Sri Wintala Achmad
__Minggu Pagi Yogya

Wayang purwa merupakan salah satu seni tradisi yang sampai sekarang masih sering digelar di hadapan publik. Hal ini layak disyukuri bersama. Mengingat banyak seni tradisi, semisal: emprak, dhadhung awuk, srandhul, wayang beber, wayang thengul dan masih banyak lainnya telah mengalami ‘mati suri’.

Masih menggairahkannya pergelaran wayang purwa, dikarenakan seni tradisi tersebut selalu mengalami inovasi pada berbagai unsur di dalamnya secara dinamis, yang meliputi: bentuk wayang, alur cerita (akibat pengombinasian gagrak Yogyakarta dan Surakarta), sabetan, penampilan dua atau tiga dhalang dalam satu, dua atau tiga kelir, pelibatan artis (penyanyi dan pelawak) dalam adegan limbukan atau gara-gara, pencahayaan, dan musik pengiring.

Membaca tulisan Latief Noor Rochmans (Minggu Pagi, Minggu II September 2009) yang menyoal perihal pembaruan di dalam pertunjukan wayang purwa selalu mengundang kontroversi (pro-kontra) sungguh tidak dapat dipungkiri. Pihak yang pro terhadap inovasi mengatakan, “Inovasi sangat diperlukan. Agar seni wayang purwa senantiasa hidup seirama zamannya. Sementara pihak yang kontra terhadap inovasi mengklaim, “Inovasi niscaya merusak pakem. Suatu aturan baku yang diadiluhungkan di dalam pergelaran wayang purwa.”

***

Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud membenarkan atau sebaliknya menyalahkan pernyataan dari pihak yang pro atau klaim dari pihak yang kontra terhadap inovasi di dalam pertunjukan wayang purwa, melainkan sekadar menunjukkan bahwa inovasi tersebut sebenarnya telah mulai dilakukan oleh Ki Suparman (Sleman) dan Ki Hadi Sugito (Kulon Progo).

Ki Suparman, dhalang terkenal berkat sulukannya yang kung tersebut relah melakukan inovasi dengan menampilkan bentuk terbaru atas wayang punakawan para raja sabrang, semisal: Togog dan Bilung dan punakawan para ksatria trah Giri Sarangan seperti: Gareng, Petruk, dan Bagong pada saat adegan gara-gara. Bahkan almarhum bernyali memerkenalkan wayang motor cross yang sering dikendarai oleh Ki Lurah Petruk Kanthongbolong.

Sementara Ki Hadi Sugito, dhalang yang tersohor karena kecanggihannya di dalam antawacana dan sense of humor-nya tersebut pula melakukan inovasi. Di mana unsur komedial yang dimaksudkan guna menjaga suasana segar sepanjang pertunjukan (baik lakon carangan maupun babad Baratayuda) tersebut tidak hanya melalui tokoh-tokoh punakawan atau emban, Durna, Sarja Kusuma, Durmagati, Citraksi, Harya Sengkuni, Dursasana, Burisrawa, Pragota, Udawa, Antasena, Wisanggeni, Yamadipati, atau Narada melainkan melalui tokoh-tokoh ksatria dan raja berkarakter halus, seperti: Setyaki, Pancawala, Kresna, Puntadewa, Baladewa dll.

Kerja inovatif di dalam pertunjukan wayang purwa tidak hanya dilakukan oleh dua dhalang Yogyakarta tersebut, melainkan pula oleh Ki Narto Sabdo (Semarang), Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudarsono (Surakarta), dan Ki Enthus Susmono (Tegal).

Almarhum Ki Narto Sabdo, seorang dhalang yang senantiasa menggelar pertunjukan wayang purwanya dengan gagrak Surakarta tersebut pula melakukan inovasi. Namun sentuhan invovasi Ki Narto sekadar pada pengenalan gendhing-gendhing dolanan karyanya sewaktu adegan limbukan atau saat para punakawan yang menyertai pengembaraan Arjuna atau Abimanyu di rimba-raya itu tengah suka pari suka.

Inovasi pertunjukan wayang yang dilakukan oleh Ki Anom Suroto yakni dengan melibatkan artis seperti penyanyi dan pelawak sebagai partner di dalam membangun suasana segar penuh humor pada saat adegan limbukan dan gara-gara. Di samping itu, Anom acapkali melibatkan Bayu putranya untuk memainkan sabetan perang yang sangat menakjubkan.

Lain Ki Anom lain Ki Manteb Sudarsono. Dhalang syetan itu telah melakukan inovasi besar-besaran di dalam pertunjukan wayang purwanya. Beberapa inovasi yang beliau lakukan, di antaranya: sabetan dan penambahan unsur pencahayaan dan sound effect saat adegan perang, gara-gara, dan adegan-adegan dramatik lainnya. Manteb pula sering melibatkan artis pada saat adegan limbukan dan gara-gara.

Inovasi yang terkesan gila-gilaan di dalam pertunjukan wayang purwa telah dilakukan oleh Ki Enthus Susmono. Karena selain inovasi yang sebagaimana Manteb lakukan, Enthus yang terkadang dibantu para wiyaga selalu memertontonkan sikap ‘kejam’ kepada tokoh-tokoh berkarakter jahat, seperti: melempar, memukuli dan mencabik-cabik. Hal yang terkesan sensasional, di mana Enthus sering menampilkan tokoh raksasa setinggi 3 meter di hadapan para penonton. Inovasi pertunjukan wayang purwa yang dilakukan oleh beberapa dhalang di muka memiliki pengaruh pada beberapa dhalang lainnya, semisal: Ki Seno Nugroho, Ki Edi Suwondo, Ki Sukoco, Ki Warseno Slank dll.

***

Dari uraian di muka dapat ditangkap bahwa inovasi di dalam pertunjukan wayang purwa mulai disentuh oleh Ki Suparman dan Ki Hadi Sugito (dua dhalang segenerasi Ki Timbul Hadi Pratyitno dan Ki Sugi Cermo Sardjono) . Sekalipun hasil inovasi keduanya belum setotal yang dilakukan oleh Ki Manteb Sudarsono dan Ki Enthus Susmono.

Sekalipun demikian, kritik dari pihak yang kontra terhadap inovasi pertunjukan wayang purwa seyogyanya tidak dituduh sebagai bentuk keiri-hatian pasar. Pengertian lain, kritik tersebut musti dimaknai sebagai kendali agar pertunjukan wayang purwa bukan sekadar objek tontonan, namun sebagai media tuntunan yang memiliki tatanan.

Apa yang saya sampaikan mengenai seputar inovasi pertunjukan wayang purwa yang selalu mengundang kontroversi tersebut kiranya dapat melengkapi tulisan Latief. Suatu tulisan yang semustinya merangsang permenungan cerdas di lingkup insan pemerhati kehidupan wayang purwa. Tentu saja permenungan ini diarahkan guna menjaga agar perkembangan yang terkesan dinamis di dalam pertunjukan wayang purwa tersebut senantiasa terkendali.

Sri Wintala Achmad
Pemerhati seni-budaya tradisi
Tinggal di Cilacap, Jawa Tengah

Categories: Esai