ANTARA FIKSI DAN KEBOHONGAN

F. Rahardi
Kompas, 19 Maret 2000

Karya sastra adalah fiksi. Beda fiksi dengan nonfiksi adalah fiksi merupakan tulisan berdasarkan imajinasi, sementara nonfiksi adalah tulisan berdasarkan data dan fakta nyata. Jadi karya sastra sebagai fiksi memang bukan sesuatu yang nyata, tetapi karya sastra juga bukan kebohongan.

Sastrawan bukan seorang pembohong. Sastrawan yang baik justru selalu menyuarakan kebenaran. Ini bukan pendapat saya pribadi tetapi ada di Webster, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Encyclopedia Americana, Encyclopedia of Writing, Ensiklopedi Indonesia, dan lain-lain. Padanan kata imajinasi adalah khayalan, rekaan, angan-angan. Lawan kata imajinasi adalah kenyataan, fakta, realitas, sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. Dua hal tadi tidak ada sangkut pautnya dengan kebohongan. Bohong, padanan katanya adalah dusta, tipu dan ngibul. Lawan kata bohong adalah benar, jujur, tulus. Jadi sastrawan jelas sangat berlainan dengan pembohong. Imajinasi seorang sastrawan bisa berupa harapan tentang sesuatu yang seharusnya terjadi tetapi sampai saat tersebut belum menjadi kenyataan. Misalnya, bagaimana hukum diterapkan dengan baik. Bagaimana keadilan ditegakkan seperti zamannya Nabi Sulaiman. Bagaimana agar rakyat bisa hidup makmur dan damai dan sebagainya.

Banyak karya sastra yang justru sangat menekankan adanya kejujuran. Dalam epos Mahabharata sangat nyata ditekankan bahwa pada akhirnya kemenangan ada pada pihak yang benar. Kebohongan, dusta dan tipu daya akhirnya dapat dikalahkan. Bahkan dalam hal-hal tertentu, sebuah cerita rekaan bisa merupakan semacam ramalan. Ketika penulis Perancis Jules Verne (1828-1905) menulis tentang perjalanan ke bulan, petualangan ke Kutub Utara, keliling dunia dalam 80 hari, menyelam ke kedalaman laut dan lain-lain, maka orang menganggap itu semua hanyalah merupakan angan-angan si pengarang. Tetapi, sekarang ini perjalanan ke bulan, ke Antartika, keliling dunia dan lain-lain sudah menjadi kenyataan yang memang benar-benar terjadi. Karya sastra yang baik, meskipun berupa imajinasi jelas selalu menyuarakan kebenaran. Berkhayal tentang sesuatu yang ideal bukanlah kebohongan.

Oleh karena sastrawan yang baik akan senantiasa menyuarakan kebenaran, kadang-kadang ada pertanyaan yang membingungkan. Kepada siapa sastrawan mesti berpihak? Kepada rakyat atau kepada pemerintah? Kepada kaum lemah atau kepada yang kuat? Meskipun sastrawan harus berpihak pada kebenaran, bukan berarti bila rakyat salah pemerintah benar lalu sastrawan harus berpihak kepada pemerintah. Bila pejalan kaki salah karena tidak lewat jembatan penyeberangan dan ditabrak mobil, maka polisi harus menangkap dan menahan sopir mobil, meskipun sopir itu tidak salah. Karya-karya sastra berbau propaganda model zaman Uni Soviet atau Lekra, sepintas tampak berpihak kepada rakyat yang tertindas oleh kaum kapitalis, tuan tanah dan para juragan. Tetapi, bila karya-karya tersebut diamati lebih mendalam, akan segera kelihatan keberpihakan para sastrawan kepada sang penguasa.

* * *

Berbeda misalnya dari karya-karya Rendra serta Wiji Thukul yang juga berpihak kepada rakyat dan mereka berdua memang bukan merupakan bagian atau alat propaganda dari sebuah kekuasaan. Malahan mereka termasuk yang menjadi korban tindak sewenang-wenang dari aparat penguasa. Rendra ditahan karena melakukan perlawanan lewat pembacaan puisi dan pentas teaternya, Wiji Thukul dipermak tentara karena memperjuangkan para buruh melalui puisinya. Rendra dan Wiji Thukul adalah sekadar menyebut dua nama yang karya serta tindakan sehari-hari mereka memang sejalan. Mereka menyuarakan bahkan memperjuangkan sebuah kebenaran. Meskipun kadang-kadang kedekatan Rendra dengan orang-orang tertentu di sekitar elite kekuasaan Orde Baru tak urung membuat namanya menjadi agak kurang terhormat di lingkungan anak muda dan mahasiswa. Namun, secara umum perjuangan Rendra menegakkan kebenaran dan melawan kebohongan merupakan fenomena tersendiri yang harus dicatat dalam sejarah Orde Baru.

Di lain pihak ada pula orang-orang seperti Sutardji yang karya-karya mutakhirnya tampak sangat berpihak kepada kaum yang lemah dan dengan lugas menyuarakan kebenaran. Tetapi, Tardji tidak pernah ikut aktif berdemo membela buruh dan lain-lain. Mungkin kita bisa menuduhnya sebagai pengecut dan tidak total menjalani prinsip-prinsip yang disuarakan melalui karyanya. Tetapi, bisa juga kita melihatnya bahwa antara yang ditulis dan yang dilakukannya tidak perlu sama meskipun tetap tidak boleh bertentangan. Demo pasti lebih efektif bila dilakukan buruh atau mahasiswa. Orang-orang seperti Sutardji jelas akan mendukung perjuangan menegakkan kebenaran meskipun tidak perlu datang ke lokasi demo dan pidato segala macam. Yang penting, kehidupan sehari-hari sang sastrawan tidak bertolak belakang dengan yang ditulisnya. Misalnya, syair yang ditulisnya selalu menyerukan pentingnya menjaga moral, tetapi kerja sehari-hari sang penyair justru menodong penguasa dan konglomerat.

Keberpihakan seorang sastrawan kepada yang lemah dan semangatnya yang besar untuk menyuarakan kebenaran tak jarang justru menjebaknya hingga hanya menghasilkan karya-karya yang dangkal. Hal ini akan terjadi manakala sang sastrawan masih menggunakan idiom-idiom umum yang sudah sangat dipahami banyak orang. Di sinilah letak perbedaan antara fiksi yang baik dan mengandung kedalaman dan fiksi yang dangkal serta hanya bergerak di sekitar permukaan permasalahan. Untuk menghasilkan karya yang baik seorang sastrawan tidak cukup hanya memiliki modal keberpihakan, konsistensi antara yang ditulis dengan kehidupan pribadinya, dan penguasaan teknik menulis. Seorang sastrawan yang baik mestilah punya “sesuatu” yang setelah dituliskannya akan bermanfaat untuk pembacanya. Sesuatu yang bermanfaat itu bisa bernama hiburan, rangsangan untuk berpikir kritis, mengajak bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan dan bisa apa saja tergantung si sastrawan punya apa. Di sinilah diperlukan sebuah kreativitas untuk menggali kedalaman permasalahan yang benar-benar dikuasai oleh sang sastrawan, sebab kerja penulisan karya sastra adalah kerja kreatif, bukan semacam kerja di pabrik.

* * *

Salah satu contoh kerja kreatif yang dapat saya golongkan berhasil di Indonesia adalah cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti. Cerpenis ini selain produktif juga mampu menghasilkan kualitas. Dia mampu memberikan “sesuatu” kepada pembacanya. Cerpen-cerpennya yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil tidak terjebak pada keberpihakan cengeng yang menggunakan idiom-idiom umum. Salah satu cerpennya yang dua tahun silam dimuat di harian ini dan menarik perhatian masyarakat adalah Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? yang menceritakan tentang pertemuan sang tokoh atau sang penulis dengan seorang gadis yang mau bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke laut dari sebuah kapal. Mungkin mirip yang terjadi pada salah satu adegan film Titanic. Cerpen ini menjadi menarik setelah beberapa kali dibacakannya atau dipentaskannya di beberapa kota, dengan adegan siluet yang menunjukkan sang gadis sebelum bunuh diri melepas pakaiannya satu per satu, termasuk pakaian dalamnya.

Cerpen itu sendiri memang bukan karya terbaik Hamsad Rangkuti, tetapi saya menilainya cukup menarik karena Hamsad bisa mendekati tema yang sangat biasa tersebut dengan cara yang kreatif. Tetapi, teman-teman yang agak konservatif seperti Taufiq Ismail, pasti tidak begitu sreg dengan cara pendekatan tema seperti itu. Lebih-lebih konon, proses lahirnya cerpen tersebut diilhami oleh pertemuan sang cerpenis dengan seorang gadis ketika berlangsung pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutanam, Sumatera Barat, tahun 1997. Hingga suatu ketika muncul pertanyaan dari para siswa SMU, apakah adegan-adegan dalam cerpen tersebut memang benar-benar dialami oleh Hamsad? Mungkin hal tersebut tidak benar. Maka dia pun mengatakan bahwa adegan melepas pakaian dan “lain-lain” dalam cerpen “bibir” tersebut benar-benar fiktif.

Merasa penjelasannya kurang meyakinkan, maka dia pun membuat sebuah pernyataan bahwa karya sastra itu fiksi dan fiksi itu bohong hingga kesimpulannya sastrawan adalah pembohong (Kompas, 24/2/ 2000). Pernyataan Hamsad yang dilansir sejumlah media massa ini tak urung makin mengundang ketidaksetujuan Taufiq Ismail. Karena menurut pendapat umum, bukan hanya pendapatnya Taufiq, karya sastra memang beda dengan kebohongan. Bahkan karya sastra harus berusaha melawan kebohongan-kebohongan yang terjadi di masyarakat dengan mengungkapkan kebenaran. Cerpen Hamsad tentang “bibir” tersebut bukan bohong tetapi justru berusaha menekankan bahwa laki-laki harus jujur terhadap perempuan dalam hal asmara. Bila tidak, maka seorang gadis bisa kalap dan bunuh diri. Rumah tangga bisa berantakan. Perkawinan bisa berakhir dengan perceraian dan sebagainya. Singkat kata, perselingkuhan itu konon tidak baik dan tidak benar. Itulah pesan moralnya.

* * *

Pendapat cerpenis Hamsad Rangkuti bahwa karya sastra adalah bohong-bohongan ternyata tetap dia pertahankan dengan kukuh. Karena dia tidak pernah menulis esai maka ditulisnyalah cerpen Antena yang dimuat di Kompas tanggal 2 Januari 2000. Isi cerpen ini kembali mengungkapkan pendapatnya bahwa karya sastra adalah bohong. Saya menganggap cerpen ini telah gagal menjadi sebuah cerpen yang baik. Lebih-lebih lagi karena pendapat Hamsad bahwa karya sastra adalah kebohongan jelas merupakan pendapat yang keliru. Hal demikian tentu sangat saya sayangkan sebab tiba-tiba saja saya merasa telah kehilangan seorang cerpenis terbaik Indonesia saat ini. Mungkin ada baiknya bila cerpenis sekelas dia tidak usah mencoba terlibat dalam polemik tentang hal-hal yang di luar keahliannya, sebab sebagai cerpenis papan atas Indonesia, nama Hamsad Rangkuti sudah mendapatkan tempat cukup baik di masyarakat. Urusan teori, konsep berkesenian, aliran sastra, filsafat estetika dan tetek bengek lainnya biarlah diurus mereka yang benar-benar ahli.

Salah satu kegagalan sastrawan Indonesia pada umumnya adalah mereka ingin terlalu banyak memberikan “sesuatu” kepada masyarakat, sementara yang dimilikinya sangat terbatas. Hamsad Rangkuti adalah cerpenis yang hanya bisa memberikan satu hal saja yakni permasalahan rakyat kecil, tetapi, permasalahan tersebut sangat dikuasainya secara mendalam dan itu sungguh hebat. Karena yang dikuasainya hanya itu, dia tidak mungkin bercerita tentang kredo sastra dengan cukup baik. Tidak mungkin omong tentang dunia Eropa atau Amerika sefasih Budi Darma atau Umar Kayam, tetapi bagi saya Hamsad tetap sama hebat dengan cerpenis papan atas Indonesia yang lain. Bahkan mereka yang punya latar belakang pendidikan serta pengalaman sangat luas pun, banyak yang tidak mampu menghasilkan cerpen sebaik cerpen Hamsad karena pada akhirnya penulis karya sastra adalah sebuah keterampilan dan kedalaman dalam menggali suatu permasalahan, bukan pamer tentang hebatnya pendidikan, luasnya pengetahuan serta banyaknya pengalaman.***

*) F Rahardi, penyair.
Dijumput dari: http://frahardi.wordpress.com/category/polemik/