Paradigma Baru Majalah Sagang

Hary B Kori’un
Riau Pos, 30 Jan 2011

TEROBOSAN baru dilakukan Majalah Budaya Sagang. Memasuki usia tahun ke-13, Sagang melakukan terobosan dalam beberapa hal. Yang pertama adalah perubahan desain sampul dan isi, yang sudah dilakukan sejak edisi Oktober 2010 (N0 147). Ada perbedaan signifikan dibanding edisi-edisi sebelumnya dalam hal tata letak, termasuk pemilihan font (jenis huruf). Jika sebelumnya memakai huruf tradisional dan standar, yakni Time News Roman, kini huruf Georgia yang dipakai. Jenis huruf ini belakangan menjadi salah satu pilihan banyak penerbit karena terkesan lebih “jantan” namun lentur dengan spesifikasi pada penulisan bentuk angka (1, 2, 3 dan seterusnya). Baik body text maupun judul.

Kemudian, dari sisi tata letak (layout) juga terjadi perubahan (perbaikan) yang lumayan. Jika selama ini cenderung konvensional, Sagang mulai berani bermain dengan tata letak dan tidak terpaku pada satu ide yang sama. Terobosan dari sisi ini paling tidak telah memperlihatkan bahwa Sagang ingin terus melakukan perbaikan, baik dari sisi konten (isi) maupun penampilan.

Yang paling revolusioner adalah perubahan dari sisi distribusi. Selama ini, Sagang didistribusikan ke toko buku atau pengecer majalah dan koran di hampir semua daerah di Riau. Sistem distribusi seperti ini ternyata kurang menarik minat para peminat sastra dan budaya, baik itu budayawan atau sastrawan sendiri. Tidak jelas apakah ini persoalan majalah ini kurang menarik bagi pembacanya, atau karena mereka yang selama ini berkutat dalam kebudayaan dan kesusasteraan tak peduli.

Maka, kini sistem distribusinya diubah total. Menurut Pemimpin Umum Sagang, Armawi KH, sejak Edisi 148 Januari 2011 ini, edisi hard copy (dalam bentuk majalah) dicetak terbatas. Antara 50 hingga 100 eksemplar saja. Jumlah itu dikirim kepada para penulis dan orang-orang yang memang memerlukan hard copy untuk berbagai kepentingannya.

Masyarakat nanti bisa mengakses edisi virtualnya dalam bentuk E-Magazine di website dengan alamat http://majalahsagang.com. Selain itu, pihak distribusi juga sedang mengumpulkan e-mail sekolah-sekolah yang ada di Riau untuk dikirim edisi virtual ini dan diberikan secara gratis. Masyarakat yang ingin mendapatkannya melalui e-mail dan cakram (CD), bisa menghubungi redaksi.

Model distribusi seperti ini, jelas Armawi, adalah untuk memudahkan masyarakat mendapatkan Sagang. Artinya, majalan ini akan sampai kepada pembaca yang benar-benar menginginkannya dan memerlukan bacaan budaya ini.

“Dari awal, sebenarnya penerbitan Majalah Sagang bukan untuk mencari laba. Jika untuk mendapatkan keuntungan, bukan majalah budaya yang kami buat. Ini adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab kami terhadap kebudayaan dan sastra di daerah ini,” jelas Armawi.

Dengan cara ini, siapapun bisa membaca Sagang dengan mudah dan cepat, di manapun berada. Jika selama ini edisi hard copy-nya hanya bisa didapat di Riau, maka mereka yang berada di Jawa dan bagian lainnya di Indonesia, atau luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan sebagainya, bisa mengaksesnya di website atau lewat e-mail. “Bagi kami yang penting isi majalah ini sampai ke pembacanya dengan cara yang mudah,” jelas Armawi lagi.

Meski akan dinikmati pembaca secara gratis, bukan berarti pengelolaan majalah budaya terlama yang terbit di Riau ini tidak serius. Justru Sagang akan dikelola dengan serius dengan konten yang lebih berkualitas. Beberapa wartawan Riau Pos Grup yang selama ini tunak dalam ranah kebudayaan juga ikut mengelola Sagang. Sebelum ini, nyaris hanya begawan sastra Riau, Hasan Junus (pemimpin redaksi), yang dibantu oleh Zuarman Ahmad dan Dantje S Moes yang mengelola redaksinya. Kini, selain Armawi KH, beberapa sastrawan/budayawan seperti Sutrianto, Kazzaini Ks, Murparsaulian dan Fedli Azis juga ikut bekerja keras untuk memperbaiki konten.

“Kami malah lebih serius mengelolanya. Bukan berarti sebelum ini kurang serius,” ungkap Zuarman Ahmad yang kini menjadi wakil pemimpin redaksi.

Di luar itu, Sagang juga menjadi pendukung iven sastra Asia, yakni ASEAN-Korea Poets Literature Festival yang akhir 2011 ini akan diadakan di Pekanbaru. Tahun 2010 lalu, penyelenggaraan pertama dilakukan di Korea Selatan. Helatan ini dibawa ke Riau atas prakarsa perintis Sagang, Rida K Liamsi, yang bersama sastrawan Nirwan Dewanto diundang ke Korea Selatan, November 2010 lalu.

Untuk itu, di setiap edisinya nanti, Sagang akan memuat puisi-puisi penyair dari berbagai negara ASEAN dan Korea Selatan yang selain akan dimuat dalam versi bahasa aslinya, juga dalam bahasa Inggris dan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Di Edisi Januari 2011 ini, Sagang telah memuat puisi-puisi Mai Van Phan (Vietnam) dan Muhammad Haji Saleh (Malaysia), dua penyair ASEAN yang juga diundang ke ASEAN-Korea Poets Literature Festival pertama di Korea Selatan.

Armawi berharap, perubahan-perubahan yang dilakukan ini selain semakin memudahkan pembaca untuk mendapatkan Majalah Sagang, juga menjadi pelecut untuk terus memperbaiki isi dan tampilan.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/01/paradigma-baru-majalah-sagang.html