Setelah 30 Tahun, Nobel Sastra Kembali ke Nordik

http://www.indopos.co.id/

STOCKHOLM – Setelah pemenang Nobel Kesehatan, Fisika, dan Kimia, Royal Swedish Aca demy of Sciences kemarin (6/10) giliran mengumumkan pemenang Nobel Sastra. Penyair terkenal Swedia Tomas Transtroemer, 80, dinobatkan sebagai peraih Nobel Sastra 2011. Dia dipilih karena karyakaryanya yang sederhana, tetapi sarat pesan moral. Transtroemer merupakan orang Swedia ketujuh yang pernah memenangkan penghargaan bergengsi tersebut. Dia berhak atas hadiah uang tunai 10 juta kronor atau USD 1,48 juta (sekitar Rp 13,2 miliar) dalam gala ceremony di Kota Stockholm pada 10 Desember mendatang. Tahun lalu Nobel Sastra dimenangkan pengarang blasteran Peru dan Spanyol Mario Vargas Llosa. Kemenangan Transtroemer itu terasa istimewa.

Sebab, ini kali pertama setelah lebih dari 30 tahun penghargaan itu diraih warga asli dari negara Nordik atau Skandinavia (wilayah di utara Eropa dan Atlantik Utara yang meliputi Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia). Lahir di Stockholm pada 1931, Transtromer dibesarkan oleh ibunya yang berprofesi sebagai guru setelah bercerai dengan ayahnya, seorang jurnalis. Dia mulai menulis puisi saat belajar di Sodra Latin di Stockholm. Saat mendapat kabar baik dari panitia Nobel tersebut, Transtroemer sedang bersantai di rumah bersama sang istri. Dia mengaku sangat tersanjung. Dia tak pernah menyangka bisa memenangkan penghargaan bergengsi itu. ’’Dia sangat terkejut,’’ kata Monika, istri Transtroemer.

Pasangan itu tak keberatan dengan keha diran wartawan yang mewawancarai dan memotret mereka. ’’Transtroemer layak mendapatkan penghargaan Nobel karena puisi singkat karyanya mampu menghadirkan kesan yang nyata bagi para penikmatnya. Melalui puisi-puisinya, kita diajak untuk menikmati realita hidup dari sisi yang menyegarkan,’’ papar Royal Swedish Academy of Sciences dalam pernyataan tertulisnya. Penyair 80 tahun itu gemar memunculkan majas dan metafora dalam karya-karyanya. Kendati penuh kiasan, puisi Transtroemer mudah dipahami. Apalagi, sebagian besar karyanya selalu terinspirasi oleh alam dan kehi dupan nyata. Salah satunya adalah ekonomi. Sebagai sastrawan, alumnus Stockholm University itu kadang juga menyelipkan kalimat yang sulit dicerna dan mengaburkan pemahaman penikmatnya.

Namun, itu justru menjadikan puisinya menarik ’’Berkat karya-karyanya, dia dijuluki sebagai master ilmu kebatinan,’’ tulis akademi. Pria berambut putih itu mampu menghadirkan kenyataan laksana mimpi dalam setiap karyanya. Hubungan antara keinginan terdalam manusia dan lingkungan sekitarnya mampu digambarkan dengan apik. Menurut Ketua Tetap Akademi Swedia Peter Englund, Transtroemer selalu masuk dalam daftar kandidat penerima Nobel Sastra sejak 1993. Penyair yang pernah terserang stroke hingga lumpuh separo dan tidak mampu berbicara itu berbeda dengan penyair Swedia atau Eropa pada umumnya. ’’Topik yang dia angkat selalu faktual dan realistis,’’ katanya. Dia mengatakan bahwa puisi- puisi Transtroemer mampu menghadirkan pencerahan. ’’Anda tak akan menjadi manusia minder lagi setelah membaca puisi Transtroemer,’’ ujarnya. Karyakaryanya diterjemahkan ke 60 bahasa.

(AFP/AP/hep/dwi)
Dijumput dari: http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-internasional/39-internasional-news/16234-setelah-30-tahun-nobel-sastra-kembali-ke-nordik.html