Puisi Gelap dan Multi Tafsir Pembaca

Ribut Wijoto
Radar Surabaya, 20 Nov 2011

Adalah sah mengapreasi karya teman-teman satu komunitas dan dipublikasikan ke media massa. Apresiasi yang bagus bakal memperkaya kesusastraan Indonesia. Kegiatan ini menjadi lebih penting karena situasi sastra Indonesia yang semakin jauh dari ranah apresiasi. Esai yang lebih subur justru tentang polemik. Hanya saja, apresiasi tersebut tentu ada batasnya. Jangan sampai apreasiasi disalahgunakan untuk menyerang karya komunitas lain. Apalagi dengan penjelasan dan pemaparan yang sangat minimalis. Kesan yang muncul menjadi sebatas menghujat.

Subagio Sastrowardoyo, secara personal, pernah sangat kecewa dengan WS Rendra. Sebagai pelampiasan, Subagio membahas puisi-puisi Rendra dan membandingkannya dengankarya Federico Garcia Lorca. Di situ dibuktikan dengan panjang lebar, puisi Rendra tidaklah membawa pembaharuan tetapi sebatas mengadopsi puisi Lorca. Menurut saya, walau ditulis dengan emosi tinggi, tulisan Subagio tetap bagus dan menjaga obyektivitas. Tidak asal menghujat.

Ketika menulis esai berjudul ‘Inilah Lima Penyair Terbaik Jatim’ (Radar Surabaya, 23 Oktober 2011), saya sudah yakin bahwa tulisan tersebut bakal mendapat tanggapan. Saya memang sengaja mengambil risiko. Menderetkan 5 penyair terbaik di Jatim. Obsesi saya cukup sederhana. Akan ada orang lain yang menanggapi dengan menyodorkan 5 penyair terbaik lain dengan kriteria berbeda. Atau, ada tulisan lain yang memberi sanggahan dengan penjelasan masuk akal. Adanya tanggapan ataupun sanggahan bakal memicu diskusi wacana yang menarik.

Obsesi saya ternyata terwujud. Ada tanggapan dari Saudara Umar Fauzi Ballah melalui tulisan berjudul ‘Ketokohan dan Strategi Proses Kreatif’ (Radar Surabaya, 6 November 2011). Sayangnya, Fauzi terlalu menonjolkan karya teman-teman sekomunitasnya (Alek Subairi, Muttaqin, Mardi Luhung) dan menyerang karya komunitas lain (Indra Tjahyadi, F Aziz Manna, Dheny Jatmiko, Denny Tri Aryanti, W Haryanto, M Aris; yang notabene anggota ataupun alumni Teater Gapus). Padahal dalam tulisan saya, saya berusaha mengabaikan asal komunitas sebagai kriteria penilaian. Saya berusaha bersandar pada teks (puisi itu sendiri).

Tetapi tidak apa. Dengan mendapat tanggapan itu saja, saya sudah merasa tersanjung. Untuk itu, saya perlu melakukan semacam klarifikasi atau penjelasan atas justifikasi dari Umar Fauzi.

Pertama tentang tradisi puisi gelap. Di wilayah nasional, puisi gelap sangat melekat pada tradisi kepenyairan di Jawa Timur. Binhad Nurrohmad maupun Arif B Prasetya pun mengakuinya. Secara sederhana, puisi gelap bisa dipahami dalam dua jalur. Jalur kode bahasa estetik (baca: teknik) dan jalur tema. Puisi gelap memakai kode bahasa estetik yang berundak-undak. Ini bisa diandaikan berlawanan dengan puisi terang. Puisi gelap bersifat prismatis. Mengandung lapis-lapis makna.

Secara teknik, puisi Mardi Luhung dan puisi Muttaqin berwatak gelap. Itu karena makna bersifat tersirat. Ketika Mardi menulis puisi dengan mengambil obyek Bawean (antologi Buwun), obyek tersebut diolah menjadi metafor dan bukan lambang. Metafor bermakna luas dan lambang bermakna tunggal. Mardi mengambil Bawean, menyucikannya, mengkombinasikan dengan obyek lain, lantas direpresentasikan ulang. Sehingga, Bawean dalam puisi telah kehilangan kesehariannya. Dia menjadi Bawean’ (aksen). Begitu pula ketika Muttaqin menulis tentang hutan. Dia tidak sekadar memberitakan hutan namun mengubah ekosistem hutan menjadi metafor. Pemaknaannya pun meluas. Itulahsebabnya, secara teknik, puisi Mardi dan Muttaqin berwatak gelap.

Walau begitu, puisi kedua penyair tersebut tidak bisa serta merta disebut gelap. Ada satu syarat lagi yang tak terpenuhi. Puisi gelap hampir selalu mengusung tema kematian, chaos, dan kegagalan menjalani kehidupan harmoni. Tema-tema ini jarang digarap oleh Mardi dan Muttaqin. Tetapi, tema tersebut kental terasa pada puisi Indra Tjahyadi.

Kedua, hubungan antara puisi dengan media massa. Persoalan ini sudah sering dibahas. Pertanyaan selalu satu: apakah pemuatan di media massa merupakan penentu parameter kesuksesan penyair? Jawaban saya sama seperti orang-orang lain. Bahwa, media massa punya peran besar dalam melihat kepenyairan seseorang. Meski begitu, pemuatan di media massa bukanlah satu-satunya parameter. Mengapa? Banyak puisi di media massa yang kualitasnya tidak terjaga. Selebihnya, ada beberapa penyair yang lebih suka mempublikasikan karyanya dalam bentuk buku (antologi) tanpa terlebih dulu mengirimkannya ke media massa. Tetapi khusus untuk karya Alek Subairi, seperti dicontohkan oleh Umar Fauzi, saya menilai dia belum layak masuk dalam daftar 5 penyair terbaik Jawa Timur. Kalau 100 penyair terbaik Jatim, bisa jadi, Alek termasuk salah satunya. Saya beberapa kali membaca puisi Alek dan menilai karyanya sudah bagus namun belum terlalu istimewa.

Ketiga perihal perbandingan puisi Indra Tjahyadi dengan puisi Acep Zamzam Noor. Ini sebenarnya soal semburan produksi tanda dalam puisi. Dalam tulisan terdahulu, produksi tanda ini sebenarnya sudah pernah saya bahas. Lihatlah kutipan puisi “Katastrope” dari Indra berikut: Ziarah atas burung-burung, cahaya dari rasa sakit yang bertumpuk, yang baru digali dari setiap kubur, seperti ikalan-ikalan topan, atau impian seribu gadis, dan pelacur. Puisi “Katastrope” dari antologi Manifesto Surrealisme (FS3LP Surabaya, 2002). Dirunut dari padanannya dengan dunia yang dibangun, puisi “Katastrope” sangat tidak sesuai dengan kenyataan empirik. Segalanya datang dan pergi tanpa bisa dikenali. Satu-satunya fakta yang tersisa dalam puisi Indra Tjahyadi ialah fakta bahasa. Ditinjau dari segi kategori bahasa Indonesia, puisi tersebut benar; larik-larik yang menggunakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata sandang. Secara fungsi bahasa Indonesia, puisi Indra Tjahyadi tidak memenuhi persyaratan minimal sebuah kalimat, subyek + predikat; larik-lariknya hanya berposisi sebagai subyek, predikat tidak ada. Ditinjau dari segi peran, puisi “Katastrope” juga tidak sesuai dengan tindak bahasa yang benar, pelaku dan penyertanya tidak ada. Hanya saja, seluruh larik-lariknya menggunakan kata dari bahasa Indonesia. Segi kategori-nya pun benar. Meski tidak menemukan paduannya dalam realitas, dunia dalam puisi Indra Tjahyadi bisa dibayangkan oleh pembaca.

Teknik ini menempatkan puisi “Katastrope” dalam wilayah fantasi, puisi fantasi. Puisi yang hanya bersandar pada fakta bahasa, tanpa acuan realitas, atau “puisi membentuk realitas” tersendiri. Realitas puisi yang tidak terlalu berurusan dengan realitas empirik. Saya melihat, pola puitik yang dikembangkan Indra Tjahyadi ini tidak pernah ada di era 1970-1980-an. Teknik ini juga tidak terlalu menjadi pilihan para penyair Jatim. Tetapi, Acep Zamzam Noor menggunakan juga. Lihat saja puisi-puisi Acep dalam antologi bertitel Di Atas Umbria.

Keempat perihal stagnasi kepenyairan. Umar Fauzi mengklaim bahwa Dheny Jatmiko, M. Aris, W Haryanto, Deny Tri Aryanti berguguran. Kalau Umar Fauzi jeli mengamati atau bertanya pada yang bersangkutan, para penyair tersebut tidak gugur. Mereka masih tetap menulis puisi. Karya-karyanya juga tetap disiarkan di media massa. Mereka juga menyiapkan dan menerbitkan buku puisi.

Begitulah, berbeda kepala bisa saja berbeda sudut pandang pula. Sastra adalah wilayah multi tafsir. Sepuluh orang membaca satu puisi bisa jadi menghasilkan sepuluh penafsiran yang berbeda. Itu artinya, tulisan ini juga hanya satu tafsir dari sekian ribu tafsir yang bisa digali dari puisi dan kepenyairan Jawa Timur. Secara pribadi, saya berterima kasih kepada Umar Fauzi yang telah memberi tanggapan kritis atas tulisan saya.

_________Surabaya, 2011
Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/ribut-wijoto/puisi-gelap-dan-multi-tafsir-pembaca/10150381415589024?ref=notif&notif_t=note_reply