Novel Fantasi, Buah Coretan Pengusir Bosan

Unggul Wirawan
Suara Pembaruan, 22 Feb 2007

MENULIS sebenarnya bukan kebiasaan Ataka. Untuk mengusir bosan, bocah 15 tahun itu mencorat-coret gulungan kertas. Kini “sampah kertas” itu telah menjelma menjadi novel-novel fiksi.

Novel fiksi Ataka memang dihasilkan tanpa sengaja. Motivasinya menulis muncul begitu saja, setelah dilanda kebosanan. Bocah pemilik nama asli Ahmad Ataka Awwalur Rizky itu menulis secara otodidak. Dia mengaku menulis justru karena banyak membaca novel fiksi fantasi.

“Fiksi ini semula hanya coretan-coretan. Awalnya, saya menulis kerangka-kerangka kejadian saja. Lalu saya gambarkan dalam kalimat, menjadi bab, sampai akhirnya menjadi buku. Kemudian ide saya berkembang hingga menjadi tiga buku sekuel,” ujar Ataka ketika peluncuran novel Misteri Pedang Skinheald II di Jakarta, Sabtu (17/2)

Ataka mengaku penamaan Skinheald muncul begitu saja di kepalanya. Nama itu dirasakan cocok karena berbau misterius. Ide penamaan tokoh didapat dari mana saja, seperti teman atau buku-buku. Di salah satu buku, Ataka menemukan nama tokoh antagonis Baron yang berarti angkuh dan sombong. Seluruh tokoh-tokoh itu hidup dalam satu benua tersendiri yang terisolasi.

Saat ini, Ataka telah menerbitkan tiga karya yakni Misteri Pedang Skinheald I (MPS) : Sang Pembuka Segel (Alenia 2005), Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter (Liliput 2005) dan Misteri Pedang Skinheald -Awal Petualangan Besar (Copernican, 2007). Novel MPS I bahkan dapat diselesaikannya dalam enam bulan.

“Sebenarnya saya lebih percaya pada sebab akibat dan logika. Tetapi mungkin ini adalah satu pengecualian, meskipun masih harus dibuktikan lagi. Anak 15 tahun membuat buku fantasi setebal 660 halaman. Untuk tulis-menulis butuh latihan, mengenal tata krama, tata bahasa dan lain-lain. Kekuatan Ataka luar biasa. Kemampuan berceritanya lancar. Satu peristiwa biasa muncul sebagai narasi seperti teman ngobrol. Ini bagus sekali kalau memang kemampuan oral ini kuat,” puji penulis Arswendo Atmowiloto yang mengomentari novel karya Ataka.

Menurut Arswendo, kemampuan Ataka menulis dan memilih kata-kata belum tentu dimiliki pengarang tua sekalipun. Dalam mendeskripsikan peristiwa, pengarang cilik itu dapat memilih kalimat-kalimat yang bertenaga. Kalau saja kekuatan itu disadari bakat Ataka patut disokong. Namun ketidakcermatannya di beberapa bagian menimbulkan pertanyaan.

“Apakah ini kekuatan murni dari Ataka atau yang lain, saya tidak tahu. Tapi bukan tempat kita di sini untuk mencurigai. Pemilihan kata-kata itu mesti dilandasi pemikiran yang kuat. Sayang kekuatan itu tidak muncul di bagian lain,” tuturnya.

Arswendo mengkritik pilihan kata “segepok emas” pada salah satu bab di novel Misteri Pedang Skinheald II : Awal Petualangan Besar. Menurutnya, emas tidak lazim dinyatakan dalam satuan gepok. Demikian juga kalimat “seperti sesosok orang tergeletak di bawah selimut”. Padahal yang dimaksud adalah guling sehingga kalimat itu seolah mengecoh pembaca.

Malu Dibaca Ibu

Kini Ataka masih duduk di kelas III SMPN 5 Yogyakarta. Prestasinya tergolong lumayan. Tak heran, September 2006 lalu, dia sempat mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Olimpiade Sains Nasional. Ataka berhasil meraih medali perak di bidang ilmu fisika. Namun menulis fiksi mulai menjadi hobi yang ditekuninya.

Untuk bocah belasan tahun, fantasi Ataka cukup mengagumkan. Buku Misteri Pedang Skinheald, misalnya, mampu membawa pembaca pada dunia imajinasi fantastis. Ataka menciptakan tokoh-tokoh khayalan yang seolah hidup di negeri antah-berantah. Tetapi bagaimanapun, karya Ataka juga cukup dipengaruhi oleh buku-buku yang pernah dibacanya.

“Sebagian besar spontanitas, inspirasinya saya dapatkan dari buku-buku yang pernah dibaca. Kebanyakan memang buku-buku fiksi. Tetapi saya tidak ingat lagi kapan membaca pertama kali, yang jelas waktu kecil saya suka komik. Lama kelamaan saya juga suka novel dari luar negeri seperti Harry Potter dan The Lord of the Rings. Setelah membaca novel-novel fiksi itu, saya mulai sering nulis. Saya suka membuat karangan yang ada petualangan seru,” tuturnya.

Dulu, setiap kali perasaan bosan mendera, Ataka menggoreskan penanya. Lama-kelamaan, lembaran demi lembaran kertas tulisannya makin banyak. Seluruhnya digulung dan diikat dalam kardus besar. Belakangan onggokan kertas itu semakin banyak dan tampak tak terawat. Hingga suatu hari, sang ibu mengiranya sampah yang mesti dibuang.

“Suatu kali, ibu memergoki tulisan saya yang sudah sobek-sobek. Ibu beres-beres, dikiranya sampah dan mau dibuang. Saya cari kok hilang. Setelah ketemu, ibu tidak boleh baca, masih malu soalnya. Waktu kecil, saya dibesarkan kakek dan nenek. Sementara orangtua saya tinggal di Yogyakarta. Waktu itu, saya memang sudah menulis, tapi tidak bilang orangtua,” ujarnya polos.

Di masa kecil, Ataka juga kerap terbiasa mendengar dongeng sebelum tidur. Sering kali, dia sengaja bergegas tidur sekadar ingin mendengar dongeng terbaru. Lambat laun, Ataka kian mulai sering melahap bacaan dan menulis cerita fantasi. Menyadari potensi Ataka, orangtuanya lalu membelikannya komputer. Dia menulis secara otodidak. Belakangan sang ayah mempertemukan Ataka dengan Faiz, seorang editor di penerbitan Copernican.

Dalam waktu dekat, Ataka akan menerbitkan trilogi terakhir akhir MPS yang berjudul Perang di Bumi Andurin. Selain fiksi fantasi, Ataka juga mempersiapkan novel berlatar tragedi tsunami di Aceh tahun 2004 yang berjudul Kenangan di Bumi Rencong. Buku lain yang juga dipersiapkan adalah novel Bulan Sabit di Langit Parangtritis yang terinspirasi dari gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah pada Mei 2006 lalu.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/02/roda-kehidupan-novel-fantasi-buah.html