Sajak-Sajak Ahmad Zaini

Malam Penyempurna

Sumebyar cahya rembulan
Di gelap malam
Menyibak kekalutan yang terbawa
Ketika angin dan panas merambah
Rautku

Gemintang bertabur
Menari riang
Bermandi sinar rembulan
Melumat malam hingga fajar
Tatkala kokok pejantan bersahutan

Dingin menghembus
Di sela jutaan pori
Berbagi semi di pucuk
Hijau royo-royo
Berlinang embun pengampunan
Di malam penyempurna

7 Syawal 1431 H

Di Senja Pantaimu

Hamparan pasir bertingkai angin senja
Gemerisik mengusik riak gelombang
menghantam karang
Deburan ombak menggelora
Hinggapi hati riang

Pada sebongkah batu karang
Kularungkan segala resah
Lalu padanya aku bertanya
Masih pantaskah diri melarungi samudra
Di tengah compang layar bahtera

Biru laut membahana
Terbias surya di ufuk sana
Wajahku terpana melihat dara yang berselimut sutra
Apakah dia bidadari yang turun dari nirwana
Berselendang ungu nan mempesona
Ketika malam tiba?

Siulan camar bernyanyi riang
Menghibur gundah gulana yang datang
Semenjak siang
Lalu angin senja kabarkan
Dialah dara yang datang tadi malam

Kuulurkan tangan menyambut kedatangannya
Beriring desir pantai yang mengiris hati nan lara
Namun semakin jauh jemari menggapai
Tiada tersentuh jua bayang-bayang dirinya

Apakah dara berselendang sutra
Hanyalah fatamorgana di siang kemarau
Yang tak kunjung tiba?

Tatap mata sayu
Terukir bola mata syahdu
Sekecup merah
Mengatakan rindu bertemu
Di senja pantaimu

Lamongan, 16 September 2010

Rindu Desah

Ke mana kata-kata mesra
Yang kau tebar setiap kala
Bukannya aku memburu kata itu
Hingga kumengejar huruf-hurufnya
Yang empat namun dapat menjerat
Setiap yang tertambat
Hanya dengan nafsu liarku

Bibir berucap
Digerakkan hati yang tersembunyi
Degub menahan cuatan
Meronta di bibir hari

Aku merindukan setiap desah
Menggelitik di gendang dengar
Kedamaian berselimut tentram
Kurasakan di saat gundah menggulana hati

Kata-kata terangkai menusuk hati
Terasa kini
Pedas membakar
Tak ada bumbu penentram
Di liang suara

Sudah punahkah kata-kata itu
Tertelan amarah yang mengelilingi
Setiap desah udara yang terhembus

Hanya pada batang hujan kuberharap
Mampu padamkan panas
Lalu menumbuhkan kata-kata mesra
Meneduhkan setiap hasrat

Telagabiru, April 2010

Jangan Pernah Kau Datang Lagi

Gulita menyelimuti malamku
saat detak-detak waktu menyeret
tengah malam menunggu.

Kuterjaga ketika wajahmu hadir
dalam mimpiku. Hari-hari yang kulalui
wajahmu telah kupendam rapi
seakan telah hilang dari ruang,

Adakah rasa itu muncul lagi
ketika angin telah membawanya
terbang melintasi awan. Sementara debu-debu
telah bersih dari meja perjamuan
sepeluh tahun silam. Kuharap jangan kau datang lagi
dalam igau disaat bunga-bunga mekar
dan menebar aroma wangi.

Sebentar lagi hari kan senja
dan matahari akan tenggelam di telan malam.
Pergilah dan jangan mengusik
kejernihan air telaga
tempat bermain ikan-ikan kecil
di keriangan masa

5 Juli 2010

Wajah itu

Wajah-wajah itu
menatap tajam,
wajah-wajah itu
dingin membatu,
wajah-wajah itu
memancar caya merah,
wajah-wajah itu
bersembunyi di balik topeng,

Desember 2009

Gadis Ayu

Bunga di taman
Mekar semerbak harum
Tangan halus gadis ayu
Memetik setangkai
Diselipkan di rambut terurai

Mata melirik
Tersenyum bibir merah menantang
Diri yang meradang

Oh, gadis ayu
Berpipi lesung
Izinkanlah diri singgah
Di ruang hati
mengurai segala isi.