Sastra Lisan Adat Lio

Marlin Bato
http://www.kompasiana.com/watuneso

Sastra Lisan adalah ungkapan jiwa dalam wujud bahasa secara langsung melalui percakapan. Dalam khazanah kesusastraan suku Lio di Flores, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui relasi lajur sejarah yang panjang. Di dalam tradisi masyarakat Lio, secara simultan meniscayakan terjadinya dialektika budaya yang saling mengisi dan melengkapi. Ekpresi estetik tradisi sastra lisan adat Lio dalam bentuk mantra, tembang, cerita rakyat, hikayat-hikayat, dongeng atau pun syair pantun dan lain-lain yang berkembang menjadi serangkaian manifestasi dialektika dari berbagai unsur budaya seperti peradaban melayu kuno, peradaban bangsa Hindia, peradaban bangsa Portugis dan kolonial Belanda yang tentunya turut mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya kesusastraan dalam masyarakat Lio. Saat ini juga arus modernisasi dan globalisasi semakin deras mengalir mengubah pola pikir dan kehidupan masyarakat Lio, maka saat ini, hal yang sangat dirasakan adalah “mengecilnya” peranan sastra lisan di tengah kehidupan ata Lio (orang Lio). Lalu dibalik itu tentunya bahasa dan sastra Lio perlahan terancam punah . Tak berlebihan kemudian akan menghilangnya seperangkat sistem kebudayaan lokal yang dipunyai oleh sebuah “keluarga” (etnik) Lio yang ada di Flores. Sebagai suku terbesar di pulau Flores, tentunya Ata Lio (orang Lio) memiliki sejumlah sastra lisan yang disebut Sua, Bhea, Sodha, Nungunange, Nangi, Senaneke dan lain sebagainya.

1. “Sua” adalah suatu ungkapan yang menggunakan bahasa lazim sehari-hari, baik diucapkan secara langsung maupun melalui sesajen yang dipersembahkan kepada para leluhur. Hingga saat ini ‘Sua’ masih kerap dilakukan pada ritual adat orang Lio. Kendati orang Lio pada umumnya sudah banyak yang mengenal agama yang dibawahkan oleh bangsa Portugis dan Belanda, namun ata Lio (orang Lio) masih berpegang teguh pada kepercayaan lokal yang diturunkan oleh adat sehingga penyembahan yang bersifat animisme dan dinamisme masih juga dapat ditemui hampir di seluruh komunitas ata Lio. Oleh karena itu, dalam setiap penyembahan yang dilakukan tentu selalu diselingi ungkapan adat yang disebut ‘Sua’. Dari beberapa sumber ‘Sua’, terdiri dari beberapa macam yaitu;

– . Suasasa: Dalam perspektif masyarakat Lio, Suasasa adalah Ungkapan bahasa khiasan sebagai bentuk permohonan untuk mencapai maksud tertentu. Misalnya pemohonan untuk melindungi diri dari godaan atau gangguan orang-orang sekitar atau dari roh-roh jahat.

Contoh-contoh Suasasa adalah sebagai berikut;

Sere pe watu ae sabu,
Ture Jegha Mage Nggebha,
Nggoro rusa Detu kua,
Wewa Loghe Nusa Toe,
Sere Kuma,
Mage oto watu mopo,
Mai ka bou pesa mondo gha ina,
Nira tolo sai ana mamo miu,
We’e ana mamo muri bheri,
Mbana leka jala eo mapa,
Leta leka wolo eo lera,
Suru sai gepa gena,
Leka tana keta watu ngga.

Ungkapan ini dimaksudkan untuk memanggil roh-roh yang bersemayam di batu, air, bukit, pohon, tugu batu dilaut dan lain-lain supaya berkumpul serta menyantap sesajen yang dipersembahkan. Hal ini dilakukan tentu dengan pengharapan untuk melindungi diri agar terhindar dari bahaya dan godaan serta dianugerahi rejeki yang melimpah di tanah (tempat tinggal) yang sejuk dan nyaman.

-. Suasomba dalam bahasa Lio kerap disebut juga dengan kata ‘Oasomba’ atau juga disebut Oapenda. Suasomba/Oasomba/oapenda adalah Suatu ungkapan yang mengandung kutukan dan sumpah serapa kepada orang – orang yang dianggap bersalah, supaya kehilangan kekuasaan dan cepat atau lambat segera lenyap dari muka bumi. Suasomba atau Oasomba biasanya diucapkan secara spontan dan langsung oleh pemohonnya. Kendati demikian Suasomba atau Oasomba juga kerap dilakukan melaui ritual sesajen kepada Leluhur di batu pemujaan dll.

Contoh-contoh Suasomba/Oasomba adalah:
– Ungkapan: ‘Mbana-mbana mata, Lora-lora bopa’. Sepenggal ungkapan ini mempunyai makna kutukan sangat dasyat yang dimaksudkan agar orang yang dikutuk tersebut cepat lenyap dari muka bumi.
– Ungkapan: “Tebo ko gole do keli, gela moke ko di gole do keli. Lo ko lepo do wolo, kapa ngebo ko di lepo do wolo. Ina menga tana neku eo tema, ina menga watu neku eo moda”. Kalimat ini mengandung makna peralihan kekuasaan dari si A kepada si B karena berbagai alasan mendasar sehingga si A dianggap sudah tidak mampu mempertahankan eksistensinya. Kalimat ini biasanya diungkapkan oleh orang Lio setelah memenangkan peperangan.

2. “Bhea” Adalah Ungkapan untuk membangkitkan spirit yang menujukan kebesaran dan keperkasaan seseorang. Bhea biasanya diucapkan oleh ketua adat pada saat ritual adat atau siapapun pada saat sebelum dan sesudah melakukan peperangan. Contoh:
– Bhea babo Woda Boko dari Lise: “Aku Woda Boko, Kamba dui nia longgo”. Ungkapan ini sebagai syair kebanggaan untuk menunjukan kesaktian supaya siapapun yang mendengarnya akan gentar.
– Bhea babo Marilonga dari Watunggere: “Aku Marilonga eo topo doga, Tu’a ngere Su’a, Maku ngere watu, Te iwa Le, Weru iwa Nggenggu, Ae bere iwa sele”. Ungkapan ini berati Menggambarkan bahwa Mari Longa adalah Sosok yang sangat Kuat dan perkasa serta tidak mudah menyerah seperti halnya besi dan Batu yang tidak goyah walaupun ancaman datang bertubi – tubi bahkan badai menghadang sekalipun.
– Bhea babo Tani Du’a dari Lise: “Ndeto Peto Au Ila, Ndeto Pate Ndeto, Au Ila Poka Au”. Kalimat ini adalah Ungkapan yang menunjukan kebesaran dan keperkasaan.- Bhea babo Toda Wiwi Ria Dari Mbengu: “Aku Toda Wiwi Ria, Wolo pe ghale Aku tengu keku ka, Wolo pe gha Aku tengu tego ka”. Ungkapan ini mengandung makna kecerdikan dari babo Toda Wiwi Ria yang mengalah untuk sebuah kemenangan (Keselamatan).

3. Sodha
Sodha merupakan nyanyian yang memberi semangat atau spirit tarian adat Gawi dan dipimpin oleh seorang Pesodha (penyair). Sodha diiringi syair-syair yang mengangkat fakta kehidupan lingkungan sekitar dan nyanyian sejarah suku Lio serta ajaran moral (morality doctrine) yang dapat juga disebut kitab suci lisan adat Lio. Selain itu Sodha juga dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk ungkapan untuk mengkritisi pola kehidupan masyarakat dan mengingatkan agar tetap menghormati, melaksanakan norma-norma masyarakat sebagaimana diatur oleh adat. Berikut ini contoh sepenggal Sodha yang sering didengarkan hingga kini.

Oooo…lau ee, lau leka te’u meko mesu, lau hego mora medhu.
Oooo… lau ee, lau leka hale mbo’a mbole, lau kube raga dhoga.
Oooo… lau ee, lau leka ngana raga deke, lau ndere’ joru mere’.
Kau rubhu tedho ra, kami joka kau beu bewa,
ghawa leka pu’u su’a, ghawa leka puse tana, ghawa leka mila mera’.
Nu kau no’o rubu, lela sai no’o angi, bere kau no’o ae, mbawa sai no’o fata,
kau rubhu tedho ra, mera ghawa puse tana.

Jaji pore mena gomo ae hiwa ghale tau uli dole, re’e, weta gena meke seke nara roke kobe lima kepe kele.
Jaji nika menga kira kobe, to uli dole no’o ko’o fai mode, re’e nara gena TBC, weta gha napa ae lura bere.

Pada syair yang pertama diatas dimaksudkan sebagai penolak bala untuk menjauhkan penyakit serta roh-roh jahat yang sedang menghantui seseorang. Sedangkan syair kedua mengisahkan sepasang pria dan wanita yang sudah mengikrar janji akhirnya batal menikah pada hari yang telah ditentukan karena terjangkit TBC (tuberculosis)

4. Nungunange
Nungunange adalah dongeng yang menceritakan seputar cerita-cerita rakyat (Legend) dan tentang binatang (Fabel) ataupun cerita yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat (Mithe).
A. Contoh-contoh cerita rakyat (legend) masyarakat Lio misalnya;
– Tiwu nake deru (asal mula danau)
– Bobi No’o Nombi (asal mula padi) dan lain-lain.
B. Contoh-contoh dongeng tentang binatang (fabel) dalam masyarakat Lio misalnya;
– Watu no’o Wawi (Batu dengan Babi),
– Ro’a no’o Beku ( Monyet dengan Musang) dan lain – lain.
C. Contoh-contoh cerita yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat adalah;
– Koja kesu (Pohon kenari yang angker)
– Ata polo (Suanggi atau hantu jadi-jadian) dan lain sebagainya.

Adapun cerita tentang kenyataan kehidupan leluhur bersifat fiksi dengan memberikan petuah yang menyentuh nilai-nilai kehidupan paling dalam. Nungunange biasanya diceritakan oleh para orang tua kepada anak balita berupa cerita rekaan namun mengandung petuah sebagai nasihat agar sang anak taat kepada orang tua.

5. Ke/Nangi
Ke/Nangi dalam tradisi di Lio adalah suatu situasi ungkapan kesedihan melalui tangisan atas musibah yang menimpa seseorang, anggota keluarga, kerabat yang dicintai.
Ke/Nangi terdiri atas dua macam yaitu; Nanginore dan Nangi pa’a suri.

– Nanginore adalah Sebuah tangisan untuk mengungkapkan perasaan sedih namun tidak disertai syair kehidupan. Nanginore dapat terjadi pada saat ketika sedang kesakitan, kematian ataupun rasa haru dan lain-lain.

– Nangi pa’asuri adalah Sebuah tangisan yang menggugah hati dan dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain jika dilakukan dalam keadaan sunyi seperti tengah malam atau subuh. Dilantunkan dengan nada yang memiliki alur serta bahasa-bahasa adat yang dalam. Nangi Pa’asuri biasanya hanya dapat dilakukan pada saat kehilangan (kematian) seseorang anggota keluarga. Sehingga untuk mengenang amal baik orang yang meninggal tersebut, dilantunkan untaian syair nyanyian oleh ‘Ata Nangi’ (yang menangisi) untuk mengiringi kepergian arwah orang meninggal tersebut. Nangi Pa’asuri hanya dapat dilakukan para wanita tua dan hanya orang-orang tertentu saja seperti hal-nya ‘Ata Sodha” yang hanya dilakukan oleh kaum Pria.

Berikut ini contoh Nangi Pa’asuri;

Aeeeeeeee……Mu, Tia, Nandu, nara Leo, Ma aji lo’o Fera peke dowa miu no’o longgo.
Miu Holo lima esa mawe roa bowa beta, Fera bowa beta nia bopa leda.
Aeeeeeee…. Tiwa, Jose Fera nara miu walo mena Gana susa Fera gha gena bore baja. Jene kai ale tana Fera kau gena apa, Fera talu bala aku ndate raka.

Syair ini menjelaskan (hikayat) kisah hidup manusia setelah meninggal sehingga alur yang diceritakan bersifat nyata sesuai dengan perjalanan hidup manusia.

6. Sena neke
Sena neke merupakan salah satu sastra dalam bentuk Pantun yang bersifat fiksi dan non fiksi. Sena neke hingga kini masih dapat ditemui di setiap komunitas-komunitas suku Lio di Flores. Pengungkapan sena neke biasanya terjadi antara dua individu atau secara bersama-sama yang berbeda presepsi sehingga bahasa yang dilontarkan berupa sindiran dengan maksud sebagai penghinaan ataupun bersifat candaan seperti halnya pantun berbalas pantun.

Contoh Sena neke (sindiran) sebagai bentuk penghinaan:
-Bou mondo ngere ro’a loka. (berkumpul seperti kera/monyet besar)
-Nia ngere fara banga. (muka seperti arang)
-Wiwi so’o dea lea (Mulut besar)
-Gare tei ngere au moda loda (penipu ulung)

Contoh Sena neke (sindiran) yang bersifat guyonan dalam menyanjung seseorang:
-Weta eo jemu momo, rupa kau mbombe ngere boka rose. (seorang wanita cantik)
-Bego ga’i ngere weka kea (Bersukaria)

Selain penjelasan-penjelasan diatas, Sena neke juga dapat dilantukan melalui syair nyanyian seperti ‘Sodha’ namun harus berbalas pantun antara Ata sodha (penyair) dengan Ata gawi (penari gawi).

Dengan menyimak keragaman budaya yang dimiliki oleh orang Lio, penulis tentu bertanya-tanya dalam diri; Adakah Manusia-manusia yang mendiami berbagai wilayah komunitas, persekutuan atau (Clan) klen di Flores tengah (Suku Lio) merasa peduli dengan peradabannya sendiri ? Berbagai jenis sastra lisan yang mungkin saja belum dikenal luas oleh masyarakat Lio ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah atau mengatasi persoalan dalam masyarakat Lio sendiri. Apabila makna ungkapan-ungkapan di atas sungguh-sungguh dijiwai oleh penuturnya atau pendengarnya, maka ini dapat menjadi harapan agar mentalitas modernisasi dan globalisasi yang dianut oleh masyarakat dapat diubah. Nilai-nilai luhur yang masih relevan untuk zaman ini bertaburan di mana-mana laksana mutiara. Hanya insan yang tidak memahami nilai mutiara saja yang akan membiarkan barang berharga ini berceceran dan jatuh ke tangan orang lain.

Sastra lisan suku Lio sebagai bagian dari sastra daerah tetap relevan untuk masa kini dan masa depan karena mengandung nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu. Oleh karena itu, para pemilik sastra lisan dan pemerintah daerah maupun pusat diharapkan selalu bergandengan tangan dalam upaya pelestarian sastra lisan suku Lio, yang turut memberikan sumbangsih bagi perkembangan sastra daerah dan Indonesia. Sastra yang bersifat lisan pun akan melahirkan intan dan permata tak ternilai. Sesuatu harapan untuk melestarikan kekayaan istiadat akan menjadi hampa dan tentu tak akan pasti tanpa kepedulian masyarakat itu sendiri.

Sekian !!!!

*) Marlin Bato (Pemerhati Budaya)
Sumber Informasi Lisan:
Jhony Logho, Wenslaus Tani, Kornelis. W. Gatu
-Rekaman CD dan Tape decoder,
-Dokumen tertulis oleh; P. Paul Arndt. SVD
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/30/sastra-lisan-adat-lio/