Sunda Dalam “Bijdragen”

Atep Kurnia*
Pikiran Rakyat, 3 Mei 2008

Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) termasuk salah satu lembaga ilmiah Belanda yang peduli terhadap kebudayaan Indonesia. Lembaga ini didirikan 4 Juni 1851, di Kota Delft.

Maksud pendiriannya, pada mulanya ditujukan untuk melatih para pegawai negeri (ambtenaar) yang akan dikirim ke wilayah jajahan. Dalam perkembangannya, lembaga ini meluaskan tujuannya menjadi memajukan ilmu bahasa, budaya, dan sejarah Hindia Belanda dalam arti yang luas.

Terkait maksud pendiriannya itu, lembaga ini pun rajin mengumpulkan khazanah pengetahuan negeri jajahan Belanda. Koleksi terbanyak yang dimiliki KITLV berupa buku dan terbitan berkala. Jumlahnya mencapai ratusan ribu jilid. Kemudian naskah-naskah, peta, foto-foto, sketsa dan lukisan, rekaman audio, maupun catatan-catatan harian. Tentu saja banyak yang berkaitan dengan kebudayaam Indonesia.

Selain mengumpulkan khazanah pengetahuan negeri jajahan Belanda, dari dulu hingga kini, KITLV juga banyak menerbitkan jurnal, majalah, dan buku. Salah satu jurnalnya adalah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Neerlandsch Indie atau biasa disebut Bijdragen, disingkat BKI.

“BKI”

Keterangan mengenai penerbitan BKI saya kumpulkan dari tulisan Gerrit Knaap, “One hundred fifty volumes of Bijdragen” (hlm. 637-652) dan P. Boomgaard, “Historical studies in 150 volumes of Bijdragen” (hlm. 685-702) yang dimuat dalam BKI edisi ke-150, 150 Volumes of Bijdragen; A Backward Glimpse and a Forward Glimpse 150 (No. 4, 1994).

Publikasi BKI mulai muncul 1852. Alasan di balik lahirnya jurnal ini, karena para pendiri KITLV menilai bahwa cara terbaik untuk mempelajari yang dijajah adalah melalui penerbitan.

Seri pertama Bijdragen dicetak 500 eksemplar. Sidang redaksi pertamanya terdiri dari J. Pijnappel, dosen bahasa Melayu, geografi, dan etnologi di Koninklijke Academie sebagai sekretaris Dewan KITLV. Kemudian Roorda dan S. Keyzer, dosen ilmu Islam dan Hukum pribumi di Koninklijke Academie.

Untuk seri pertamanya, redaksi agak sulit menemukan artikel yang mencukupi. Seri pertama terdiri dari prosiding pertemuan dewan redaksi, daftar anggota institut, dan laporan tahunan. Lebih jauhnya, seri itu termasuk daftar topik yang dikumpulkan oleh dewan redaksi dengan harapan merangsang anggotanya untuk menulis artikel.

Dalam laporan tahunan 1855-56 dewan redaksi masih mengeluhkan kesulitan untuk mendapatkan artikel yang cukup. Dan dalam laporan 1857-58 dinyatakan bahwa dewan akan mengubah titik fokus Bijdragen, karena tidak ada lagi naskah untuk dipublikasikan.

Pada 1857, dewan memutuskan untuk meluaskan jangkauan institut yaitu dengan memasukkan Hindia Barat (Dutch West Indie). Pertengahan 1880-an, suplai artikel untuk Bijdragen lumayan melimpah. Sejak saat itu penerbitan jurnal bisa dilakukan tiga bulan sekali.

Tapi secara umum, selama masa penjajahan, sangat jarang orang Indonesia yang menulis dalam Bijdragen. Mungkin hanya sekitar satu persen saja dari keseluruhan artikel yang pernah dimuat. Hal ini diakibatkan adanya gap antara dunia yang dijajah dan yang menjajah. Karena, kebijakan orang Belanda biasanya bertujuan menjaga agar orang-orang Eropa terpisah dengan pribumi.

Selain itu, selama ini bagian substansial Bijdragen diisi oleh para penulis yang mengajar studi tentang Indonesia (Indologie) di universitas-universitas di negeri Belanda, terutama Universitas Leiden. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila hampir semua penulis di lapangan arkeologi dan prasejarah adalah bangsa Belanda. Dan sebelum 1960-an, hampir semua artikel ditulis dalam bahasa Belanda.

Sunda

Kapan Sunda dituliskan dalam BKI? Menurut buku Inventarisasi dan Dokumentasi Literatur dan Sumber tentang Kebudayaan Sunda susunan Tim Peneliti Lembaga Kebudayaan Universitas Padjadjaran (Laporan Penelitian Projek Perguruan Tinggi Unpad 1983/1984), tulisan mengenai Sunda baru muncul di BKI pada 1856. Yaitu dalam tulisan Dr. Sal Muller, “Over Eenige Oudheden van Java en Sumatra” (BKI, 4, 1856). Mengenai peninggalan purbakala di daerah Bandung, Sumedang, dan Bogor. Bersamaan dengan artikel kedua yang ditulis oleh J. de Rovere van Breugel, “Bantam in 1786”.

Tulisan ketiga mengenai Sunda muncul dalam tulisan J. de Rovere van Breugel, “Beschrijving van Bantam en de Lampongs” (BKI, 5, 1856). Dan yang keempat ditulis oleh J.H. van Heekeren, “De Laatste Investiture van Eensen Bantamschen Sultan” (BKI, 5, 1856).

Selanjutnya, antara 1856-1943 –sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh tim penyusun buku di atas– muncul sekitar 63 tulisan yang membahas tentang kebudayaan Sunda. Para penyumbang tulisannya, yang terbanyak adalah R.A. Kern yang menulis 12 judul tulisan. Di antaranya “T Lemes in `t Soendaasch (met voorwoord en woordenlijst),” (BKI, 59, 1906); “Eenige Soendasch Fabels en Vertelsels” (BKI, 60, 1907), dan “De Soendasche Umpak Basa” (BKI, 102, 1943).

Disusul kemudian oleh J.J. Meijer dan Mr. D. Koorders. Masing-masing menyumbangkan 4 tulisannya. J.J. Meijer tampil upamanya dengan “Proeve van Zuid Bantensche Poezie” (BKI, 39, 1890) dan “Badoejsche Pantoenverhalen” (BKI, 40, 1891). Sementara Mr. D. Koorders sempat menulis “Aanteekeningen op een Reis door Zuid-Bantam” (BKI, 16, 1869) dan “Reis door Soekapoera” dalam BKI edisi yang sama.

Dan bila menilik perkembangan terakhir Sunda dalam BKI melalui situs kitlvjournals.com , selama 25 tahun, yaitu antara 1980-2005, ternyata tulisan-tulisan Sunda dalam rentang waktu itu hanya ada sekitar 14 tulisan saja.

Dua tulisan awal dalam rentang waktu itu ditulis oleh W. Donald MacTaggart dan J. Noorduyn. Mac Taggart menulis “Land-use in Sukabumi, West Java; Persistence and change” dalam BKI No. 2/3, vol 138, 1982. Sementara, Noorduyn menulis “Bujangga Manik`s journeys through Java; topographical data from an old Sundanese source” (BKI No. 4, vol 138, 1982).

Sedangkan dua tulisan akhir antara rentang waktu 1980-2005 ditulis oleh Julian Millie dan Syihabuddin. Pertama Millie menulis sendiri. Ia menulis tinjauan 3 buku yang berkaitan dengan kebudayaan Sunda, “Three books on the literary tradition of West Java” (BKI No. 2/3, vol 160, 2004). Yang kedua ia menulis bersama Syihabuddin tentang Qasidah Burdah yang dikaitkan dengan kegaiban Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, “Addendum to Drewes; The Burda of Al-Busiri and the miracles of Abdulqadir al-Jaelani in West Java” (BKI No. 1, vol 161, 2005).

Dari kenyataan tersebut, apa yang mungkin dapat dipetik hikmahnya? Ternyata, perhatian “Orang Barat”, “Orang Timur”, dan orang Sunda sendiri terhadap pengkajian kebudayaan Sunda secara ilmiah, terutama bila berkaca pada keadaan BKI, sangatlah kurang.***

*) Atep Kurnia, Penulis lepas, tinggal di Bandung
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/sunda-dalam-bijdragen.html