kebutuhan laki-laki yang seakan-akan tidak boleh dilupakan.

Hal itu dapat dicermati dalam media massa yang merupakan alat kampanye kapitalis. Dalam berbagai media massa, khususnya televisi, iklan mengenai perawatan tubuh saat ini juga dikhususkan untuk laki-laki. Gagasan-gagasan yang terdapat dalam iklan menganjurkan bahwa laki-laki harus sadar akan keindahan tubuhnya. Pewangi tubuh, perawat rambut, alat memperindah tubuh, dan bahkan laki-laki pun menjadi bintang iklan pewangi tubuh sebagai cheerleaders. Tim penyemangat dalam perlombaan biasanya dilakukan oleh perempuan, tetapi budaya sekarang tampaknya ingin menggeser kebiasan itu dengan menampilkan laki-laki dalam iklan pewangi tubuh di televisi. Mereka didandani layaknya perempuan yang mampu memberikan semangat pada pemain olah raga. Dengan penampilannya yang dipermanis, gambaran iklan tersebut menggeser pemikiran dari perempuan yang mampu menggairahkan berganti menjadi laki-laki yang menggairahkan. Tubuh laki-laki juga mampu menggairahkan bagi orang lain. Oleh sebab itu, laki-laki dianjurkan untuk memperhatikan kemanisan tubuhnya. Sekali lagi, iklan tersebut pada dasarnya ingin memropaganda kaum laki-laki untuk mempercantik diri. Hanya perempuan yang harus tampil cantik, sedangkan laki-laki harus bertubuh kekar, kuat, dan gagah adalah pemikiran yang akan digeser.

Melebarnya kampanye perawatan tubuh yang dilakukan kapitalis membentuk manusia misterius, yakni laki-laki metroseksual. Istilah laki-laki metroseksual dimunculkan kali pertama oleh Mark Simpson. Karakteristik laki-laki metroseksual ialah masih muda dengan banyak uang untuk dihabiskan, bisa untuk hidup atau dengan mudah mengunjungi kota-kota metropolitan, dan yang tidak ketinggalan bahwa mereka sangat tertarik dengan produk-produk perawatan pria, sehingga mereka selalu berpenampilan manis (Flocker, 2005:xv-xvi).

Michael Flocker pada dasarnya merupakan penulis yang dapat dikategorikan sebagai pengemban tugas untuk memopulerkan jenis manusia misterius ini. Dengan buku The Metrosexual Guide to Style: A Hand Book for the Modern Man yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tahun 2005, Flocker memperkenalkan bagaimana untuk menjadi laki-laki metroseksual. Buku tersebut merupakan buku panduan menjadi laki-laki metroseksual dan merupakan buku yang berpredikat international bestseller.

Pengonsumsi produk kecantikan tidak hanya perempuan, tetapi laki-laki pun juga dibentuk menjadi konsumen. Kampanye ini pada dasarnya ingin menarik laki-laki lebih memperhatikan tubuh. Tidak hanya gay, waria, atau biseksual saja yang memperhatikan perawatan tubuh agar kelihatan manis, tetapi laki-laki normal pun juga harus memperhatikan penampilan. Pengaruh kapitalis secara tidak langsung akan menipiskan kebutuhan oposisi biner, yakni maskulin-feminin. Maskulin tidak lagi berpenampilan gagah yang bertubuh kekar, tetapi sosok manusia yang bertubuh seksi dan manis.

Saat laki-laki sudah terserang penyakit ingin mempercantik diri, laki-laki akan menjadi manusia konsumsi. Mereka akan berpikir tentang tubuhnya dan penampilannya. Dalam kondisi seperti ini, kesadaran akan larut dalam hasrat untuk memperhatikan tubuh. Berbagai perawatan tubuh dan model pakaian terkini akan diikutinya. Berganti-ganti penampilan agar tampak tampil terkini merupakan hasrat yang akan muncul pada laki-laki metroseksual. Secara tidak sadar, dirinya tidak lagi dapat mengontrol kebutuhan, tetapi berbagai perawatan tubuh dan model pakaianlah yang telah mengontrol kebutuhannya.

Adanya kampanye-kampanye seperti itu menarik manusia pada ekstasi-ekstasi yang menyebabkan mereka menjadi manusia-manusia konsumen dan terperosok pada politik tubuh. Yang disebutkan di sini hanya sebagian dari potensi-potensi ekstasi. Mereka dibentuk menjadi manusia yang seakan-akan terkondisi oleh produk-produk kapitalis. Dalam kondisi seperti ini, manusia akan mengalami ketidaksadaran terhadap dirinya sendiri. Semua kebutuhan akan disingkirkan oleh hasrat konsumen. Baik dan buruk bagi dirinya tidak lagi dihiraukan. Mereka telah melayang-layang dalam realita semu. Yang ada hanya nafsu keindahan semu yang menempatkannya pada surga yang seakan-akan tanpa batas. Kondisi inilah yang menurut Piliang (2006:108) disebut sebagai dunia ekstasi yang diatur oleh hukum serba terbalik, yang amoral adalah yang membanggakan, yang ilusif adalah kebenaran, yang rahasia adalah selubung penutup. Manusia telah menemukan dunianya sendiri, yakni dunia kebenaran semu yang telah memfasilitasi segala hasrat yang diinginkan mereka.

Manusia melepaskan diri dari dunia realita. Mereka lebih nyaman dalam dunia baru itu yang menyebabkan dirinya tenang dari kegelisahan-kegelisahan yang selama ini dialaminya. Namun, dunia baru itu secara perlahan-lahan akan menjerumuskan pada kegelisahan selanjutnya yang justru menyebabkan mereka terperosok pada pemalsuan eksistensi dirinya. Mereka telah kehilangan kesadaran diri. Budaya yang di luar dirinya justru berperan dalam menentukan keberadaannya. Secara tidak langsung, manusia tidak lagi menguasai dirinya. Manusia telah terperangkap oleh sesuatu yang di luar dirinya. Hartono (2007:54) menegaskan terperangkapnya individu pada dunia eksterior (luar dirinya) dan diabaikannya dunia interior (dalam dirinya) sebagai penentu kesadaran adalah bukti dehumanisasi, dan alienasi (keterasingan). Hal itu disebabkan pembentukan kesadaran manusia dipercayakan kepada dimensi di luar dirinya, yaitu dunia kultur sosial yang berhukum serba terbalik.

Budaya Minimalis telah Membentuk Manusia

Larutnya manusia terhadap ekstasi-ekstasi budaya di luar dirinya menyebabkan manusia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya sendiri. Kesadaran tidak lagi direnungkan. Ketertarikan segala sesuatu yang dilihat membentuknya menjadi manusia konsumen. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi berpikir secara mendalam. Menguntungkan atau tidak menguntungkan bukan menjadi bahan yang perlu dipikirkan. Kenyataan seperti ini disebut sebagai kondisi minimalisme. Istilah minimalis dan minimalisme oleh Christopher Lasch (Piliang, 2006:13) digunakan untuk merujuk kondisi psikis individu yang memiliki hasrat yang kuat untut tetap survive dan eksis di dalam dunia kehidupan, yaitu mendapatkan kedudukan, status dan pengakuan sosial, meskipun mengetahui kondisi diri dan lingkungan tidak mendukung, sehingga memerangkapnya dalam kondisi minimalitas keterampilan, perspektif, dan pandangan. Istilah yang digunakan Cristopher Lash tersebut lebih mengarah pada fenomena kondisi psikis manusia. Istilah minimalisme dalam hal ini digunakan untuk merujuk kondisi manusia yang masih luas.

Minimalisme digunakan secara khusus oleh posmodernisme untuk menjelaskan kondisi manusia posmodern. Posmodernisme itu sendiri merupakan kritik terhadap modernisme. Posmodernisme menyatakan bahwa modernisme tidak lagi mampu menempatkan kondisi manusia pada kehidupan yang menyejahterakan. Dalam masa moderisme, dunia justru mengalami berbagai kerusakan dan keterbatasan pemikiran. Modernisme berambisi menyeret pemikiran manusia ke arah logosentrisme (kebenaran tunggal). Jadi, bila pemikiran sudah dikatakan benar, kebenaran tersebut harus diakui secara universal. Itulah satu-satunya kebenaran, tidak perlu dihadirkan kebenaran yang lain.

Dari kondisi seperti itulah, posmodernisme mengeluarkan kritik-kritik yang mendalam terhadap konsep modernisme. Pemikiran posmodernisme ini dipengaruhi oleh seorang filosof kelahiran Jerman yang pemikirannya membuat manusia gelisah, yaitu Friedrich Wilhelm Nietzsche. Ciri mendasar posmodernisme ada dua, yakni (1) pembunuhan terhadap logos (kebenaran tunggal) dan perayaan keberjamakan atau pluralitas, dan (2) penolakan terhadap pemujaan rasio yang diagung-agungkan Descartes (lihat Hartono, 2007:57).

Setelah melihat gambaran modernisme dan posmodernisme secara sekilas, bahasan kita fokuskan kembali pada minimalisme dalam pandangan posmodernisme. Minimalisme digunakan secara khusus untuk menjelaskan kondisi manusia posmodern yang berada dalam kondisi minimalis. Manusia seperti ini dibangun oleh fondasi, determinasi, kepastian, keberaturan, dan ketetapan yang minimal. Manusia ini tidak memiliki kepastian pengetahuan tentang benar-salah, baik-buruk, dan sebagainya (Piliang, 2006:13). Dalam kondisi budaya saat ini, minimalislah yang paling mendominasi. Manusia telah larut dalam perputaran ruang, waktu, dan percepatan. Manusia menginginkan sesuatu yang instan untuk mengatasi ruang dan waktu. Dengan kondisi seperti ini, kecepatanlah yang dijadikan “tuhan” bagi manusia-manusia minimalis. Manusia lebih dikontrol oleh televisi, ponsel, internet, komputer, dan berbagai produk kapitalis yang lain. Manusia tidak lagi mengondisikan berbagai produk di luar dirinya, melainkan manusia telah dikondisikan oleh produk. Ketika manusia mengagung-agungkan kondisi seperti itu, budaya baru telah terbentuk, yakni budaya minimalis. Dalam budaya minimalis, tidak hanya ruang dan waktu yang menjadi sempit, tetapi nurani dan pemikiran mulai dangkal.

Dalam budaya minimalis, manusia memiliki ciri-ciri yang dapat dikategorikan menjadi tiga, yakni manusia ironis (homo ironia), manusia skizofrenik, dan manusia fatalis (homo fatalis). Manusia ironi berpendapat baik dan buruk, benar dan salah, semata deskripsi kontingen dari kelompok tertentu, di tempat tertentu, dan waktu tertentu. Manusia ironi menempatkan berbagai norma dalam tempat tertentu. Dalam kondisi A, dia menggunakan kebenaran A. Dalam kondisi B, dia menggunakan kebenaran B. Keyakinan tidak lagi dijadikan panutan. Keyakinan yang ada hanya ketidakkonsistenan. Manusia-manusia seperti itu dapat digolongkan menjadi manusia yang suka kepalsuan. Mereka selalu menggunakan ”topeng”. ”Aktor” yang hebat ialah manusia ironi. Manusia ironi mengetahui secara rasional tindakannya akan membawakan pada tragedi. Akan tetapi, demi hasrat untuk tetap survive, ia mencampakkan rasionalitas itu dan menggantinya dengan berbagai kemasan ilusi, pretensi, kebohongan, dan mitos-mitos dirinya (Piliang, 2006:14). Demi menjaga eksistensinya, manusia ironi rela menghabiskan segala yang ia miliki. Semuanya demi memenuhi kebutuhan hasrat kepuasan. Gambaran ironi dapat merujuk pada kondisi seseorang yang larut dalam dunia maya (catting), waktunya dihabiskan di depan layar komputer. Dalam keadaan ini, ia melewatkan segalanya demi kepuasan dan kenikmatan yang sebenarnya juga bersifat maya atau ilusif. Hasrat seks pun juga dilakukan dalam dunia maya. Ketika manusia telah masuk dalam kondisi seperti ini, ia pun telah melewati kesadarannya hingga memasuki kondisi ekstasi.

Manusia skizofrenik ialah manusia yang ingin lepas dari segala sesuatu yang mengungkung dirinya atau yang menyebabkan dirinya tidak bebas dalam segala hal. Menurut Gilles Deleuze dan Felix Guattari (Piliang, 2006:14-15), skizofrenia merupakan sebuah gerakan pembebasan diri dari berbagai aturan keluarga, masyarakat, negara, bahkan agama, dalam rangka mengakui dan melepaskan segala dorongan purba manusia, dengan melampaui ego. Kebebasan yang absolut merupakan konsep dari manusia skizofrenik. Mereka tidak ingin terikat pada satu aturan yang menyebabkannya tidak bebas. Pemutar-balikan kode dalam suatu masyarakat merupakan ambisinya. Segala jenis aturan diterimanya. Yang paling dipentingkan adalah perpindahan dari aturan satu ke aturan lainnya. Tidak ada kekonsistenan dalam skizofrenik. Semuanya bebas. Tidak ada pemaksaan dalam sebuah pemikiran atau kepercayaan. Piliang (2006:15) menyebutnya manusia tanpa ego. Maksudnya ialah manusia yang tidak menolak, membatasi atau melarang apa pun, sehingga yang ada hanya kebabasan tanpa batas.

Bila dilihat dalam gambaran yang serba kapitalis, manusia skizofrenik merupakan manusia-manusia yang sering berganti gaya. Produk-produk terbaru akan dikonsumsi untuk menggantikan citra bagi dirinya yang menurutnya sesuai dengan arus zaman. Manusia seperti ini tidak dapat menentukan makna hidupnya dengan bereksistensi pada sesuatu yang pasti. Identitas diri dalam hal ini tidak lagi dibutuhkan. Identitas begitu cepat berganti. Hal itu disebabkan ada sesuatu di luar dirinya yang membangkitkan nafsu mengonsumsi yang sangat liar. Dick Hebdige (Piliang, 2003:151) mengemukakan tentang konsumen ”… konsumen skizofrenik yang terdisintegrasi ke dalam rangkaian kesesatan-kesesatan (instant) yang tak mampu mereka cerna, yang terperangkap ke dalam keberadaan di mana-mana dan seketika citraan dan informasi yang dikomodifikasi, dan hidup selama dan hidup selamanya di dalam chronos (ini-lalu-ini-lalu-ini-lalu-), tanpa pernah mampu menemukan jalan menuju tempat suci kairos (kehidupan siklus, mistis, dan bermakna)”.

Manusia fatalis ialah manusia yang terserap ke dalam logika objek (logika TV, fashion, komoditi, gaya hidup), yang tidak dapat melepaskan diri darinya, dan di dalamnya ia menjadi mayoritas yang diam, yang tak mampu melakukan kritik dan refleksi, dan –seperti sebuah busa spons—hanya dapat menyerap segala sesuatu, tanpa mampu menginternalisasikannya (Piliang, 2006:15). Manusia fatalis hanya bersifat reseptif. Mereka hanya mengonsumsi segala sesuatu yang ia tangkap melalui indra tanpa mempertimbangkan secara mendalam. Kehidupan yang dialami manusia fatalis berada dalam citraan-citraan yang dianggap sebagai dunia realita. Mereka terjebak dalam dunia layar yang setiap saat mereka kunjungi.

Manusia fatalis juga disebut sebagai manusia layar. Menurut Piliang, manusia layar (the screen man) ialah manusia yang sebagian ruang dan waktunya dihabiskan di depan layar (televisi, komputer, video, ponsel, film, ATM) dan terserap dalam logika layar, sehingga tidak mampu lagi membedakan antara dunia di dalam layar dengan dunia di luar layar (reality). Mereka menikmati petualangan dalam dunia layar, sehingga dunia layar tersebut merupakan kebenaran realita yang telah dipilihnya. Mereka terlalu nyaman dalam dunia tersebut. Dunia realita yang sebenarnya justru diabaikan oleh manusia fatalis.

Kondisi manusia fatalis merupakan kondisi yang serba fatal. Segala bentuk informasi yang diberikan oleh media massa, diserap begitu saja tanpa ada proses pemahaman lebih dalam. Kekritisan dalam berpikir telah larut dalam informasi-informasi yang belum tentu kebenarannya. Yang terpenting dalam dunia fatalis ialah kepuasan. Kepuasan untuk bergaya, kepuasan makan, kepuasan belanja di mall, kepuasan berias di salon, kepuasan main game, kepuasan seks maya (sciena sexualis) merupakan kepuasan yang dikejar-kejar dan seakan-akan mengejar aksistensi tuhan.

Dunia virtual juga merupakan dunia tempat manusia fatalis bereksistensi. Rheingold (Piliang, 2006:124) mengungkapkan bahwa orang-orang di dalam komunitas virtual menggunakan kata-kata dalam layar untuk saling bersenda gurau dan berdebat, terlibat dalam wacana intelektual, malakukan perdagangan, saling tukar pengetahuan, saling membagi dukungan emosional, membuat perencanaan, saling sumbang gagasan, gosip, rayuan, menciptakan karya seni, percakapan yang tak ada juntrungannya. Akan tetapi, kehidupan manusia fatalis di dalam dunia virtual lebih mengarah pada kegiatan yang tidak ada juntrungannya. Mereka cenderung larut dalam internet. Membincangkan gosip, berbincang dengan bahasa yang dapat menggairahkan libido, merupakan gaya yang lebih dekat dengan eksistensi manusia fatalis. Yang paling nyata dan hal itu semakin menjamur ialah larutnya manusia pada layar ponsel. Dari anak-anak, remaja, sampai orang tua, semuanya cenderung tidak pernah lepas dari layar ponsel. Kondisi seperti itu khususnya dialami oleh remaja. Mereka setiap hari larut dalam layar ponsel. Waktu untuk membaca buku dan menulis telah dialokasikan pada layar ponsel. Mereka terperangkap oleh hegemoni layar ponsel, yang secara tidak langsung terhegemoni oleh sistem kapitalis.

Dalam kondisi seperti ini, masalah finansial pelajar dan juga mahasiswa yang sebenarnya dapat digunakan untuk menunjang wawasan intelektual berubah menjadi energi untuk beraksi dalam dunia layar ponsel. Membaca buku kini beralis membaca sms. Menulis karangan ilmiah, artikel, esai, puisi, cerpen, atau novel telah beralih menjadi menulis sms yang tidak jelas tujuannya. Kondisi seperti ini merupakan kondisi keproduktivitasan yang fatal. Pemanfaatan fasilitas telekomunikasi kini berubah menjadi tempat untuk ”bunuh diri”. Dunia virtual kini tidak dapat mereka kendalikan, justru mereka telah dikendalikan oleh dunia virtual itu sendiri. Gambaran seperti ini merupakan gambaran untuk memperjelas sosok manusia fatalis.

Ketiga jenis manusia (ironis, skizofrenik, fatalis) merupakan bentukan budaya minimalis. Ketika manusia telah terseret dalam kenikmatan-kenikmatan televisi, game, ponsel, internet, shopping, life style dan sebagainya, mereka telah terperangkap dalam ekstasi-ekstasi budaya minimalis, sehingga mereka menganggap bahwa dunia maya tersebut merupakan dunia penuh dengan kenikmatan dan mereka telah menjauhi dunia realita. Saat itu pula, manusia akan sulit mengendalikan diri, ketika mereka telah terseret dalam budaya tersebut. Kesadaran dan rasionalitas telah lepas dari pemikiran manusia. Yang ada hanya pelepasan hawa nafsu secara liar. Semua dikemas secara cepat dan padat.

Matinya Kegelisahan Sang Pencipta

Saat budaya minimalis menyerang berbagai sudut kehidupan manusia, budaya berpikir kritis dan kreatif manusia mulai terancam. Bila manusia telah terseret dan tenggelam dalam budaya minimalis, kegelisahan manusia untuk menjadi sang pencipta telah larut pula dalam ekstasi-ekstasi menyesatkan. Yang ada hanya kegelisahan-kegelisahan yang justru dapat mematikan eksistensi manusia. Tidak ada penderitaan. Yang tersisa hanyalah kegelisahan-kegelisahan terhadap kenikmatan semu. Mereka justru lari dari penderitaan dan mereka justru mengejar kenikmatan yang pada dasarnya akan menjerumuskan pada kehilangan makna hidupnya.

Larinya manusia dari penderitaan dan berusaha mengejar kenikmatan yang semu akan mematikan eksistensi manusia yang menurut Nietzsche sebagai sang pencipta. Nietzsche (Hassan, 2005) mengatakan “kreasi—itulah pelunasan terhadap penderitaan dan cahaya yang kian terang dalam kehidupan. Namun, untuk menjadi pencipta diperlukan penderitaan dan banyak perubahan. Bagitulah kalian harus banyak kali menjalani kematian yang pahit dalam hidup kalian, hai pencipta.” Keinginan Nietzsche untuk menggugah manusia menjadi pencipta akan sia-sia jika manusia itu sendiri telah takut dengan penderitaan-penderitaan dan lari pada kenikmatan-kenikmatan yang pada dasarnya semu. Penderitaan yang dikatakan Nietzsche dapat ditempatkan pada budaya saat ini, sebagai perlawanan dari kondisi yang melarutkan manusia dari kenikmatan-kenikmatan semu. Untuk melawan kondisi seperti itu, manusia harus berani menghadapi kegelisahan terhadap budaya minimalis. Ketika manusia gelisah melihat kondisi yang dapat menenggelamkan manusia sebagai konsumen, saat itulah manusia telah menyadari eksistensinya berada dalam jurang yang mampu mematikan eksistensinya.

Kegelisahan terhadap budaya minimalis inilah yang akan mengantarkan manusia pada kedalaman hidup yang bermakna. Manusia dalam hal ini harus melawan semua serangan-serangan budaya minimalis yang sarat dengan kampenye-kampenye kenikmatan semu. Saat manusia menahan hasratnya untuk larut dalam kondisi minimalis, saat itu pula, manusia mengalami penderitaan. Hal itu disebabkan kondisi di luar diri kita penuh dengan rayuan yang penuh dengan kekuatan. Hanya manusia-manusia yang berani menghadapi penderitaanlah yang mampu ke luar dari medan bujuk rayu tersebut.

Kenapa kita harus gelisah? Hal itu disebabkan kegelisahanlah yang menyebabkan manusia untuk melakukan perpindahan. Dengan kegelisahan, manusia dapat mulai berpikir tentang keberadaannya. Kegelisahan pula yang mengantarkan manusia pada kontemplasi (perenungan) terhadap makna hidup yang dalam. Akan tetapi, bila dalam kegelisahan manusia tidak memiliki keberanian untuk menghadapi segala sesuatu di luar dirinya, manusia akan tenggelam dalam rayuan kenikmatan yang semu. Ketika manusia telah larut, nafsulah yang akan memegang kendali kesadaran. Tidak ada lagi kegelisahan untuk menjadi sang pencipta. Yang ada hanya pelepasan hasrat sebagai konsumen yang justru akan membawanya pada tragedi. Dalam kondisi saat itu, manusia telah mati. Tidak ada lagi pemikiran kritis sertas kreatif dalam diri manusia. Manusia telah menjadi makhluk konsumen semata dan kesadarnnya telah diambil alih oleh benda-benda yang mereka anggap sebagai pemuas kebutuhan. Benda-benda tersebut (televisi, ponsel, game, mall, komputer) merupakan berhala-berhala yang mereka puja.

Untuk melawan produk-produk kapitalis, manusia dapat mengendalikan dirinya dan tetap berada dalam kesadaran. Tidak ada jalan untuk menghindar dari budaya yang dibentuk kapitalis. Jalan yang harus ditempuh adalah menghadapi dengan keberanian. Budaya minimalis adalah budaya yang dapat membahayakan bagi keberlangsungan hidup manusia. Bila manusia tenggelam dalam budaya minimalis, mereka hanya akan memperoleh kenikmatan semu atau ilusif tanpa ada makna kehidupan yang mendalam.

Nietzsche (Sunardi, 2006:74) mengatakan ”percayalah padaku: rahasia untuk memetik buah paling besar dan kenikmatan tertinggi dari manusia adalah hidup yang berbahaya (gefahrlich)”. Perkataan Nietzsche di atas mengacu pada keberanian dalam menghadapi kehidupan, tanpa larut akan kenikmatan-kenikmatan yang dapat mempersempit makna hidup. Manusia tidak harus mengambil jalan pintas dalam kehidupan atau lari dari dunia relita, hingga melarutkan diri dari kenikmatan semu. Kehidupan yang berbahaya dapat dilakukan dengan menghadapi budaya minimalis yang sarat dengan derasnya produk-produk kapitalis yang penuh bujuk rayu. Buah yang paling besar dan kenikmatan tertinggi ialah pemerolehan makna kehidupan ini. Itu semua dapat diraih ketika manusia selalu dalam kondisi sadar dan selalu kritis terhadap sesuatu di luar dirinya tanpa larut ke dalamnya. Ketika manusia mampu mengatasi kesadarannya, kegelisahan untuk menjadi sang pencipta akan muncul dalam kesadaran. Sang pencipta itu sendiri adalah manusia-manusia yang kritis dan kreatif. Sang pencipta juga selalu gelisah terhadap semua yang dihadapinya. Dalam kondisi gelisah, sang pencipta akan berpikir kritis terhadap kepincangan-kepincangan kehidupan, hingga menjelmakan bentuk kreativitas. Dari tangan sang pencipta, muncullah teori-teori baru, karya-karya baru, pemimpin-pemimpin baru yang penuh dengan jiwa perubahan ke arah kebenaran.

Akan tetapi, lain ceritanya, bila manusia-manusia, khususnya mahasiswa yang bergerak dalam dunia intelektual, sekarang tidak lagi berani menghadapi kenyataan yang penuh keilusifan. Tidak banyak manusia yang berhasil menghadapi bahaya budaya minimalis yang dibentuk oleh produk-produk kapitalis. Manusia yang tidak berani menghadapi kenyataan dan tenggelam dalam kenikmatan semu akan menjadi salah satu dari tiga manusia minimalis, yakni manusia ironis, manusia skizofrenik, dan manusia fatalis. Dalam kondisi larut terhadap kenikmatan semu, kegelisahan untuk menjadi sang pencipta telah mati. Pemikiran kritis dan kreatif manusia tidak pernah ada. Yang ada hanya manusia-manusia konsumen semata. Sang pencipta telah mati. Produk-produk kapitalis telah menenggelamkan pemikiran kritis dan kreatif manusia. Manusia telah dilanda krisis kesadaran, sehingga mereka melarikan diri dari dunia realita menuju dunia kenikmatan semu.

Tenggelamnya manusia dalam kenikmatan semu inilah yang kiranya mematikan intelektualitas pemikir generasi bangsa, sehingga yang tersisa hanya manusia ironis, skizofrenik, dan fatalis. Tidak ada lagi kegelisahan manusia untuk menjadi sang pencipta. Bila manusia terperosok menjadi manusia minimalis, bagaimana dengan kehidupan manusia selanjutnya? Semoga kita tidak tenggelam dalam kenikmatan semu, sehingga kita tetap dalam kesadaran dan kekritisan dan menjadi sang pencipta. Amin!

*Disampaikan di Mimbar Ilmiah Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unesa, 2007

Daftar Rujukan
Adlin, Alfathri dan Kurniawan. 2006. Hasrat Tubuh, Kosmetik, Kecantikan: Perempuan sebagai Kosmos dan Konsumen Citraan. Dalam Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra

Flocker, Michael. 2005. The Metrosexual Guide to Style: Saatnya Pria Tampil Seksi. Terjemahan Ayu Perwitasari. Bandung: B-first

Hartono, Agustinus. 2007. Skizoanalisis Deleuze & Guattari: Sebuah Pengantar Geneologi Hasrat. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra

Hassan, Fuad. 2005. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: Pustaka Jaya

Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra

Piliang, Yasraf Amir. 2006. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Yogayakarta dan Bandung: Jalasutra

Piliang, Yasraf Amir. 2006. Antara Minimalisme dan Pluralisme: Manusia Indonesia dalam Serangan Posmodernisme. Dalam Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra

Sunardi, St. 2006. Nietzsche. Yogyakarta: LKiS

Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2011/03/ekstasi-budaya-minimalis-dari-tipisnya.html

Categories: Esai