Arus Kesadaran Rendra

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 27 Juni 2009

“RENDRA adalah pribadi yang menarik,” begitu kata Prof. Dr. A. Teeuw dalam suatu kesempatan di Leiden, pada tahun 1999 lalu. Saat itu, saya termasuk salah seorang penyair Indonesia yang diundang mengikuti Festival de Winternachten, di Den Haag, Belanda. Saya berkesempatan bertemu dengan Prof. Dr. A. Teeuw justru lewat Rendra. Tidak saya mungkiri, Rendra memiliki pribadi yang menarik, terbuka, dan mudah bergaul. Yang paling penting dari semua itu adalah, ia selalu murah hati dan tidak pelit dalam membagi ilmu yang dikuasainya.

Dikatakan Rendra dalam percakapannya beberapa waktu lalu di Depok, bahwa manjing ing kahanan mempunyai peran yang cukup penting dalam mengolah kesadaran maupun dalam berkesenian. Ini artinya, kita harus senantiasa berada dalam situasi yang tepat, universal sekaligus kontekstual. Bila kita membaca sejumlah karya yang ditulis Rendra, baik naskah drama maupun puisi, maka apa yang disebut manjing ing kahanan yang disebut Prof. Dr. Bakdi Soemanto menampakkan kesejajaran dengan agama Islam, yakni hablun minanas selalu berdenyut di dalamnya.

Tentu saja, karya-karya yang dicipta Rendra, tidak hanya menampakkan penghayatannya tentang alam sekitar, bagaimana manusia berhubungan dengan manusia dalam berbagai konteks dan teks, tetapi juga menunjukkan dengan kuat bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan Zat Yang Mahatinggi, Allah SWT. Hubungan ini disebutnya sebagai nggayuh kersaning Hyang Widhi, atau dalam konsep Islam disebut hablun minallah. Dalam petikan puisi di bawah ini, tampak bagaimana Rendra yang saat itu masih menganut agama Kristen, ada dalam dua situasi yang diekspresikan dalam karya yang ditulisnya.

Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya

Di lambung kiri
Di dua tapak tangan
Di dua tapak kaki
Maria Zaitun pelan berkata
“Aku tahu siapa kamu.”

Petikan puisi di atas dipetik dari Nyanyian Angsa yang berkisah tentang Maria Zaitun. Tokoh yang dihidupkan Rendra dalam puisinya ini, mempunyai hubungan interteks dengan kisah Maria Magdalena. Konon semasa hidupnya, Maria Magdalena dekat dengan Yesus dan bahkan mempunyai hubungan khusus. Lepas dari itu, dalam puisi yang ditulisnya itu, Rendra melihat bagaimana tatanan sosial yang ambruk, pelacur tidak lagi dipandang sebagai manusia selain sampah. Dan sebagai sampah, kehadirannya sungguh dihinakan, tidak hanya oleh negara, tetapi juga oleh agama. Dalam puisi tersebut, secara implisit Rendra menggambarkan bagaimana tahap demi tahap kesadaran spiritual Maria Zaitun tumbuh, mengakui segala dosa-dosanya, hingga Tuhan yang dikenalnya mau mengampuninya, dan memasukkannya ke dalam surga.

Kemampuan Rendra dalam menulis puisi naratif yang sarat dengan renungan sosial maupun renungan religius itu, memang tidak diragukan lagi. Daya pesona yang muncul dari puisi yang ditulisnya, demikian juga dari cerita pendek dan naskah dramanya, adalah kesederhaannya dalam mengolah kata. Kesederhanaan, kata Rendra, memiliki kekuatannya sendiri. “Sebuah puisi tidak perlu ditulis dengan rumit, kalau bisa ditulis dengan kalimat sederhana,” ungkap Rendra dalam kesempatan yang lain.

Dalam buku puisinya yang lain, khususnya dalam Potret Pembangunan Dalam Puisi, yang ditulis ketika masa rezim Orde Baru berkuasa, kita bisa menemukan kesederhanaan itu yang dieksplorasi Rendra sedemikian rupa, hingga pesan sosial dan moral yang dikandungnya bisa dirasakan. Penghayatannya yang dalam terhadap lingkungan hidup dalam pengertian yang seluas-luasnya itu, sungguh telah membuat kita sadar bahwa puisi bukan hanya peristiwa estetika semata-mata, tetapi juga peristiwa bahasa, hati, dan pikiran. Struktur puisi yang terbangun menunjukkan hal itu. Dalam kumpulan ini, kita bisa menemukan sejumlah problematika sosial-politik yang hingga kini belum juga bisa diselesaikan dengan damai. Penindasan masih terjadi di mana-mana, hukum masih bolong, biaya pendidikan kian tak terjangkau, mutu sarjana banyak diragukan, dan sebagaimanya.

“Manjing ing kahanan itulah, kunci dari apa yang saya hayati terhadap berbagai denyut kehidupan yang tumbuh di sekitar saya,” kata Rendra, yang dengan indah menulis soal ribetnya suksesi yang selalu makan korban dalam lakon drama Panembahan Reso. Dalam bukunya yang lain, dalam Membela Masa Depan, yang berupa himpunan teks orasi budaya yang ditulisnya, konsep manjing ing kahanan senantiasa hadir, membawa kita kepada pencerahan pikiran, yang pada sisi lain, menunjukkan bahwa Rendra bukan parasit bagi negeri ini.

Dalam konteks ini, saya hendak mengatakan, sungguh beruntung bisa mengenal Rendra dari dekat, yang tidak pernah pelit memberikan apa yang diketahuinya kepada orang yang diajaknya bicara. Terus terang, sangat jarang di negeri ini, ada orang besar seperti Rendra. Dalam kaitan ini, saya tidak hendak memuji Rendra, tetapi hendak mengungkapkan apa yang saya alami dengan nyata. Pada sisi lain, Rendra pula yang membukakan mata batin saya terhadap apa artinya sederhana dan bukan sederhana dalam mengolah kata, khususnya dalam menulis puisi.

Kini, Rendra yang Islam, yang berkali-kali naik haji dan melakukan ibadah umrah itu, pernah berkata di rumah Herry Dim, dalam menghabiskan sisa hidupnya, ia ingin menjaga setiap ucapannya untuk tidak menyakiti hati orang lain. Kesadaran spiritual yang cukup tinggi ini, membuat dirinya terus menulis puisi. Yang kian menegaskan bahwa hubungan manusia dengan manusia akan lebih bermakna bila dikaitan dengan kesadaran tentang pentingnya Yang Mahatinggi dalam kehidupan manusia.

“Puisi bukan sekadar permainan kata-kata. Puisi harus senantiasa berada dalam arus kesadaran. Pengalaman itu tidak bisa dibuat-buat dan apa yang diekspresikan itu, tidak bisa dikarang-karang seakan-akan kamu mengalami,” ujar Rendra, dalam kesempatan lain di Depok, di rumah alhamrhum Harry Roesli almarhum dan di rumah Herry Dim.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/06/arus-kesadaran-rendra.html