Spirit ‘Kurang Ajar’ pada Bagong Kussudiardjo

Amiruddin Zuhri
Media Indonesia, 14 Maret 2007

SENIMAN besar Bagong Kussudiardjo telah tiada. Namun warisannya berupa karya-karya seni tari masih dimainkan oleh para seniman tari. Dan pada Minggu (11/3) malam lalu, di Padepokan Seni Yayasan Bagong Kussudiardjo, Bantul, Yogyakarta, diadakan acara seribu hari seniman yang meninggal pada 15 Juni 2004 itu.

Acara itu dihadiri tidak kurang dari seribu tamu. Sejumlah seniman pun ikut hadir, di antaranya Slamet Rahardjo, Bakdi Sumanto, Sindhunata, dan Djoko Pekik.

Acara mengenang seribu hari wafatnya Bagong ini diisi dengan diskusi tentang kiprah Bagong di jagat seni tari, dan pementasan tari Wira Pertiwi karya Bagong yang diciptakan pada 1976.

Bagi Butet Kertaredjasa, seniman sekaligus putra Bagong, kekurangajaran ayahnya terhadap seni membuat Bagong menjadi maestro tari yang bereputasi internasional.

”Dahsyat lho kuwi. Semua itu bisa dicapai karena ada spirit ‘kurang ajar’,” kata Butet yang malam itu tampil monolog dengan memerankan dirinya dan almarhum ayahnya. Seperti biasanya Butet piawai menirukan suara almarhum ayahnya. Meski Butet sendirian, seolah-olah ia sedang berdialog dengan ayahnya.

”Kesenian tradisi jangan hanya dielus-elus. Jangan hanya disimpan di lemari kaca. Tetapi harus selalu ditafsir kembali sesuai dengan semangat zamannya,” kata Butet mengutip pesan Bagong.

Para seniman yang berguru pada Bagong pun tertular spirit ‘kurang ajar’, antikemapanan terhadap seni. ”Justru dengan spirit itulah sekarang kami mencoba mempertimbangkan kembali ancaman kemapanan terhadap pemikiran dan kesenian-kesenian yang telah bapak lakukan selama ini,” ujar Butet.

Seniman yang jago menirukan suara mantan Presiden Soeharto itu menjelaskan dulunya Padepokan Bagong hanya terfokus pada kegiatan tari. Dan sekarang setelah menjadi yayasan, akan diperluas wilayah pengabdiannya ke pertunjukan musik dan teater, yang diistilahkan dengan kesenian etnik. Sebab fokus yayasan tidak hanya kesenian Jawa saja, tapi seni etnik mana pun.

Dalam kesempatan itu Butet menjelaskan bahwa yayasan itu adalah sebuah institusi sosial. Artinya siapa pun bisa memberikan sokongan.

”Please menyumbanglah, membantulah,” kata Butet. Namun dengan cepat Bagong yang disuarakan oleh Butet langsung menyela. ”Ojo ngisin-ngisini, Tet.”

”Bapak enggak usah malu, ini anakmu lagi ngemis,” kata Butet tak kalah cepat.

Ia pun memberikan pandangan tentang mengemis yang sebetulnya tidak perlu ada di negeri yang gemah ripah ini, asalkan negara bertindak konsekuen. Para pemimpin negara selalu mengatakan kebudayaan sangat penting, tetapi nyatanya panitia anggaran terlalu pelit untuk menganggarkan dana bagi pengembangan kebudayaan.

”Saya khawatir jangan-jangan panitia anggaran di DPR itu percaya pada takhayul. Seniman dan budayawan itu sebaiknya melarat saja. Jadi jangan dimanjakan. Kasih dikit saja. Semakin miskin, mereka akan semakin kreatif,” tutur Butet.

Seharusnya negara secara konsekuen bertanggung jawab atas nasib-nasib warisan karya kebudayaan para penerima satya lencana, hadiah seni, anugerah seni, ataupun apa namanya. ”Jangan sampai terjadi negara mengisap manisnya, sementara keluarga seniman dan budayawan menelan pahitnya,” tegas Butet lagi.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/kesenian-spirit-kurang-ajar-pada-bagong.html