Kawin Siri

Tita Tjindarbumi
http://www.lampungpost.com/

Ini bukan yang pertama. Entah sudah ke berapa. Mutia tak ingin menghitungnya. Ia tahu air mata tak akan pernah bisa menyelesaikan persoalannya soal yang satu ini. Menikah dan menikah lagi. Ia tak menampik, kebutuhan biologis dan kebutuhan materi yang kian hari semakin menghimpit membuatnya tak punya pilihan lain, selain menerima lamaran lelaki itu.

Menikah? Tuhan, andai ada pilihan lain yang kau sodorkan, yang membuatku bisa lepas dari beban dan seluruh tanggung jawab yang harus kupikul, aku akan berpikir lagi. Status janda muda sungguh sangat berat. Apalagi dengan banyak lelaki yang datang seperti badai yang setiap saat dapat membobolkan pertahananku. Dan aku hanya perempuan biasa, yang membutuhkan bahu untuk bersandar dan dada bidang tempatku menganyam harapan.

Tuhan… aku salah?

Mutia tepekur. Masih dengan mukena menutupi tubuhnya yang sintal dan bersujud ia merasa ada hawa dingin mengalir ke sekujur tubuhnya. Di antara doa dan kegamangannya menghadapi hidup ia ingin Tuhan mendengarkan doanya. Menjawab semua tanya yang membuatnya bingung, serupa kapal yang terombang-ambing di tengah laut dengan gelombang pasang kian pasang.

Tanpa terasa bulir-bulir bening telah membasahi pipinya. Selalu saja begitu. Seakan tak ada lagi yang bisa diperbuatnya selain berdoa dan menangis sejadi-jadinya. Mutia masih saja merasa ia terjebak dalam permainan hati. Memercayai setiap kalimat manis yang diucapkan lelaki yang menginginkannya. Luluh dan merasa tetap bersyukur mendapat anak dari benih yang disebar lelaki yang menikahinya atas nama cinta.

Bukankah cinta begitu indah? Jika lahir anak dari perkawinannya dengan lelaki yang mencintai dan dicintainya, bukankah itu anugerah yang patut disyukuri? Dan Mutia selalu bersyukur dan menganggap anak adalah rezeki terbesar yang diberikan Tuhan kepadanya, meski pada akhirnya lelaki yang menikahnya penuh cinta itu menghilang dan meninggalkannya. Tanpa meninggalkan apa-apa selain anak.

Lalu adakah yang salah dari perkawinannya? Mutia bosan mencari jawabannya.

“Mungkin pernikahan siri yang kalian anut akan terus terasa indah jika tak ada anak yang lahir dari perkawinan suka-suka itu,” ujar Alia setengah bergurau ketika Mutia mulai risau dengan sikap Tora, suami sirinya, yang menurutnya mulai jarang datang mengunjunginya.

“Apa artinya perkawinan jika kami tak punya anak?” Mutia membuka kerudung yang membalut kepala dan sebagian wajahnya. Ia terlihat begitu cantik dan memesona. Tak heran bila banyak lelaki yang ingin menyuntingnya.

“Tak ada seorang pun yang tak menginginkan anak dalam pernikahannya,” kata Alia lagi, melakukan hal yang sama, membuka kerudung merah yang dipakainya. Kini keduanya memperlihatkan kemilau rambut mereka.

Mutia celingukan. Sebentar-sebentar matanya ditujukan ke luar kamar. Ia tak ingin ada lelaki yang melihatnya tanpa menutup rambut dan bagian dadanya yang menggunung.

“Tak usah khawatir, suamiku sedang ke luar kota,” ujar Alia menenangkan Mutia yang risau. “Aku juga tak ingin suamiku melihatmu tanpa kerudung,” tambah Alia berseloroh antara serius dan bercanda. Ujung matanya sempat berhenti di dada Mutia yang membukit. Ia tak akan rela melihat mata suaminya berhenti di area itu. Cemburu kadang tak kenal kompromi. Cerita sumbang tentang sahabat yang menikam dari belakang sudah sering ia dengar. Bahkan ia nyaris keracunan.

“Lalu apa masalahnya dengan pernikahanku?” Mutia menatap Alia dengan wajah serius.

“Mutia… kita memang perempuan modern, tetapi kita jangan naif,” ujar Alia tak kalah serius. “Sudah terlalu sering kita dengar dan saksikan betapa banyak pernikahan normal yang tak bisa diselamatkan hanya karena alasan-alasan yang tidak kita pikirkan sebelumnya,” tambah Alia tanpa bermaksud melukai perasaan sahabatnya.

“Apa kamu pikir pernikahanku tidak normal?” tanya Mutia dengan mata membulat. Ia mulai tak bisa menyembunyikan kilat kemarahan di matanya.

“Upss, maaf…bukan itu maksudku. Aku tak ingin memasukan gaya pernikahanmu ke dalam kelompok orang yang pernikahannya tidak normal.”

“Lalu maksudmu?” nada suara Mutia meninggi.

“Aku tak akan menyimpulkan. Sebaiknya kamu pikirkan saja seperti apa perkawinanmu selama ini. Pengalaman mengapa tak kau jadikan pelajaran yang berguna?”

Alia masih berusaha bicara tenang. Sudah sering ia mendiskusikan soal perkawinan siri yang telah berkali-kali dilakukan Mutia. Dan semuanya berakhir dengan kegagalan. Menjadi perempuan dengan menggunakan busana muslimah memang tak bisa sebebas perempuan pada umumnya. Setiap gerak, tingkah, dan ucapan selalu harus dijaga jangan sampai menjadi nila bagi sebelanga susu. Meski sebagai perempuan, siapa pun, berjilbab atau pun tidak, tetap harus tampil sebaik mungkin dan harus menjaga kehormatan diri dan suami.

“Apakah kau berpikir aku perempuan yang tak tahan sendirian?” tiba-tiba Mutia bersuara lirih seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Ah, Tia… manusiawi jika kau sempat merasa seperti itu. Dengan persoalan yang datang silih berganti dan tanggung jawabmu terhadap anak-anak, siapa pun akan maklum jika kau butuh pendamping hidup. Itu juga ibadah, Sista,” Alia mendekat dan merangkul Mutia.

“Lalu salahkah jika aku menikah lagi?” tanya Mutia dengan wajah kembali bersemi. Sepertinya Mutia sudah benar-benar lelah mengarungi hidup sendirian, bekerja pontang-panting, tetapi tetap saja merasa tak cukup untuk membiayai hidupnya dan anak-anak.

“Tak ada yang berani menyalahkanmu, Sista. Tetapi apakah salah jika banyak orang yang menyayangimu bertanya, apakah sudah kamu pikirkan matang-matang keputusanmu itu?”

Wajah Mutia menegang kembali. Senyum sumringah yang tadi sempat melukis senja mendadak ditelan awan hitam yang mulai menggugat senja.

Alia membiarkan sahabatnya mencerna kalimat yang baru saja diucapkannya. Meski ini bukan kali pertama ia mengingatkan Mutia, sebagai sahabat Alia merasa wajib untuk terus melakukan ini. Ia tak mau Mutia mengalami kegagalan lagi dalam perkawinan yang sepertinya sudah melekat dalam benak Mutia.

“Mutia… sebagai orang dewasa kadang kita hanya pikirkan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita hanya inginkan apa yang kita lakukan dengan lelaki yang mencuri hati kita sah dari kacamata agama. Kita hanyut dan tak memikirkan dampak negatif dari langkah yang kita ambil,” Alia memenggal kalimatnya, memperhatikan wajah Mutia yang semakin tegang. Tetapi Alia tak boleh mundur. Ia harus mengatakan perkawinan siri yang sudah sering kali terjadi dalam hidup sahabatnya, Mutia, tak bisa dibiarkan terulang.

Fakta sudah jelas di depan mata. Suami pertamanya pergi meninggalkannya dengan dua anak yang masih kecil. Mereka tak hanya kehilangan kasih sayang seorang ayah, tetapi juga mereka tak punya kekuatan apa-apa untuk menuntut apa-apa sebagaimana layaknya anak-anak yang lahir dari perkawinan yang selain telah memenuhi syariat agama Islam, tetapi juga dicatatkan sebagaimana yang telah ditentukan undang-undang perkawinan yang berlaku di negeri ini.

“Aku sangat mendukung semua keputusanmu, jika memang itu yang menjadi kehendakmu. Meski pun aku sahabatmu, aku tak punya hak untuk melarang atau mencegah keinginanmu. Aku sayang padamu dan tak ingin pengalaman pahit yang kamu alami saat dengan suami-suami sirimu terulang lagi. Kasihan anak-anakmu. Bayangkan bagaimana perasaannya jika dalam kurun waktu yang cukup dekat kamu memberikan ayah baru pada mereka. Sementara bisa saja mereka masih merasakan luka yang kau rasa ketika melihat suamimu pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa.”

Mutia menarik napas panjang. Wajahnya tetap tegang. Tanpa senyum ia masih menarik. Tetapi mengapa setiap lelaki yang awalnya memuja dan mengatakan mencintainya pergi meninggalkannya seperti membuang sampan di tengah laut dan tak pernah menengok lagi.

Alia sedih dan dapat merasakan luka hati Mutia. Namun ia heran, sepertinya Mutia tak pernah merasa kesedihan yang panjang. Ia tetap tesenyum pada banyak lelaki yang datang menggodanya. Seakan ia tetap percaya akan menemukan seorang lelaki yang benar-benar mencintainya dan akan terus mendampinginya sampai nyawa terenggut dari tubuhnya.

***

Bulan tertutup awan hitam. Ia tak percaya ini sebuah isyarat. Di antara awan dan bulan bukankah masih ada sebuah bintang yang berkerlip? Lalu mengapa tiba-tiba air mata langit turun menderas dalam sekejap?

Ya, Allah… aku tak dapat memaknai lukisan malam ini? Mutia tengadah. Air mata langit serupa tangis peri yang menyayat. Haruskah kumaknai lukisan malam ini sebagai pertanda Kau tak merestui kata hatiku yang tak bisa kujinakkan lagi dengan doa-doa?

Aku mencintainya? Mutia sangat yakin pada perasaannya. Ia tak bisa melewatkan hari tanpa mendengar suara Baron yang juga selalu membuat Mutia sangat yakin bahwa yang terjadi antara dirinya dengan lelaki yang bernama Baron itu adalah cinta sejati.

Lelaki itu seperti lelaki yang pernah ada dalam hidup Mutia di masa lalu. Yang membuat Mutia jatuh cinta setengah mati dan saling membutuhkan. Tanpa lelaki itu Mutia merasa kehilangan gairah melakukan apa pun. Tetapi ada tembok yang membuat Mutia harus mundur. Dan… Baron datang begitu saja. Ia dengan berbagai cara dapat meyakinkan Mutia bahwa cintanya adalah surga Mutia yang hilang. Dan lelaki itu, meski baru saja mengenalnya dalam hitungan bulan, memberikannya kepastian. Datang ke orang tua Mutia dan melamarnya.

Tuhan, aku memang mencintai lelaki lain. Tetapi aku tak mau Kau murka dengan membiarkan cinta ini membabi buta dan merusak perkawinan lelaki yang telah merampas seluruh rasaku. Dengan restu-Mu aku ingin menempatkan Baron di bagian lain hatiku yang kosong.

Tiba-tiba langit seperti terbelah. Kilat menyambar-nyambar diikuti suara geledek yang bersahut-sahutan.

“Bundaaaaa…” teriakan Nay anak sulungnya membuat Mutia melompat. Kedua anaknya berteriak ketakutan memanggilnya, berlari dan mendobrak pintu kamar Mutia yang tak dikunci.

“Bunda… adik takut. Nay dan adik mau tidur sama Bunda,” ujar Nay menghambur ke pelukannya.

Mutia memandang ranjang yang sudah seminggu ini semakin terasa dingin. Sudah seminggu ini ia meminta ibunya menemani kedua anaknya di kamar mereka. Ia mulai membiasakan anak-anak tidak tidur bersamanya. Sebab … dalam waktu dekat ia….

Ah, benarkah selama ini ranjangnya selalu dingin dan sepi? Ketika suami keduanya pergi meninggalkan ia dan anak-anaknya, kesedihan dan rasa dingin itu sempat ia rasakan. Tetapi kedua permata hatinya selalu bisa membuat hatinya hangat. Celoteh Nay yang super lucu dan adiknya Fia yang manja dan agak cengeng telah mampu membuatnya mengabaikan luka karena diperlakukan seperti perempuan persinggahan.

Lalu mengapa aku harus menyingkirkan kehadiran anak-anak di kamar ini dan membiarkan kedekatannya dengan anak-anak menuju titik beku? Apakah Baron akan mampu membuatnya tertawa setiap waktu?

“Bunda…,” tiba-tiba Nay mendekapnya.

“Kami tak membutuhkan ayah. Kami hanya ingin terus bersama Bunda,” kata Nay tanpa diduga. Dada Mutia seperti dihunjam pisau.

“Nay gak mau Bunda menangis terus. Nay akan bikin Bunda tertawa setiap hari. Nay akan rajin belajar supaya Bunda bangga. Nah, juga akan menjaga adik saat Bunda bekerja…”

Oh, My God! Tanpa terasa Mutia menangis. Ia terharu dan merasa Nay telah membuka hatinya. Ia tak percaya anak sekecil Nay cara berpikirnya dewasa dan begitu memikirkan kebahagiaannya.

“Bunda minta saja sama Tuhan kesehatan dan pekerjaan yang gajinya gede supaya Bunda gak usah kerja di banyak tempat,” kata Nay lagi membuat air mata Mutia semakin menderas.

Mutia memeluk kedua anaknya. Mencium kepala mereka secara bergantian.

“Mulai malam ini kalian tidur di sini sama Bunda. Kalian boleh tidur bersama Bunda kapan saja kalian inginkan.”

“Sungguh, Bunda?” mata Nay dan Fia menatapnya, seakan minta kepastian. Hmm, baru saja kemarin ia mengatur mereka agar tak tidur di kamarnya.

Mutia mengangguk tegas. Membaringkan kedua permata hatinya. Menyelimuti mereka dengan penuh kasih sayang. Lalu membuka mukena, melipat rapi dan meletakkan tak jauh dari ranjang tidurnya. Merebahkan tubuhnya di tengah kedua anaknya. Mutia ingin tidur nyenyak. Ia tak mau membawa kegelisahannya ke alam mimpi.

Mutia ingin segera melihat matahari. Ia ingin cepat-cepat menjawab lamaran Baron.

Mutia tersenyum. Ia juga ingin bertemu Alia sahabatnya dan mengabarkan keputusannya, membayangkan pelukan sahabatnya.

Ternyata selama ini ia memang hanya mementingkan urusannya saja. Membiarkan lelaki mengawininya secara siri bukan demi kelangsungan hidup kedua anaknya. Tetapi lebih karena alasan lain…

04 December 2011