Jassin Seperti “Anak Tiri”

Andi Sapto Nugroho
jurnas.com

MENIPISNYA anggaran untuk Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin berpangkal dari kelalaian berantai dan banyak pihak. Dari alokasi anggaran senilai Rp. 500 juta pada 2003, kini menyusut hingga hanya Rp. 50 juta. Dibanding anggaran untuk kalangan lain, Jassin seperti anak tiri.

Anggota Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat, DPRD DKI Jakarta, Wanda Hamida mengaku prihatin dengan jumlah-jumlah hibah tersebut.

“Memang yang njomplang karena pembahasan anggaran yang tidak transparan,” kata politisi PAN tersebut, Selasa (23/3). Wanda yang ikut membahas anggaran pun meminta maaf. “Kami juga lalai,” katanya.

Masalah dana ini pernah dikritik oleh kritikus sastra, Dami N Toda dalam bukunya “Apakah sastra? Kumpulan esai kritik teori sastra budaya mengenang almarhum Dr. HB Jassin (2005).”

Dami mengatakan, dokumentasi sastra nasional hibahan H.B. Jassin warisan vital dan strategis. Bahkan bisa dibilang harga diri negara dan bangsa. Ironis, anggaran untuk pengelolaannya ditunggu dari belas kasihan donatur sepanjang jalan.

Menurut Dami, nilai dokumenter kekayaan sastra nasional sebuah bangsa membutuhkan konservasi pembinaan dan pengembangan lanjut. Tidak mungkin, hanya diperhatikan secara sepele dari belas kasihan uang rakyat DKI Rp. 125 juta per tahun berupa hibahan APBD DKI (kurun waktu 2005).

Lebih ironis lagi bila hal dibandingkan dengan dana hibah lembaga lainnya. Dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.215/2011, Alex Asmasoebrata Management, misalnya, menerima hibah sebesar Rp. 2 miliar. Bahkan tahun sebelumnya mendapat sebesar Rp. 4 miliar.

Alex adalah mantan pembalap nasional, kini tengah gencar mengorbitkan anaknya, Alexandra atau Andra sebagai pembalap nasional. Lain lagi dengan hibah ke Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) yang menerima Rp1 miliar dan Pengurus Pusat Perhimpunan Masyarakat Melayu Baru Indonesia (MABIN) sebesar Rp. 500 juta.

LSM lingkungan Walhi Jakarta pun menerima hibah sebesar Rp. 300 juta. “Sepertinya tidak ada pejabat DKI yang menganggap penting PDS HB Jassin,” kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin Ajip Rosidi.

22 Mar 2011