Nalar Kultural dan Sastra

Bandung Mawardi *
http://www.seputar-indonesia.com/

Lelaki kecil itu dengan eksplisit menilai bahwa gerakan pembaharuan kebudayaan di Indonesia (1930-an) merupakan gerakan kesusastraan.Sutan Sjahrir mengajukan penilaian itu sebagai klaim atas ikhtiar gerakan Pujangga Baru untuk memajukan kebudayaan Indonesia: kebudayaan tanpa “bau mesin dan kemenyan”.

Sjahrir mafhum,ikhtiar Pujangga Baru memang mengandung risiko dalam proses menjadi Indonesia. Sutan Sjahrir adalah masa lalu dengan jejak-jejak progresif,manusia kontroversial, dan pewarta politik modern.Lelaki kecil itu menulis kalimat-kalimat sebagai permenungan, bahasa untuk provokasi rasionalitas, narasi mengundang refleksi. Tulisan menjadi tindakan politik dan kultural untuk ikut menentukan wajah Indonesia.

Kalimat-kalimat Sjahrir mungkin tidak semasyhur, semenggelegar,dan semeledak ungkapan orator-orator politik masa lalu.Sjahrir menulis dan mewartakan utopiautopia Indonesia dalam tegangan kolonialisme dan hasrat pembebasan. Renungan Indonesia adalah warisan untuk Indonesia. Sjahrir tekun membuat catatan dan surat saat di penjara dan hidup di pembuangan.

Tulisan menciptakan utopia. Sjahrir dan utopia adalah tanda kecil dalam konstruksi Indonesia.Utopia mengandung percampuran optimisme dan pesimisme. Sjahrir merasa utopia seperti jadi milik sendiri dalam keterasingan ketimbang jadi milik orang ramai: utopia tanpa peta dan alamat. Utopia Sjahrir memiliki akar-akar substantif dalam laku intelektual dan politik.

Renungan Indonesia mewartakan dan merayakan utopia dalam pelbagai keterbatasan dan kemungkinan untuk sampai pada realisasi.Sjahrir menulis: “Di sini (Indonesia) sudah berabad-abad lamanya seolah-olah tidak ada kehidupan intelektual dan kultural lagi,tidak ada kemajuan lagi.

”Sjahrir mencontohkan wayang dalam pelbagai simbol dan mistik tak kontributif untuk kebutuhan intelektual dan kultural.Kritik ini ingin dijadikan lambaran untuk progresivitas dengan kesadaran modernitas abad XX. Kritik Sjahrir itu identik dengan Polemik Kebudayaan: sengketa paham dan tafsir atas Barat-Timur.Sjahrir tak ingin larut dalam fanatisme Barat atau Timur.

Sjahrir tak mengelak takdir modernitas: mengimani progresivitas intelektual dan kultural Barat merupakan kodrat.Kesibukan dan dilema Barat dan Timur diselesaikan Sjahrir dengan konklusi: “Pada hakikatnya kita tidak bisa menerima perbedaan hakiki antara Timur dan Barat; tidak untuk kehidupan kita karena kita dalam kebutuhan-kebutuhan kita banyak tergantung kepada Barat,bukan saja dalam hal ilmu pengetahuan, melainkan juga dalam hal kultural umum.

Dalam hal kultural rasanya kita lebih dekat kepada Eropa atau Amerika daripada kepada Borobudur atau Mahabharata atau pada kebudayaan Islam sederhana di Jawa dan Sumatra.” Konklusi itu menjadi testimoni seorang Indonesia dalam dilemadilema pelik dan menggemaskan. Lambaran penting dalam mengimani Barat tampak dalam kesusastraan.

Sjahrir menaruh ragu lalu optimisme mengenai alur dan arus kesusastraan pada tahun 1930-an dalam bayangbayang sastra Belanda dan pengaruh kecil sastra Eropa- Amerika.Sjahrir tidak sekadar jadi tukang kritik karena selama dalam kehidupan di penjara dan pembuangan ada laku “bertamasya ke dunia kesusastraan”. Buku-buku sastra jadi koleksi penting bersama buku-buku filsafat, politik,atau sejarah.

Tamasya sastra mengantarkan Sjahrir pada biografi tak rampung dalam ikhtiar pengarang pengarang Indonesia untuk menerima Barat dengan iman dan amin. Sastra dalam konstruksi Indonesia mungkin adalah keganjilan. Sjahrir sebagai tokoh besar politik dengan khusyuk ada dalam keganjilan itu tanpa legitimasi politis.

Sastra sebagai keganjilan justru membuat Indonesia memiliki tanda tanya dan tanda seru dalam perbatasan realitas. Sastra ketika itu menjadi kontribusi untuk laku intelektual,sastra menjelang nasionalisme,sastra menyemai identitas-kultural. Kekhusyukan Sjahrir dalam tamasya sastra tampak dalam esai fenomenal “Kesusastraan dan Rakyat”(Pujangga Baru,No Peringatan 1933– 1938).

Esai ini reflektif dan kritis sebagai lambaran historis dalam biografi sastra Indonesia modern.Sjahrir mencatat bahwa sastra di Indonesia tidak harus mendapati perendahan nilai untuk tunduk dengan “rohani rakyat yang belum diasah dan primitif”.Pemakaian ungkapan ini mungkin tampak kasar,tapi merepresentasikan cara pandang Sjahrir atas hubungan sastra dan rakyat.

Sjahrir menginginkan sastra bisa mendidik rakyat dengan konsekuensi rakyat sanggup menghargai pikiran dan perasaan.Sastra mungkin untuk menjadi lokomotif transformasi sosial, politik,dan kultural.

02 October 2011
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo