Matinya Bahasa Sunda

Acep Iwan Saidi*
Pikiran Rakyat, 17 Feb 2007

Ketika esai ini ditulis, di tangan saya ada 25 eksemplar Majalah Sunda Cupumanik (edisi 18/2005-edisi 43/2007). Majalah ini, sejak edisi 16/2005, menyediakan sebuah rubrik ”Kandaga Basa” yang isinya berupa babasan jeung paribasa. Ruang yang disediakan untuk rubrik ini dua halaman, setiap edisi diisi rata-rata 15-20 paribasa dan selalu diberi nomor dalam kurung setelah judul rubriknya. Karena yang ada pada saya mulai edisi 18, rubrik ”Kandaga Basa”-nya bernomor edisi (3).

Membaca dan menyimak rubrik ini segera akan terkesan pada kita bahwa betapa cergas dan kreatifnya orang Sunda masa lalu dalam berbahasa. Cergas sebab mereka tangkas dan terampil menangkap pengalaman hidup dan memformulasikannya lewat bahasa. Kreatif sebab bahasa yang diformulasikannya bukan bahasa biasa, melainkan penuh dengan metafora, efektif, dan selalu mempertimbangkan hukum bunyi sehingga rangkaian ungkapannya tidak hanya bernas secara substansial, tetapi juga estetik dalam segi bentuk.

Perhatikan babasan dan paribasa berikut, “kajeun kendor dapon ngagembol, cara anjing tutung buntut, ngindung ka waktu ngabapa ka mangsa, ambek nyedek tanaga midek, nulak cangkeng dina kelek, inggis batan maut hinis rempan batan mesat gobang, dan ti ngongkoak nepi ka ngungkueuk.” Lupakanlah makna ungkapan-ungkapan itu, perhatikan diksinya yang ketat, dan dengarkan bunyinya yang merdu. Tanpa tahu maknanya, segera akan muncul kesan betapa bahasa ungkap itu tertata dengan rapi. Musikalisasi bunyinya juga terdengar harmonis.

Pada tataran filosofis, ungkapan-ungkapan itu jelas menunjukkan sebuah formulasi atas pengalaman prareflektif. Di situ bahasa tidak sekadar sarana pendeskripsi realitas, tetapi juga abstraksi dari pengalaman, bahasa yang telah memergoki pengalaman dan dengan tangkas menangkapnya. Mari periksa peribahasa berikut, “Piit ngendeuk-ngendeuk pasir, cecendet mande kiara.” Ini jelas sebuah abstraksi atas perilaku manusia yang tidak pernah mengukur kemampuan dan kualitas dirinya. Ia menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dapat diraihnya. Tampak terang kepada kita, di situ bahasa telah memiliki rohnya sendiri. Ia masuk ke ruang transenden, wilayah yang kita anggap tak terbahasakan sebab kita selalu menganggap bahasa sebatas sarana untuk mendeskripsikan realitas belaka. Silakan juga periksa beberapa babasan dan paribasa lain seperti, “Milih-milih rabi, mindah-mindah basa, cul dogdog tinggal igel, caina herang laukna beunang, dan adat ka kurung ku iga.”

Formulasi bahasa semacam itu tidak mungkin lahir tanpa sebuah studi yang intens — apa dan bagaimanapun metodologinya. Kita tahu bahwa jejak penciptanya sulit ditelusuri. Ungkapan-ungkapan itu adalah produk masyarakat lisan. Ia diciptakan oleh penutur-penutur yang tidak perlu coretan nama diri di atas karangannya. Ia anonim. Namun, siapa pun penciptanya, ia pastilah seorang ahli bahasa yang menggauli bahasa sampai ke ruang-ruang paling gelap. Ia tidak menjadikan bahasa sebagai objek, ia tidak mengambil jarak dengan bahasa. Dirinya sendiri kiranya telah menjelma bahasa itu sendiri.

Tapi mengapa kini bahasa Sunda itu mati?

Persoalannya kemudian, apakah para penutur bahasa Sunda sekarang bisa melakukan hal yang sama? Apakah para sarjana sastra Sunda yang sering merasa sok modern mampu memformulasikan pengalaman dalam bahasa yang demikian? Ketimbang mendapat jawaban menggembirakan, sebuah berita menyedihkan justru diturunkan harian ini beberapa waktu lalu. “Penutur bahasa Sunda di Kota Bandung Hanya Tersisa 30%”, demikian tajuk berita tersebut (“PR”, 15/2/2007). Penutur yang 30% itu, katanya, terbatas pada kalangan pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar bahasa Sunda di sekolah. Diperkirakan tahun 2010 tidak ada lagi urang Bandung yang menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Menyakitkan. Jika bahasanya hilang, bisa dipastikan budayanya pun lesap.

Kenapa nasib buruk demikian mesti menimpa bahasa Sunda? Gugun Gunadi, sarjana Sastra Sunda dan Staf Pengajar Fakultas Sastra Unpad, menyerang dengan jurus agak culas. Ia bilang bahwa tragedi itu terjadi akibat kesalahan ibu-ibu muda dan Dinas Pendidikan. Ibu-ibu muda tidak mau mengajari anaknya berbahasa Sunda. Dinas Pendidikan tidak mau memberlakukan bahasa Sunda sebagai bahasa pengajaran di taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).

Wow, jika saya berada pada posisi dua pihak tersebut, saya akan segera bertanya, apa pula yang Anda lakukan sebagai sarjana sastra Sunda? Apa ikhtiar Unpad (c.q. Jurusan sastra Sunda!) dalam mengatasi masalah tersebut? Bukankah sejauh ini Anda dan kawan-kawan hanya bersembunyi di sebuah ruang eksklusif bernama kampus? Mana karya Anda yang menunjukkan jerih payah untuk memasyarakatkan bahasa Sunda yang bisa dicerna publik: Buku? Hasil penelitian? Karya ilmiah? Bukankah Anda orang akademis yang mestinya bisa bekerja secara metodologis? Anda, saya kira, tidak diajari untuk hanya bisa menyalahkan orang lain. Anda pasti diajari untuk bertanggung jawab pada keilmuan Anda.

Tak sekadar soal bahasa

Persoalan bahasa tidak bisa diselesaikan dengan cara sederhana lewat pelajaran yang diberikan seorang ibu kepada anaknya atau lewat kurikulum yang diwajibkan pemerintah sebagaimana disinyalir Gugun. Tidak ada jaminan bahasa Sunda akan lestari jika dua hal itu dilakukan. Ketika melihat gejala ibu-ibu muda tidak mau mengajarkan bahasa Sunda kepada anaknya dan Dinas Pendidikan tak mau memberlakukan kurikulum, Gugun mestinya bertanya mengapa hal itu terjadi, bukan lantas menunjuk hidung mereka. Jika pertanyaan tersebut tak segera mendapat jawab, sebagai akademisi, hal yang mesti dilakukan tentulah melakukan riset yang serius, penelitian dedikatif yang tidak hanya demi kepentingan projek. Menuduh adalah cermin berpikir pragmatis, yang, tentu saja, tidak sehat dimiliki seorang akademisi.

Saya sendiri berasumsi bahwa bahasa Sunda kian menghampiri kematiannya karena ada banyak faktor yang membuat orang Sunda berjarak dengannya. Bahasa, kata Bronislav Malinowsky, lahir karena pengalaman badaniah” (Halliday, 1985: 10). Pengalaman badaniah adalah interaksi keseharian yang melibatkan banyak hal di samping manusia sendiri sebagai pelibat utamanya. Dalam interaksi ada ruang, waktu, dan benda-benda yang bergerak di dalamnya. Sekelompok orang yang berinteraksi di sebuah ruang dan waktu yang penuh dengan benda teknologi, misalnya, memungkinkan lahirnya ungkapan-ungkapan dan istilah-istilah yang berkaitan dengan teknologi tersebut. Dari situ akan lahir bahasa ragam teknologi. Tidak mungkin lahir bahasa ragam sastra, politik, dan lain-lain di luar ranah teknologi.

Beranalogi pada contoh ekstrem tersebut, tentu tidak mungkin lahir dan/atau lestari bahasa Sunda jika ruang dan waktu tempat orang Sunda berinteraksi dipenuhi benda dan pemikiran yang menjauhkan mereka dari alam kesundaan itu sendiri. Akan sia-sia seorang ibu mengajarkan bahasa Sunda jika yang ada di dalam rumahnya bukan benda-benda yang mengingatkan mereka pada kesundaan, jika pola pikir mereka tidak nyunda. Omong kosong rasanya jika kita berkoar-koar kepada seluruh warga Sunda agar menggunakan bahasa Sunda dalam keseharian. Kita hanya melihat bahasa sebatas alat yang dengan itu berharap bisa mendeskripsikan dan merepresentasikan realitas. Padahal, sebagaimana Malinowsky, bahasa adalah pengalaman keseharian itu sendiri. Bahasa adalah inti dari aktivitas. Bahasa diproduksi oleh aktivitas dan penanda-penanda yang melingkunginya. Maka, bagaimana bisa bahasa Sunda mendeskripsikan dan merepresentasikan aktivitas orang lain, dalam penanda orang lain pula.

Demikian juga soal kurikulum pendidikan bahasa Sunda. Mubazir kiranya kurikulum bahasa Sunda diberlakukan jika kelas dipenuhi benda dan model atau metodologi pengajaran asing. Bisa saja seorang murid mencapai nilai bagus dalam pelajaran, tetapi ia segera akan melupakannya setelah pelajaran itu lewat. Hal ini dimungkinkan terjadi sebab sang murid belajar bahasa Sunda sebatas kewajiban, selebihnya mengejar kelulusan. Kurikulum bahasa Sunda, dengan begitu, paling banter hanya akan bisa memenuhi syarat formal, tidak substansial. Sekolah akhirnya hanya mengajarkan kepura-puraan.

Lantas, bagaimana cara mencegah atau paling tidak memperlambat usia bahasa Sunda jika dalam realitas keseharian kita justru berjauhan dengan benda-benda dan pandangan hidup kesundaan sedemikian? Tentu jawabannya tidak cukup berteriak-teriak bahwa bahasa Sunda akan mati, apalagi dengan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Jawabannya, hemat saya, adalah berkarya. Tingkatkan terus karya-karya yang berkaitan dengan kesundaan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Contohlah strategi McDonald. Makanan ini eksis antara lain karena ia hadir nyaris di setiap sudut kota di seluruh dunia. Ingat juga bagaimana pada suatu masa yang telah lewat tari jaipongan menjadi demikian populer. Tarian ini eksis antara lain karena frekuensi kemunculannya yang luar biasa, baik dalam bentuk pentas maupun rekaman musiknya. Mari kita kepung orang Sunda dengan karya, bukan dengan umpatan. Para sarjana Sunda, Unpad, Unpas, dan pihak-pihak yang mendompleng pada kesundaan, berkaryalah! Meneliti, menulis, terbitkan minimal 1.000 buku, 1.000 jurnal, dan sekian ribu tulisan di media dalam setahun! Jangan beralasan hal ini tidak mungkin dilakukan. Kita hanya baru bisa hidup kalau mau bekerja keras, bukan? Jangan juga berkilah tidak ada dana! Unpad, misalnya, wow, kaya banget!

Kembali ke soal peribahasa di atas, orang Sunda terutama para sarjana sastra Sunda mestinya malu pada para karuhun. Mereka hidup dalam tradisi lisan yang kental. Mereka sering kita anggap sebagai terbelakang. Tapi, nyatanya mereka justru jauh lebih cerdas dari kita. Mereka mampu mengabstraksikan perilakunya dalam formulasi bahasa yang estetik dan bergizi. Lihatlah, sampai edisi terakhir Cupumanik yang saya baca hingga tulisan ini dibuat, tak ada satu pun peribahasa yang diciptakan oleh orang Sunda modern. Seluruhnya telah saya kenali sejak sebelum mengenal bangku sekolah dasar. Ah, saya jadi curiga pada model studi bahasa Sunda di perguruan tinggi. Jangan-jangan mereka telah menempatkan bahasa sebagai objek yang mati belaka. Jangan-jangan mereka hanya mengintip bahasa dalam jarak karena alasan objektivitas ilmiah. Jangan-jangan mereka pun mengilmiahkan bahasa Sunda dengan hukum-hukum yang diadopsi dari pola-pola bahasa asing sebagaimana dilakukan banyak pakar bahasa Indonesia terhadap bahasa nasional itu. Jika demikian halnya, pantaslah kalau kini bahasa Sunda melangkah kian cepat saja ke liang lahatnya!
___________________
*) Acep Iwan Saidi, Dosen pada Kelompok Keahlian Ilmu-ilmu Desain dan Budaya Visual FSRD ITB. Pernah kuliah Sastra dan Bahasa (S-1). Sedang menyusun buku Tata Bahasa Baku-Hantam Bahasa Indonesia.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/02/matinya-bahasa-sunda.html