Estetika Sastra Buruh

Mustafa Ismail*
Seputar Indonesia, 20 Juli 2008

PENYAIR yang aktivis sastra buruh,Wowok Hesti Prabowo, menulis puisi seperti ini, pulang kerja shift dua/istriku membuka pintu dengan air mata/…//aku jadi ingat/ malam Minggu kemarin anakistriku kuajak putar-putar Karawaci/ sehabis nonton kembang api dari luar negeri/tentu kami tak beli apa-apa selain Indomie…

Dalam puisi berjudul Anakku Belajar Berdoa itu,Wowok mengungkapkan hal yang menyentuh, yaitu seorang buruh yang serbakekurangan, sampai-sampai tokoh aku lirik tidak mampu membelikan sesuatu yang diminta anaknya. Apa yang digambarkan penyair ini mewakili banyak masyarakat Indonesia yang terpuruk dalam ketidakberdayaan ekonomi, tidak hanya buruh.Apalagi, kini setelah harga-harga naik sebagai akibat kenaikan harga BBM, rakyat makin melarat.

Jadi, sebetulnya penyair ini tak hanya mengungkapkan perasaan dan kegelisahan seorang buruh, tapi juga kegelisahan banyak warga negeri ini yang terjepit.Tulisan ini tidak membahas tentang kegelisahan banyak rakyat itu, tapi ingin menunjukkan sebuah estetika sastra yang belakangan lebih dilihat secara sebelah mata.Ini sebuah warna yang berbeda dari estetika arus utama perpuisian di Indonesia.

Sebagian pemerhati sastra, termasuk para penyair mapan, menganggap puisi-puisi polos yang ditulis buruh tidak punya nilai estetik. Mereka bahkan tidak mengakui itu sebagai puisi yang baik. Dalam persepsi sebagian pemerhati sastra,puisi yang baik ialah yang tersiarkan di koran-koran berpengaruh dan jurnal sastra berpengaruh pula.

Hal umum yang terlihat dari puisipuisi di media massa itu adalah puisi itu sangat simbolik, sulit dimengerti, bahkan gelap.Puisi sangat terikat kepada aturan-aturan,seperti ide (muatan), diksi, irama, dan simbol. Puisi selalu dituntut menampilkan hal-hal menakjubkan, kebaruan-kebaruan, dan capaian-capaian estetika tertentu.

Ini membuat penyair sibuk menyesuaikan karyanya agar bisa dimuat di koran-koran,majalah,atau jurnal. Akibatnya, perkembangan sastra terasa monoton.Puisi-puisi yang tampil di media cetak kini cenderung seragam, baik dalam pola maupun pengucapannya. Mereka seperti menisbikan puisi-puisi yang tidak sejalan dengan “selera” penjaga gawang sastra di media-media besar itu atau keluar dari rel konvensi yang dipegang teguh oleh mereka.

Jangan harap, misalnya, puisi-puisi seperti milik Wowok di atas akan muncul di korankoran atau jurnal berpengaruh. Sebab,dari sisi mana pun,estetika yang diusung Wowok dan kawankawan aktivis sastra buruh berbeda dengan estetika sastra yang berkembang dan menjadi arus utama perkembangan sastra Indonesia. Bisa dicatat, hanya beberapa koran yang memberi ruang untuk keragaman estetik, dengan risiko akan dinilai tidak mencerminkan wajah sastra Indonesia yang sesungguhnya.

Kondisi ini memperlihatkan betapa politik sastra masih begitu kuat mewarnai perjalanan sastra. Sebuah “aliran”mainstreamakan menghegemoni aliran sastra yang tumbuh di sekitarnya yang mencoba mencari cara ucap lain. Puisi pun menjadi satu wajah, satu warna, satu arus estetika. Arus estetika lainnya tidak berkesempatan tumbuh karena para “elite” sastra cenderung memaksakan arus estetika yang dianutnya. Ini sebuah ironi.

Pada satu sisi,ada tuntutan untuk memunculkan capaian-capaian baru dalam estetika sastra, tapi pada sisi lain capaiancapaian yang berbeda tidak mendapat ruang untuk tumbuh.Para penyair pun kemudian sibuk menyesuaikan diri dengan arus utama sastra karena takut tidak mendapat tempat dalam panggung-panggung sastra.

Pada 1970-an, hegemoni semacam ini mendapat perlawanan yang keras dari sejumlah aktivis sastra seperti Remy Silado dan kawan-kawan.Mereka membentuk poros sendiri lewat Aktuil dengan puisi mbeling untuk melawan estetika puisi mainstream. Bahkan, tokoh-tokoh yang dianggap menjadi “penopang” atau pembela estetika mainstream itu diledekin dengan puisi-puisi mbeling mereka.

Tapi, kini perlawanan nyaris tidak ada.Tentu ada penyebabnya.Pertama, banyak orang yang menulis puisi memang bernafsu untuk menjadi penyair. Label penyair dengan sendirinya dimiliki setelah melewati tangan-tangan punggawa sastra yang menjadi penanggung jawab rubrikrubrik sastra di koran dan jurnal sastra berpengaruh.Kedua, alasan ekonomi. Sebagian penulis puisi,mereka selalu berharap puisinya dimuat agar bisa mendapat honor.

Faktor-faktor itu menjadi titik lemah bagi para penulis puisi (penyair) untuk bisa memperjuangkan sikap estetik yang dianutnya.Mereka takut puisinya tidak dimuat, takut tidak diakui sebagai penyair. Buat sebagian besar penyair Indonesia, media massa adalah kiblat paling utama untuk eksistensinya.

Media massa itu adalah yang berada di pusat, yang halaman sastranya digawangi orang-orang yang dicitrakan sebagai juri-juri terbaik yang menentukan perkembangan sastra. Komunitas sastra buruh sebetulnya berpotensi untuk memberi warna estetika sastra arus utama. Ada beberapa hal yang mendasari tesis ini. Pertama, tidak terlalu sulit mendorong buruh agar ikut bersastra. Ini belajar dari apa yang dilakukan Wowok di Tangerang dalam mengorganisasi buruh untuk bersastra yang lumayan berhasil.

Beberapa buruh, seperti Husnul Khuluqi dan Aris Kurniawan, kini menunjukkan perkembangan berarti dalam bersastra. Pola serupa,seperti dilakukan Wowok di Tangerang, bisa dipraktikkan di tempat lain. Kedua, kaum buruh adalah pihak yang paling rentan secara politik.

Mereka adalah pihak yang selama ini berada dalam posisi lemah, tidak punya posisi tawar dan kerap terzalimi sistem produksi.Maka,mereka butuh ruang untuk mengekspresikan diri, menjeritkan keluh kesahnya. Sastra pun bisa digunakan sebagai alat perjuangan, tidak sekadar sebagai ruang berasyik-masyuk dengan bahasa.

* Mustafa Ismail, Pemerhati estetika seni, tinggal di Depok.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/07/estetika-sastra-buruh.html