Opik, Puisi, dan Kemandirian

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 3 Mei 2009

Binatang malam pun mulai berkeliaran
mencari mangsa

Di sudut lain
Kupu-kupu malam sedang mencumbu mangsanya

EMPAT larik puisi di atas dipetik dari puisi Binatang Malam, ditulis penyair Opik dengan sintaksis yang sederhana, namun padat makna. Puisi yang secara lengkap berbunyi: Lampu-lampu di rumah penduduk/ mulai dinyalakan// Karena sang malam/ mulai menggeser senja// Pintu-pintu/ mulai ditutup rapat-rapat/ dan dikunci dari dalam// Binatang malam pun mulai berkeliaran/ mencari mangsa// Di sudut lain/ Kupu-kupu malam sedang mencumbu mangsanya// 2006 ditulis oleh seorang difabel penyandang cerebral palsy, yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan, dan gangguan fungsi saraf lainnya. Opik dan teman-temannya sesama penyandang cerebral palsy keberatan dengan istilah lumpuh otak karena mengesankan ada keterbelakangan mental pada para penyandangnya, maka mereka sepakat menggunakan istilah gangguan motorik.

Opik yang memiliki nama asli Taufik Hidayat dilahirkan di Bandung pada 23 Maret 1975. Opik dan adik-adik kandungnya yang bernama David, Eskap, dan Prima adalah anak-anak dari pasangan Bapak Aceng Mamat dan Ibu Nining, yang memiliki latar belakang keluarga yang penuh kesederhanaan.

Lantas apa yang membuat saya tertegun di hadapan puisi tersebut? Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin seorang penderita cerebral palsy bisa berpikir runtut dalam menulis sebuah puisi dengan sintaksis semacam itu? Allah Mahaagung, itulah jawabannya. Apa yang diungkap Opik dalam puisi tadi, tidak hanya menggambarkan apa dan bagaimana suasana malam yang dihadapinya, tetapi juga mampu mengungkap gejala sosial yang dianggap buruk oleh masyarakat, yakni dunia pelacuran.

Bahwa metafora kupu-kupu malam yang digunakan Opik sudah terlalu sering dipakai orang sehingga menimbulkan kesan klise, itu benar. Namun hal tersebut menjadi istimewa ketika diungkap oleh Opik, yang sejak 2004 bergabung dengan Bengkel Kreasi 19 di bawah pengawasan Yayasan Sidikara dengan motor penggeraknya antara lain Titi Pudji dan Budi Radjab.

Lepas dari soal Yayasan Sidikara. Bagi saya, puisi yang ditulis Opik adalah teks sastra. Dalam teks sastra, sebagaimana dikatakan Prof. Dr. A. Teeuw (1983), ungkapan itu sendiri penting, diberi makna, disemantiskan segala aspeknya; barang buangan dalam pemakaian bahasa sehari-hari, “sampah bahasa,” (bunyi, irama, urutan kata dan lain-lain) yang dalam percakapan begitu dipakai begitu terbuang (asal komunikasi telah berhasil) dalam karya sastra tetap berfungsi, bermakna, malahan semuanya dimaknakan dan dipertahankan maknanya.

Metafora kupu-kupu malam, yang sudah kita kenal maknanya selama ini, tetap dipertahankan Opik dalam pengertian yang demikian, yakni pelacur perempuan yang suka ke luar malam hari, suka nongkrong di pinggir jalan menunggu mangsa. Dengan tegas secara diametral puisi di atas mengungkap si baik (yang mengunci pintu rumahnya) diperhadapkan dengan si buruk (yang tengah mencumbu mangsanya) di gelap malam. Dalam bahasa sehari-hari, dalam hal ini dalam percakapan sehari-hari, metafora kupu-kupu malam sudah jadi “sampah bahasa.” Kepekaan Opik dalam konteks yang demikian, banyak menulis puisi dengan menggarap ulang “sampah bahasa” menjadi sesuatu yang menarik dan mengejutkan. Jangan-jangan secara spiritual Opik lebih kaya dari kita-kita yang hidup normal.

Sebagaimana dikatakan Titi Pudji, sebagai seorang difabel, Opik sangat mandiri, Ia bisa melakukan pekerjaan atau kegiatan apa pun hampir tanpa bantuan orang lain. Dalam keterbatasannya, Opik bahkan memiliki sikap setia kawan yang sangat tinggi, ia sungguh memahami ketika ada di antara kawan-kawannya yang memerlukan perhatian dan bantuan fisik selama berkegiatan di dalam Bengkel Kreasi 19. Satu di antara banyaknya keinginan Opik yang pernah Opik ungkapkan adalah keinginannya mengunjungi teman-temannya sesama penyandang cerebral palsy secara door to door, sehingga dapat bertemu langsung dengan orang tua serta saudara-saudara penyandang cerebral palsy, untuk meyakinkan bahwa dunia masih sangat luas untuk belajar, berkarya, dan hidup sebagai manusia.

Dalam menempa dirinya sebagai manusia yang ingin berguna bagi lingkungan hidupnya, Opik pernah mengenyam pendidikan dasar di SD YPAC di Kota Bandung, dan melanjutkannya ke sekolah lanjutan di SMP YPAC di Kota Bandung juga. Akan tetapi, pada 1994, ketika Opik masih duduk di kelas 2 SMP, Opik memutuskan keluar dari sekolah tersebut karena permasalahan biaya pendidikan yang tidak dapat ditangani orang tuanya. Setelah keluar dari sekolah, Opik memutuskan untuk mencoba bekerja demi membantu perekonomian orang tuanya dan juga untuk memenuhi keperluan hidupnya sendiri. Opik bekerja selama dua tahun di sebuah toko makanan dan minuman milik YPAC di Kota Bandung hingga 1996.

**

OPIK adalah contoh tentang kemandirian, ia laksana inspirasi, khususnya bagi sesama difabel penyandang cerebral palsy. Dalam keterbatasan motorik tubuhnya ia mengajarkan pentingnya ketelitian, konsentrasi, kesabaran, dan tanggung jawab. Menurutnya banyak bentuk latihan yang sangat bermanfaat bagi penyandang cerebral palsy. Bentuk-bentuk latihan tersebut kemudian menjadi “kurikulum” kegiatan di Bengkel Kreasi 19.

Kecintaan Opik pada seni dan juga sastra mulai tumbuh pada saat Opik masih bersekolah di SMP. Beberapa puisi mulai ditulisnya dalam kata-kata yang sederhana dan apa adanya, antara lain tentang kekaguman pada teman-teman sekelasnya. Sejak 1996, Opik mulai menulis puisi-puisi dan mengumpulkannya satu persatu di dalam lembaran-lembaran kertas yang disimpan di dalam sebuah map plastik dan selalu dibawa di dalam tasnya ke mana pun Opik pergi.

Pada 2003, Opik bergabung dengan komunitas teater Bhani dan teater Pentas. Pada 2006, Opik bergabung dengan teater Creamerbox dan terlibat di dalam pementasan teater di enam kota antara lain Jakarta, Banjamasin, Denpasar, Singaraja, Yogyakarta, dan Cirebon. Sejak 2007, Opik bergabung dengan komunitas yang bernama Bengkel Kreasi 19 di Kota Bandung, dan sempat menjadi Ketua Pengurus Bengkel Kreasi 19 selama dua periode hingga Januari 2009.

Di tengah keasyikannya menggeluti puisi-puisi, Opik juga selalu ingin mengembangkan jiwa seni yang ada pada dirinya dengan belajar. Pada 2005, Opik pernah ikut belajar melukis pada salah sebuah sanggar lukis milik seorang seniman lukis di Kota Bandung, serta ikut belajar membuat keramik pada sebuah bengkel keramik milik seorang pengrajin keramik di Kota Bandung. Pada 2008, Opik mengikuti Pelatihan Kerajinan Kulit yang diselenggarakan PLN Kota Bandung.

Selain memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan diri dalam dunia seni dan sastra, Opik juga memiliki rasa kepedulian yang tinggi pada sesama teman-temannya yang memiliki perbedaan kemampuan. Untuk mengungkapkan rasa kepeduliannya tersebut, Opik mengikuti Program Pelatihan Konseling tentang Motivasi Terhadap Kaum Difabel yang diselenggarakan oleh BILLIC (Bandung Independent Living Centre) di Kota Bandung pada 2008. Opik memliki keinginan yang kuat untuk merangkul sebanyak-banyaknya teman sesama difabel untuk bergabung dalam suatu wadah agar memiliki kemauan dan keberanian untuk keluar rumah, bergaul, berbagi, belajar, dan berkarya.

Dalam mengungkap dirinya sebagai penyandang cerebral palsy, Opik menulis puisi seperti ini: Otakku tidak berfungsi/ seperti mesin yang berkarat dan macet// Otakku tak mampu berpikir panjang// Hatiku seperti padam/ dan gelap tanpa setitik cahaya pun// Hatiku atau jantungku/ detaknya semakin melemah/ dan lemah seperti ingin berhenti berdetak// Tubuhku seperti tidak bertenaga/ dan lemah tak berdaya// Terkapar/ tak bergerak sedikit pun/ seperti mati// M.T.H.T (Mati Tidak, Hidup Tidak, 2006).

Hal yang sungguh mengejutkan membaca puisi tersebut adalah, kita akan mendapatkan sejumlah majas simile, yang oleh Jan van Luxemburg (1991) masuk dalam kategori majas identitas. Majas tersebut antara lain bisa kita baca dalam dua larik puisinya yang berbunyi: Otakku tidak berfungsi/ seperti mesin yang berkarat dan macet// atau dalam larik-larik puisi selanjutnya, yang berbunyi: // Hatiku seperti padam/ dan gelap tanpa setitik cahaya pun// Sungguh saya tidak menduga Opik bisa menggambarkan otaknya seperti mesin yang berkarat dan macet. Ini sebuah ungkapan yang mengejutkan. Pada satu sisi, sebagaimana dikatakan Titi Pudji, Opik menolak dikatakan sebagai penyandang cerebral palsy, tapi pada sisi yang lain ia mengakui hal itu. Pada titik ini, diakui atau tidak, di dalam diri Opik tengah terjadi pergulatan batin yang cukup dahsyat dan seru. Hasilnya adalah puisi semacam itu, yang dalam segala keterbatasannya, Opik masih sanggup menghadirkan ungkapan-ungkapan estetik seindah itu.

Menurut Opik, suatu proses belajar tidak pernah berhenti ketika seseorang memutuskan untuk berhenti sekolah. Masih ada tempat belajar dan menimba ilmu pengetahuan selain di sekolah, yaitu suatu tempat yang dinamakan masyarakat yang ada di sekitar kita. Opik telah menemukan bahwa proses belajar kepada masyarakat ternyata lebih luas, lebih menarik, penuh tantangan, dan tidak menjemukan. Melalui belajar kepada masyarakat tersebut, Opik mendapat banyak pengalaman yang nyata dan penuh hikmah, dan yang terpenting adalah semakin banyak teman yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/opik-puisi-dan-kemandirian.html