KETIKA KRITIK SASTRA BERTOLAK PADA PERKIRAAN

(Tanggapan atas Tulisan Didik Wahyudi)
Indiar Manggara *
http://www.facebook.com/

Mengenai pentas drama monolog Merdeka oleh Putu Wijaya beberapa minggu lalu di Gedung Serba Guna UNAIR, nampaknya memunculkan sebuah polemik yang cukup menarik. Sebuah kritik terhadap pentas monolog berdurasi sekitar enam puluh menit ini, pertama kali dilontarkan oleh Ribut Wijoto dalam sebuah esai Catatan Pentas Monolog “Merdeka” Putu Wijaya (Jawa Pos edisi minggu, 23 november 2008).

Salah satu permasalahan utama yang diangkat oleh Ribut adalah luputnya Putu dalam memegang konsistensi logika tekstual pada teks drama monolog Merdeka-nya. Yakni pada adegan seorang cucu yang masih duduk di bangku SD, bertanya pada kakeknya, “Benarkah kita telah merdeka, kek?” Lalu si kakek menjawab dengan panjang lebar dan berkobar-kobar, dengan segala ideologinya yang muluk-muluk. Hal inilah yang dipertanyakan oleh Ribut. Bagaimana mungkin, seorang bocah yang masih duduk di bangku SD, dengan tiba-tiba mempertanyakan hal yang begitu berat tentang kebangsaan—yang mungkin bagi orang dewasa sendiri jarang mempertanyakannya—dan si kakek pun menjawab dengan segala ideologi dan tataran intelektual yang berat pula.

Kemudian, kritik atas kritik dari Ribut Wijoto ini pun muncul. Yakni Didik Wahyudi dengan esainya yang berjudul Dilema Logika dalam Pemaknaan Teks. Dalam tulisannya, Didik menyanggah pendapat dari Ribut. Didik beranggapan bahwa logika tekstual dalam pemaknaan karya sastra tidak harus mutlak ada. Kemudian Didik memperbandingkan teks drama monolog Merdeka karya Putu Wijaya itu dengan puisi-puisi Afrizal Malna, yang mana, dapat dikatakan hampir tidak ada sama sekali logika tekstual di dalamnya.

Mengamati kritik atas kritik yang dilontarkan oleh Didik Wahyudi, nampaknya ada beberapa kejanggalan-kejanggalan yang patut dipertanyakan. Pertama, pada esainya yang berjudul Dilema Logika dalam Pemaknaan Teks, Didik dengan jujur menyatakan sendiri bahwa ia tidak melihat langsung pentas drama monolog Merdeka yang dibawakan oleh Putu Wijaya itu. Lalu, bagaimanakah mengukur validitas kritik atau tanggapan Didik yang ditujukan pada kritik Ribut Wijoto—yang melihat secara langsung pentas drama monolog Merdeka Putu? Meskipun Didik menyatakan bahwa Ribut dengan sangat detailnya mendeskripsikan pentas drama monolog Merdeka Putu Wijaya. Hingga baginya seolah-olah pentas drama monolog tersebut nampak secara visual di mata dan pikirannya. Tetapi masih perlu digaris-bawahi, bahwa pendeskripsian Ribut atas pentas drama monolog Merdeka Putu, ”seolah-olah” tervisualisasikan kembali. Seolah-olah. Tidak dapat dipungkiri bahwa peristiwa-peristiwa sekecil apa pun—yang mungkin tidak terekam dalam pendeskripsian—yang terdapat dalam pentas monolog tersebut, bisa jadi sangat signifikan dalam memberikan sebuah penilaian. Kritik terhadap karya seni tidak dapat dilakukan hanya dengan cara mengira-ngira. Apalagi kritik terhadap kritik.

Kemudian kejanggalan yang kedua adalah usaha Didik untuk menyanggah kritik Ribut—tentang logika tekstual dalam karya sastra—dengan memperbandingkan teks drama monolog Merdeka Putu Wijaya dengan puisi karya Afrizal Malna. Hal ini sebenarnya berkaitan dengan kejanggalan pertama. Yakni ketidak-hadiran Didik dalam pentas tersebut. Pentas drama monolog Merdeka, dibawakan oleh Putu dengan gaya semi realis, dan mengangkat tema-tema yang dekat dengan hal-hal di sekitar kita. Dalam hal ini, drama, seperti kita ketahui, adalah sebuah pemvisualisasian karya sastra dengan memanfaatkan adegan-adegan, yang mana selalu membutuhkan logika tekstual antar peristiwanya, sebagai bentuk pertanggungjawaban. Terlebih lagi pada pementasan drama monolog yang dibawakan oleh Putu Wijaya tersebut mengangkat lakon Merdeka. Tema tentang kebangsaan dan sosial. Perihal yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia (ditandai dengan pemasangan bendera merah putih). Sebuah pesan atau informasi penting yang ditujukan pada berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Bagaimana pesan tersebut dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, apabila masyarakat—audience—sendiri menganggap mustahil pada apa yang disampaikan. Pesan dengan peristiwa yang common sense-nya gagal.

Sementara itu, puisi Afrizal Malna dimanfaatkan oleh Didik sebagai contoh atas pendapatnya tentang ketidak-harusan logika tekstual “ada” dalam pemaknaan karya sastra. Nampaknya di sini, Didik terkesan terburu-buru. Puisi memang merupakan genre karya sastra yang “tidak menuntut” adanya logika tekstual pada setiap kalimat atau peristiwanya secara eksplisit. Sebab puisi seringkali memanfaatkan permainan-permainan simbol yang jauh dari logika pikir, demi tujuan estetis karyanya. Terlebih lagi puisi-puisi Afrizal Malna yang dikenal absurd. Puisi Afrizal merupakan puisi yang langsung berbicara pada tingkat pemaknaan lapis kedua. Atau meminjam istilah dari Ribut Wijoto sendiri, semiotik lapis kedua. Afrizal tidak begitu mengeksplor puisi-puisinya ke dalam tahap semiotik yang pertama—yang dapat dinikmati oleh pembaca hanya dengan tahap pembacaan heuristik. Tetapi sekali lagi perlu digaris-bawahi bahwa karya Afrizal adalah puisi dan absurd.

Akan berbeda lagi apabila puisi-puisi Afrizal tersebut ditransformasikan menjadi sebuah teks drama dan dipentaskan. Tentu saja puisi-puisi Afrizal akan mengalami proses pembedahan naskah. Yang mana langkah paling utama dan pokok—meminjam istilah Budi Darma—adalah Making out the plain sense of poetry. Melakukan pemindahan puisi menjadi sebuah peristiwa-peristiwa yang saling berkesinambungan, logis secara tekstual, tanpa menghilangkan simbol-simbol atau pun metafor. Pemindahan makna secara harfiah, bukan pemindahan dengan penafsiran.

Jadi, dapat dikatakan bahwa sanggahan Didik terhadap kritik Ribut dengan cara memperbandingkan teks drama monolog Merdeka karya Putu Wijaya dengan puisi-puisi Afrizal Malna adalah sangat tidak tepat. Sebab, teks monolog Merdeka karya Putu Wijaya adalah berada pada tataran jenis drama yang mencoba mengangkat kehidupan realita masyarakat Indonesia, dengan mengusung hal-hal kesehariannya. Sehingga sangat diperlukannya logika tekstual dan logika peristiwa. Sedangkan puisi-puisi Afrizal, adalah puisi. Yang langsung meloncat pada tataran simbol. Sangat jauh mengesampingkan pembacaan awal dengan sifat informatif.

Mungkin kritik Ribut Wijoto yang mempermasalahkan logika tekstual dalam teks drama monolog Merdeka karya Putu Wijaya, akan menjadi masalah, atau terlihat mengada-ada, apabila Putu menjelaskan latar belakang si cucu tersebut. Seperti, mungkin si cucu pernah mendengar pernyataan tentang kesangsian bahwa bangsa Indonesia telah merdeka, dari orang yang lebih dewasa atau memiliki intelektual yang pantas, dsb. Tetapi sayangnya, tidak. Karya sastra yang mengusung kehidupan sehari-hari dengan gaya yang sederhana, tidak akan bisa dilepaskan sejauh mungkin dari mainstream masyarakatnya. Toh, yang dimaksud Ribut dengan logika tekstual dalam teks drama monolog Merdeka karya Putu Wijaya, adalah pada segi penyampaian peristiwanya. Bukan pemaknaan.***
__________________________
*) Indiar Manggara lahir di Surabaya, 9 mei 1985. Saat ini sedang menyelesaikan program studi S1 di Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNAIR Surabaya. Aktif dalam dunia tulis menulis. Beberapa karyanya—cerpen, puisi dan esai—pernah dimuat di media massa lokal. Puisi-puisinya sempat tergabung dalam antologi puisi bersama “Kentrung Jancukan” dan dialih-rupakan ke bentuk lukisan oleh beberapa teman-teman pelukis DKJT dan UNESA. Cerpen-cerpennya juga pernah divisualkan ke bentuk komik. Pernah berperan sebagai aktor utama dalam film indie berjudul “Labirin” yang disutradarai oleh Seger Susastro. Saat ini aktif tergabung di berbagai komunitas kebudayaan dan kesenian: Komunitas CDR (Cak Die Rezim), Komunitas Teater GAPUS Surabaya, penggagas dan mantan ketua PAKAR SAJEN (Paguyuban Karawitan Sastra Jendra) FIB UNAIR, LKJT (Lembaga Kajian Jawa Timur), dan KMUDI Lepas (Komunitas Studi Lepas). Sekarang bertempat tinggal di Surabaya di JL. Dupak Bandarejo 2 no.22.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=265438709232