Pemburu Kijang Kencana

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Kalian pasti tahu siapa pemburu kijang kencana itu. Namanya Sri Rama, dan istri tercintanya Dewi Shinta yang cantik molek jelita. Mereka bertiga berburu di hutan belantara: Sri Rama yang tampan dan mahir memanah, adik kandungnya Laksmana yang tenang dan bijaksana, serta Dewi Shinta yang cantik jelita serta molek. Molek berarti tubuhnya sehat namun bukan kegemukan. Tubuhnya penuh dan sehat yang membuatnya sangat menarik perhatian para lelaki.

Namun, lelaki yang beruntung mempersuntingnya adalah Sri Rama yang piawai di dalam memanah. Mungkin hanya Raden Arjuna yang dapat mengatasi kepandaian Sri Rama di dalam memanah namun Arjuna hidup di dalam kisah yang berbeda, dan mereka berdua tak mungkin bertemu untuk menghadiri lomba memanah. Itu menurut pakemnya, namun ternyata di dalam kisah ini mereka sempat bertemu di suatu arena sayembara.

Baik Sri Rama maupun Raden Arjuna berguru memanah pada Bagawan Durna atau Drona, namun Bagawan yang berhidung mancung itu ternyata mempunyai seorang murid rahasia yang kepiawaian memanahnya menyamai kepiawaian memanah Raden Arjuna karena itu lelaki tampan itu marah pada gurunya dan menuduhnya telah curang mempunyai murid lain padahal menurut perjanjian, ilmu memanahnya hanya akan diturunkan kepada Raden Arjuna. Siapakah murid rahasia ini?

Kalian pasti tahu mengenai ksatria yang ditolak menjadi murid Durna namun dengan ketekunannya dia mampu menimba ilmu memanah yang mahal harganya itu dari Bagawan Durna. Mana mungkin? Bukankah mahaguru ini telah berjanji bahwa dia hanya punya murid tunggal, yakni Raden Arjuna? Di dalam kisah ini ternyata dia juga mengajar Sri Rama, namun ini atas izin Raden Arjuna sebab dia yakin mereka tidak akan bertemu di dalam satu arena sayembara, namun ternyata di dalam arena itu bertemualah tiga orang ksatria perkasa, yang ketiganya mengaku sebagai murid Bagawan Durna.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ksataria dari kisah Barathayuda bertemu dengan ksatria dari epos Ramayana?

Mungkinkah ada Baratharama atau Ramabaratha yang ditulis oleh empu siapa tak tahulah kita.

Dan yang tidak pernah diajar oleh Bagawan Durna namun mengaku belajar dari pemanah sakti kalian pasti tahu namanyam Bambang Ekalaya. Raden Arjuna sempat memarahi gurunya mengenai hal ini. Padahal ksatria ini hanya berguru pada patung Sang Bagawan.

Setiap berlatih memanah, dia memusatkan pikirannya dan minta petunjuk pada Durna dan ketika anak panahnya melesat, selalu tepat sasaran, apakah sasaran itu diam atau bergerak, takkan luput dari tembakannya.

Ketika dituntut Raden Arjuna, Sang Bagawan tetap berkilah bahwa dia tidak pernah mengajar lelaki itu memanah, bahkan dia mengaku tidak mengenal lelaki itu. Ketika Sang Bagawan memintanya untuk menunjukkan bagaimana dan dimana dia berlatih, dengan sopan-santun dan penuh hormat dia membawanya ke arena berlatihnya: sebuah tanah lapang terbuka dengan berbagai fasilitas sasaran yang diam dan sejumlah pembantu yang siap melontarkan sasaran ke udara. Di ujung timur tanah lapang itu tegak sebuah patung yang dibuatnya sendiri: patung Sang Bagawan.

Setiap memulai berlatih ksatria itu menghaturkan sembah pada patung itu, mulutnya komat-kamit mungkin menggumamkan sebaris doa namun hati dan tekadnya teguh untuk berlatih. Dia seolah mendengar pertanyaan Sang Bagawan yang mengujinya:

“Apa yang kamu lihat, hai ksatria?” “Hamba melihat mata burung yang terbang.”

“Apa yang ada di paruh burung itu?”
“Hamba tidak melihatnya, Tuanku. Hamba hanya melihat mata burung itu.”
Itu pulalah yang diajarkan kepada Raden Arjuna. Bagawan Durna tetes air matanya menyaksikan ketekunan murid yang bukan muridnya. Ksatria itu berguru pada jiwanya sendiri, melalui patung Sang Bagawan. Patung itu hanyalah sarana namun yang lebih penting adalah tekadnya. Tekad untuk belajar.

Namun marilah kia tinggalkan dulu kisah ksatria pemanah yang tekun belajar pada patung Sang Bagawan itu. Kita kembali ke hutan bersama Sri Rama, Dewi Shinta dan Laksmana.

“Kanda, Dinda ingin sekali menyantap daging panggang seekor kijang. Tangkaplah seekor untuk Dinda. Ini pasti kehendak dari putera Kanda yang sekarang sedang di dalam perut Dinda ini.”

Dewi Shinta hamil? Dalam kisahnya tak pernah diceritakan bahwa dia hamil. Kalau dia hamil, pasti bayinya akan lahir di Alengka tempat Prabu Rahwana bertahta, tempat Dewi Shinta diculik. Ceritanya sudah kalian ketahui. Sri Rama masuk ke dalam hutan dan menitipkan istrinya pada adik kandungnya : Laksmana. Apakah Sri Rama tidak cemburu pada adiknya? Sebagai penganten baru seharusnya dia merasa cemburu. Tetapi ternyata tidak. Justru Dewi Shinta yang merasa curiga saat dia menolak untuk mencari Sri Rama. Sebagaimana kalian tahu, terdengar suara teriakan seolah teriakan Sri Rama minta tolong. Dewi Shinta terkejut dan was-was.

“Coba kamu bantu kakakmu, adikku. Dia perlu pertolongan, mungkin ada mara bahaya.”
Laksmana bergeming.
Mustahil kakaknya, seorang ksatria sakti mandraguna minta tolong. Dirinya bukan apa-apa bilamana dibanding dengan kesaktian kakandanya. Karenanya dia mengatakan:

“Mustahil kakanda Sri Rama berteriak minta tolong, Kandaku itu sangat sakti, tak mungkin ada yang mengalahkannya atau mengancamnya masuk ke dalam bahaya di hutan belantara ini. Itu hanyalah teriakan hantu hutan.OOO Kata Laksmana sambil tetap duduk bersila di atas tanah.

“Kamu jahat, Laksamana. Kamu biarkan kakandamu tewas agar kamu bisa mewarisi diriku.”
“Duh, Dewi Yundaku, kenapa menuduhku begitu keji? Ini aku katakan demi keselamatan Yunda. Pesan kakanda Sri Rama, aku harus menjaga Yunda Dewi Shinta.”

“Kamu memang jahat dan pengecut. Pergilah cepat tolong kakandamu!”

Laksamana yang penyabar hilang sabarnya oleh tuduhan keji itu. Maka dia bangkit dari duduknya, dan dengan busur panahnya dia membuat lingkaran melingkari Dewi Shinta dan berpesan:

“Apapun yang terjadi, janganlah Yunda melewati garis batas lingkaran ini. Inilah daerah aman untuk Yunda. Mohon pamit, hamba hendak pergi mencari kanda Sri Rama.”

Nah, kalian juga tahu saat Laksamana sudah meninggalkan tempat ini, muncul seorang lelaki tua yang sangat lemah dan nampak sedang sakit.

“Tolonglah hamba Tuan Puteri, hamba miskin dan papa,” kata lelaki bertongkat itu. Perasaan Dewi Shinta luluh. Di dalam kampilnya dia menyimpan makanan yang bilamana diberikan kepada lekaki tua itu tidak akan banyak mengurangi jatah makannya. Apalagi dia ingat pesan suaminya:

“Berikananlah makanan pada fakir miskin dan mereka akan mendoakanmu berlipat-lipat.”
Apakah dia akan melempar makanan itu ke arah si tua? Alangkah tidak sopan bilamana dia melakukannya. Bukankah Laksmana sudah berpesan bahwa dia tidak boleh melintasi garis lingkaran itu? Maka dia berpendapat, kalau dia ulurkan tanganya pada si tua, dia tidak melanggar perintah Laksmana. Dan kalian juga sudah tahu apa yang terjadi, saat tangannya ditarik oleh lelaki tua yang menjelma menjadi Prabu Rahwana yang membawanya terbang ke angkasa. Di angkasa Sang Garuda yang melihat gelagat jahat itu mencoba menolongnya namun gagal dan dengan tubuh berdarah dia pun jatuh ke bumi.

Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Apa yang bisa diperoleh dari rasa sesal? Sri Rama menyesal sebab adiknya melanggar perintah untuk menjaga yundanya. Laksmana menyesal sebab kakak iparnya itu tidak mentaati permintaannya. Dan Dewi Shinta menyesal sebab dia sudah bertindak ceroboh dan mencurigai adik iparnya yang bijaksana itu. Nasi sudah menjadi bubur, kata pepatah, namun di hutan itu mereka tidak berbekal nasi.

Pada arena sayembara memanah bertemu para jawara dari segala penjuru. Mereka semua bertubuh tegap namun saat diminta memanah sasaran yang digantungkan di sebuah tiang berjarak sekitar seratus depa dari mereka, ternyata seorang demi seorang tak mampu melaksanakannya. Jangankan melesatkan anak panah, mengangkat busur saja tidak mampu.

Persis seperti para ksatria di dalam epos Yunani, Ulyses, yang tak mampu mengangkat busur panah, apalagi memanah melalui lubang-lubang senjata yang dideretkan. Hanya Ulyses yang mampu melakukannya dan hanya dia yang tahu bahwa dia adalah dia, yang harus mempertahankan Penelope, istrinya dari para lelaki yang ingin memperistrinya, sebab lantaran ilmunya, dia yang sudah berusia empat puluhan setelah ditinggalkan suaminya selama dua puluh tahun, masih cantik jelita bagaikan bunga remaja puteri.

Tetapi sayembara memanah yang diikuti olek Sri Rama, Raden Arjuna dan pemanah rahasia itu tidak memperebutkan apa-apa kecuali sebuah kedudukan terhormat sebagai pemanah terbaik di seantero jagat.

Semua yang hadir menahan napas saat Sri Rama maju. Busur diangkatnya bagaikan mengangkat selembar daun dan tali busur dibentangkan dan anak panah dilesatkan. Anak panah tepat mengenai sasaran, di gambar jantung yang tergantung terayun pada tiang.

Giliran Raden Arjuna yang mengangkat busur bagaikan mengangkat selembar bulu burung dan anak panah melesat tepat mengenai sasaran. Sang pemanah rahasia juga melakukan hal yang sama.

Bagawan Durna yang menjadi juri mengulangi ujian itu, kali ini para pemanah harus menunggang kuda dan dari punggung kuda yang berlari bagaikan kilat itu mereka harus memanah. Ketiga ksatria panah itu pun berhasil melaksanakan tugas itu.

Lalu, siapakah yang harus ditetapkan sebagai juara? Bagawan Durna mengusap ubun-ubunnya yang tidak lagi ditumbuhi rambut. Disitu hanya ada keringat yang membasahinya.

Lalu dia memanggil empat orang pengawal yang juga sakti mandraguna dan ahli dalam olah senjata. Para pemanah maju satu persatu, menangkis serangan mereka berempat dari empat penjuru. Sri Rama berhasil lolos dari serangan mereka dan mampu memanah ke dalam sasaran dengan tepat. Demikian juga Raden Arjuna dan Sang Pemanah misterius.

Pada saat terakhir, Prabu Kresna ikut campur. Sementara Sri Rama dan Sang pemanah misterius melaksanakan pertandingan, dia meniru teriakan Dewi Sinta meminta tolong, namun ajaib, Sri Rama yang sudah menulikan pendengaranya untuk pertandingan ini tidak tergoyahkan. Sang pemanah misterius juga tidak mendengar teriakan palsu Kresna yang menyatakan bahwa Bagawan Durna minta tolong.

Para penonton pasti yakin bahwa Raden Arjuna juga tak akan tergoyahkan oleh teriakan siapapun. Namun siapakah yang mengira apa yang terjadi pada ksatria sakti dan tampan itu.

Saat sedang memusatkan pikirannya pada sasarannya, dia mendengar, ya dia mendengar sebab dia merasa tak perlu menutup pendengarannya. Dia dengar suara merdu itu: Ayo ksatria, cepatlah selesaikan pertandingan remeh ini. Nanti malam kita akan bertanding dengan lebih seru.

Mendengar ungkapan mesra itu perhatiannya terpecah dan anak panahnya melesat dari sasaran. Penonton heran seolah tak percaya. Tetapi kenyataannya dia kalah. Siapakah yang usil menggodanya ? Siapa lagi kalau bukan Srikandi edan.

Dan Sri Rama serta pemanah misterius tak mungkin tergoda perempuan, Dewi Shinta yang jelita pun tak mampu menggodanya. Dan sang pemanah misterius tidak pernah perhubungan dengan perempuan sama sekali dan karenanya tak mungkin dia akan tergoda oleh perempuan. Hanya Bagawan Durna yang mampu menaklukkannya.

Dan itupun hanya patungnya saja. Kedua ksatria pemenang itu masing-masing kembali ke habitatnya. Sri Rama kembali ke Ramayana dan si pemanah misterius murid sejati Bagawan Durna kembali ke Mahabarata. Kelak dia harus berada di pihak mana dalam perang besar itu, dia tak mungkin memilih sebab semua sudah ditetapkan oleh sang pujangga ***

Singaraja 30 Mei 2011