Bara Sejarah di Solo

Judul: Candik Ala 1965
Penulis: Tinuk R Yampolsky
Penyunting: Joko Pinurbo dan Goenawan Mohamad
Penerbit: Kata Kita
Cetak: 2011
Tebal: 223 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/

NOVEL mengekalkan memori kota N dan biografi manusia. Barangkali ini ambisi kecil di balik penggara pan novel Candik Ala 1965 oleh Tinuk R Yampolsky, seorang perempuan asli Solo yang puluhan tahun berkelana dan mukim di Amerika Serikat. Kerja kata (menulis) mirip cara menguak ingatan, menata peristiwa-peristiwa lampau, dan mengenangkan kota. Novel adalah pilihan demi buaian imajinasi-historis, ikhtiar “mengembalikan“ diri ke dunia asal: Solo.

Pengarang menjelaskan: “Ketika cerita ini dirancang dan kemudian dikerjakan, saya berada lebih kurang sepuluh ribu mil jauhnya dari Solo.“ Jauh jarak ini tak memupus cerita, Tinuk justru merasai “dekat dalam ingatan sejarah“. Kenangan masih bertumbuh, memberi tarikan bagi pengarang menulis cerita, menghadirkan tokoh-tokoh dari masa lalu. Mekanisme kerja ini mirip pembongkaran diri dalam kronik-kronik realitas, mengejawantah sebagai dunia fiksionalitas.

Cerita bergerak pada tokoh Nik, perempuan dari keluarga sederhana, tapi rentan dengan kisruh politik 1965. Nik mengisahkan diri saat usia 7 tahun, memberi kesaksian atas keruwetan politik panas di sebuah kampung di Solo. Kota tak tenang, curiga berseliweran, darah mengucur, dan luka-derita menghinggapi. Solo berubah, kota jadi ruang seteru, ketakutan, dan kematian. Kesaksian ala bocah ini memberi deskripsi naif: politik panas 1965 tak mesti sesak bahasa-bahasa politis dan sarkastik. Pembahasaan seorang bocah cenderung emosional tapi mengandung sentuhan-sentuhan manusiawi, berjarak dengan tirani opini atau nalar politik dogmatik.

Goenawan Mohamad pun mengakui tentang nilai dari model penceritaan dalam Candik Ala 1965: “peristiwa yang menakutkan itu dikisahkan dari mata seorang anak, yang kemudi an tumbuh, di sebuah kampung di Solo: sebuah dunia yang lugu yang dibenturkan dengan pergolakan yang buas.“ Novel ini memang cukup memiliki keunikan ketimbang sekian novel tentang tragedi 1965 dalam nalarimajinasi tokoh-tokoh dewasa atau orangtua.

Nik menjalani “hari-hari membara“ oleh penangkapan orang-orang dalam sangkaan terlibat PKI oleh militer dan aparat negara. Tawur dan perkelahian turut memberi sengatan atas ketidakberesan hidup, peristiwaperistiwa mengenaskan di jalan dan ruang publik. Adu ideologis, arogansi partai, dan klaim-klaim politik membuat keluarga retak, kampung pecah, dan individu-individu terjerat stigmatisasi. Agenda pembersihan kota dari orang-orang terlibat PKI justru membuat Nik takut, bingung, dan trauma. Geger ini juga menimpa keluarga Nik, seorang kangmas mesti pergi meninggalkan Solo demi keselamatan. Politik melahirkan intrik dan sengit.

Memori atas tragedi 1965 ditamsilkan dengan metafor candik ala, dijadikan judul sugestif. Masyarakat Jawa akrab dengan metafor ini, dilantunkan bocah-bocah sebagai seruang dan ingatan kosmis. Kita simak lirik dalam tembang dolanan bocah “Candik Ala“: Wayah sore wis surup srengengene. Sisih kulon katon langite. Candik ala ora kena pada sembrana. Jare ndak cilaka diuntal Bathara Kala. Tanda-tanda alam telah mengisahkan politik, tragedi, dan getir manusia. Alam jadi rujukan untuk manusia reflektif dan eling.

Biografis

Latar tragedi 1965 itu diimbuhi dengan peristiwa banjir, 1966. Tokoh Nik mengenangkan, tahun-tahun itu sebagai dukacita. Anggapan awam mengakui Solo sedang mendapati kutukan, anutan dalam nalar-imajinasi Bathara Kala. Politik dan bencana bisa dikembalikan ke kosmologi Jawa, dipahami dalam pasrah dan eling. Episode gelap itu pelan pelan bergerak seiring pertumbuhan usia Nik dan transformasi sosial, politik, kultural di Solo. Politik belum melegakan sebab rezim Orde Baru pun hadir dalam represi, instruksi, dan teror. Nik memahami itu mengacu pada situasi-situasi politik masa lampau.

Suguhan cerita dalam novel ini memang tidak hendak merepotkan pembaca untuk mengerti dunia batin tokoh, deskripsi teritorial Solo, atau situasi politik Indonesia. Pengarang lumayan lihai mengisahkan tanpa pelik-pelik bahasa, lancar dan informatif. Pembaca dengan latar geografi dan biografi di Solo mungkin lekas meresapi cerita, bergantung intimitas dengan sekian tempat, suasana, tokoh dalam novel dan fakta. Cerita bergerak di Jagalan, Balai Kota, Baluwarti, Jalan Slamet Riyadi. Novel ini juga menghadirkan tokohtokoh seniman kondang di Solo: Wiji Thukul, (Sosiawan) Leak, Suprapto Suryodarmo. Suasana Solo masih bisa diakrabi dalam deretan-deretan kalimat sugestif dan metaforik.

Lakon hidup Nik berubah bersama segala hal itu dan nubuat nasib. Nik masuk dalam dunia seni panggung: tari. Perempuan lugu ini merasai cinta, membuat pemberontakan kecil atas nilai-nilai konservatif di keluarga, mengangankan utopia kebebasan. Tokoh Nik pun bersinggungan dengan politik, seni, dan kultur modernitas. Seni adalah jalan hidup, politik susah dielakkan, dan kebebasan mesti diejawantah dalam kemauan dan pamrih. Nik pelanpelan mengenali dunia dalam sekian dilema, berbeda dengan masa kecil saat ada di jerat intrik politik. Nik hendak menemui nasib, mendefinisikan diri tanpa paksaan atau trauma.

Pemakaian judul Candik Ala 1965 cukup memberi pikat atas kemauan cerita, pergolakan diri tokoh dan kota. Candik ala berarti langit warna kuning kemerahan menjelang senja. Suasana itu representatif untuk menguak tragedi 1965 di Solo, kota dengan gelimang sejarah kekuasaan Jawa.

Judul itu juga bisa jadi tamsil atas biografi tokoh Nik, seorang perempuan dengan pasang surut konflik politik, seni, dan cinta. Novel ini telah mengingatkan, mengundang pembaca untuk menggerakkan diri ke masa lalu dan menghampiri masa sekarang dengan buaian imajinasi-historis.

16 Oktober 2011