Suka Duka KRI Dewa Ruci

Yurnaldi, I Made Asdhiana
http://nasional.kompas.com/read

Penerbit Buku Kompas, Jumat (19/11/2010) di TB Gramedia Matraman, Jakarta, meluncurkan dan sekaligus membedah buku Dewa Ruci Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra, kisah nyata yang ditulis Cornelis Kowaas. Buku ini sebelumnya berjudul Sang Saka Melanglang Jagad dan menjadi best seller hingga tahun 1967.

Bersamaan dengan peluncuran buku, Jumat pukul 10.00 WIB, KRI Dewa Ruci yang merupakan kapal layar buatan tahun 1952 itu merapat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, setelah melakukan perjalanan keliling 21 negara dan menyinggahi 29 kota selama 285 hari untuk mengikuti sejumlah festival dan lomba layar.

Sejak pelayaran muhibah keliling dunianya yang pertama, KRI Dewa Ruci kerap mengundang decak kagum berbagai bangsa dan meraih berbagai penghargaan dalam aneka lomba kapal layar internasional. Terakhir, pada bulan Juli 2010, Dewa Ruci meraih tiga penghargaan dalam festival The Tall Ship Race 2010 yang berlangsung di Antwerpen, Belgia. Dalam festival yang diikuti 74 kapal layar tiang tinggi dari sejumlah negara itu, KRI Dewa Ruci terpilih sebagai kapal terbaik dalam peran parade memasuki Pelabuhan Antwerpen (The Spectacular Ship in Entering Parade to The Harbour) dan sebagai kapal yang berasal dari negara terjauh (Vessel Furthest from Home Port).

Buku tentang pelayaran pertama KRI Dewa Ruci mengelilingi dunia ini merupakan kisah lengkap tentang manusia Indonesia sebagai insan bahari. Penerbit Buku Kompas menerbitkan kembali buku kisah nyata yang ditulis Cornelis Kowaas, yang terbit pertama tahun 1965, dengan judul baru, Dewa Ruci Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra, untuk mengenang kembali suka duka KRI Dewa Ruci beserta segenap awaknya dalam pelayaran keliling dunianya yang pertama, yang bertujuan memperkenalkan eksistensi Indonesia kepada dunia internasional dan ikut mengharumkan nama bangsa ke seluruh penjuru jagat. Sebuah usaha historis yang digagas langsung oleh Presiden Sukarno.

Sempat hilang

Penulis Cornelis Kowaas mengatakan, setelah menjadi buku laris hingga tahun 1967, tiga tahun kemudian buku Dewa Ruci Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra yang dulunya berjudul Sang Saka Melanglang Jagad sempat hilang dari rak-rak toko buku tahun 1970-an.

“Tahun 1980-an mau diterbitkan ulang, tapi karena ada syarat yang berkaitan dengan urusan politik, akhirnya syarat itu saya tolak dan buku tak jadi terbit ulang. Tahun 1986 , diterbitkan lagi oleh Pustaka Sinar Harapan dengan judul baru Dewa Ruci Melanglang Buana, tapi buku tak boleh keluar gudang karena waktu itu koran Sinar Harapan dibredel,” cerita Cornelis Kowaas yang kini berusia 78 tahun. Waktu jadi awak KRI Dewa Ruci, tahun 1957, usianya ketika itu 25 tahun.

“Semoga buku yang diterbitkan ulang Penerbit Buku Kompas dengan judul baru Dewa Ruci Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra dapat menggugah kembali semangat cinta Tanah Air dan semangat cinta laut wawasan bahari warisan nenek moyang, yang adalah orang-orang pelaut yang kita bangga-banggakan sejak dulu kala,” katanya.

Wakil Dekan FISIP Universitas Indonesia Edy Prastyono yang membahas buku tersebut mengakui, alur kisah buku tersebut sangat menarik dan ditulis dalam bahasa yang sangat ringan. “Kunjungan kapal KRI Dewa Ruci merupakan diplomasi kebudayaan yang luar biasa. Bisa singgah di berbagai tempat di belahan dunia dan berintegrasi dengan masyarakat setempat,” katanya.

Menurut Edy, Indonesia harus menata kembali fungsi lautnya. Jika selama ini pendidikan tidak diarahkan ke laut, maka mulai sekarang pendidikan harus diarahkan ke laut. “Kita harus belajar dari sejarah, kerajaan Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit menjadi besar karena kekuatan lautnya,” katanya.

Mantan Kapten KRI Dewa Ruci angkatan ke-14, Capt Gita Ardjakusuma, mengatakan, Pak Cornelis Kowaas sangat berjasa untuk menuliskan pengalamannya. “Ketika saya menjadi kapten KRI Dewa Ruci, buku yang ditulis Pak Cornelis Kowaas jadi salah satu acuan,” katanya.

20 Nov 2010