Cerita-cerita tentang Kita (Pembacaan Kumcer Bulan Celurit Api)

Ita Siregar
Riau Pos, 30 Januari 2011

APA yang akan terjadi ketika kita menceritakan cerita kita, tetangga kita, kampung kita? Mungkin kita akan saling mengenal dengan baik.

Tony Pollard, penulis asal Australia, menuturkan kegentarannya –-meski dia telah melakukan dengan baik– ketika menerjemahkan cerpen “Batubujang” karya Benny Arnas ke bahasa Inggris. Cerpen itu termasuk dalam antologi dua bahasa bersama 12 pengarang Indonesia yang diundang ke acara UWRF (Ubud Writers and Readers Festival) di Ubud, Oktober lalu.

Medy Lukito, penyair yang pernah diundang ke International Writing Program di Universitas Iowa Amerika Serikat tahun 2001, menuturkan pengalaman seorang penulis dari satu negara (saya lupa namanya) yang hati-hati dalam “menerjemahkan” bahasa puisi dari satu budaya negara tertentu ke bahasa lain sesuai budayanya. Artinya, memindahkan satu cerita budaya dengan cara bercerita budaya lain. Misalnya, letusan senapan Barat berbunyi bang, bang, bang!, bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi dor, dor, dor!

Cok Sawitri, penyair Bali, menyatakan kegembiraannya menemukan seorang gadis asli Papua mau mengikuti latihan menulis. Dia memberi semangat kepada si gadis untuk menulis tentang dirinya, keluarga, teman-teman, tanah kelahirannya, dari perspektif dan pengalamannya sendiri. Pertama gadis bersemangat tetapi kemudian dia mendatangi Cok dan berkata, “Bu, saya tidak ingin meneruskan menulis. Saya ingin berlatih tinju saja.”

Apa kaitannya ketiga cerita di atas dengan kumpulan cerita ini?

Identitas Tokoh

Bahasa menunjukkan identitas. Saya tidak bisa selintas membaca kumpulan cerita dalam buku ini, karena terhalang aksen, pilihan diksi yang tidak biasa buat saya, istilah-istilah cakap Melayu, yang memaksa saya membuka kamus dan tergeli-geli karena ingat bacaan semasa sekolah dasar dulu. Bahwa ternyata tidak mudah menjadi orang desa. Mereka mempunyai masalah sendiri yang hanya bisa didekati dengan cara tersendiri pula.

Ketika mendiskusikan novel 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori, Agus Noor memaparkan apakah tokoh Nadira dapat mewakili karakter manusia (perempuan) Indonesia modern dengan beragam atribut yang menempel pada dirinya dalam cerita? Sebuah isyarat yang mengatakan bahwa seorang pengarang seyogyanya bertanggung jawab dalam menggambarkan karakter-karakter tokoh yang mewakili manusia-manusia dalam dunia nyata.

Lalu, apakah kegelisahan tokoh Mak Muna dalam cerpen “Bulan Celurit Api” mewakili kekhawatiran orang-orang tua desa ketika melihat anak-anak muda mereka mulai menamai bayi-bayi mereka dengan nama-nama asing seperti di sinetron-sinetron? Fakta bahwa sajian media televisi menghibur dan mengedukasi masyarakat desa sekaligus mengubah keseharian dan melupakan kebiasaan sembahyang di masjid.

Dalam cerita “Perkawinan Tanpa Kelamin”, pengarang mengungkap cara anggota warga desa yang mempunyai kelainan orientasi seks. Mereka setengah mati mengatasi keinginan yang meletup-letup di dalam diri dengan cara yang tidak berbenturan dengan nilai-nilai masyarakat desa. Karakter manusia desa digambarkan di buku ini adalah masyarakat yang memelihara adat keluarga dan tradisi agama, cepat menjadi hakim atas tindakan buruk orang lain, bukan karena senang mengurus urusan pribadi orang lain atau kurang hiburan tetapi lagi-lagi soal budaya.

“Malam Rajam”, cerpen surealis yang sarat ketegangan, berbicara bahwa di tengah masyarakat yang belum menerima arti kesetaraan dalam urusan pribadi dan cinta, mempunyai cara sendiri untuk membalas dendam. Dengan memanfaatkan tokoh aku perempuan, pengarang membentangkan nilai-nilai normatif desa, bahwa kejahatan apa pun bentuknya, akan selalu mendapat ganjaran setimpal. Dengan cara yang diluar pikiran manusia sekali pun.

Bahasa dan Cerita Sendiri

Dalam satu masa beberapa tahun lalu, penyair asal Batam mulai mempesona orang-orang ibukota dengan sejuta puisinya yang tak berhenti mengalir, hingga seorang bertanya, “Kapan pindah ke Jakarta?” Menanggapi itu seorang wartawan dengan cepat menjawab, “Jangan pindah. Biar rasa daerah itu tetap terjaga dan memberi rasa yang tepat.”

Salah satu keistimewaan buku yang mengusung cerita-cerita lokal ini adalah karena ditulis oleh pengarang yang tinggal dan bergumul dengan masyakarat desa dan menjadi saksi mata pertama. Rasa ini akan tampak dari keluwesan menceritakan, menggunakan bahasa ungkap, dan memanfaatkan nilai-nilai yang hendak dibawa dalam cerita. Maka tersajilah rasa yang tak biasa karena khasanah aksen, langgam bahasa, atmosfer desa, karakter-karakter manusia yang unik. Semua cerita ini untuk diterima bukan untuk dipermasalahkan, bagaimana seharusnya.

Saya kira cerita-cerita seperti inilah yang dinantikan dari seluruh penjuru tanah air. Cerita tentang kita. Bukan cerita rekayasa lalu mendramatisir habis-habisan. Berhentilah mencari cerita, kembali ke akar kita sendiri, cerita di sekitar kita.

Akhirnya, selamat berkelana dalam cerita-cerita yang menarik ini. Bila nanti berkesempatan mengunjungi Sumatera Selatan, Anda sedikitnya tahu cerita mereka dan bagaimana untuk bertahan hidup di sana. Bahwa cerita tidak untuk didakwa salah benar atau diwakilkan oleh orang lain. Cerita itu kepunyaan cerita itu sendiri dan yang si empunya ceritalah yang paling cocok menceritakannya.

*) Ita Siregar, penikmat sastra, mantan wartawati sebuah majalah wanita. Tinggal di Jakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/01/cerita-cerita-tentang-kita-pembacaan.html