Bicara Seni, Budaya, dan Sejarah

Judul : Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal;
Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia.
Penulis : Fandy Hutari
Penerbit : INSISTPress, Yogyakarta
Tebal : xiv + 162
Cetakan : I, April 2011
Peresensi : Kasanwikrama *
http://oase.kompas.com/

Seberapa penting pengetahuan kita terhadap kesenian, kebudayaan, dan sejarah bangsa sendiri yang kaya raya? Seberapa peduli kita menjaga hasil seni, budaya, dan sejarah kita itu? Maka, tak perlu ragukan lagi jika ada ungkapan usang,”tak kenal maka tak sayang”. Bagaimana kita mau menjaganya jika kenal pun kita tidak. Usaha pengenalan seni, budaya, dan sejarah Indonesia tadi diusahakan secara sederhana dalam buku kumpulan esai karya Fandy Hutari berjudul Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal.

Buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal bisa dibilang merupakan sajian rekaman soal beberapa seni, budaya, dan sejarah yang ada di negeri ini. Berisi 26 artikel yang dibagi ke dalam lima bagian utama. Sebagian besar esai pada buku ini tentang seni pertunjukan, dari mulai masih berbentuk sandiwara, film bisu, hingga film modern seperti sekarang. Sebagian yang lainnya (dalam porsi yang lebih kecil) adalah tentang seni tradisi lokal yang sudah hampir punah, seperti kuda renggong, sintren, cikeruhan, dan lain-lain. Tradisi lokal ini merupakan jenis tradisi warisan leluhur yang sebagian masih dilakukan dengan ketentuan asli, perubahan atau variasi, dan bahkan telah dilupakan sama sekali. Ada juga tradisi di luar itu, misalnya panjat pinang, topeng monyet, gasing, dan lain-lain. Hampir semua seni, budaya, maupun sejarah yang disampaikan dalam naskah ini adalah yang berasal dari tanah Sunda (Jawa Barat). Itu karena penulisnya sangat kagum dengan tradisi Sunda. Di samping itu, ada beberapa riwayat orang-orang yang patut saya masukkan juga ke buku ini, karena ada “sentuhan” mereka terhadap sejarah, seni, dan budaya.

Terkadang kita terlambat untuk mencintai hasil karya bangsa sendiri, dan baru marah-marah ketika bangsa lain mengklaim atau mengaku-aku seni dan budaya kita sebagai produk bangsanya. Maka, cukup bijak kalau setidaknya kita kenali dulu seni, budaya, dan sejarah kita, baru protes kalau merasa produk-produk tadi “dimaling” orang. Buku Fandy ini merupakan hasil seleksi artikel-artikelnya yang tersebar di media massa, baik cetak maupun online dari tahun 2008 sampai 2010. Bisa dikatakan, buku ini semacam “pengawetan” tulisan dengan bahasa yang ringan mengenai sesuatu yang begitu dekat dengan kita, tapi cenderung kita lupa: seni, budaya, dan sejarah.

*) Kasanwikrama, Peminat Buku. Tinggal di Bandung. /30 September 2011