UI akan Redefinisikan Sastra Dunia

MH Habib Shaleh
http://www.suaramerdeka.com/

Konsep Sastra dunia yang bersifat kanonikal dan mengasumsikan suatu standar cita rasa sastra universal, terus-menerus mengalami redefinisi. Apakah konsep “globalisasi dari bawah” yang mengakui estetika lokal dan genius lokal, mengubah pemahaman tentang konsep Sastra Dunia?

Hal itulah yang akan dibahas dalam seminar internasional “Redefinisi Konsep Sastra Dunia”, 19–20 Juli 2006, pukul 9.00—17.00 yang diselenggarakan Departemen Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

“Seminar ini akan mengangkat permasalahan batasan “Sastra Dunia” yang pertama kali diperkenalkan oleh Goethe,” demikian siaran pers Departemen Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Kamis (1/6).

Disebutkan, saat ini di Indonesia dan negara lain mulai muncul karya yang diciptakan dalam bahasa Inggris.Seminar ini akan mencoba menjawab pertanyaan di mana posisi karya semacam ini? Bagaimana fungsi penerjemahan dan pemakaian bahasa lokal dalam suatu proses terbentuknya Sastra Dunia? Apa peran lembaga sastra, penerbit, penjurian sastra, dan media massa di tingkat lokal dan globaldalam penentuan Sastra Dunia? Bagaimana sastra yang berkembang di Indonesia di lihat dalam konteks Sastra Dunia?

Seminar ini menghadirkan para pakar sastra bandingan dari berbagai negara yang membahas perkembangan terkini konsep Sastra Dunia. Para pembicara kunci dalam seminar tersebut: Prof. Dr. Budi Darma, Prof. Dr. Harry Aveling (Australia), Dr. Lily Rose Tope (Filipina), Prof. Dr. Mitsuyoshi Numano (Jepang), Nirwan Dewanto (Komunitas Utan Kayu), dan Dr. Tony Day (USA).

Pembicara lainnya adalah Prof. Dr. Apsanti Djoko Sujatno (UI), Dr. Étienne Naveau (Prancis), Hamed Habibzadeh, M.A. (Iran), Maria Emilia Irmler (Portugal), Mohammad Ali Salmani-Nodoushan, Ph.D. (Iran), Dr. Muhammad Zafar Iqbal, Ph.D. (Iran), Prof. Roger T. Bell (Inggris), Prof. Dr. Zubaidah Ibrahim Bell (Malaysia), serta Dr. Rupalee Verma (India).

Seminar juga akan dihadiri pakar, mahasiswa, peminat sastra dunia dari Belanda, Rusia, Korea, dan Filipina.

Seminar akan didahului dengan dua kegiatan pra seminar, yakni lokakarya 6 jam penerjemahan sastra, oleh Prof. Dr. Harry Aveling dan Prof. Dr. Marjorie Evasco-Perniam dari Filipina (tanggal 17 dan 18 Juli), dan lokakarya (3 jam) pengajaran Sastra Asia Tenggara dalam Bahasa Inggris oleh Dr. Lily Rose Tope (18 Juli).

Sejumlah pakar akan membahas penerjemahan sastra Indonesia ke bahasa Inggris, Perancis, Belanda, Hindi, dan Jerman. Seminar terbuka untuk umum: mahasiswa, peneliti, praktisi sastra, pengajar sastra, kritikus sastra, atau peminat sastra.

Biaya seminar untuk peserta dalam negeri Rp200.000. Biaya lokakarya Penerjemahan Sastra Rp. 150.000, lokakarya pengajaran Sastra Asia Tenggara Rp. 75.000. Jumlah peserta untuk lokakarya akan dibatasi.

01 Juni 2006