Kolaborasi Tiga Wayang

Sri Rejeki
Kompas, 12 Des 2010

SUARA alu-alu yang dientakkan ke lesung oleh enam perempuan paruh baya berbaju lurik dan berkain batik terdengar bertalu-talu, Kamis (2/12) malam. Atraksi itu mengingatkan kita pada tradisi agraris menumbuk beras yang kini hampir tidak dapat dijumpai lagi.

Suasana pedesaan itulah yang mengawali pertunjukan wayang beber dengan lakon ”Suluk Banyu” di Griya Tanjung Anom, Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dengan dalang cilik Adam Gifari (kelas V sekolah dasar), pelukis wayang beber Dani Iswardana mengetengahkan kegelisahannya tentang air yang menjadi hajat hidup orang banyak, tetapi kini banyak dikuasai pemodal besar.

”Di masa depan bukan lagi perang memperebutkan minyak seperti sekarang terjadi, melainkan perang memperebutkan air,” kata Dani seusai pertunjukan.

Adam Gifari dengan pengantar bahasa Jawa sehari-hari, kadang-kadang dengan bahasa Indonesia, mendalang dengan cara menunjuk-nunjukkan stik seperti halnya seorang guru sedang mengajar dengan menunjuk tulisan di papan tulis. Wayang beber menggunakan kelir panjang yang dilukisi berbagai adegan dan lantas digulung. Dalam sebuah lakon, kelir akan dibuka gulungannya untuk menampilkan sekuen demi sekuen adegan. Pertunjukan bersifat dua arah karena sesekali terjadi interaksi antara dalang dan penonton.

Pertunjukan wayang beber ini menjadi pembuka hajatan Kenduri Wayang yang digagas oleh perupa Teguh Ostenrik yang juga menyediakan rumah keluarga besarnya, Griya Tanjung Anom, di Desa Kwarasan sebagai tempat penyelenggaraan kenduri. Kenduri menampilkan wayang beber, wayang padi, dan wayang kulit padat yang diramu menjadi kesatuan pertunjukan.

Hajatan desa

Suasana dibuat seperti acara hajatan di desa. Tidak dibuat panggung khusus yang lebih tinggi sehingga penonton menyaksikan dengan duduk lesehan atau duduk di atas kursi lipat yang disediakan di bagian belakang area lesehan. Lantai ”panggung” dipenuhi jerami dengan atap tratag daun kelapa kering. Pada tiang-tiang yang menopang atap, dipasang potongan batang tanaman jagung atau tanaman padi yang berbulir.

Sebagian besar penonton adalah warga Desa Kwarasan dan tamu undangan, termasuk Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya.

Seusai wayang beber, digelar wayang padi dengan kelir hanya batang pohon pisang yang ditancapi dua gunungan di sisi kanan dan kirinya, tanpa kain layar. Wayangnya, meski terbuat dari kulit, mengambil bentuk modifikasi, tidak seperti wayang kulit klasik.

Wayang padi dengan dalang Ki Demang Edy Sulistiono dari Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Solo dihidupkan dengan keterlibatan para petani yang tergabung dalam Sanggar Sekar Jagad, Sukoharjo. Ibu petani menggunakan kebaya warna-warni dengan hiasan rambut sejumput batang padi berbulir dan pak tani mengenakan surjan lurik dan ikat kepala.

Wayang padi bercerita tentang sawah pertanian, adaptasi pertanian, pranoto mongso, caos dahar, dan mantra-mantra pertanian. Pertunjukan diawali dengan semacam pengantar tentang tradisi pertanian turun-temurun sejak nenek moyang dulu, yang kini banyak ditinggalkan. Pengantar diselingi dengan permainan musik lesung dan kentongan serta kidung-kidung tani. Dalang membuat personifikasi hama tanaman ke dalam bentuk butho (raksasa).

Sementara wayang kulit padat adalah pertunjukan wayang kulit pakem pada umumnya, tetapi durasinya diperpendek. Sang dalang, Adam Gifari, yang oleh pembawa acara disebut sebagai putra pedangdut Roma Irama, membawakan lakon ”Prabu Boko” yang bertutur tentang keangkaramurkaan yang dikalahkan dengan keberanian dan kejujuran.

Dalam sambutannya yang diawali dengan tembang macapat dandanggula, Teguh Ostenrik mengatakan, dia tergerak menggelar kenduri ini karena baginya akar budaya, seperti wayang, gamelan, dan macapat, akan membuat jati diri bangsa semakin kuat. Kenduri wayang merupakan karya bersama dan ajang untuk saling mengapresiasi serta membangun kebersamaan.

”Kesenian hanya bisa berkembang seperti jamur yang tumbuh di mana-mana jika ada tanah subur dan air cukup. Kami akan pergi ke desa-desa dan memfasilitasi agar kesenian berkembang di sana,” tutur Teguh.

Kesadaran Teguh bukan tanpa alasan. Ia sudah melanglang buana untuk belajar kesenian, tetapi seni pada akhirnya bukanlah ilmu yang didapat dari perguruan tinggi. Seni adalah hal ihwal yang bersangkut-paut dengan realitas kehidupan sehari-hari. Itulah tanah subur bagi tumbuhnya kebijaksanaan dalam hidup. Tiga wayang yang sudah jarang dipergelarkan ini menjadi bukti bahwa kehidupan itu terus berlangsung….

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/12/pertunjukan-kolaborasi-tiga-wayang.html