Cak Selamet

Ahmad Zaini*
__Radar Bojonegoro, 18 Des 2011

Peluh bercucuran dari wajah keriput menjelang tua. Kedua kakinya tiada henti mengayuh pedal becak yang menjadi temannya setiap hari dalam mengais rezeki. Caping lebar yang terbuat dari anyaman bambu masih melekat di kepalanya. Kemudian dia berhenti pada sebuah warung yang berdiri di pinggir jalan. Capingnya dilepas lantas ia kipas-kipas agar keringat yang meleleh di keningnya kering. Kedua kaki ia lemaskan sembari menyandarkan punggungnya di dinding warung. Perlahan kaki kanannya diangkat di atas kursi panjang membujur di dalam warung. Ia lantas menghela napas panjang melepas lelahnya.

“Pesan apa, Met?” Tanya tukang warung.

“Biasa, Mbok. Nasi pecel dan air putih saja,” jawab Cak Selamet.

Kemudian Mbok Darmi dengan tangkas melayani pesanan Cak Selamet.

Sepiring nasi pecel dengan lalap kangkung ia santap dengan lahap. Tangan yang kini kisut dengan sedikit gemetar bergerak cekatan menyodorkan suapan nasi pada mulut yang tiap hari tak pernah lepas dari rokok klobot. Keringat yang semula agak kering kini mengucur lagi setelah melahap nasi pecel dengan cabe merah menganga. Segelas air putih diteguknya kemudian ia melepas kancing baju bagian atas. Caping yang disandarkan di kursi ia ambil kemudian ia berdiri dan meninggalkan warung itu.

“Cak, uangnya!” tegur Mbok Darmi.

“Oh, iya! Saya lupa Mbok.”

“Sudah tidak apa-apa. Ini kembalinya,”

Mbok Darmi mengulurkan tangannya kepada Cak Selamet.

Siang hari saat debu berterbangan tersapu roda kendaraan di tengah keramaian kota, Cak Selamet mengayuh becaknya berkeliling kota mencari penumpang. Dia melintas di perempatan jalan protokol. Bunyi sempritan polisi mengejutkan dirinya.

“Hai, tahu tidak kalau jalan ini sementara ditutup?” tegur polisi.

“Tidak, Pak. Memangnya kenapa?” Tanya Cak Selamet.

“Hari ini akan ada kunjungan Pak Walikota,” jawab polisi dengan wajah garang.

Kemudian Cak Selamet memutar becak ke arah yang berlawanan.

Dengan kaki berat ia mengayuh becak meninggalkan perempatan jalan tersebut. Padahal saat jam-jam seperti itu para penumpang becak mengantri di pinggir jalan raya.

“Apes, apes! Dasar polisi tidak tahu bagaimana susahnya rakyat kecil mencari uang. Gara-gara walikota akan lewat, jalan ditutup. Hilang rezekiku siang ini. Padahal saya belum dapat setoran,” gerutunya.

Menjelang sore, Cak Selamet pulang. Ia mengayuh becaknya dengan santai. Di sepanjang tepi sungai, bergerombol para penghuni rumah liar. Mereka membicarakan sesuatu. Cak Selamet dengan rasa penasaran menghentikan becaknya kemudian mencari tahu apa yang mereka bicarakan.

“Rumah kita akan digusur,” jawab Suparmin penghuni rumah di pinggir sungai itu.

“Apa? Rumah kita akan digusur!?” ucap Cak Selamet keheranan.

“Iya, tadi pak Walikota datang ke tempat kita dan memberitahukan rencana itu. Menurutnya, jika kita tidak membongkar rumah kita dalam dua hari ini, maka mereka akan merobohkan paksa rumah-rumah kita,” imbuh Suparmin.

“Tidak bisa. Kita harus menolaknya. Kita mendirikan bangunan di sini tidak meminta tanah pada kakek-nenek mereka. Kita ini membeli tanah. Enak saja asal gusur,” suara lantang Cak Selamet di hadapan para penghuni rumah tersebut.

“Betul. Betul Cak Selamet. Kita harus menolaknya,” teriaknya mendukung.

Hari-hari dilalui Cak Selamet dengan geram. Ia benar-benar murka terhadap rencana walikota menggusur rumah mereka. Cak Selamet tidak habis pikir jika nanti rumah-rumah mereka jadi digusur oleh pihak pemerintahan kota. Mau dikemanakan keluarga mereka. Rumah yang kini mereka tempati adalah hasil dari mengayuh becak selama puluhan tahun.

“Saudara-saudara, hari ini adalah hari terakhir kalian membongkar dan mengemasi barang-barang kalian. Segeralah meninggalkan tempat ini,” seru anggota satpol PP pada mereka dari atas kendaraan dinasnya.

Para penghuni tempat itu tak menggubris imbauan tersebut. Mereka tetap santai di jok becak sambil menengok kanan-kiri mencari penumpang. Bahkan pandangan matanya tidak menghiraukan mobil dinas satpol PP yang melintas di depannya.

“Becak, antarkan saya ke kantor pajak!” perintah lelaki yang berdasi motif belang-belang dan bersepatu mengkilat.

“Baik, Pak,” sanggup Cak Selamet.

Di tengah perjalanan mengantarkan lelaki tadi, Cak Selamet melintas di jalan utama kota. Di pinggir trotoar ia melihat satpol PP yang dibeckingi aparat keamanan mengusir dan mengobrak-abrik para pedagang kaki lima. Lapak dagangannya diangkut ke atas truk. Sedangkan barang dagangannya dihambur-hamburkan ke uadara hingga berceceran di jalan raya. Teriak histeris dan jerit tangis dari para pedagang terdengar jelas di gendang telinga Cak Selamet.

“Ya, Tuhan! Di mana rasa kasihan mereka. Tak bolehkah mereka mencari rezeki halal seperti yang mereka lakukan? Jika rakyat kecil mencuri ayam atau menjambret, pasti akan ditangkap polisi kemudian dipenjara. Bahkan kalau ketahuan massa maka mereka akan jadi bulan-bulanan warga dan ada yang sampai dibakar hidup-hidup. Akan tetapi mereka yang berjualan di pinggir jalan dengan cara halal kok malah dilarang. Dagangannya malah diobrak-abrik seperti itu. Serba sulit ya jadi rakyat jelata,” kata Cak Selamet dalam hati.

“Cak,berhenti, Cak!” kata lelaki yang menggunakan jasanya.

“Oh, iya,” jawab Cak Selamet sambil menginjak rem cakram becaknya.

“Ini ongkosnya,” lelaki memberikan ongkos naik becak.

“Pak, maaf! Kurang ongkosnya,” minta Cak Selamet memelas.

“Ini!” lembaran uang dua ribu dilemparkan kepada Cak Selamet.

“Dasar orang kaya! Semena-mena pada orang miskin” gerutunya.

Perlahan Cak Selamet memutar becaknya kembali ke pangkalan. Dengan mendendangkan lagu melayu, dia mengayuh becaknya melintasi jalan beraspal di tengah kota.

“Priiiiiit! Berehenti! Anda telah melanggar peraturan lalu lintas. Becak tidak boleh melintas di tengah kota. Maka sekarang Anda ikut kami!” hadang dua orang polisi menghalangi laju becak Cak Selamet.

“Waduh, Pak. Sehari ini saya baru dapat dua orang penumpang. Sekarang Bapak-bapak mau membawa saya ke kantor polisi. Terus bagaimana saya bisa mendapat uang setoran dan nafkah untuk keluarga saya?” tanya Cak Selamet mengiba pada meraka.

“Kami tidak mau tahu itu. Semua itu urusan kalian. Di sini kami hanya melaksanakan tugas,” jawab petugas dengan tegas.

Cak Selamet tak berkutik ketika para petugas menjerat dengan pasal-pasal yang tertuang dalam tuntutan. Ia pasrah pada nasib yang diterimanya. Uang setoran belum didapat malah sekarang dia meringkuk di kantor polisi.

“Pak, izinkan saya hari ini pulang. Besok pagi rumah kami akan digusur.”

“Maaf, Pak. Saya tidak bisa mengabulkan permintaan Bapak. Sebelum sanksi yang kamiberikan tuntas maka kami tidak berani mengeluarkan Bapak dari sini. Ini amanat, Pak!” terang penjaga.

Pagi hari saat waktu tenggang yang diberikan petugas sudah habis, para penghuni rumah di pinggir sungai itu bersiaga memblokir jalan. Mereka menghalangi kendaraan berat, yang akan digunakan menggusur rumah mereka, masuk ke kawasan tempat tinggal mereka. Laki-laki, perempuan, tua, muda, serta anak-anak membentuk barisan berlapis-lapis. Sementara di pihak penggusur mulai bergerak mendekati blockade warga. Diiringi oleh ratusan satpol PP dan aparat keamanan mereka merangsek membongkar blockade warga. Karena jumlah satpol PP dan aparat keamanan lebih banyak daripada jumlah warga, akhirnya blockade itu jebol. Para warga yang dianggap sebagai provokator ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Tanpa rasa iba para petugas membongkar paksa bangunan yang berjajar di sepanjang tepi sungai. Buldozer dengan kekuatan cakar besinya merobohkan satu demi satu rumah warga. Dalam waktu kurang dari satu jam, bangunan rumah di sepanjang sungai rata dengan tanah. Para ibu dan anak-anak menjerit histeris dan larut dalam tangis derita. Mereka kini tidak mempunyai lagi rumah untuk berteduh dari panas dan hujan. Mereka tidak mempunyai lagi tempat berkumpul bersama keluarga untuk beristirahat dan bersenda gurau. Rumah yang menjadi surga baik suka maupun duka tinggal puing-puing berserak di pinggr sungai. Ya, ratusan warga kini hanya pasrah pada nasib yang mereka alami.

Mejelang sore Cak Selamet dibebaskan dari kantor polisi. Ia diperbolehkan pulang untuk berkumpul dengan warga dan anggota keluarganya. Wajah kusut dengan tangan keriput mengendalikan laju becak menyusuri jalan-jalan kota. Saat laju roda becaknya mendekati kawasan tempat tinggalnya, perasaan Cak Selamet menjadi tidak enak. Rasa bahagia karena bebas dari kantor polisi berubah menjadi banjir air mata saat Cak Selamet menemui istri dan anak-anaknya menangis di tengah reruntuhan dan puing-puing bangunan tempat tinggalnya. Mereka merengek dan menangis merangkul orang tuanya yang baru datang dari kantor polisi.

Becak, barang miliknya dan satu-satunya yang tersisa dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Mereka larut dalam tangis penderitaan. Masa depan anak-anaknya kini tak jelas. Terkubur bersama reruntuhan dan puing-puing bangunan rumahnya.

Malam hari ketika purnama sempurna, ia tampak tersenyum kemudian membisikkan gairah kepada mereka untuk bangkit lagi. Jemari tangannya kemudian tergerak merengkuh kemudi becak yang dibiarkan tergeletak sejak sore itu.

*) Cerpenis adalah guru SMA Raudlatul Muta’allimin Babat. Tinggal di Wanar Pucuk Lamongan.