Dari Festival Penyair Korea-ASEAN II: Suara Asia yang Tersembunyi

Taufik Ikram Jamil
Riau Pos, 27 Nov 2011

HUJAN puisi di Riau, mungkin tidak berlebihan dikatakan untuk menunjukkan begitu banyaknya karya sastra tersebut ditampilkan di provinsi ini dalam hanya beberapa hari di tengah musim hujan yang awal. Tak hanya dalam bahasa Indonesia/ Melayu, hampir 400 puisi ditulis dalam bahasa Korea, Myanmar, Vietnam, Thailand, Tagalog, tentu juga bahasa Inggris. Dibaca sendiri oleh sekitar 70 penyair dari berbagai negara ASEAN dan Korea Selatan (Korsel) pada waktu pagi sampai tengah malam —selalu pula diiringi hujan—aksara yang ditampilkan juga beragam sesuai bahasa ibu penyair. Ini masih ditambah dengan hadirnya tiga buku sajak yang dikemas mewah masing-masing lebih dari 450 halaman.

Kesemuanya itu dibungkus dengan nama KAPLF II (Korea-ASEAN Poets Literature Festival) yang selain dilaksanakan di Pekanbaru, juga diadakan pada dua kabupaten di Riau lainnya yakni Siak dan Kampar, 25-29 Oktober lalu —semuanya atas naungan Yayasan Sagang. Acara serupa pertama kali dilakukan di Seoul tahun 2010, dari Indonesia diwakili Nirwan Dewanto dan Rida K Liamsi. Direncanakan, Brunei Darussalam akan menjadi tuan rumah KAPLF III tahun 2012. Pada tahun ini, KAPLF yang bernuansa Melayu juga diwarnai dengan perjanjian kesepakatan kerja sama antara majalah sastra Sipyung (Korsel) dengan Majalah Seni Budaya Sagang (Riau, Indonesia).

Bayangkan saja, belum lagi acara dibuka secara resmi oleh Gubernur Riau Dr (HC) HM Rusli Zainal MP, Rabu (25/10), beberapa penyair sudah membacakan sajak mereka di Universitas Lancang Kuning. Malam pembukaan itu pula, seperti menjadi pawai penyair Korea-ASEAN karena pembacaan sajak baru berakhir pukul 23.30 dengan kemunculan Sutardji Calzoum Bachri sebagai pemuncak.

Besoknya, pagi-pagi lagi mereka sudah berangkat ke Siak Sri Indrapura —membaca sajak di Istana Kerajaan Siak yang seolah-olah mewakili suatu masa kejayaan Melayu-Islam abad ke-19. Menjelang malam, mereka sudah tampil pula di sebuah restoran Melayu sambil santap malam. Lalu seperti sebelumnya, giliran peserta KAPLF berangkat ke Kampar, tepatnya membaca sajak di Candi Muaratakus yang diperkirakan dibangun abad ke-7 sebagai jejak awal kehadiran agama Budha di tanah Melayu. Di lain waktu, mereka juga menyaksikan orkestra Melayu, pembacaan sastra (baca: tradisi) lisan masyarakat Riau pedalaman di kediaman budayawan Dr (HC) Tennas Effendi.
***

TIDAK seperti acara sastra sebelumnya yang kadang-kadang lebih sebagai arena pengamat sastra sebagaimana yang sempat diamati selama ini, kegiatan-kegiatan di dalam KAPLF II, memang terasa berbeda. Para penyairlah yang menjadi bintang; membacakan karya-karya mereka pada setiap kesempatan dan memperkatakan apa yang sedang mereka geluti. Mereka jugalah yang menjadi peserta kolokium dan penonton pembacaan sajak sekaligus. Kalaupun ada penonton lain, hal itu seperti terjadi dengan sendirinya karena tanpa undangan, apalagi “pengerahan massa”.

Peserta memang tergolong cukup tekun dengan kepanyairan. Dari Indonesia, antara lain terlihat Zaim Rofiqi, Marhalim Zaini, Hasan Aspahani, Raudal Tanjung Banua, Aan Mansyur, Gunawan Maryanto, Dimas Arika Mihardja, dan Nurhayat Arif Permana. Peserta dari negara lain pun tak kepalang tanggung. Sebutlah semacam Isa Kamari (Singapura), Marsli NO (Malaysia), Abdul Rakib (Thailand), Do Thi Khanh Phuong (Vietnam), Michael M.Coroza (Filipina), Hashim Hamid (Brunei Darussalam), Maung Pyiyt Min (Myanmar), Ko Hyeong Ryeol (Korsel). Diinapkan di hotel berbintang lima, peserta terbanyak memang dari Indonesia yakni 19 orang, disusul Korsel 10 orang, sedangkan negara lain berjumlah 1-3 orang.

Tak ada kesimpulan karena memang tidak ada kesepakatan kreatif yang dapat dibuat kecuali bagaimana agar tetap berkarya. Tapi seperti yang dapat diduga, wilayah hati masih menjadi “taruhan” dalam helat ini. Perbedaan memang masih amat kentara terutama pada daya ucap masing-masing penyair. Seperti yang disebut Michael M Coroza (Filipina), penyair Indonesia misalnya, lebih ekspresif dan lugas mengungkapkan sesuatu, tidak sebagaimana penyair dari negara lain.

Bau darah, rintihan ketidakadilan, terasing, dan tragedi manusia, amat kentara pada sajak-sajak yang ditampilkan dalam KAPLF II. Fikar W Eda misalnya, melaungkan Aceh yang berdarah dengan rencongnya, tetapi Dimas Arika Mihardja menyulamnya dalam peristiwa tsunami di serambi Mekah yang pilu itu sebagaimana juga dilakukan Hasyuda Abadi (Malaysia). Tapi tak sedikit pula percikan perenungan yang kadang-kadang tidak terduga. Dalam sajak Kim Tae Hyung (Korsel) dengan latar belakang Siberia berjudul Diaspora misalnya disebutkan : Sebab aku sepi/ Karena aku tak bisa sendirian/ Sebab aku menderita/ Karena aku tak sempat rindu padamu.
***

MUNGKIN banyak yang diharapkan dari sajak-sajak KAPLF II tersebut. Selintas adalah wajar, lewat sajak mau juga ditangkap gegap gempita bagaimana manusia Korsel menjulang teknologi sehingga disegani di dunia, bahkan menjadi idola baru bagi remaja Indonesia lewat film dan musiknya terkini. Mungkin juga mau didengar suara bagaimana Vietnam bangkit setelah sekian tahun luluh-lantak, tapi hanya dalam waktu terbilang pendek masih mampu mengimbangi negara jirannya dalam beberapa hal termasuk Indonesia. Warga Singapura yang harus keluar negeri untuk melihat wujud sebuah kampung misalnya, mungkin bukan sebagai sesuatu yang biasa bagi kebanyakan orang di negara peserta KAPLF.

Barangkali pula, demikianlah cara Asia melampiaskan perasaannya yakni dengan sedikit menggeserkan perhatian dari suatu obyek yang sedang dihadapi, sehingga suaranya terkesan tersembunyi. Tapi bagaimanapun, suara tersebut sudah dilaungkan melalui KAPLF. Dan untuk sampai ke tahap ini pula, telah menelan waktu yang tidak pendek—tentu saja dengan sekian banyak suka dan dukanya. Setidak-tidaknya, KAPLF merupakan salah satu telor yang muncul dibenak Ko Hyeong Ryeol setelah pulang ke Korsel dari pertemuan penyair di Jepang tahun 1960-an.

Baru eksis tahun 2000, ia mendirikan suatu komunitas yang dinamakan The Poet Society of Asia (TPSA), sekaligus menjadi presidennya. Dengan lembaga itu, penyair dengan puluhan penghargaan dari Korsel tersebut, telah memperkenalkan sekitar 300 orang penyair Asia kepada pembaca Korsel lewat Majalah Sastra Sipyung. Tercatat tujuh kali pula kegiatan sastra dengan melibatkan penyair Asia dilakukannya.

“Asia adalah satu dan sekaligus tidak satu. Asia adalah kehidupan sekaligus pekuburan,” kata Ryeol. Ia kemudian mengatakan, “Benua Asia adalah tempat rahasia Timur, dari sanalah setiap pagi dimulai. Dunia bahasa leluhur yang bijaksana masih berada nun jauh di sana dan terlalu tinggi bagi kita. Kita semua mengalami sejarah penjajahan yang sama,” tuturnya, sambil menjelaskan penjajahan di Korsel, malahan tragedi bernegara sampai tahun 70-an.

Tentu saja, persoalannya tidak hanya sampai di situ karena Asia menghadapi masa depan yang menarik. Sebagaimana banyak disebut, abad ke-21 ini adalah abad Asia-Pasifik dengan titik porosnya di ASEAN dan Asia Timur termasuk Korsel. Dalam kancah ini, Korsel sudah jauh lebih maju dibandingkan negara ASEAN, malahan mampu menempatkan diri sebagai delapan besar negara pengekspor di dunia. Bandingkan penduduk ASEAN yang mencapai 300 juta jiwa —tentu saja sasaran empuk pasar— dengan Korsel yang hanya sekitar 50 juta jiwa. Lalu mana Cina, India, dan Jepang dalam komunitas KAPLF ini —mereka tentu masih di Asia yang memiliki kearifan terbilang, kan?

Bagaimanapun, terlalu naïf kalau ucapan Ryeol dengan latar belakang Asia pada tahun-tahun mendatang di atas, mengingatkan orang pada slogan Jepang yang ingin mengibarkankan bendera Asia Raya di kawasan Asean sekarang ini dan menempatkan dirinya sebagai saudara tua tahun 1940-an. Lha, sekarang kan puisi, bukan senjata seperti tahun 40-an… Wallahualam bissawab.

Taufik Ikram Jamil, sastrawan. Tinggal di Pekanbaru.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/11/dari-festival-penyair-korea-asean-ii.html