Menguntai Kata di Tengah Keramaian

Rayni Massardi menuangkan keresahannya lewat cerpen dan esai.
Dwi Fitria
Jurnal Nasional, 20 Juli 2008

TENGAH Juni lalu, di Jakarta, Rayni Massardi meluncurkan buku kumpulan cerpen berjuluk I Don’t Care bersamaan dengan peluncuran novel D.I.A Cinta dan Presiden karya sang suami, Noorca Massardi, di tempat yang sama.

Buku yang menghimpun 12 cerpen ini berisi kisah hidup manusia urban dan hal-hal kecil yang cenderung dianggap remeh-temeh tetapi sebenarnya amat akrab dalam kehidupan manusia sibuk di kota-kota besar. Remeh sebagaimana mengatasi kesendirian. Sendiri yang menurut Rayni merupakan sebuah hal mutlak dan tak perlu dikhawatirkan atau dianggap sebagai sesuatu yang aneh.

Sikap memandang kesendirian ini ditegaskan lagi pada sebuah tulisan kecil berjudul Akhir yang ia cantumkan di awal bukunya. “Sebenarnya hidup itu disiapkan untuk diri sendirian. Kita kan lahir sendiri, kemudian ‘berjuang’ agar hidup…seterusnya pelbagai kepanikan, kegembiraan, kesulitan, keenakan…sampai pada suatu saat kitapun akan sendiri lagi. Menjelang ajal. Toh setiap manusia akan mati. Jadi bersiaplah kita karena kelak saat akan menghadap maut sendiri juga,” tulis Rayni.

Buku berjudul I don’t Care adalah buku kelima Rayni. Sebelumnya, ia menelurkan dua buah kumpulan cerpen berjudul Kumpulan Istri Model Baru (1990) dan Pembunuh (2005). Selain itu, dia juga membuat kumpulan esai 1.655: Tak Ada Rahasia dalam Hidup Saya yang ia tulis saat mencalonkan diri menjadi calon legislatif dan Hidup Enggak Enak itu Enak!, sebuah kumpulan pemikiran yang ia terbitkan sendiri.

“Saya amat suka menuangkan apa yang saya rasakan, oleh karena itulah saya lebih memilih menulis cerpen atau esai, karena pemikiran saya bisa langsung saya curahkan. Selain itu saya memang tidak terlalu menyukai cerita panjang, entah mengapa agak sulit bagi saya untuk membuat cerita demikian.”

Spontanitas adalah satu kata yang menurutnya sendiri tak bisa dilepaskan dari karya-karyanya. Rayni tidak pernah merencanakan secara khusus ingin menulis apa. Kejadian di depan mata yang menggugahnya jadi salah satu sumber inspirasi yang cukup kaya. Tengok saja judul-judul cerpen dalam I don’t Care, mulai Ariel Peterpan, Tart Mocca, hingga Pergi atau Mati, semuanya lekat dalam keseharian manusia urban.

“Menulis adalah semacam refleksi pemikiran saya. Saya tak peduli diterbitkan atau tidak, tapi jika harus dikeluarkan itulah yang saya lakukan. Saya mengeluarkan keresahan, uneg-uneg, serta kegelisahan lewat cerpen-cerpen saya.”

Buku ini adalah cara Rayni menyampaikan pandangannya. Di dalamnya terselip bagian-bagian yang menunjukkan betapa ia adalah seorang yang amat peduli akan hak individu untuk berekpresi. “Yang saya persoalkan justru hak-hak yang sederhana saja, semisal hak untuk berpenampilan sesuai keinginan seseorang, bukan hak berpolitik atau memilih presiden.”

***

Dua kumpulan cerpen sebelumnya adalah hasil kompilasi karya-karya Rayni yang pernah dimuat berbagai media, sementara untuk I don’t Care, ia khusus menulis 12 cerpen tersebut dan selesai dalam waktu enam bulan. Bisa begitu cepat menuliskannnya, karena beberapa adalah ide-ide lamanya yang belum sempat ia selesaikan.

Berbeda dengan suaminya, Noorca, Rayni tak perlu menyepi untuk menulis. Ia justru merasa nyaman menulis di tengah keramaian. “Laptop tua saya selalu saya bawa ke mana-mana, sehingga terbetik ide untuk menulis, maka saya bisa langsung mencurahkannya.” Cafe atau restoran adalah tempat yang ideal, “Selama ada steker listrik di sana, sebab baterai laptop saya sudah benar-benar soak.”

Meski menyukai keramaian, Rayni Massardi sendiri merasa ia orang yang amat soliter dan independen. “Setiap hari meski harus berurusan dengan banyak orang, saya malah lebih menikmati sendiri. Orang boleh ramai, tapi saya tetap merasa sendiri.”

Saat I Don’t Care selesai sebenarnya Rayni belum tahu penerbit mana yang bersedia menerbitkan kumpulan cerpennya itu. “Saya sempat menawarkannya kepada sebuah penerbit, tapi tak ada respon. Kali kedua saya mencoba menawarkannya kepada Gramedia. Saya pikir, yah jika sampai ditolak, saya akan mencari uang untuk menerbitkannya sendiri. Tapi syukurlah, baru dua hari saya kirimkan, malah pihak Gramedia malah serius mengejar saya.”

Keluarga memberi dukungan penuh dalam proses pembuatan kumpulan cerpennya ini dengan membiarkan Rayni larut sendiri dalam proses kreatifnya. “Biasanya saya baru menyuruh Noorca membaca naskah setelah saya merasa tulisan saya benar-benar rapi. Memeriksanya pun lebih ke masalah tata bahasa, karena memang bahasaku berantakan. Tapi ia selalu membiarkan tulisanku apa adanya. Biasanya begitulah ia memeriksa tulisan saya.”

Selain menulis cerpen, Rayni juga dikenal sebagai organizer promosi film-film yang akan diputar Studio 21. Saban minggu dia berurusan dengan promosi film, termasuk mengadakan press screening film-film yang akan tayang di Studio 21.

“Yah promosi film Studio 21 harus ditangani dengan serius, karena memang di sinilah ujung tombaknya, jadi sebetulnya sih saya tidak sibuk-sibuk amat.”

Rayni juga berkiprah di salah satu partai politik, meskipun menurutnya ini sedikit bertentangan dengan sifatnya yang cenderung lebih menyukai kesendirian, karena tetap ada idealisme untuk menjadikan kondisi masyarakat lebih baik.

“Namun pada kenyataannya ini agak susah untuk direalisasikan. Setidaknya, saya masuk dan sudah lebih mengerti tentang keadaan, saya berbuat sebisa saya saja. Sebab saya tidak bisa berdemo atau melakukan misi penyelamatan yang lebih besar. Masuk partai setidaknya membuat saya melek melihat keadaan. Makanya saya memutuskan untuk membuat cerpen saja.”

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/07/pesona-menguntai-kata-di-tengah.html