Melodrama Orientalis Naik Haji

Judul: Orang Kristen Naik Haji
Penulis: Augustus Ralli
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 371 halaman
Peresensi: Wildani Hefni *
http://www.lampungpost.com/

IBADAH haji adalah salah satu adat kebiasaan bangsa Arab Pagan yang sudah ada sejak lama sebelum Muhammad datang. Orang dari pelbagai penjuru dunia membeludak dengan satu tujuan: mengunjungi baitullah (rumah Allah).

Pada masa lampau, banyak jamaah haji yang dideportasi karena mencoba melakukan perjalanan ke Mekah tanpa memiliki biaya yang cukup. Yang menarik, ternyata banyak orang Kristen juga berlomba-lomba untuk datang ke Mekah.

Apa motivasi mereka dan apa yang ingin mereka dapatkan? Padahal, setiap musim haji pasti terjadi eksekusi mati bagi beberapa orang Kristen yang terbukti masuk ke Tanah Suci secara ilegal.

Buku ini hadir untuk mengungkap dan mengisahkan para petualang sejumlah orang Eropa yang pernah berkunjung ke Mekah (sekitar abad 15 hingga 19). Eksekusi mati bagi orang Kristen yang mengunjungi Mekah ternyata tak membuat mereka kelalapan. Mekah tetap menjadi magnet yang menarik minat para petualang orang Eropa.

Dengan segala cara mereka bersembunyi: menyamar dengan mengenakan pakaian orang-orang muslim, serta melakukan tradisi-tradisi dan ritual Islam. Mereka mengalami kesulitan dalam perjalanan, menantang darat atau laut yang ekstrem, dan kemudian pulang ke negara masing-masing setelah bersusah payah mendapatan pengetahuan di pusat Islam.

Agustus Rulli, penulis sejarah-sejarah Mekah, dalam buku ini hendak membentangkan seluk beluk Kota Suci pada masa silam. Dengan gaya penulisan enak dan muda dicerna, Rulli membeberkan betapa perjalanan haji pada masa itu sungguh menegangkan, penuh rintangan, ujian, marabahaya, dan menggetarkan.

Mekah menjadi impian bagi para petualang dan orientalis Eropa untuk menyingkap rahasia-rahasia tersembunyi di dalamnya. Ternyata, bukan hanya umat muslim yang menjalankan syariat Islam keempat itu, orang Kristen dengan serba keterbatasan dan penuh ketakutan juga rela menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

Menurut Rulli, para pengenala Kristen ke Mekah bisa dikategorikan dalam tiga kelompok. Pertama, dimulai dari Ludovico Bartema (1503) hingga Joseph Pitts (1680), mereka mengalami pertikaian kecil.

Kedua, mereka yang datang ke Mekah bertujuan memperoleh pengetahuan dan demi kebutuhan ilmiah seperti Badia Y. Leblich (1807), Ullrich Jasper Seetzen (1810), John Ludwig Burckhardt (1815), dan Christian Snouck Hurgronje (1885).

Ketiga, mereka yang sangat suka pada petualangan atau keingintahuan, seperti Heinrich Freiherr Von Maltzan (1860), Herman Bicknell (1862), John Fryer Keane (1877), dan Gervais Courtellemont (1894).

Dalam konteks dunia Islam, ada empat tokoh terkemuka penjelajah Mekah, yaitu Badia, Burckhardt, Burton, dan Hurgronje. Badia adalah orang pertama dengan kapasitas kelimuannya yang bisa menginjakkan kaki di Kota Suci. Pengetahuan yang dihasilkan Badia kemudian dikoreksi dan diperdalam oleh Burckhardt. Kemudian Burton yang kemudian diikuti oleh Hurgronje dengan kajian-kajian sosial yang ia peroleh dari Mekah.

Tujuan perjalanan Hurgronje semata untuk objektivitas dan ilmu pengetahuan. Ia ingin mempelajari pengaruh Islam terhadap sosial-politik dalam masyarakat yang belum tersentuh oleh peradaban Barat. Buku ini dengan tajam mengisahkan perjalan Hurgronje melalui Jeddah—Haddah—Mekah. Hurgronje awalnya menyamar sebagai seseorang yang belajar Alquran.

“Aku berkenalan dengan sebuah komunitas modern di Mekah secara langsung. Aku mendengar dengan kedua telingaku apa dan bagaimana mereka mendiskusikan pengetahuan Islam. Aku telah mempelajari harapan-harapan dan realitas-realitas, keyakinan yang berani dan perjuangan eksistensi masyarakat yang paling banyak tersebar di dunia. Aku belajar ini semua dari masjid, majelis, dan kedai kopi di Mekkah,” tulis Hurgronje (hlm. 292).

Mekah oleh para orientalis Eropa disebut sebagai “kota menakutkan” dan memberikan tantangan. Menakutkan karena jika identitasnya terbongkar, ancaman pembunuhan akan menghampirinya. Menegangkan karena mereka adalah petualang-petualang dunia yang ingin mengetahui sendiri pusat spiritual Islam.

Buku ini menjadi penting untuk memotivasi siapa pun menjalankan ibadah haji, menginjakkan kaki di Tanah Suci, menyaksikan keagungan Kakbah, dan mengunjungi makam Rasulullah.

_______________30 October 2011
Wildani Hefni, Pengelola Rumah Baca Pesma Darun Najah IAIN Walisongo Semarang