Membaca Sejarah China Lewat

ANALISI NOVEL
Deddy Arsya
http://harianhaluan.com/

China dalam aspek apa pun telah menjadi kekuatan baru dunia pasca Perang Dingin. Perhatian masyarakat bumi tertuju padanya. Jika kita menilik sejarah, kita akan bisa memaklumi, bahwa negeri tirai bambu itu telah ditempa ber­bagai pergolakan di masa silam, yang berat dan mengancam.

Big Breasts and Wide Hips adalah sebuah novel tentang satu rentang penting sejarah modern bangsa China. Kisah dalam novel ini bergulir hampir pada sepanjang abad ke-20. Dari ketika China mulai beran­cang-ancang meninggalkan dinasti, runtuhnya kekaisaran, invasi Jepang, republik nasional terbentuk, Revolusi Agraria di bawah Mao Zedong dicanang­kan, Revolusi Kebudayaan, tegak-berdirinya kekuasaan otoritatif Partai Komunis, Republik Rakyat, hingga China yang semi kapitalis tumbuh semarak.

Mo Yan (penulis novel ini) menggunakan lanskap sejarah China dalam periode panjang itu untuk mengurai perjalanan hidup sebuah keluarga. Terjadi di sebuah kota Gaomi Timur Laut yang tengah dilanda gejolak politik dan gelombang pergolakan yang mengubah wajah kota itu dengan hebat.

Kisah dalam novel ini berpusar pada diri seorang perempuan bernama Lu Xuan­’er. Ayah dan ibunya telah tiada sejak dia masih kecil. Novel ini adalah kisah hidupnya melalui banyak zaman. Pada masa kekaisaran di bawah tradisi dinasti Manchu, paman dan bibinya telah membalut kakinya ketika dia baru ber­umur 7 tahun, dengan harapan kelak dia menjadi gadis dengan kaki yang kecil. Dia tumbuh gadis cantik berkaki lemah, dipingit dalam ‘penjara’ yang diciptakan laki-laki. Dalam tradisi Manchu yang patriarkis itu, ukuran kecantikan perem­puan dilihat dari kakinya yang sangat mungil. Itu pertanda kecantikan yang sejati. Dan juga, “Seorang wanita yang kakinya tidak diikat tidak akan bisa mendapatkan suami,” tulis Mo Yan.

Namun kekaisaran kemu­dian runtuh. Pemerintah repub­lik terbentuk. Pembaruan melanda China. Ukuran kecan­tikan pun berubah. ‘Kaki kecil’ dilarang secara nasional. Siapa yang melanggar kebijakan itu dihukum berat. Dan gadis-gadis berkaki-kaki alamiah diper­kenalkan sebagai ukuran baru kecantikan. Dan, Lu Xuan’er yang berkaki mungil itu tidak lagi ‘laku’.

Khawatir tidak akan men­dapatkan suami, bibi dan pamannya menikahkannya pada usia 17 tahun, dengan anak laki-laki dari keluarga Shangguan, sebuah keluarga pandai besi. Lu masuk ke kawah malapetaka yang lain lagi. “Demi memuaskan keingi­nan keluarga suaminya yang kejam untuk memiliki keturu­nan laki-laki, dia melahirkan sembilan anak—tak satu pun berasal dari benih suaminya yang mandul,” tulis penerbit Serambi di sampul belakang buku ini.

Dia ‘dibebaskan’ oleh invasi Jepang ke China. Suaminya yang kejam dan ayah mer­tuanya tewas dibantai militer Jepang. Namun, kedatangan Jepang untuk ‘membebaskan’ dirinya juga harus dibayar mahal. Di tengah kelaparan yang melanda China akibat politik imperialis Jepang , demi untuk tetap bertahan hidup, Lu menjual dua anak perem­puannya ke pasar gelap. Seorang lagi menjadi pelacur dan tak pernah kembali. Sementara ibu mertuanya menjadi gila.

Perjalanan sejarah telah melemparkan keluarga itu ke dalam prahara yang seakan tak pernah sudah. Anak perempuan pertama Lu kawin dengan seorang komandan militer Jepang bernama Sha Yueliang. Kakak kedua kawin dengan kamerad komunis dari Divisi Penghancur bernama Lu Liren yang terlibat aktif ketika Revolusi Agraria yang dice­tuskan pemimpin Mao me­landa seluruh China. Sementara kakak ketiga dipersunting Sima Lu, bangsawan pemilik tanah, pemimpin Korps Restitusi Tuan Tanah kota Gaomi Timur Laut paska Jepang menyerah. Kakak keempat kawin dengan seorang prajurit penerbang Amerika bernama Babbit.

Secara semiotika sosial, suami-suami dari anak-anak perempuan dari keluarga Shangguan itu diidentifikasi dalam sejarah China sebagai penguasa-penguasa yang ‘me­nga­wini’ negeri tirai bambu itu. Sima Lu diidentifikasi sebagai prototipe dari Cheng Kai Sek yang menginginkan China menjadi negara yang liberal yang membuka diri kepada Amerika; Sha Yueliang bagian dari orang-orang China yang membelot ketika Jepang me­ngu­asai daerah itu; sementara Lu Liren diidentifikasi sebagai kelompok Mao Zedong yang mencita-citakan masyarakat sosialis dengan melenyapkan seluruh bangsawan pemilik tanah, termasuk mengusir Babbit si Amerika sebagai lambang dari kapitalis-impe­rialis.

Dan Lu, sang ibu, diseret ke tengah prahara itu tanpa bisa menolaknya. Anak-anak perempuannya, mengikuti suami-suami mereka, berperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan atas kota mereka. Ketika seseorang di antara mereka merebut kekuasaan, yang lain menjadi pelarian atau tawanan. Begitu sebaliknya. Sementara anak-anak mereka, yang tak tahu-menahu kisruh politik diserahkan kepada Lu untuk membesarkannya. Sang nenek-lah yang mempertahan­kan mereka dari usaha pembu­nuhan, kelaparan akibat perang, atau bencana politik. Dia berada di tengah pertarungan politik anak-anaknya sendiri.

Ketika Partai Komunis mengambil-alih kekuasaan dari Partai Nasional, sebuah peme­rintahan yang lebih otoriter terbentuk. Eksekusi mati terhadap kaum reaksioner (sebutan untuk mereka yang menentang kekuasaan komu­nis) dengan gampang dilaku­kan. Lu dan keluarganya tidak luput dari itu. Mereka dianggap terlibat menyembunyikan Sima Ku, buronan paling dicari negara masa itu. Lu yang berkaki kecil dengan heroik mempertahankan anak-anak dan cucu-cucunya dari ancaman pembantaian.

Aku si pencerita dalam novel ini adalah satu-satunya anak laki-laki Lu—si bungsu yang manja, hasil perseling­kuhannya dengan seorang pastor. Jintong, begitu nama bocah itu, kecanduan menyusu bahkan hingga usia 11 tahun. Dari kaca mata bocah inilah sejarah keluarga itu diurai; kisah heroik Lu, sang ibu, mempertaruhkan nyawa demi kebahagiaan anak-anak dan cucu-cucunya di tengah sapuan badai politik dituturkan.

Dari tuturan Jintong terli­hat, seakan-akan, tidak ada batas antara yang realis dan magis. Keduanya berjumpalitan satu dengan yang lain. Penga­rang novel ini, Mo Yan, dibe­sarkan dalam tradisi sastra realisme-sosialis. Namun karya­nya ini diakui banyak kritikus lebih beraroma realisme-magis. Di dalamnya, fantasi dan komedi, kisah supranatural dan kritik sosial, bercampur aduk. Mitologi-mitologi China klasik hingga modern diselap-selip­kannya di antara yang faktual.

Dari tuturan Jintong pula, kekejaman negara di bawah kamerad-kamerad komunis terhadap rakyat dibeberkan dengan ironis. Pembantaian yang dilegalisasikan negara, dan pembungkaman hak-hak yang tidak ada hentinya terhadap mereka yang dianggap oposan diceritakan dengan telanjang. Wajar saja jika novel ini dan karya-karya Mo Yan lain adalah “karya-karya yang paling sering dilarang beredar” oleh peme­rintahnya sendiri.

Bagi saya, tidak membaca buku ini sama ruginya dengan tidak membaca, misalnya, Seratus Tahun Kesunyian Gar­cia Marquez atau My Name is Red Orhan Pamuk. Ken­zaburo Oe tentang Mo Yan dalam endosment buku ini menulis, “Saya akan memilih Mo Yan sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra jika saya diminta menjadi juri.” Selamat membaca!

*) Manager Litbang Padang Membaca