Gairah dari Tepi Sungai Linggang

Nunuy Nurhayati
http://majalah.tempointeraktif.com/

DI tepi Sungai Linggang, pondok kecil itu berdiri. Terkucil dari perkampungan penduduk. Atapnya dari seng, dindingnya bata merah. Tak ada bangunan lain di sekelilingnya. Yang terlihat hanya hamparan padang savana yang ditumbuhi ilalang dan pohon gelam. Dari beranda, bayangan Gunung Selimar di kejauhan perlahan-lahan lenyap seiring dengan tenggelamnya matahari. Gelap dan sunyi. Satu-satunya sumber penerangan adalah genset dengan kapasitas terbatas. Suara serangga malam, nyamuk-nyamuk nakal, dan kecipak air manakala seekor buaya berenang melintasi sungai menjadi sahabat pengisi malam.

Pondok kecil itu dinamakan Rumah Puisi. Andrea Hirata sengaja membangunnya untuk mereka yang ingin mengabadikan keindahan kampung kelahirannya dalam wujud lukisan, foto, lagu, puisi, cerpen, ataupun novel. Kesunyian dan kondisi lingkungan yang benar-benar alami dipercaya mampu mendatangkan inspirasi.

Tak perlu membayar bila ingin menyewa rumah yang dilengkapi empat tempat tidur dan perabotan memasak seadanya itu. Cukup mendaftar ke kantor kepala desa dan menjelaskan proyek seni atau sastra yang akan dikerjakan. Syarat lain yang wajib dipatuhi adalah laki-laki dan perempuan tak boleh bercampur. “Rumah Puisi diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata baru Desa Linggang,” kata sang kepala desa, Fakhrur Rizal.

Rumah Puisi mulai digunakan sejak November lalu, bertepatan dengan digelarnya puncak acara Festival Laskar Pelangi yang berlangsung sebulan penuh sepanjang November itu. Hajatan besar ini sekaligus mengukuhkan keinginan Desa Linggang sebagai desa sastra yang punya daya tarik bagi wisatawan. Rencananya, desa sastra yang digagas Andrea Hirata ini akan berfokus pada kegiatan residensi yang diwujudkan dalam bentuk Rumah Puisi dan kegiatan apreasiasi yang direalisasi dalam bentuk Festival Laskar Pelangi. Tapi, yang tak kalah penting, sebagai desa sastra, Linggang diharapkan mampu menyediakan tempat bagi berbagai acara yang berkaitan dengan sastra.

Yang jelas, Linggang saat ini adalah desa yang berusaha bangkit secara ekonomi, sosial, maupun budaya dengan mereproduksi popularitas Laskar Pelangi. “Di desa ini, kita bisa menikmati desa seperti dalam kisah novel Laskar Pelangi, termasuk juga bagaimana gedung SD Muhammadiyah tempat Ikal dan kawan-kawan bersekolah,” Andrea berpromosi. Sepotong jalan desa, yang melintasi kediaman orang tua Andrea, bahkan dinamai Jalan Laskar Pelangi.

Gedung sekolah yang diceritakan dalam novel ataupun film Laskar Pelangi itu kini memang sudah berganti rupa, tak lagi reot dan kumuh. Tapi para pelancong dapat menikmati replika SD Muhammadiyah yang digunakan untuk syuting film itu. Sekolah itu kini berdiri di atas bukit, di kawasan yang sama dengan Rumah Puisi. Kawasan seluas 67 hektare yang disediakan pemerintah daerah Belitung Timur itu dinamakan Kampung Laskar Pelangi. “Semoga kawasan ini bisa jadi destinasi wisata yang bisa dibanggakan di Belitung Timur,” ujar Bupati Belitung Timur Basuri Cahaya Purnama.

Bangunan sekolah yang didirikan dari bilah-bilah kayu itu terlihat tua dan rapuh. Agar tak roboh, bagian kanan sekolah yang diberi nama SD Laskar Pelangi itu disangga sebatang kayu sepanjang lima meter. Persis seperti yang tergambar dalam film Laskar Pelangi. Sekolah Laskar Pelangi menjadi daya pikat utama wisata Gantung. “Dengan kejeniusannya, Andrea mampu membangun daerah dengan paradigma sastra. Paradigma baru bahwa ternyata sebuah novel bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Hebat,” kata Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Helmy Faishal Zaini ketika meresmikan replika SD Muhammadiyah pada akhir November lalu.

l l l

Desa Linggang terletak di Kecamatan Gantung, Belitung Timur. Lima tahun lalu desa ini tak berbeda dengan desa-desa lain yang tersebar di Belitung Timur. Ia merupakan daerah penambangan timah miskin, yang 80 persen penduduknya menyandarkan hidup sebagai penambang timah. Gantung terletak di muara Sungai Linggang, yang berhubungan langsung dengan laut.

Awalnya Sungai Linggang hanyalah sungai kecil yang dangkal. Untuk memungkinkan kapal keruk timah masuk lebih ke pedalaman, Belanda memblok sungai dengan membangun bendungan di bagian hulu untuk menaikkan permukaan airnya. Mereka menyebutnya Bendungan Piche. Bendungan ini mulai dibangun pada 1934 dan selesai dua tahun berikutnya. Bendungan Piche belakangan menjadi kawasan rekreasi. Setiap akhir pekan bendungan ini dipenuhi warga desa yang ingin mencari hiburan.

Tapi Bendungan Piche, juga alamnya yang unik-sungai, lembah, danau, gunung, pantai, padang savana, dan hutan-serta jejak-jejak peninggalan sejarah timah yang tua, tak cukup kuat menarik pelancong dari luar Gantung. Gantung dan Linggang mulai dikenal seiring dengan meledaknya novel dan film Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata, pemuda yang lahir dan besar di desa ini. Laskar Pelangi bercerita tentang perjuangan anak-anak kampung meraih pendidikan. Novel yang pertama kali diterbitkan Bentang Pustaka pada 2005 itu laris manis. Laskar Pelangi dan tiga novel berikutnya-Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov-menjadi fenomenal dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Desa Linggang menjadi terkenal karena banyak diceritakan dalam Laskar Pelangi. Orang-orang pun sengaja datang ke sana demi menelusuri jejak Laskar Pelangi. Mereka menengok sekolah bekas pembuatan film yang hampir roboh, mengunjungi rumah Ikal dan Bu Muslimah (dua tokoh penting dalam cerita), dan melihat Pasar Gantung. Bendungan Piche pun kini masuk agenda sebagian besar pelancong yang mengunjungi Gantung. “Jumlah wisatawan yang datang meningkat 800 persen,” kata Fakhrur Rizal. Sejak heboh Laskar Pelangi lima tahun lalu, tiap tahunnya tak kurang dari 7.000 wisatawan singgah di desanya.

Ketika Festival Laskar Pelangi digelar, desa ini kebanjiran wisatawan tak kurang dari 1.700 orang. Selama sebulan penuh festival rakyat yang sebagian dibiayai dana kas desa itu menyuguhkan berbagai macam pertunjukan tradisional asli Belitung, seperti tarian campak, drama mulok, besepen, begubang, betiong, hingga kesenian khas Tionghoa barongsai. Tak lupa diadakan pawai budaya keliling kampung yang diikuti murid-murid sekolah, seperti yang tergambar dalam salah satu adegan film Laskar Pelangi.

Tak cuma seniman lokal, pemusik jazz Aminoto Kosin ikut meramaikan panggung festival. Dia berkolaborasi dengan Madi Seruling membawakan lagu dangdut Pengalaman Pertama (Lirikan Matamu), yang dulu dipopulerkan penyanyi dangdut A. Rafiq. Pertunjukan itu digelar di tanah lapang yang disulap menjadi Pasar Laskar Pelangi, lengkap dengan warung kopi dan toko cendera mata. Festival Laskar Pelangi yang bakal digelar setiap tahun ini diharapkan mampu menjadi magnet baru penarik wisatawan untuk datang ke pulau kaya timah itu.

Berkah Laskar Pelangi menyebar ke seluruh penjuru Belitung. Pulau seluas 4.574 kilometer persegi itu bahkan menabalkan diri sebagai Negeri Laskar Pelangi. Sebuah pulau yang dikelilingi pantai menawan dengan pasir putih sehalus pupur dan batu-batu granit raksasa. Belitung kini tak hanya dikenal sebagai pulau yang lingkungan alamnya di ambang kehancuran.

17 Januari 2011