Fragmen Cinta Serat Centhini

Alex R. Nainggolan
Pikiran Rakyat, 1 Maret 2008

APAKAH cinta punya garis asal usul yang terekam, sekaligus tertulis dalam sejarah? Cinta barangkali juga sebuah rangkaian yang acap menghuni takdir kehidupan manusia. Beberapa di antaranya menjadi legenda yang lekat, luas, dan diceritakan terus-menerus. Kitab yang disibak setiap kali manusia lupa, jika cinta selalu berhadapan dengan lawan lainnya ”vis a vis” dengan perang, misalnya. Sebab biasanya, cinta berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan.

Ajaran cinta mungkin pula universal, di mana setiap makhluk hidup (baca: manusia) dapat merasakannya. Barangkali, namun ketika membaca kembali fragmen demi fragmen Serat Centhini, sejarah cinta Jawa yang ditulis di era Sri Sunan Paku Buwana V, yang kembali diterjemahkan secara bebas oleh Dorothea Rosa Herliany dalam jurnal Kolong Budaya No. 2/2003, saya mendapati sesuatu yang berbeda. Ternyata sebuah cinta merupakan peristiwa “ajaib” juga, yang acapkali menggoda, bagaimana dua orang manusia memahami dirinya masing-masing.

Kitab Centhini atau Suluk Tambangraras ini mulai ditulis sejak tahun 1884, oleh pujangga Rangga Sutrasna. Di dalamnya terdapat percampuran tradisi Jawa yang subur dengan penhubungan linear antara mitos-mitos yang terjadi di dalamnya. Temanya mungkin sederhana saja, percintaan antara Amongraga dan Tambangraras. Bagaimana seorang Amongraga, yang diceritakan memiliki akidah Islam yang tinggi mengajarkan Niken Tambangraras untuk menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan dan juga istri yang semestinya.

Dalam kalimat pertama, ketika Benih-Benih Hati Mulai Bersemi, dipilah kalimat “ada enam hal” yang mesti diketahui sang istri, sebagaimana enam hal tekad seorang perempuan. Pertama, takut, kedua asih, ketiga mengetahui keinginan sang suami, keempat beriman, kelima patuh, dan keenam mengabdi pada suami. Dijabarkan pula secara terurai secara panjang lebar, bagaimana semestinya bersikap di hadapan suami.

Maka drama pertemuan kedua manusia ini terus bergulir, berlanjut sampai ke jenjang pernikahan yang kemudian ternyata dipenuhi dengan intrik-intrik yang lebih menggoda. Birahi yang tak sepenuhnya bermakna nafsu, ketika Tambangraras belum siap untuk memulai malam pertamanya. Namun karena buah kesabaran dari Amongraga, yang turut menuntunnya, segalanya menjadi mulus. “Mulus” dalam arti, sebelumnya istrinya diberikan wejangan bagaimana menghadapi kehidupan di dunia ini.

Cerita percintaan ini dipenuhi dengan banyak perumpamaan. Simak dalam kalimat ini, ketika kedua pengantin memasuki kamarnya, “Kain samir putihnya segera disingsingkan mereka berdua bergandeng tangan masuk ke dalam ranjang…” namun ternyata Amongraga, kembali memberikan petuah, bagaimana memahami lebih baik ajaran agama, dengan kembali mengajarkan Tambangraras mengucapkan kalimat syahadat. Sebab dikatakan pula, “Ilmu nafkah sama pentingnya dengan kewajiban membaca syahadat bagi wanita.”

Dilanjutkan tentang hal-hal yang mesti ditakuti. Pertama, harus takut kepada Allah, kedua pada suami. Takut di sini, bukan berarti membenarkan segala tindakan suami meski salah. Takut dalam arti yang lain, apabila dirasakan kebenaran secara menyeluruh, maka si istri harus menurutinya. Cumbu rayu yang panjang sekali, ditambah dengan wejangan-wejangan yang terkesan mirip dengan khotbah. Namun, peramuan dan keuletan jalan pikiran Amongraga untuk mendapatkan cinta yang benar-benar “suci”. Cumbu rayu yang justru membukakan tabir gelap seluruh hatinya.

Begitu telaten dan piawai Amongraga mengajarkan dengan penuh kasih sayang, meski pertamanya diiringi dengan ketakutan dengan luruhnya peluh keringat di tubuh. Namun, nampaknya yang dijelaskan dalam seluruh adegan percintaan antara Niken Tambangraras dan Amongraga, tidak lain merupakan usaha untuk membentuk percintaan yang suci, bahkan sebuah usaha sakral. Kesakralan yang malah membentuk sebuah sketsa baru, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Yang memang berlaku apabila kedua insan, baik si suami dan istri benar-benar siap.

Drama percintaan yang mendebarkan, dan memacu seluruh urat syaraf untuk sekadar mengkhidmatinya. Adegan-adegan yang diulur begitu panjang, hingga bermalam-malam, bahkan terkesan terlampau bertele-tele. Namun ternyata percintaan antara suami-istri di atas ranjang memang dilakukan jika keduanya benar-benar telah siap.

Membaca Serat Centhini, bagi saya merupakan usaha membaca adegan perjalanan cinta dua manusia yang kasmaran. Namun, cinta itu diletakkan pada suatu ruh yang panjang. Bukankah cinta selalu hadir dalam setiap detak nadi seseorang? Sehingga ketika kita mencoba untuk memilahnya, tidak akan pernah utuh dan berwujud penuh. Yang tergambar dalam cerita ini adalah proses bagaimana cinta diletakkan ke posisi awal, bukan semata birahi purba semata. Meskipun pada akhirnya yang tercuat adalah birahi tersebut. Tetapi selalu ada interlude untuk melakukan penyaringan, peramuan yang, bagi saya, justru menambah rasa keingintahuan yang lebih besar lagi.

Masalah cinta barangkali tak pernah habis hadir dalam karya-karya sastra. Cinta terkadang tampil dengan posisi yang menyibak kegetiran naluri, yang selalu penuh dengan misteri, berdebar. Ihwal percintaan dua insan, yang memberi pelajaran, yakni berbuah kesabaran. Baik ketika membaca karya yang ditulis di masa lalu, maupun yang teranyar. Sebab cinta sendiri merupakan persoalan pokok kehidupan manusia. Sehingga ketika cinta menjelma jadi kelindan yang masuk ke dalam teks-teks sastra, yang tergambar ialah keharuan mendalam, perjuangan tanpa henti dari para pelaku cinta tersebut. Bahkan tidak sebatas itu, terkadang cinta, sebagaimana juga yang dijabarkan dalam Serat Centhini, lebih banyak memberikan gambaran cinta yang hubungannya vertikal kepada Tuhan. Bukankah kita juga masih memiliki kecenderungan yang sama dalam karya-karya sastra kita semacam Gurindam Raja Ali dari Riau itu, atau Hamzah Fansuri-yang nyata-nyata punya akar sufistik yang luhur. Dan ketika berhadapan dengan teks Centhini ini, saya seakan diajak tamasya ke sebuah pedalaman di Jawa. Bahkan, bau tanah Jawa serasa memantul-mantul, tak henti. Ketika semua adegan, potongan tempat, percakapan yang tumpang-tindih, watak-watak seorang semuanya menjelma temali yang menghubungkan setiap rangkaian tersebut.

Dan untuk itu, izinkanlah saya mengenang sajak Goenawan Mohammad yang merupakan kisah getir percintaan dalam “Asmaradana” –kepergian kekasih yang mengingatkan saya pada perasaan larat Tambangraras ketika ditinggal pergi Amongraga, meski ia terlihat tegar, untuk menjalani kehidupannya, titahnya sebagai seorang istri. Di “Asmaradana” sajak Goenawan, rupa cerita cinta yang lain hadir lebih lanjut ketika Anjasmara ditinggal pergi kekasihnya: Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis/ Sebab bila esok/ pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh/ ke utara,/ ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,/ karena ia tak berani lagi.// Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu./ Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu./ Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan/ wajahku,/ kulupakan wajahmu.

Kesedihan akan kehilangan selalu hadir dalam karya sastra yang mengusung tema cinta, di mana ada keterjagaan –percikan kenangan yang pijar kembali. Simak saja dalam Helen of Troy, ketika Helen dipersunting oleh raja, yang menyebabkan Paris berontak, dan kembali merebut hatinya. Atau dalam Romeo and Juliet-nya Shakespeare, yang justru membuat kecut, di mana adegan percintaan itu malah diakhiri dengan kematian antara kedua insan. Meskipun tidak tertutup pula kemungkinan, semacam kisah cinta yang sukses, di mana “mereka hidup berbahagia”, seperti dalam Cinderella. Namun sudut kegetiran lain yang muncul ketika dua kekasih berpisah, katakanlah untuk sekian waktu, justru membuat kita terhenyak dengan pemikiran semacam ini: betapa sakitnya kehilangan orang-orang tercinta.

Memang dalam beberapa cerita cinta, terkesan yang muncul adalah tema-tema klise yang ditawarkan oleh para pengarang. Meski beberapa karya mutakhir kini menyodorkan idiom yang dipenuhi dengan nuansa modernitas. Kisah cinta yang ternyata tak sepenuhnya suci. Meminjam ungkapan Yudi Ahmad Tajudin, dari Yogyakarta itu, “Saat ini terutama di kota, kita dihadapkan pada suasana orang ingin bertemu/berkenalan tetapi tak diketahui wajahnya, sebagaimana dalam internet.” Namun kita abai, tak menyadari diri sendiri telah lama kehilangan “ruang publik” semacam taman kota untuk bertemu dan berinteraksi antara satu lainnya. Lanjut Yudi, “Di mal kita memang bertemu, tetapi tidak saling mengenal.”

Nuansa yang hadir dalam karya sastra pun tidak luput dari hal-hal semacam itu, di mana tema-tema semacam perselingkuhan, cinta yang tak selamanya putih polos sebagaimana yang ditawarkan Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta. Tema yang diusung memang berbeda, tetapi dalam hal perpisahan dalam kisah cinta yang kerap terjadi dalam cerita, memiliki kesamaan, di mana ada kegetiran perasaan yang bermain di antara kedua kekasih. Selalu ada yang merasa terlunta, tersia-sia, seakan ingin menolak nasib. Ah, tetapi siapa yang dapat mengubah nasib jika memang sudah digariskan seperti itu?

Pun pada Fragmen Serat Centhini, dijabarkan pula, bagaimana kelaratan dan keterpurukan hati Tambangraras, ketika suatu pagi mendapati suaminya telah berangkat pergi. Hanya ada sepucuk surat yang tersisa. Namun di sisa penghabisan itu, ternyata Tambangraras berusaha untuk memahami, mengerti, dan menerapkan ajaran-ajaran si suami sebelumnya. Bahkan ketika kedua orang tuanya cemas akan keadaan kesehatan si anak, yang setiap hari, semenjak kepergian Amongraga, semakin kurus dan pucat. Ketabahan ini mengubah kenyataan-kenyataan dalam diri kita yang tedekat, seperti menelungkupkan sebuah misteri baru. Jika cinta memang tak pernah semudah yang dibayangkan.

Dan cerita percintaan ini pun tak segalanya mulus. Tidak langsung pada sebuah akhir yang jelas, apakah antara Tambangraras dan Amongraga, hidup keluarga, punya banyak anak, dan bahagia selamanya. Penantian dari Tambangraras yang penuh kesetiaan itu justru membuat saya berpikir, “Apakah cinta kerap terjebak pada perasaan sentimental semata?” Sehingga begitu banyak rasa yang bermain di dalamnya. Yang malah menambah beban, katakanlah yang malah menambah beban si tokoh, seandainya memang ada tokoh Tambangraras atau Amongraga hidup di zaman itu. Maka kehadiran kalimat-kalimat selanjutnya yang justru menyingkapkan nuansa kesedihan itu, membuat alur cerita ini seperti tersendat, tersengal, dan, bagi saya, kehabisan napas.

Pemutaran teks lainnya, yang berusaha memisahkan kembali pencarian Amongraga yang berkelana, meskipun tetap memikirkan nasib Tambangraras. Paduan semacam ini seakan mengunci, sehingga pembaca seakan-akan kehilangan “jejak” untuk berusaha menemukan hubungan selanjutnya antara Tambangraras dan Amongraga.

Seorang penyair Lampung, Iswadi Pratama, pernah memilah perpisahan itu dalam sajaknya “Suluk Sanggama” ihwal perpisahan keduanya, yang malah tak sebenar-benarnya berpisah begini: Amongraga, nahkoda yang senantiasa takzim/ di haluan peraduan,/ kekasih yang menyembunyikan wadagnya/ dalam tujuh warna samudra/ cuma meninggalkan pesan/ “adinda mengira aku pergi/ padahal aku ngembara dalam adinda sendiri”/ “ah, cinta yang pelik,/ jika tuhan meresap ke dalam tubuhku/ mengapa tuan mesti kutunggu?”

Nyatanya memang Tambangraras menjalani perpisahan mereka dengan pasrah. Hari-hari melecutnya untuk menambah kedekatannya pada Tuhan. Simak dalam paragraf-paragraf ini, seusai Tambangraras ditinggal pergi: Di bagian depan, Tambangraras selalu membaca Quran, tidak punya niat lain, hanya salat dan mengaji. Jika sudah mengaji kemudian salat dan berdoa, makan tidak begitu bernafsu, makan dan tidur tidak diperhatikan, selalu minta pada Hyang sukma siang dan malam untuk keselamatan suaminya, Seh Amongraga… dst.

Kegenapan ini justru kembali mengingatkan saya pada legenda klasik di Yunani sana, ternyata kecantikan seorang wanita belum tentu menjadi sebuah jaminan ia dapat hidup sebagaimana perempuan kebanyakan. Perempuan, tentunya selain memiliki kecantikan fisik, acap pula dipertimbangkan kecantikan di dalam dirinya sendiri. Sebagaimana kecantikan Medusa yang justru membentangkan kengerian baru. Rambut perempuan yang dipercaya di beberapa daerah sebagai kehormatan seorang perempuan, justru berubah jadi ular-ular kecil. Maka, mengudap cerita Centhini, bagi saya, ialah usaha menjabarkan realitas yang terdekat dalam kehidupan kita sendiri. Menjadi sebuah pakem, yang mengisyaratkan terbukanya ruang baru yang berbeda dalam memandang sebuah cinta.

Di antara temali peristiwa, berkelindan kegiatan yang terkadang menusuk lebih luas. Bukan dengan apa yang ditawarkan Cahiril Anwar dalam “Ahasveros”-nya, melulu terluka. Yang digariskan di Centhini jauh berbeda. Di sana ada sebuah “penemuan” cinta kembali, yang ternyata mencampuradukkan seseorang untuk mencari cinta dirinya sendiri. Semuanya diramu dengan beberapa “petuah” bijak tentang bagaimana seharusnya memandang kehidupan yang luas ini.

Cerita ini tetap memunculkan lekuk guratan, katakanlah, untuk mengajak kita sekadar merenung. Bahwa usaha menemukan cinta merupakan usaha yang panjang, begitu penuh enigma, kadangkala murung dan penuh durjana. Hal yang mengingatkan saya pada sajak-sajak penyair yang sedang jatuh cinta, meski di sini tidak terlihat bagaimana seharusnya mengambil “jarak” yang pas. Dalam Fragmen Centhini, jarak antara Tambangraras, Amongraga, atau pembantu setia Tambangraras-Centini, begitu masuk dan nyata. Ditambah beberapa percakapan-percakapan, yang menggelungkan ingatan pada suasana keningratan Jawa di masa lalu.

Proses pencarian diri yang dilakukan Tambangraras sebenarnya tak jauh beda dengan Amongraga sendiri. Sehingga yang tergulir cuma benang merah antara satu dan lainnya, untuk tetap berdekatan, baik Tambangraras maupun Amongraga. Memang tak dapat dimungkiri jika ada banyak versi Serat Centhini lainnya. Yang jelas, cerita ini dipenuhi dengan pengharuan abadi, bagaimana dua insan menghayati cinta dengan segenap raganya. Ibarat pepatah, “Jauh di mata dekat di hati.”***

*) Penulis, Pembaca teks sastra, tinggal di Jakarta.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=201725363189670