Llosa, Sastra, Politik, dan Nobel

Pradewi Tri Chatami
Pikiran Rakyat, 14 Nov 2010

“FIKSI itu sama pentingnya dengan realitas. Imajinasi dan fantasi membantu manusia memahami hidupnya. Tanpa yang fiksi, hidup manusia akan membosankan, monoton, dan kelabu.” Begitulah pendapat Mario Vargas Llosa, penerima Nobel di bidang sastra tahun ini.

Lahir di Arequipa, Peru pada 28 Maret 1936, ia dikenal sebagai salah seorang dari generasi “Latin American Booming”, bersama sahabat yang — setelah tengkar yang berujung pukulan dan foto mata lebam — kemudian menjadi seterunya, Gabriel Garcia Marquez.

Sejak kecil, ia sudah terpikat kepada sastra, salah satu bacaannya adalah Jules Verne. Ia pun mulai menulis puisi. Karena ayahnya menganggap menulis puisi adalah kesibukan yang kurang lelaki, ia mengirim Mario remaja ke Akademi Militer Leoncio Prado, tempat yang ia sebut sebagai neraka. “Itu adalah pengalaman traumatis yang dalam banyak hal menandai berakhirnya masa kecilku,” katanya. “Penemuan kembali negeriku sebagai lingkungan yang keras, penuh dengan kepahitan, membuat faksi sosial, budaya, dan rasial selalu berada dalam posisi saling bertentangan dan terkadang menyulut perkelahian sengit. Kukira pengalaman itu memberi satu pengaruh besar padaku; satu hal yang pasti itu memberiku kebutuhan mendesak untuk berkreasi, untuk menciptakan sesuatu.”

Sesuatu itu, kelak ia sebut sebagai “hasrat obsesif untuk menulis”. Maka, menulislah ia sebagai jurnalis untuk La Industria, sebagai co-editor jurnal sastra Cuadernos de Conversación, Literatura, juga jurnalis untuk radio Pan Americana dan La Crónica. Pada 1955, Mario menikahi saudara ipar pamannya, Julia Urquidi. Ketika itu usianya masih sembilan belas tahun dan sang tante (istrinya) tiga belas tahun lebih tua darinya. Pernikahan ini berumur sembilan tahun, yang seluruh kenangannya terungkap dalam novel Aunt Julia and The Scriptwriter (1973). Novel ini pernah diadaptasi dalam film Hollywood, “Tune in Tomorrow”. Setahun setelah bercerai dari Julia, ia menikahi sepupunya, Patricia Llosa, yang memberinya dua putra dan seorang putri.

**

Pada 1958, Mario Vargas Llosa mendapat gelar Ph.D. dari Complutense University of Madrid Spanyol. Ia pergi ke Prancis untuk melanjutkan studi, tetapi ternyata permohonan beasiswanya ditolak. Ia tetap memutuskan untuk tinggal di Prancis dan bekerja sebagai guru bahasa Spanyol, penyiar radio, dan menulis secara profesional. Mario tak kembali ke Peru karena meski pada 1960-an terjadi Latin American Booming, tetapi penerbit-penerbit di Peru tidak memungkinkan para penulis untuk memperoleh penghasilan yang cukup.

Debutnya dimulai saat Llosa “meminjamkan” pengalaman pahitnya di Leoncio Prado pada novel pertamanya, The Time of The Hero (1963). Di Spanyol, Mario mendapat penghargaan Premio de la Crítica Española karena teknik penulisan dan pendalamannya. Akan tetapi ironisnya, di tanah airnya, Peru, seribu kopi novel itu dibakar di lapangan upacara oleh perwira militer sambil menuding Mario dibayar oleh Ekuador untuk menjatuhkan militer Peru.

Meski menerima hujan hujatan dari militer Peru, novel itu mengenalkan nama Mario Vargas Llosa ke publik sastra dunia — khususnya pada pemakai bahasa Spanyol — sebagai novelis muda yang genial. Posisinya makin mantap setelah ia menulis novel The Green House (1966), yang mengisahkan perjalanan seorang gadis biara menjadi pelacur paling ternama, dan Conversation in The Cathedral (1969) yang merupakan salah satu karya terbaiknya.

Llosa terus bereksperimen, termasuk membuat parodi atas karyanya sendiri, The Green House, dalam Captain Pantoja and The Special Service, yang diilhami saat ia menemukan pelacur-pelacur sewaan untuk tentara yang berdinas di hutan. Ia kembali disambut tepuk tangan meriah saat menulis The War of the End of the World — yang ia sebut karya favoritnya — novel mengambil latar pemberontakan di Brasil pada abad ke-19 oleh gerakan mesianik. Llosa juga mengangkat Alejandro Mayta dalam The Real Life of Alejandro Mayta. Seorang revolusioner Trotskyis, potret dari seorang pemegang teguh ideologi kiri revolusioner di Amerika Latin. Seorang romantik, pemuja Tuhan dan Marx dengan kadar ketaatan yang setara. Si revolusioner yang memanipulasi kamerad muda dan idealis yang jatuh karena didorong oleh utopia dan faksionalisme.

Sementara Feast of the Goat (2000), merupakan novel yang mengangkat kejatuhan diktator Republik Dominika, Rafael Trujillo. Pada karyanya yang lain, The Way to Paradise (2002) Llosa menyoroti seorang feminis-sosialis, Flora Tristan dan cucunya pelukis Paul Gauguin, dan mendapat sambutan beragam. Sebagian menganggapnya sebagai novel yang menarik, sebagian berpendapat novel itu gagal menangkap spirit dari Flora dan Paul. Setidaknya, novel itu tidak secerlang karya Llosa terdahulu.

Pada 2006, Llosa menulis ulang karya Gustave Flaubert, Madame Bovary dalam The Bad Girl. Secara keseluruhan, kiranya klaim dari Komite Nobel bahwa ia memiliki “kemampuan untuk memetakan struktur kekuasaan dan mata yang tajam dalam memotret perlawanan, pemberontakan, dan kekalahan manusia” tidaklah berlebihan.

Dari tiga puluh karyanya, Llosa juga menulis esai, naskah drama, dan kritik sastra. Ia menulis The Perpetual Orgy yang membahas keterkaitan antara dirinya dan Gustave Flaubert, juga La Utopia Arcaica ihwal perkembangan sastra di Peru. Disertasi doktoralnya tentang Gabriel Garcia Marquez dibukukan dan pada 2007, Llosa mengizinkan bagian dari buku itu sebagai bagian dari edisi khusus 40 tahun One Hundred Years of Solitude. Konon, itu menandai rekonsiliasi, tetapi beberapa sastrawan Amerika Latin berpendapat, mereka tak akan pernah kembali rujuk seperti dahulu, sebesar apa pun harapan melihat itu terjadi.

Sebagaimana halnya penulis lain di Amerika Latin, Mario Vargas Llosa menceburkan dirinya dalam kegiatan politik. “Sastra adalah ekspresi kehidupan, dan Anda tak bisa mengenyahkan politik dari kehidupan.” Itulah yang ia yakini. Namun, berlainan dengan kawan-kawan Amerika Latin, ia mengalami perubahan-perubahan ekstrem dalam perjalanan politiknya. Bermula dari kiri yang berapi-api, dan ia segera kecewa pada Fidel Castro setelah presiden Kuba itu memenjarakan penyair Herberto Padilla. Sejak itu, secara bertahap ia beranjak ke kanan, memercayai liberalisme dan pasar bebas.

Karier politiknya sempat goyah saat ia ditunjuk sebagai bagian dari Investigatory Commision pada 1983, komisi yang dibentuk pemerintah untuk menginvestigasi kematian delapan jurnalis di Uchuraccay. Hasil investigasi yang menyebut bahwa penduduk aslilah yang bertanggung jawab atas insiden itu segera dijawab dengan kecaman oleh media massa dan para antropolog. Media massa menyebut komisi itu menyembunyikan operasi militer yang dijalankan pemerintah, dan antropolog menuduh Mario Vargas Llosa memakai kacamata Barat-modern untuk mengamati pribumi desa itu. Mario menangkis semua tuduhan dan balik menyerang mereka dengan mengatakan mereka semua berpaling dari kenyataan bahwa banyak penduduk yang meninggal dunia di tangan gerilya. Pada 1993, satu novel yang terinspirasi dari insiden ini lahir, Death in the Andes.

Puncak gerakan politiknya adalah saat ia, mewakili partai Fredemo, maju dalam pencalonan Presiden Peru. Proposal ekonominya yang neolib tentu saja tak populer untuk rakyat Peru, dan ia kalah telak dari Alberto Fujimori. “Aku dulu sangat dungu. Dengan naif aku percaya bahwa aku bisa membawa Peru ke arah yang lebih baik,” katanya dalam wawancara tentang keputusan politiknya kala itu. Ia menuangkan pengalamannya selama pencalonan presiden itu dalam memoar, Fish in the Water (2002).

Llosa tetap aktif menyuarakan pendapat politiknya, seperti yang ia lakukan saat diundang bicara di televisi Meksiko oleh Octavio Paz. Ia melontarkan satu kalimat yang nantinya menjadi adagium, “Meksiko adalah kediktatoran yang sempurna,” karena tersamar dan seolah-olah demokratis. Pada 1993, ia menerima kewarganegaraan Spanyol sebagai bentuk kekecewaan pada pemerintahan Fujimori yang membekukan kongres pada 1992. Di Spanyol, Llosa kemudian berganti haluan dari tengah-kanan menjadi tengah-kiri. Ia mengambil jalan tengah dan mengutarakan penentangannya terhadap ekstrem kanan ataupun ekstrem kiri. “Aku menentang pemerintahan yang otoriter, baik itu kiri maupun kanan,” katanya.

Selain menjadi sastrawan dan politisi, ia juga intelektual. Sejak akhir 1960-an, ia telah memberi kuliah di berbagai universitas ternama. Kamis pagi, saat panitia Nobel menelefon apartemennya di Manhattan, ia sedang mempersiapkan materi kuliah, dan hendak berjalan-jalan dengan istrinya. Kini, ia masih mengajar di Princeton, kajian Amerika Latin dengan fokus pada Jorge Luis Borges.***

Pradewi Tri Chatami, penyair, belajar antropologi di Unpad.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/11/llosa-sastra-politik-dan-nobel.html