Puisi-Puisi Hudan Hidayat

Republika, 26 Sep 1999
Akulah yang Kau Panggil Malam itu

Akulah yang kau panggil malam itu, ketika hujan menderu?
Memang kulihat kau di sana, dengan payung di tangan.
Tapi apa yang di tangan kananmu?
Anak kita?
aku tak percaya:
Bukankah ia telah mati, pagi tadi?
***

Apa yang Akan Kau Katakan tentang Mereka yang Mati Kemarin Malam

Apa yang akan kau katakan tentang mereka yang mati kemarin malam?Tolol? Sia-sia? Atau kasihan keluarganya?Jangan begitu, kawan.Bukankah mereka mati berjuang?Bukankah mati adalah resiko perjuangan?

Memang banyak resiko lain.
Misalnya mereka yang dikucilkan atau yang bekerja di ladang-ladang.
Tapi bagi yang memilih mati, ketimbang menyerah, haruslah dihormati.

Sebab itu hak.
Itu pilihan.
Dan tak semua orang berani mengambilnya.
Hanya mereka yang terpilih…

Kaum romantik cenderung bermain-main dengan kata dan perasaan mereka.
Bukan berarti mereka tidak berbuat.
Mereka berbuat tapi tidak pernah merubah keadaan.
Atau setidaknya, keadaan akan berubah dalam waktu yang sangat lama.
Sedemikian lama sehingga banyak orang tidak sabar.
Mereka tidak kuat lagi menunggu.
Dan yang tidak kuat lagi menunggu itu adalah anak-anak muda,
yang mati dan sendiri kemarin malam itu.

Mayat anak-anak muda yang mati dan sendiri kemarin malam itu,
ditemukan oleh pemulung yang sedang mengais-ngais rejeki,
walau miskin, pemulung ini masih memiliki hati nurani.

Dipanggilnya kawan-kawannya
untuk menguburkan mayat-mayat dengan luka yang dalam itu dengan layak.

Apa yang akan kau katakan tentang mereka yang mati kemarin malam?
Tolol? Sia-sia?
Tidak!
Mereka pergi dengan gembira.

Mereka pergi dengan kebanggaan terselip di dadanya.
Sementara kita yang tinggal sibuk berhitung dengan diri sendiri:
apakah saya berani?
apakah saya berani?
***

Maafkan Anakmu, Ibu

Kampung dunia kampung akhirat datang padaku silih berganti
aku ingin memilih salah satunya
maka kudekap dunia
”Dapat!” kataku
tapi ia berkelit menyeringai seperti anjing
Aku jadi takut
ingin kembali
tapi ke mana jalan asalku tadi?

Aku mungkin dari Timur
maka aku ke timur
tapi Timur menjauh
Mungkin kau dari barat
aku pun ke Barat
tapi di sana aku tak lihat apa-apa
hanya gumpalan daging tanpa jiwa
seperti anjing yang mati pagi tadi
Saat itu aku butuh ibu
tapi malu karena dulu pernah berkata:
tak butuh siapa-siapa

”Oh begitu rupanya!”

bisik ibu sambil senyum, sedih

”Tapi aku kan ibumu walau bagaimana kita pernah bersama.”
”Tidak!” kataku
”Mengapa?”
”Dulu mungkin tapi kini aku ingin sendiri mereguk dunia sepuasnya.”

Maka sore itu menjelang malam aku terkapar di trotoar sambil berbisik:
maafkan anakmu, ibu.
***

Maafkan Ayah, yang Tak Dapat Membelikanmu Susu, Anakku

Maafkan ayah yang tak dapat membelikanmu susu,
anakku kau tahu kan,
kita tak ada uang
Tadi ayah ke tuan Hasan dan tuan Hasan berkata:

uang tak ada
perusahaan rugi melulukalian sih, tiada capai demonstrasi
Maafkan ayah yang tak dapat membelikanmu susu,
anakku karena barang-barang telah terjualhanya foto ibumu yang sisa
dan bila itu kita jual pula,
ke mana kita memandang,
bila datang sepi?

Dan sepi memang datang malam ini
Maka lihatlah:
seorang lelaki dewasa,
dengan anaknya,
bergumam lirih:

mama, mengapa tinggalkan kami.
***

Mati adalah Istirahat yang Panjang

Mati adalah istirahat yang panjang
suatu hari entah di mana kita kan mengalami

Seorang lelaki tua datang
janggutnya putih dan abu-abu
matanya tajam menembus kalbu
bibirnya tiada senyum tanpa bicara,
misalnya: sudah siap?
tapi langsung mencabut
macam pencuri mencabut ubi di halaman tetangga
dan kau tak sempat berkata:
tolong…tidak!
bahkan kau tak sempat berpikir akan hal-hal lain

Mati adalah istirahat yang panjang
tiba-tiba kau ada di alam sana

Man Robbuka,
katanya Apa?
Man tetangga saya?

Dia sih telah mati pagi tadi
Tapi tentu itu hanya khayalmu
Sebab lihatlah:
otak mata lidah tangan dan kakimu telah bicara tanpa terduga

Man Robbuka?
Ampun…

Saya tak kenal sebab kaki saya selalu ke kiri
Maka palu jatuh di atas kepala selamanya.
***

Seorang Anak Mencari Ibunya

Seorang anak mencari ibunya.
Ibu, kata anak itu, di mana kamu?

Malam berpacu.
Angin dingin.
Kabut bekuasa.
Agak berjauhan,
di balik bilik,
dengan bir di tangan,
anak ibu itu mengangkang:
Mari arungi dunia, bersama dusta.
Satu setan melayang, bersama angin.
Menjatuhkan kabar ke anak itu,
di mana gerangan sang ibu.
Anak itu beringsut.
Hatinya menyala.
Tangannya menggenggam belati.
Ia berjalan.
Ia terus berjalan.
Jalan sepi.
Sepi sendiri, memancing dalam hati.
Lalu, dengan paksa, pintu terbuka:
Wanita dan lelaki bugil itu, di puncak nafsu, mendengus takut.
Meraih selimut.
Anakku…
Ibu…
Anu, ayahmu…
Aku mengerti.
Kalem, kata anak itu,
membenamkan belati, berkali-kali.
***

Seorang Prajurit Berkata pada Pistolnya

Seorang prajurit berkata pada pistolnya.
”Kita jangan tembak orang lagi, tol.”
Pistol menjawab:
”Mengapa? Bukankah enak melihat mereka meregang nyawa?”
”Ya, tapi saya sudah tak yakin lagi, apa benar orang yang kita tembak itu, bersalah.”
”Mengapa jadi ragu-ragu begitu? Pilihannya dia atau kita!”
”Ya. Tapi, tak tahulah. Aku masih juga tak enak. Seperti diburu-buru.”
”Barangkali kau hanya butuh istirahat.
Barangkali kau telah terlalu banyak menarikku.
Sekarang biarkan aku menarik diriku sendiri.”

___________
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=196951590333714