Sjifa Amori
Jurnal Nasional, 3 Mei 2009

Sengaja dijadikan berwajah sampah, besi-besi dalam deFACEment merupakan pengingat bagi manusia.

Keasrian Gedung Arsip Nasional makin lengkap dengan adanya 54 karya instalasi besi berkarat dalam pameran deFACEment yang berlangsung hingga 29 April. Dua hal yang kedengaran kontras (karat dan keasrian) ternyata bisa menciptakan harmoni dan menyempurnakan keadaan. Patung-patung besi berkarat Teguh Ostenrik menghiasi berbagai sudut dan bagian tengah ruangan serta halaman hijau di belakang Gedung Arsip Nasional.

Berada langsung di bawah langit biru, bentuk-bentuk setengah manusia setengah abstrak itu tak kelihatan lagi terbuat dari besi bekas, melainkan seperti adanya ia sebagai benda berharga. Benda yang menurut Teguh memiliki sejarah pengabdian terhadap keberlangsungan hidup manusia. Lewat sentuhan seni Teguh, kini besi-besi bekas itu mendapat kehormatannya kembali. Sebagai karya estetik yang masih fungsional, yaitu sebagai pengingat (warning) bagi manusia.

“Seperti bungkus-bungkus kacang yang dibuang orang ke kali Ciliwung sehingga timbul banjir dan ramai-ramai orang menyalahkan pemda, maka dengan karya ini saya mengajak orang menyalahkan dirinya sendiri,” kata Teguh yang sengaja membuat karat pada karyanya dengan mengelupasi sisa-sisa cat pada bahan besi dan menggunakan kimia tertentu yang menciptakan karat. Ia kemudian meletakkannya di bawah hujan agar semakin mengelotokkan lapisan besi dan menguatkan karakter tanah pada karyanya.

Dengan semangat mother earth ini, Teguh menghadirkan manusia-manusia dalam keseharian. Manusia yang memiliki ekspresi wajah yang berubah-ubah, tergantung pada situasinya. Seperti karya Selalu Kupantau yang memberikan kesan menara pengawas dengan teropong pengintai lengkap dengan lampu sorot seperti yang ada di penjara-penjara. Karya Selalu Kupantau ditopang dua besi lurus seperti kaki dan lempengan besi melingkar seperti proporsi tubuh manusia. Patung ini tak punya tangan, tapi dilengkapi besi kecil panjang di bagian “kepala”. Kelihatannya mirip sungut nyamuk yang siap menusuk kulit targetnya.

Karya yang ia namai Yes I’m Listening to You juga mengingatkan kita pada ekspresi wajah yang kerap hinggap pada manusia. Besi berbentuk seperti kaleng besar itu seolah memiliki ekspresi muka meski tidak secara realis. Dengan mata malas dan mulut membentuk huruf “O”, karya ini mengingatkan pada mimik wajah murid yang sudah kesekian kalinya dimarahi sang guru dan tetap tak bisa berargumen apa-apa selain mengangguk-anggukkan kepala.

Tidak hanya pada wajah, deformasi manusia ini juga diperlihatkan Teguh lewat patung-patungnya yang menyerupai tubuh manusia. “Saya hanya ingin lari dari bentuk-bentuk anatomi yang saya kuasai. Tujuannya hanya itu. Dan itu muncul dari ide sehari-hari yang kemudian di-exaggerate.”

Misalnya karya Belon Disasak yang eye catching berkat besi-besi panjang yang menjulang semrawut bagai rambut setelah diberi hair spray. Menurut Teguh, ia membuat karya ini sepulangnya dari kolam renang di mana ia melihat seorang ibu dengan dandanan mewah dan rambut sasakan di pinggiran kolam renang. Bagian bawah karya ini juga unik karena “tubuh”nya mengingatkan kita pada pipa-pipa air di pinggir jalan kota-kota di barat. Namun pipa yang ini dililit-liliti besi-besi kurus panjang yang melingkar-lingkar.

Karya-karya ini dibuat oleh Teguh dengan cara memotong, mengelas, dan sedikit tindakan lainnya tanpa mengonstruksi karya yang benar-benar baru (mendaur ulang). Kurator pameran ini, Wicaksono Adi melihat bahwa cara kerja Teguh yang reproduktif telah menjadi nilai lebih bagi karya yang dipamerkan pada deFACEment. “Konsepnya adalah mengikuti bentuk serpihan benda bekas itu. Baru kemudian ia mengikuti berbagai kemungkinan baru dari bentuk yang tersusun tahap demi tahap.”

Wicaksono sendiri telah mengikuti proses berkarya Teguh sejak belum tercetusnya deFACEment. “Kami sudah membicarakan ide ini sekitar tiga tahun lalu. Namun saat itu Teguh belum membayangkan bagaimana media, bentuk, dan bahannya. Sampai akhirnya kita terus berdiskusi dan ia pergi ke Penang untuk berpameran dengan tema besi tua sebagai produk peradaban material manusia yang dalam segi tertentu telah membuat hidup manusia nyaman, tapi pada akhirnya justru merusak lingkungan hidup. Jadi menampilkan keterancaman akan dehumanisasi,” kata Wicaksono.

Mengenai segi estetikanya, termasuk juga proses teknis pengaratan dan pelengkungan, Wicaksono melihat ini sebagai bagian yang inheren dari sebuah karya seni. “Yang digambarkan Teguh adalah sebuah estetika yang tepat untuk menggambarkan dehumanisasi dimana ada gejala destruktif. Jadi memang tidak bisa menggunakan bahan-bahan yang “manis”.

Karena bahan-bahan yang dimanfaatkan Teguh adalah besi-besi bekas, maka proses berkaryanya juga bukan di studio melainkan sebuah pabrik di Tangerang yang ia sebut “surga” besi. Makan waktu sekitar dua tahun hingga akhirnya seluruh karya patung besinya selesai ditambah dengan beberapa lukisan abstrak yang menyiratkan siluet wajah dan eskpresi manusia.

Seperti wajah-wajah situasional pada patungnya, lukisan Teguh juga menggambarkan ide serupa. Hanya saja dalam lukisan, ia mewakili interpretasi yang mirip sebuah penciteraan atas permukaan geografis dengan pola tertentu yang membentuk wajah. Lukisan-lukisan abstrak dengan siluet-siluet wajah manusia ini juga melengkapi alternatif “cermin” buat manusia.

“Karena wajah kita bukanlah yang kita lihat di cermin. Hidung kita bukan seperti yang ada di potret diri, tapi hidung yang menyerupai belalai saat mencium aroma makanan. Dan hidung yang serupa bentuknya dengan hidung-hidung orang dari berbagai etnis lainnya jikala kesemuanya tenggelam dalam situasi dan perasaan yang sama dan menyatukan,” kata Teguh.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/oase-budaya-wajah-karat-peradaban.html

Categories: Esai